OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 241 TAKKAN KUBIARKAN KAU PERGI!



Apa kau setuju bahwa tidak ada waktu yang paling tepat bagi cinta


Untuk saling menyatakan keberadaan


Bibir bisa berucap dusta, menutupi maksud hati yang sebenarnya


Namun tidak dengan pancaran cinta yang kau sorotkan lewat mata


Aku tahu bahwa masih ada namaku di sana


Bertahta penuh dalam singgahsana hatimu


_Quote of Xiao Jun_


***


Sepasang kaki Weini berlari gesit menghindari suara yang memanggilnya dari belakang. Tanpa menoleh pun ia tahu siapa yang sedang berusaha mencegatnya berlalu. Namun ia terpaksa harus berhenti saat Dina terjerembab


karena kepayahan mengikuti kecepatannya. Stevan ikut berhenti dan menyodorkan tangan menarik Dina bangun. Weini menggelengkan kepala, ini tidak bisa dibiarkan terlalu lama atau Xiao Jun akan berhasil mengejarnya.


“Weini, tunggu! Dengarkan penjelasanku!” Xiao Jun berteriak lantang, suaranya berhasil mengundang perhatian seluruh staf yang berada dalam ruang kerja. Mereka bak tengah menonton live action bergenre percintaan. Xiao Jun tak lagi ambil pusing dengan pendapat pribadi mereka yang senang melihat sisi lain dirinya yang dingin. Ia tidak akan membiarkan gadisnya lepas lagi.


Weini merasakan kehadiran Xiao Jun semakin dekat, sementara ia masih belum mencapai lift. Dalam kondisi terdesak, ia tergoda untuk mengandalkan kemampuan sihirnya. Maaf, ayah. Aku sangat terdesak! Ia membatinkan penyesalannya karena sembarangan menggunakan sihir di muka umum. Keadaan yang membuatnya harus melindungi diri dengan bantuan tenaga magis.


“Ayo!” Weini menarik tangan Dina dan Stevan dengan masing-masing tangannya, kemudian mencengkramnya erat meskipun ia tahu tindakannya berpotensi menyerap hawa Yang mereka. Weini bisa mengakalinya nanti, yang


penting ia harus bergegas memengaruhi Xiao Jun dan mereka yang berada di kantor agar masuk dalam dimensi fatamorgana. Weini mulai merapalkan mantera, sihirnya dalam sekejab bekerja. “Weini tidak pernah datang ke kantor ini.” Desis Weini dalam perintah alam bawah sadar yang ia sematkan dalam mantera.


Xiao Jun menghentikan langkahnya ketika ia nyaris berhasil mengejar Weini, debaran aneh di dadanya membuat bulu kuduk berdiri. Ia merasakan getaran energi yang sejenis dengannya, sihir klan Wei. Kepekaan Xiao


Jun yang semakin tajam semenjak kembali dari Hongkong, membuatnya sangat yakin bahwa sihir yang terdeteksi olehnya sekarang adalah sihir milik ayahnya. Ia merasakan kehadiran ayahnya, sangat dekat, dan entah di mana.


“Ayah?” Perhatian Xiao Jun teralihkan, ia memusatkan konsentrasi untuk melacak kepastian energi itu berasal. Sayangnya ketika ia sudah mengerahkan kemampuan, si pengirim sinyal tidak terlacak lebih detail lagi.


Kekuatannya hanya berputar di sekitar ruangan kantornya.


Kesadaran Xiao Jun kembali pada fokus utamanya ketika mendengar suara pintu lift terbuka, ia terkesiap lantaran sempat terkecoh sehingga gadis yang sedang ia kejar luput dari jangkauan. “Weini!” Pekik Xiao Jun.


Panggilan Xiao Jun yang lantang memekikkan namanya membuat Weini terkejut, bagaimana mungkin Xiao Jun yang menjadi target utama sihirnya justru mental dari pengaruh? Namun untung saja Weini dan kedua sahabatnya sudah berhasil masuk ke dalam lift, bahkan ia sudah memencet tombol penutup pintu. Dari celah pintu yang sebentar lagi tertutup rapat, ia melihat Xiao Jun berlari hendak mencegah pintu itu tertutup sempurna.


“Aarrgghhh!” Saking tegangnya, Dina reflek berteriak dengan napas tersengal-sengal.


Dina masih mengatur napas, selain karena capek ditarik Weini yang berlari seperti terbang saking cepatnya, ia pun ikutan tegang bahkan spot jantung saat melihat adegan kejar-kejaran sepasang kekasih yang tengah bermasalah itu. Xiao Jun yang malang, itulah suara hati Dina yang miris melihat kegagalan Xiao Jun.


“Non, kenapa sih harus kabur? Kasih kesempatan dia jelaskanlah, siapa tahu wanita itu halu jadi tunangan tuan Xiao Jun.” Tanya Dina. Ia mencoba mencairkan suasana tegang dan senyap dalam lift, bahkan Stevan yang biasanya banyak bicara pun bisa diam dalam situasi ini.


Weini belum menjawab, tetapi malah Stevan yang angkat suara. “Wanita tunangan Xiao Jun? Astaga, gue ketinggalan berita jauh bener ya perasaan cuman bentar doang foto-foto. Maksud lu Weini halu ngaku jadi


tunangannya Xiao Jun?”


Dina nyengir, “Lu nggak tahu apa-apa jangan asal ngomong. Wanita aneh yang nemplokin Xiao Jun itu yang halu ngaku tunangannya. Semua juga tahu kalau non Weini tunangan asli tuan Xiao Jun.”


“Kita doang kali yang tahu, mereka kan belum prescon” Cecar Stevan yang enggan diprotes Dina. Ia menatap Weini yang berdiri gamang, ada kesedihan tergurat dari wajahnya. Perlahan ia menepuk pundak Weini yang kemudian ditepis oleh gadis itu, Stevan tetap tersenyum mendapati penolakan. Ia tahu gadis itu hanya menghindari kontak fisik yang tidak perlu agar tidak mencelakakannya.


“Kalau saran gue, beri dia waktu jelasin. Kalian mulai hubungan baik-baik, kalau mau selesai juga yang baik caranya.” Ujar Stevan pelan.


Dina langsung mendorong tubuh Stevan, ia tidak senang dengan omongan pria itu. “Enak saja! Mereka hanya perlu komunikasi, bukan selesaikan hubungan! Ngaco lu!”


Weini masih terpaku diam, ia tak menampik bahwa kelakuannya sangat kekanakan dan egois. Apa salahnya memberi kesempatan pada Xiao Jun untuk menjelaskan? Lagipula hubungannya dengan bos muda itu memang


perlu kepastian. Weini menepuk ringan dadanya, terasa menyakitkan di dalam sana. Ia ingin kepastian hubungan tetapi takut kehilangan. Aku belum siap …. Lirih Weini dalam batin, ia menyayangkan sifat pengecutnya.


***


Satu-satunya alternatif pilihan selain lift adalah tangga darurat. Xiao Jun mengambil langkah menuruni tangga itu dari lantai dua puluh tiga ke lantai dasar. Semula ia berkeras hati untuk berlari cepat menuruni ratusan anak tangga itu, namun secepat apapun ia berlari mustahil rasanya bisa menyamakan kecepatan mesin. Dalam keadaan terdesak, ia menguras pikiran lebih keras untuk sampai ke bawah bersamaan dengan Weini. Kepalanya menengadah menatap CCTV di setiap sudut ruang darurat itu.


“Apa boleh buat.” Keluh Xiao Jun, ia menebarkan trik sihir untuk menutupi CCTV sebelum melakukan teknik sihir selanjutnya. Bos muda itu meringankan tubuh dan berlari seakan terbang menuruni tangga. Satu langkahnya


setara dengan enam langkah orang normal dan dengan kecepatan itu, gerakannya terlihat seperti hembusan angin.


Xiao Jun sampai tepat di depan lift yang belum berhenti, penampilannya terlihat tenang dan rapi, tidak urakan seperti habis lari mengalahkan tangga. Ia tersenyum lega mendapati layar di depan lift menunjukkan bahwa penumpang dari lantai dua puluh tiga itu akan segera sampai. Ia bersiap menjemput Weini ketika pintu itu terbentang.


Tiga … Dua … Satu … Xiao Jun menghitung dalam hati, menciptakan irama yang mengiringi terbukanya pintu. Ia tersenyum manis melihat Weini dan dua orang di belakangnya terkejut bak tengah melihat penampakan.


“Loh? Gimana caranya dia bisa sampai duluan? Liftnya cuman satu kan?” Dina ketakutan melihat Xiao Jun yang berdiri tenang di muka lift, layaknya sedang menghindari malaikat maut namun tetap saja berhasil tertangkap.


Weini lebih kaget lagi, ia merasa sihirnya gagal atau mungkin Xiao Jun yang kebal? Ia tak peduli lagi, saat ini yang lebih penting adalah segera berlalu dari Xiao Jun. Weini bergegas mendorong pria itu ketika mencoba menghadangnya. Namun Xiao Jun lebih sigap meraih tubuh Weini ke dalam pelukan, membiarkan sikap mereka menjadi tontonan dan membuat baper setiap pasang mata gadis yang memandang.


***