OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 199 AKU INGINKAN DIA, HANYA DIA!



Wen Ting menikmati segelas anggur yang disuguhkan tuan rumah. Pertemuan empat mata yang ia minta baru saja dimulai ketika Li San memerintah pengawalnya meninggalkan mereka dalam ruangan besar dan tertutup.


“Aku sering mendengar cerita tentang kekuasaanmu yang setara raja, setelah bertemu dan melihat langsung sekarang aku percaya semua itu benar. Tuan Li San, anda sungguh penguasa luar biasa.” Wen Ting mengangkat gelasnya mengajak Li San bersulang dari jauh.


Li San tertawa senang mendengar pujian itu. “Anak muda, kamu terlalu memuji. Kudengar kehebatanmu mengelola perusahaan juga sangat bagus, di usia muda sudah menguasai 80 persen perekonomian di Beijing. Melihat


semangatmu sekarang mengingatkanku saat masih muda, aku juga bersemangat seperti itu.”


Wen Ting tersipu malu, “Terima kasih paman, aku masih harus belajar dan berjuang untuk menguasai lebih dari itu.”


“Wah, ambisimu sangat besar juga. Dengan hasil yang kau miliki sekarang, Beijing bisa disebut ada di tanganmu, kau masih mau menguasai lebih dari itu? aku salut padamu anak muda.” Tawa Li San menggema dalam ruangan yang hanya berisi dia dan Wen Ting.


“Benar paman, ketika aku menginginkan sesuatu aku pasti berjuang mendapatkannya. Hanya saja, tidak semua hal bisa didapatkan dengan mudah.”


“Heh? Pengusaha sepertimu masih punya kesulitan?” Li San ragu apakah pernyataan pria muda itu hanya kiasan atau ia tengah punya permintaan khusus sehingga meminta pertemuan privat dengannya.


Wen Ting tetap tenang dan tersenyum, “Benar tuan, aku mewarisi perusahaan raksasa keluargaku. Di tahun awal masa kepemimpinanku, perusahaan melejit naik melampaui hasil kerja keras puluhan tahun dari ayahku. Aku


juga sering bertemu kolega dan calon klien yang menawarkan kerjasama, seperti Xiao Jun yang hari ini baru ku kenal. Di kalangan pebisnis, orang mengenalku sangat pemilih. Kita sama-sama pebisnis, tuan pasti setuju jika memilih yang membawa keuntungan besar sebagai rekan kerja.”


Li San tersenyum tipis, ia masih belum jelas kemana arah pembicaraan mereka. Pengusaha muda itu cukup berbelit. Ia tampaknya sedang melakukan tarik ulur atas tawaran Xiao Jun. Ia sudah mencari tahu soal Wen Ting


dan sangat mendukung Xiao Jun bekerja sama jangka panjang dengannya. Namun melihat maksud terselubung yang belum terungkap itu membuat Li San jengah bertele-tele.


“Anak muda, tak perlu berbelit lagi. Langsung katakan saja apa maumu sebagai tanda jadi kerjasama.” Todong Li San tegas.


Wen Ting tertawa melihat ketidak sabaran Li San, ada bagusnya juga ia tak perlu memakai kata sindiran untuk mempermainkan orang tua lagi. “Tuan memang sangat hebat. Baiklah, aku langsung saja pada poinnya. Aku bersedia berinvestasi besar pada perusahaanmu, sharing profitnya silahkan atur lebih besar pada kalian yang penting tidak menggoyah modalku. Dan itulah mahar untuk meminta Li An menjadi istriku.” Ujar Wen Ting serius.


Li San tersentak, permintaan yang sangat tidak sepadan untuk apa meminta anak gadis rendahan sebagai istri? “Ah, tuan muda rupanya sudah memikirkan masalah pernikahan. Memang sebaiknya menikah muda saat sudah mandiri finansial, Xiao Jun juga tahun depan akan menikah. Tapi tuan Lo Wen Ting apa anda yakin memilih Li An? Dia adalah anak gadis pengawalku, statusnya tidak sepadan dengan anda. Sebagai orangtua, aku yakin orang tua anda tidak akan menerimanya sebagai menantu. Kalau kamu sudah punya hasrat berkeluarga, ehem … aku punya dua anak gadis yang sangat cantik, anggun, terhormat yang mungkin kamu suka. Bagaimana kalau ku kenalkan dengan mereka sekarang, lalu kamu bisa putuskan?”


“Maaf tuan, tanpa bermaksud menolak anda, aku yakin kedua putri anda sangat cantik dan terhormat. Namun untuk urusan hati, aku sendiri tidak mengerti mengapa terlalu cepat mantap memilih Li An. Aku sangat menghargai perhatian dan kekhawatiran anda mengenai perbedaan status, kabar buruknya kedua orangtuaku sudah meninggal jadi segala keputusan hidup mutlak ada di tanganku.”  Wen Ting tetap harus memberi pilihan, setelah mempertimbangkannya sejenak ia memilih opsi pertama, lebih baik ditolak sejak awal daripada terkesan memberi lampu kuning.


Li San manggut-manggut, bersikap seolah sependapat dengan anak muda itu. “Aku turut prihatin mendengarnya, pasti sulit menjadi penerus di usia muda tanpa bimbingan orangtua. Anak muda, kau mendengar sendiri kan Li An sudah setuju menjadi pelayan calon adik iparnya. Dia mungkin tidak akan menerima lamaranmu.”


Wen Ting tersenyum, tawa kecilnya bahkan keceplosan. “Tuan, sepanjang aku berdiri mendengarkan pembicaraan tadi, tidak sepatah katapun yang diucapkan Li An untuk setuju. Aku menilai bahwa keputusan itu hanya sepihak antara Xiao Jun, bahkan gadis bernama Grace itu keberatan dan terpaksa menyetujuinya.”


Li San menggertakkan gigi, geram dengan kecerdasan pengusaha muda itu. Ia tak mau kalah begitu saja, “Ha ha ha, anak muda analisamu bagus juga. Tapi aku rasa Xiao Jun tidak mungkin segan memaksa kakaknya melakukan hal yang tidak ia sukai. Ide itu dari Xiao Jun, aku hanya menyetujuinya. Kau ingin Li An, itupun kalau Xiao Jun merestuimu. Begini saja, kau kenalan dulu dengan putriku, suka tidak suka urusan belakangan dan aku


tidak akan menyalahkanmu.”


Li San tetap keras kepala memaksakan kehendak, ia tidak percaya tentang cinta pertama dan sangat yakin bahwa Wen Ting terobsesi menikahi Li An hanya karena terpesona kecantikan fisik. Bicara soal kecantikan, kedua putrinya punya keunggulan lebih dari Li An. Ia berani bertaruh setelah melihat kedua putrinya, Wen Ting akan berpaling pada salah satu putrinya. Sebelum mendengar persetujuan pria muda itu, ia menelpon pengawalnya untuk menjemput Yue Xin dan Yue Xiao.


Wen Ting pusing dibuatnya, keegoisan penguasa itu memang menguji batas kesabaran. Jelas-jelas ia menolak secara halus agar tidak melukai perasaan dua anak gadisnya, malah ayahnya yang lebih berambisi agar putrinya dipinang. “Tuan besar, tolong jangan repot berusaha mengubah pikiranku. Aku orang yang tidak akan melepaskan target sebelum mendapatkannya. Yang ku khawatirkan adalah perasaan kedua anak anda, andai mereka yang suka padaku namun ditolak, itu lebih melukai harga diri mereka. Bagaimana kalau kunaikkan maharnya, seluruh keuntungan untuk perusahaan anda sampai jangka panjang.”


“Tawaran yang bagus anak muda, tapi putriku terlanjur datang. Lima menit lagi mereka masuk ke sini. Aku heran padamu, apa yang menarik dari Li An sampai kau bersedia bertaruh sebanyak itu?”


Wen Ting tersenyum manis, “Ya sudahlah, yang tidak bisa dicegah biarlah terjadi. Tapi kupertegas tuan, aku tetap pada pilihanku. Yang aku mau hanya dia, siapapun yang anda kenalkan tidak akan merubah prinsipku. Jika


tawaran keuntungan 100 persen tetap anda tolak, maka bersiap saja untuk perang dagang di kemudian hari.”


Kesungguhan Wen Ting dapat dirasakan Li San, gertakan itu bukan sekedar ancaman kecil. Nalurinya sebagai seorang penguasa yang berpengalaman membuat Li San peka dengan gesture demikian, anak muda di


hadapannya bukan orang sembarangan. Ia jelas gentar mendengar ancaman itu, ruang lingkup kekuasaannya masih sebatas dalam negri, di luar itu masih ada langit yang lebih tinggi dari langitnya.


Saat Li San masih terdiam dan Wen Ting menunggu responnya, kedua putri yang diundang masuk dalam ruangan ….


***