OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 292 KEHADIRAN YANG TIDAK DIANGGAP



“Selamat datang nona Li An.” Hari menunduk hormat saat Li An mengikuti langkah Xiao Jun masuk ke dalam ruang kerjanya. Awalnya ia ingin mengajak Li An singgah dan istirahat di apartemen, namun gadis itu menolak dengan alasan tidak ingin ditinggal sendiri. Li An ingin lebih lama bersama adiknya, sembari mencari kesempatan yang pas untuk bicara serius dengannya.


“Halo paman Lau, lama tidak jumpa.” Li An balas menyapa Lau, yang sukses membuat pria tua itu tersenyum canggung. Perasaan mereka baru sebulan tak bertemu, namun tingkah Li An sudah seperti setahun tak bertemu.


Lau meninggalkan kedua majikannya untuk menyiapkan minuman. Xiao Jun memeriksa berkas penting yang harus ia tanda tangani, mimik seriusnya terlihat menarik bagi Li An. Ia mengagumi bahwa adik laki-lakinya memiliki gurat wajah yang sempurna dan terkesan maskulin. Jika dibandingkan dengan suaminya – Wen Ting, ketampanan mereka punya penilaian yang berbeda. Wen Ting lebih lembut dan berwajah teduh, namun kadang Li An melihat sis tegas dari suaminya juga.


“Kalau kakak sudah lapar, kasih tahu ya.” Ujar Xiao Jun, ia tetap sibuk dengan tumpukan kertas di mejanya.


Li An tersenyum, “Santai Jun, kamu fokus kerja aja. Tadi aku udah makan di rumah ayah.”


Xiao Jun berhenti membolak-balik kertas, ia terpaku pada kata-kata Li An barusan. Pria itu mendongak menatap lebih dalam pada kakaknya. Li An malah tampak tenang dan tersenyum manis, seakan menggoda Xiao Jun untuk


lebih penasaran.


“Dia mengaku bahwa dia ayah kita?” Tanya Xiao Jun tegas. Ia beranjak dari kursi direkturnya lalu berjalan menghampiri Li An yang duduk di sofa.


Ketika Xiao Jun sudah duduk di samping Li An, gadis itu mengangguk mantap. Xiao Jun langsung mengepalkan tangan dan tertunduk seraya menggertakkan gigi. “Kenapa dia langsung mengaku padamu? Aku lebih lama kenal dia, aku lebih dulu tanya pada dia tapi dia terus mengelakku. Apa aku sudah tidak dianggap anak?”


Li An merapat lebih dekat lalu memegang lengan Xiao Jun, adiknya sungguh terbawa emosi. Tak salah jika Haris begitu keukeh merahasiakan ini darinya. Orangtua memang lebih mengenal anak-anaknya dibandingkan anak-anak mengenal orangtua mereka.


“Jun, tenang dulu. Dia punya alasan, kalau kamu bisa tenang aku pasti cerita.” Ungkap Li An, ia tidak mau meneruskan ceritanya jika Xiao Jun menghadapinya dengan emosi.


Xiao Jun tidak punya pilihan, ia menarik napas dengan berat lalu mengembuskannya. Cara itu sedikit ampuh menetralkan perasaan yang tak karuan. Ia menatap Li An, memohonnya lewat sorot mata teduh. “Maaf, kak.”


Li An mengangguk dan tersenyum, ia mengusap pundak Xiao Jun beberapa kali sebelum melanjutkan bicara. “Dia juga sempat mengelak, tapi saat pertama melihat dia, aku sudah yakin dia ayah kita. Aku meyakinkannya agar mengaku, akhirnya dia mau.”


Xiao Jun tak berkomentar, ada rasa senang sekaligus kesal yang tak bisa terelakkan. Ia menyembunyikan wajahnya dalam posisi menunduk. “Apa alasan dia?” Tanya Xiao Jun lirih.


“Kamu terlalu emosional, ia sudah melihat konsekuensinya kalau kamu tahu sekarang.” Jawab Li An pelan.


Xiao Jun mematung, harus ia akui kelemahannya yang keras kepala itu mungkin tak lagi sanggup sabar lebih lama lagi, jika menyangkut perkara orangtuanya. Ia pun pernah berpikir akan memberontak dan meninggalkan Li San jika sudah berhasil mengeluarkan ibunya dari cengkeraman mereka.


“Jun, keputusan ayah masih bisa berubah. Besok aku akan kembali ke sana, ia berjanji padaku untuk mempertimbangkannya. Ini akan menjadi rahaia kita bertiga, asalkan kamu bersedia lebih sabar dan percaya pada


rencananya.”


Xiao Jun menatap ragu pada Li An, namun sorot mata kakaknya begitu meyakinkan. Haruskan ia percaya bahwa kesempatan itu masih ada untuknya?


***


Fang Fang mengetuk pintu kamar sambil memanggil Grace untuk makan malam. Grace mendelik, bisa-bisanya pelayannya dengan cepat menyiapkan makanan padahal baru beberapa menit mereka sampai rumah. Meskipun


tidak begitu lapar, Grace menurut saja dan beranjak bangun.


Fang Fang memasak ramen yang wanginya menggoda selera. Grace tertawa kecil, ekspektasinya terlalu tinggi membayangkan pelayannya menyiapkan menu yang lebih rumit. “Maaf non, ramen saja ya buat makan malamnya.”


Grace mengangguk, “Ng, untung saja tubuhku baik, makan banyak pun tidak gemuk. Kalau tidak, mana berani aku makan mie malam-malam ketika besok akan syuting.”


Kedua gadis itu tertawa bersama, semakin hari kedekatan mereka makin mirip kakak adik ketimbang hubungan majikan dan pelayan.


“Oya nona, kabarnya kakak tuan Xiao Jun, nona Li An datang hari ini. Sekarang ia ada di apartemen sendirian. Tuan Xiao Jun dan pengawal Lau kembali lagi ke kantor karena urusan penting.” Fang Fang berhenti menyeruput mie hanya demi menyampaikan kabar itu.


Wajah Grace berbinar, itu kabar yang sangat luar iasa. “Aku harus mengunjunginya sekarang. Kamu makan sendiri ya.” Grace berdiri penuh semangat lalu kembali duduk dengan wajah bingung.


“Apa kita punya stok makanan atau Wine? Aku nggak nyaman pergi dengan tangan kosong.” Tanya Grace.


Fang Fang tersenyum, “Aku akan siapkan itu, tapi nona makan dulu saja. Tidak baik membuang makanan, mubajir. Dia juga tidak akan kemana-mana, nona bisa sepuasnya ngobrol nanti.”


Grace menurut, ia meraih mangkuk berisi ramen yang masih mengebul uap itu dan melahapnya.


***


Li An mendengar suara bel ketika ia bersantai dalam kamarnya. Semula ia mengira Xiao Jun dan Lau sudah pulang, namun ia berpikir lagi bahwa pemilik rumah tidak mungkin membunyikan bel hanya untuk masuk ke rumah sendiri. Gadis itu bergegas bangun dan merapikan diri, ia penasaran siapa tamu yang datang pada jam sembilan malam. Li An memantau dari kamera lalu mengernyit begitu tahu siapa yang berdiri di balik pintu masuk.


“Kakak, apa kamu perlu teman? Aku bawa minuman dan cemilan.” Grace dengan girang menyapa begitu Li An membuka pintu. Ia memamerkan sebotol wine dan kantong plastik berisi makanan ringan.


Li An tersenyum paksa menyambutnya, ia membuka lebar pintu dan mempersilahkan Grace masuk. Sejenak ia sempat lupa kalau Grace juga tinggal di sini. Entah mengapa, setiap melihat wajah gadis itu selalu menegangkan


urat kesal Li An.


“Jun belum pulang, dia masih di kantor.” Ucap Li An dengan lemah, ia memang setengah hati menerima kedatangan Grace.


Mendapat sambutan seperti itu membuat Grace berbalik badan, wajahnya yang semula sumingrah mendadak berubah suram. “Aku ke sini demi kamu, bukan Xiao Jun. Apa kakak nggak senang dengan kedatanganku?”


Dua gadis itu saling berhadapan, bertatapan dengan sorot mata yang sulit dijelaskan. Yang satu terlalu berharap mendapatkan pengakuan, sementara yang satunya lagi tengah berupaya menepis perasaan tak nyaman yang muncul lantaran teringat seseorang di masa lalu yang memberinya trauma. Pancaran sinar mata Grace mengingatkan Li An pada sosok yang pernah membodohinya, Chen Kho.


***