
Grace agak resah menantikan kedatangan Stevan yang hingga siang ini tak kunjung tiba. Padahal sebelum pamit pulang semalam, pria itu berkata bahwa ia akan datang lagi pagi ini, nyatanya hingga pagi menjadi siang batang hidungnya belum kelihatan.
“Ponselnya juga nggak aktif, ke mana sih dia?” Gerutu Grace tak bersemangat, ia duduk di sofa ruang tamu sembari berharap mendengar bunyi bel. Ia ingin menjadi orang pertama yang menyambutnya.
“Sedang apa kamu Grace?” Kao Jing berjalan menghampiri Grace, langkahnya agak tertatih namun ia memaksakan diri untuk melakukannya sendiri. Kao Jing akan marah jika Grace berusaha membantunya, dan Grace hanya pasrah melihat ayahnya berjuang sendiri untuk berjalan tanpa bantuannya. Sebenarnya kondisi Kao Jing sudah tidak terlalu bermasalah, hanya belum sepenuhnya pulih dan ia tak boleh terlalu banyak beraktivitas.
“Oh... nggak ngapain ayah, belum ada yang bisa Grace kerjakan juga.” Gumam Grace tersenyum, berusaha menutupi keresahan hatinya.
Kao Jing memincingkan matanya menatap anak gadisnya itu, terlihat agak resah dan tengah menutupi sesuatu. Kao Jing pura pura tak peka dan tak mau menggubrisnya dulu, ia pun berjalan dan duduk di samping putrinya. “Hmmm... Grace, apa rencanmu selanjutnya? Kamu mau kerja apa di sini?” Tanya Kao Jing serius, dulu ia merestui Grace datang kemari demi memperlancar misinya membuat Grace menikahi Xiao Jun, tetapi setelah semua yang terjadi tidak sesuai keinginannya, ia pun tidak tahu apa yang bisa anak gadisnya perbuat di sini tanpa harapan dinikahi orang kaya lagi.
Grace terdiam memikirkan apa yang ditanyakan ayahnya, ia belum sempat berpikir sejauh itu, bahkan kini pikirannya hanya seputar tentang Stevan dan mengharapkan pria itu segera memberinya harapan yang lebih jelas dari hubungan mereka. Sayangnya Grace tak mungkin mendesak Stevan untuk segera melamarnya, ia hanya bisa berharap agar pria itu tidak menunda niat baik itu.
“Entahlah ayah, aku belum kepikiran juga. Sebelumnya aku sudah pernah bermain film di sini. Tapi karena kejadian waktu itu, rasanya film itu akan batal tayang.” Gumam Grace kecewa, padahal itu adalah debut yang ia nantikan. Hingga saat ini belum ada kabar baik lagi tentang rencana premier film itu, besar kemungkinan akan batal tayang karena salah satu pemeran utamanya tidak bisa ditemukan lagi.
Kao Jing terkesiap, tak menyangka bahwa Grace ternyata cukup lincah mencari peluang di sini. “Ayah kagum sama kamu, padahal kamu belum lama tinggal di sini tapi sudah fasih menguasai bahasanya. Dan juga aku pikir kamu berpangku tangan dan mengandalkan Xiao Jun di sini, ternyata kamu punya kesibukan yang bagus. Ayah benar benar bangga padamu, Grace.”
Grace tersenyum tipis, rasa bangga ayahnya terlalu dini. “Tapi belum banyak yang tahu Grace itu artis di sini ayah. Kalau Stevan dan Yue Hwa sih sudah tidak diragukan lagi, mereka sudah dinobatkan sebagai raja dan ratu drama.”
“Mereka pun memulainya dari bawah, jangan lupakan proses itu. Bersabarlah, kelak kamu pun akan sampai ke puncaknya. Oya, ke mana anak muda itu? Apa sudah mulai sibuk kerja?” Tanya Kao Jing sengaja menyerempet pada Stevan.
Air muka Grace langsung berubah begitu Kao Jing mengungkit tentang kekasihnya. Hingga saat ini pun ia masih menunggu bel berbunyi atau minimal pesan yang ia kirimkan sejak tadi pagi dibalasnya. Grace menghela napas, tak tahu harus bertanya pada siapa sampai kapan ia akan menunggu. “Nggak tahu ayah, dia belum ada kabar sampai sekarang.” Jawab Grace lirih, sedihnya tak bisa ditutupi lagi.
Kao Jing tersenyum, ia tahu kegundahan putrinya dan hanya memancingnya untuk bicara jujur. “Grace, ayah juga seorang pria... dan menurut penilaian ayah, anak muda itu boleh juga. Dia bisa dipercaya untuk menjagamu. Apa dia sudah mengenalkanmu pada keluarganya?” Tanya Kao Jing yang sebenarnya berharap Grace segera dipinang oleh Stevan, melihat kesungguhan pria muda itu mencintai anaknya dan ia pun tidak ingin menjadi penghalangnya.
Bibir Grace langsung manyun, separuhnya ia merasa senang namun sisanya ia merasa kepikiran dengan pertanyaan Kao Jing. Jika Grace pikir-pikir, Stevan belum pernah berniat mengenalkan Grace pada keluarganya. Bukankah jika mereka berencana menikah, ia tetap harus mengenal calon mertuanya? “Belum ayah... nggak tahulah.” Jawab Grace tak bersemangat.
Kao Jing terdiam heran pula, gaya anak muda yang pacaran atas pilihan masing-masing pun terkesan rumit. Terbalik dengan cara perjodohan, di mana kehendak orang tua lah yang berperan penting. Jika bukan karena kesepakatan orang tua yang berdasarkan pertimbangan persahabatan ataupun bisnis, perjodohan mungkin tidak akan terjadi. Namun kali ini Grace yang memilih sendiri calon pendampingnya, dan ia belum juga mengenal seperti apa sosok orang tua kekasihnya. Apakah menyukai Grace dan bisa menerimanya sebagai orang yang dipilih Stevan untuk dinikahi? Kao Jing ikut resah memikirkan nasib percintaan putrinya.
Di tengah kerumitan pikiran mereka, bel yang ditunggu Grace pun berbunyi. Spontan mengejutkan Grace yang sedang memikirkan pertanyaan ayahnya, ia terkesiap dan melirik ayahnya dengan antusias. “Bentar ya, ayah.” Gumam Grace bergegas berdiri.
Fang Fang terlihat setengah berlari menghampiri pintu, mata Grace pun terbelalak melihat itu kemudian ia berteriak. “Biar aku aja Fang!”
“Eh?” Fang Fang bengong, padahal tangannya sudah menempel di gagang. Teriakan nonanya sontak mengurungkan niatnya yang tinggal menggerakkan tangan lalu terbukalah pintu. “Baiklah nona....” Fang Fang menyingkir dari sana, membiarkan Grace yang mengambil alih pekerjaannya.
Senyum Grace mengembang penuh, setidaknya itulah yang ingin ia perlihatkan kepada Stevan. Benar saja, usahanya tidak sia-sia karena Stevan langsung disuguhkan senyuman manis yang hanya bertahan beberapa detik. Setelah Stevan membalas senyum itu, justru Grace mengatup bibirnya dan berubah manyun.
“Loh kok dijutekin sih?” Protes Stevan seraya tersenyum, jelas ia hanya bercanda saja dan berharap Grace kembali tersenyum.
Grace malah mendelik, “Dari tadi ke mana aja? Hape nggak aktif pula, habis ngapain coba?” Kesal Grace seraya melipat kedua tangannya.
“Grace... tamunya disuruh masuk dulu, jangan ngobrol di depan pintu.” Ujar Kao Jing yang sejak tadi mengintip dari dalam.
Grace tertohok, bahkan ayahnya saja sedang berpihak pada Stevan. Tampak Stevan tersenyum senang karena dibela oleh Kao Jing, sementara Fang Fang hanya senyam senyum di belakang.
“Masuklah, huh....” Pinta Grace masih merajuk. Ia berjalan masuk lebih dulu, membiarkan Stevan mengikutinya dari belakang dan Fang Fang pun menutup rapat pintu itu. Mereka berjalan menghampiri Kao Jing yang menunggu di sofa ruang tengah.
“Halo paman, apa kabarmu hari ini?” Tanya Stevan dengan bahasa Mandarin yang sontak mengejutkan Grace dan Kao Jing. Grace menatap tak percaya pada Stevan, ia tak menyangka Stevan belajar cukup cepat dan lancar mengucapkannya. Tidak seperti kali pertama yang logatnya terdengar aneh.
Kao Jing tertawa kecil, meskipun terkejut namun ia bangga dengan usaha anak muda itu. “Baik... aku merasa sangat baik. Ya Sudah, kalian berdua lanjutkan ngobrol saja. Aku mau istirahat di kamar sebentar.” Gumam Kao Jing yang tahu diri dan memberikan kesempatan pada dua anak muda itu.
“Paman mau ke mana?” tanya Stevan yang ditujukan pada Grace, ia takut kata-katanya ada yang menyinggung perasaan pria tua itu.
Grace nyengir sejenak kemudian menjawab apa yang Stevan tanyakan. “Ayah bilang mau istirahat di kamar dulu. Biarkan saja, jangan dibantu atau kamu akan kena marah.” Ujar Grace tepat di saat Stevan hendak memapah Kao Jing.
Stevan mengurungkan niatnya untuk membantu pria tua itu, mereka hanya mengawal Kao Jing dengan tatapan lembut hingga pria tua itu masuk ke dalam kamarnya. Suasana kembali hening, Grace kembali meneruskan sikap ngambeknya dan duduk tanpa mempersilahkan Stevan duduk.
Fang Fang datang layaknya iklan yang muncul setelah jeda tayangan. Gadis itu tidak tahu suasana rumit yang terjadi di ruangan itu, ia hanya datang menyelesaikan tugasnya untuk menyuguhkan minuman kepada tamu. “Silahkan nona, Stevan.” Ujarnya kemudian bergegas kabur dari sana sebelum telinganya makin memerah karena suasana yang panas saat ini.
Stevan menatap lembut pada Grace, ada rasa senang melihat gadis itu sangat peduli padanya. Sikap jengkelnya sekarang hanyanya bentuk protes karena Stevan terkesan mengacuhkannya.
“Grace... sorry ya, tadi pagi aku nggak sempat ngecharge ponselku. Begitu sampai rumah kemarin malam, aku langsung ketiduran. Pagi pagi managerku sudah datang ke apartemen, dia memaksaku untuk kontrol ulang ke rumah sakit demi memastikan kondisiku sudah pulih dan sanggup untuk kembali bekerja. Aku baru sadar kalau ponselku tak berdaya, dan selepas dari rumah sakit, aku langsung meminta managerku mengantarku kemari. Nih... ponselku saja belum nyala sampai sekarang.” Jelas Stevan panjang lebar dan tetap tenang.
Grace melunak seketika begitu tahu alasan dari Stevan yang tidak kepikiran olehnya. Ia lupa bahwa pria itu keluar paksa dari rumah sakit demi ikut ke Hongkong, dan mungkin saja tubuhnya memang belum pulih. Perlahan Grace menatap pria itu dengan lembut, kemarahannya mereda berganti rasa cemas. “Duduklah, apa kau tidak capek berdiri terus?” Pinta Grace tetap menjaga gengsinya.
Stevan tersenyum kemudian menuruti Grace, ia duduk persis di sebelah gadis itu.
“Jadi kata dokter apa? Kamu harus dirawat lagi?” tanya Grace tak bisa menutupi rasa cemasnya lagi.
Stevan menggeleng pelan, “Aku udah sembuh kok, udah nggak apa apa dan bisa dibawa kerja.” Jawabnya menenangkan Grace.
“Syukurlah.” Seru Grace bernapas lega.
“Maaf ya bikin kamu cemas, tapi aku senang kamu bisa mengkhawatirkan aku. Itu tandanya kamu sayang banget sama aku.” Ledek Stevan seraya tertawa.
Grace mencubit ringan lengan Stevan, “Apaan sih.” Ujarnya malu malu.
“Grace, sebentar lagi aku akan kembali syuting. Kamu masih minat lanjut karier di dunia entertainment kan? Aku bisa minta Dina untuk mencarikan job yang sesuai untukmu.” Ujar Stevan bersemangat.
Grace terdiam, bola matanya menatap lekat pada Stevan. Ada sesuatu yang jauh lebih meresahkan hatinya sekarang, lebih dari sekedar kekhawatirannya tentang pekerjaan. Kata-kata Kao Jing terus ia pikirkan, dan Grace ingin mempertanyakannya pada Stevan saat ini.
“Stev... kamu serius kan sama aku?” Lirih Grace.
Stevan terkesiap, tak menyangka keseriusannya diragukan lagi oleh Grace. “Ya. Aku sangat serius padamu. Kenapa? Apa ada yang membuatmu ragu, Grace?”
Grace mengangguk pelan, ia jujur pada apa yang ia rasakan. “Kalau gitu... kapan kamu mau kenalin orang tuamu padaku? Bukankah mereka juga harus mengenal aku dan tahu keseriusanmu padaku?”
Stevan menundukkan kepalanya, permintaan Grace memang masuk akal namun terasa berat baginya. Mengenalkan Grace pada orang tuanya yang bahkan malas untuk Stevan temui, rasanya sangat sulit untuk dikabulkan.
Grace melihat diamnya Stevan dengan cemas, ia tak bisa menebak pikiran pria itu. “Kenapa Stev? Apa sesulit itu bagimu untuk mengenalkan aku pada mereka? Ayah bilang kalau kamu serius harusnya kamu membawaku menemui mereka. Siapa tahu mereka tidak menyukai aku....” Lirih Grace, itulah yang ia cemaskan sejak tadi.
Stevan menggeleng dengan cepat, membantah apa yang dikhawatirkan Grace. “Mereka menyukaimu, pasti menyukaimu!” Jawabnya tegas.
Grace menatap lekat pada kekasihnya, tak ingin mengatakan apapun namun berharap mendengarkan lebih lagi dari bibir pria itu.
“Tenang saja, aku akan membuktikan padamu kalau mereka pasti menyukaimu, Grace!” Ungkap Stevan mantap. Sampai di titik ini, ia tak bisa terus menghindar lagi. Ada hati yang tidak ingin ia kecewakan, dan ia siap menelan kekecewaannya asalkan bisa membahagiakan gadis yang telah bersedia ada di sisinya.
❤️❤️❤️