OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 32 WAJAH DI BALIK TOPENG



Weini duduk bersila di atas matras yang disiapkan kru untuk keperluan shooting. Konsentrasinya terasa buyar, sedari tadi ia hanya menatap naskah di hadapannya namun pikiran dan hatinya menerawang jauh. Padahal


ini adalah shooting kedua untuk proyek iklan Xiao Jun yang sempat disabotase penyelundup.


Hampir dua minggu sejak terakhir ketemu, dia nggak hubungi aku lagi. Apa dia kecewa aku bohongin dia soal marga? Segitu pentingkah status?


Weini berulang kali menepuk pipinya. Kenapa ia teringat Xiao Jun? Semestinya ia senang pria arogan itu tidak mengusik lagi. Namun hatinya malah merasa aneh, seperti ada sesuatu yang hilang.


“Weiniiiiiiii! Ngapain lu nabok muka sendiri? Itu asset berharga lu.” Bams mengejutkan dengan suara bariton yang on air menggunakan toa. Seluruh cast dan kru yang semula sibuk dengan urusan masing-masing kini fokus memperhatikan Weini. Sontak saja Weini canggung setengah mati.


“Ng… Sorry aku ngantuk kak.” Weini ngeles. Tawanya terdengar garing. Sekejab semua pandangan berpaling darinya dan kembali kerja. Bams bahkan tidak memerdulikan jawaban itu, selepas berucap begitu pada Weini, pak


sutradara itu langsung bawel kepada tim kreatif. Weini baru sadar telah diusilin pria itu.


Asset? Weini memegang pipi kirinya. Ia mengeluarkan ponsel dari tas ransel dan mengaktifkan kamera depan. Wajah ini adalah asset berharga? Gimana dengan wajah di baliknya? Gumam Weini dalam hati. Ia mengamati


wajah mulus meronanya, warna kulit cerah, sepasang mata berkelopak tipis, bulu mata yang lebat alami, hidung yang tidak terlalu mancung namun bagus bentuknya. Dari semua yang terpampang, hanya bentuk bibirnya yang asli. Ia sangat penasaran dengan wajah di balik topengnya, apa lebih cantik atau lebih buruk dari ini? Wei sungguh hebat bisa menciptakan wajah palsu yang terlihat sangat alami. Tetapi kapan kepalsuan itu terlepas darinya? Haruskan ia sepanjang waktu hidup di balik topeng?


***


Xin Er mematut diri di depan cermin. Liang Jia memberinya setelan cheongsam berwarna ungu muda agar ia tampil cantik di hadapan kedua putrinya. Ia tidak menyangka, orang sedingin Li San dapat memenuhi perkataannya. Hari yang dinantikan selama puluhan tahun akhirnya menghampiri. Kedua putrinya akan segera berkumpul dengannya sembari menanti hari pernikahan tiba.


“Kau terlihat cantik, Xin Er. Warna ungu muda sangat cocok denganmu.” Liang Jia memuji dari belakang. Bayangannya yang sedang tersenyum itu segera membuat Xin Er membalikkan badan.


“Nyonya, kenapa anda kemari? Kamar kumuh saya tidak pantas anda datangi.” Xin Er segera bersujud menyambut majikannya.


“Sudahlah, ayo bangun. Pengawalku bilang Li Mei dan Li An sudah memasuki kota. Mari bersiap menyambut mereka.”


Ketika dua wanita paruh baya itu bergandengan menuju gerbang utama, seorang pengawal Li San menyampaikan titah agar mereka segera menghadapnya di aula utama. Liang Jia menatap Xin Er untuk menyakinkan bahwa


semua akan baik-baik saja.


“Hamba datang menghadap tuan besar.” Xin Er segera berlutut di hadapan Li San. Liang Jia seperti biasa memberi salam kepada suaminya.


“Bangunlah!” Li San bernada tegas, ia tidak terlihat senang dengan kepulangan dua gadis Wei tetapi demi mempertimbangkan saran Liang Jia, tak banyak pilihan yang bisa ia lakukan.


“Aku memenuhi ucapanku untuk membiarkan kedua putrimu pulang dan menikahkannya dengan pria terpelajar di kota ini. Namun jangan lupa status kalian tetap terpidana di keluarga Li. Aku tidak mau melihat mereka berkeliaran di sekitar kediamanku. Mereka boleh tinggal di sini bersamamu dan bekerja di dapur sebagai pelayan sampai menikah. Jika melanggar peraturan ini, aku tidak segan memberi sanksi tegas.” Li San mengeluarkan ultimatum yang mau tidak mau harus dipatuhi Xin Er. Tidak ada yang gratis di dunia ini, semua yang terjadi pasti ada harganya.


“Hamba mengerti, terima kasih atas kebijakan tuan besar.” Xin Er dengan nada lemah mengucapkan kata yang berlawanan dengan isi hatinya. Ia rela dipandang hina, namun tidak akan sanggup melihat buah hatinya


“Dan satu lagi. Xiao Jun tidak diperbolehkan pulang saat pernikahan putrimu. Aku melarang keras anakku datang!”


Keegoisan Li San meruntuhkan semangat dua wanita yang rapuh di hadapannya. Semakin tua pria itu, semakin sulit ditebak isi hatinya. Liang Jia mengira prianya sudah mulai berubah dan lebih dewasa dengan usia yang hampir mendekati kepala 7. Nyatanya, ia masih sangat bertenaga serta tak berperasaan.


***


Ruang kantor yang bersuhu dingin bagaikan di dalam lemari pendingin. Namun Xiao Jun menyukai temperatur itu, ia merasa nyaman berlama-lama di tempat kerjanya meski harus berkutat dengan setumpuk perkerjaan berat. Suara ponsel berdering dan menjeda kesibukan Xiao Jun di balik laptop. Ia meraih alat komunikasinya tanpa mengalihkan perhatian dari layar laptop. Namun setelah ia melihat nama yang memanggil, ia bergegas memutar kursi direkturnya hingga menghadap ke jendela.


“Ni Hao. Apa kabarmu ibu?”


Panggilan suara itu beralih ke mode video call. Wajah-wajah yang dirindukannya muncul di layar ponsel pintar.  Setelah puluhan tahun terpisah, ini kali pertama Xiao Jun melihat wajah dewasa kedua kakaknya.


“Li Jun, cici kembali.” Li Mei dan Li An terharu hingga menitikkan air mata. Adik bungsu mereka kini tumbuh menjadi pria dengan sejuta pesona. Jika bukan saudara kandung, mereka mungkin akan jatuh cinta melihatnya.


Pembicaraan hangat itu tak berlangsung lama, Liang Jia memonopoli komunikasi mereka.


“Xiao Jun maaf ibu memotong pembicaraan kalian. Waktu kita tidak banyak, ada hal penting yang ingin ibu sampaikan.” Liang Jia berbicara dengan tegas namun suaranya ia pelankan. Tampak ia sedang menjauhkan


diri dari kedua kakak Xiao Jun.


“Silahkan, Bu.”


“Li Mei kakakmu akan menikah bulan depan. Tapi tuan besar melarangmu datang. Kamu jangan nekad pulang, atau aku tidak bisa menjamin keselamatan ibu dan saudaramu lagi.”


Xiao Jun terperanjat. Sejenak ia kehabisan kata-kata. Ia baru saja mendapatkan alasan tepat untuk pulang ke Hongkong, namun niatnya kini berantakan. Jika ia memaksa pulang, mungkin Li San akan murka dan berakibat buruk pada orang yang ia cintai.


“Xiao Jun? Halo…” Liang Jia memanggil dari seberang. Xiao Jun khusyuk dalam lamunan hinga ia terabaikan.


Xiao Jun tidak punya pilihan lain, ternyata posisinya belum cukup kuat untuk meluluhkan hati Li San. Bisnis baru ini


menjadi taruhan besar baginya, ia tidak boleh gegabah atau nasib ibu dan saudaranya bisa menghampiri kematian.


“Aku mengerti, Ibu. Tolong jaga mereka untukku!”


***