
Hening serta menegangkan, seisi ruangan yang dipenuhi keluarga Li San, hanya mampu terdiam mendengarkan satu persatu titah yang ia sampaikan. Tak ada yang bisa menebak alur akhir yang melenceng dari harapan semula, orang yang digadang-gadangkan akan menjadi penerus klan Li yang tersohor ini justru kembali dipegang pada
orang yang benar-benar memiliki ikatan darah, dan sangat mumpuni.
"Aku meminta kalian semua berkumpul di sini, karena ada sesuatu yang penting yang harus kalian ketahui. Ini tentang keputusanku, tentang kelanjutan klan Li.... Awalnya aku memilih Jun sebagai penggantiku, tapi setelah aku sadar kesalahan di masa laluku, aku sudah mantap mengubah keputusan. Aku menunjuk putriku, Li Yue Hwa sebagai penerus klan Li. Segala urusan yang kupegang sebelumnya, serta semua aset akan diwariskan atas namanya."
Weini terkesiap, mendengar namanya diumumkan sebagai penerus kekayaan keluarganya yang tersohor. Ia bergegas berlutut di depan ayahnya untuk menolak secara halus. Sementara yang lainnya, baik Liang Jia, ke empat kakak perempuannya, hingga Xiao Jun sekeluarga tak ada yang berani berkomentar.
“Terima kasih atas kebaikan ayah memilihku, tetapi mohon maaf ayah... Yue Hwa tak bermaksud menyinggung ayah, hanya saja... amanah ini terlalu berat untukku. Hwa merasa kakak-kakak yang lain lebih siap menjalankan peran ini, ayah. Mohon dipertimbangkan kembali....” Lirih Weini dalam posisi bersujud.
Li San diam sejenak, ia masih tampak lelah dan keras kepala tidak mau menerima perawatan lagi meskipun hanya dipasangi infus. Melihat penolakan Weini yang bersikeras tidak mau menerima titahnya, Li San pun angkat bicara dengan raut tegasnya.
“Apa ada yang keberatan dengan keputusanku? Katakan saja!” Tegas Li San.
Ke empat kakak Weini saling berpandangan sejenak, Yue Yan sebagai anak tertua menggeleng pelan, tak lama kemudian yang lainnya pun ikut tindakan kakak tertua mereka.
“Kami tidak keberatan, ayah.” Ujar Yue Yan mantap, mewakili suara hati adik-adiknya.
“Aku menuruti apapun yang diputuskanmu, suamiku.” Ucap Liang Jia pelan.
Weini memandangi wajah satu persatu kakak serta ibunya, sulit baginya untuk percaya keputusan mereka yang begitu kompak. Padahal Weini sempat mengira salah satu di antara kakaknya, terutama Yue Xin dan Yue Xiao akan menentang keras keputusan ini. Sejak kecil, ia memang tidak disukai kedua kakaknya, tetapi ternyata waktu telah merubah segalanya, termasuk perlakuan mereka terhadap Weini.
Li San tersenyum tipis pertanda ia puas dengan kekompakan anak-anaknya. Untuk kali pertama dalam hidupnya, ia sadar bahwa apapun jenis kelamin anaknya, mereka tetap darah dagingnya yang pasti menyayanginya. Meskipun penerus garis keturunan tetap diakui dari keturunan laki-laki, tetapi ia sudah memikirkan keputusannya dengan
matang sebelum merubahnya.
“Bagus, aku senang melihat kalian mengerti. Kelak ku harap kalian, kakak beradik hidup rukun walau sudah punya kehidupan masing-masing. Jangan lupakan dari mana kalian berasal! Aku memutuskan Yue Hwa sebagai penerusku bukan tanpa alasan. Jun sudah ku anggap sebagai anakku, Yue Hwa jelas-jelas anak kandungku, takdir yang baik ini mempertemukan menjadi jodoh. Memercayakan pada Yue Hwa, sama saja memercayakan pada Jun. Aku bisa melepas tahtaku dengan tenang setelah ini.” Ujar Li San pelan namun setelah menyampaikan panjang lebar seperti itu, ia bisa menghela napas lega.
“Ayah, jangan bicara seperti itu. Ayah masih tetap menduduki tahta untuk saat ini dan seterusnya.” Ujar Weini yang merasa semakin tidak enak dengan ranah pembicaraan mereka.
Li San tersenyum tipis, ia melihat Weini dengan tatapan bak kepada anak usia enam tahun. Seolah mengulang kegagalan masa lalunya sebagai ayah yang gagal memberikan perlindungan pada putrinya. “Kalian keluarlah sebentar kecuali Liang Jia, aku ingin bicara berdua.” Lirih Li San.
Permintaan itu membungkam semua yang ada di sana, satu persatu dari mereka keluar sesuai kehendak sang tuan besar. Weini dibantu Xiao Jun untuk bangun dari posisi duduk bersujud, walau dengan berat hati ia harus patuh pada perintah ayahnya. Tinggallah Liang Jia yang kini duduk di sisi ranjang, tatapannya teduh menatap suaminya
yang terbaring di sana.
Li San sedikit menggerakkan tubuhnya agak miring, dengan sigap Liang Jia membantunya. “Bantu aku bangun, aku ingin duduk sebentar.” Ucap Li San.
ranjang. Napas Li San terdengar sedikit tersengal, tampaknya ia mulai kelelahan lantaran mengeluarkan tenaganya. Liang Jia duduk di dekatnya dan menatap Li San penuh rasa khawatir.
“Jia, aku bisa merasa waktuku tidak lama lagi....” lirih Li San.
Liang Jia menggelengkan kepalanya lalu buru-buru menutup mulut suaminya dengan ujung telunjuk tangan, berharap agar pria tua itu tidak meneruskan pembicaraan yang tidak ia harapkan. “Waktumu masih banyak, kita akan melihat anak-anak kita menikah dan punya anak.”
Li San tersenyum getir, ia meraih tangan Liang Jia yang menghalangi bibirnya. Digenggamnya tangan wanita miliknya itu dengan lembut, berharap bisa selamanya ia genggam. “Semua orang pasti akan sampai di masa itu, Jia. Aku bisa merasakannya, dalam tidurku yang panjang saat itu... aku tersekap dalam kegelapan, ada suara yang
menakutkan yang berkata bahwa waktuku sudah tiba. Aku sangat ketakutan, aku pikir kegelapan itu akan menelanku selamanya. Hingga aku mendengar suara Yue Hwa, mendengar doa yang ia rapalkan untukku. Tiba-tiba aku kembali sadar dan melihatnya di hadapanku, aku semakin yakin itu bukanlah mimpi buruk tapi kenyataan bahwa saat itu aku memang akan pergi. Ywa Hwa menahanku sementara, cintanya yang begitu besar padaku bisa terasa. Aku... aku sangat beruntung memiliki anak sebaik dia.”
Liang Jia mendengarkan dengan serius, ia pun menjadi saksi betapa kerasnya usaha Weini demi berharap kesembuhan Li San. “Maka kau jangan tinggalkan dia secepat itu! Kau berhasil kembali dari dimensi itu, berarti kau masih kuat untuk bertahan di sini. Kuatlah, aku mohon... kelak biar kita pergi sama-sama dari dunia ini setelah memastikan anak-anak kita bahagia.” Suara Liang Jia mulai berat, ia sungguh merengek di hadapan suaminya, tak rela mendengar kata pamitan itu.
Li San berkeras hati untuk tegar, meskipun godaan sangat besar untuk membobol pertahanan hatinya. Takdir
dan umur bukanlah kuasa manusia, sekalipun sangat ingin terus hidup di tengah orang-orang yang tercinta.
“Jia... Aku mohon padamu, setelah kepergianku segeralah mengurus pernikahan Yue Hwa dan Xiao Jun. Yakinkan mereka bahwa ini titahku, jangan biarkan mereka menjalani masa berkabung tiga tahun. Kamu mengerti?” Lirih Li San.
Liang Jia benar-benar tak tahan lagi, andai ia tahu bahwa maksud hati Li San ingin bicara empat mata dengannya adalah mendengarkan pesan menyedihkan ini, Liang Jia memilih menghindarinya saja. “Tidak, aku tidak mengerti dan tidak mau mengerti! Sudahlah, kau pasti akan pulih lagi, jangan bicara ngelantur lagi.” Tolak Liang Jia, susah payah ia mengontrol perasaannya agar tidak menangis.
Li San menghela napas dengan berat hingga Liang Jia menoleh padanya, dengan reflek Liang Jia mengambilkan minuman di atas meja lalu membantu pria itu minum. Secara perlahan Li San mulai bisa mengatur napasnya walau tidak sepenuhnya bagus. “Jia... Terima saja kenyataan ini... Aku tak sanggup bertahan lebih lama lagi, tolong jaga dirimu baik-baik. Hidup bahagialah, aku minta maaf telah menyia-nyiakan istri sebaik kamu.”
Liang Jia terisak, ia enggan menyeka air mata yang jatuh itu. Dibiarkan begitu saja hingga membasahi tangan Li San. Permintaan yang sangat sulit baginya, meskipun dalam kehidupan pernikahan bersama Li San, hanya bisa terhitung jari momen kebahagiaan mereka berdua dan selebihnya hanya tekanan batin yang ia dapatkan. Tetapi ia tak pernah berharap hal buruk menimpa suaminya, termasuk menghadapi akhir kehidupan yang ternyata lebih cepat dari padanya. Ia memilih bungkam, tak bersedia memberikan jawaban atas permintaan berat itu.
“Panggilkan Yue Hwa... aku ingin bicara dengannya.” Lirih Li San yang merasa waktunya bersama Liang Jia cukup sampai di sini.
Liang Jia mengangguk, ia perlahan berdiri hendak meninggalkan Li San, tetapi tangannya tiba-tiba ditarik lagi. Liang Jia menoleh lal melihat raut wajah Li San yang menyedihkan, sungguh membuat hatinya teriris.
“Aku sungguh menitipkan sisa kebahagiaanku padamu... tolong kabulkan permintaanku Jia.” Lirih Li San susah payah, tatapannya memancarkan harapan yang sangat besar pada istrinya.
Liang Jia menahan isakan, dengan berat hati ia membalikkan badan lalu berjalan cepat meninggalkan pria tua yang terduduk lemah menatap kepergiannya.
***