OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 452 BANGUN!



“Ayah.... Yue Hwa memberi hormat pada ayah.” Desis Weini, sekuat tenaga ia menahan diri agar tidak menangis.


Hanya dengan mengandalkan intuisi serta kepekaan sihirnya, Weini bisa merasakan aura dingin di sekitar Li San. Kenyataan yang membuatnya merasa takut akan hal buruk yang tidak ia harapkan. Melihat raut wajah Li San yang tertidur dengan kondisi seperti menyimpan beban, tak ada kesan tenang sama sekali dalam komanya.


Weini meraih tangan tua dan keriput milih ayahnya, menggenggamnya pelan dan merasakan dinginnya hawa yang bertabrakan dengan energinya. Yang sangat membuat Weini khawatir adalah rasa dingin Li San menginginkan ia saat kehilangan Haris, nyaris tak ada tanda kehidupan yang terasa lagi.


Liang Jia hendak mendekati Weini dan menepuk pundaknya, namun belum sempat menyentuh Weini, niatnya digagalkan Haris yang segera mencegah dengan gelengan kepala pelan.


"Nyonya, beri mereka waktu sebentar." Bisik Haris di dekat Liang Jia.


Liang Jia mengangguk paham lalu memberi jarak antara Weini dan Li San. Sebenarnya Haris tidak ingin mengganggu, tetapi ia paham bahwa Weini ingin melakukan sesuatu yang lebih dengan kemampuan sihirnya. Dan akan sangat berbahaya jika Liang Jia menyentuh Weini, mungkin saja energi Liang Jia akan tersedot secara tak langsung oleh Weini.


Weini mulai memberikan transfer energi Yang pada Li San, namun tak semudah yang ia bayangkan. Energi itu kembali padanya bahkan sebagian mental dan hilang sia-sia. Weini mencoba lagi, tetap tak sepenuhnya berhasil.


Ia mencoba tetap tenang, meskipun hatinya tak karuan dengan rasa yang bercampur aduk. Sekian lama terpisah, kembali dipertemukan namun dengan kondisi seperti ini, rasanya Weini sangat terlambat.


Weini mendongak, menatap wajah tua ayahnya. Tak peduli usahanya gagal ratusan kali, ia tetap mencoba memberikan energi pada Li San.


Suara isakan pelan mulai terdengar, Weini menunduk sejenak untuk membiarkan air matanya jatuh membasahi pakaiannya, kemudian ia menguatkan diri untuk menatap ayahnya.


"Ayah, ini aku... Yue Hwa. Aku sudah pulang menemui ayah. Sudah sangat lama ya kita tidak bertemu. Hwa kangen ayah, kangen ibu, kangen semuanya." Weini berhenti berucap, ia menatap lekat wajah ayahnya yang sama sekali tidak berekspresi apapun. Tetap sama diam tertidur.


Xiao Jun mendekati Liang Jia, sejak tadi ia belum menyapa ibu angkatnya. Liang Jia langsung tersenyum tipis melihat Xiao Jun dan membiarkan putranya itu berdiri di sampingnya.


"Jun, terima kasih kamu sungguh membawa dia pulang."


"Sudah kewajibanku, ibu." Jawab Xiao Jun singkat, mereka kembali fokus memandangi Weini dan Li San.


"Ayah, apa ayah masih ingat? Dulu waktu aku berusia lima tahun, ayah pernah mengajariku sebuah lagu. Aku bilang aku lamban padahal lagunya sangat mudah. Aku masih ingat suara ayah saat menyanyikannya, dan aku juga kecewa karena lamban menghapal lagu itu. Tapi sekarang aku sudah bisa menyanyikannya, aku ingin memamerkan pada ayah kalau aku tidak lamban lagi. Lagu itu sudah di luar kepala ku sekarang. Ayah mau dengar kan? Ah... Aku bahkan bisa bermain kecapi, aku sering memainkan lagu kesukaan ayah dan ibu. Ayah dengarkanlah aku bernyanyi...." Gumam Weini, ia antusias bicara seolah Li San mendengar dan menanggapinya.


Tidak ada alat musik yang dikatakan Weini di rumah sakit, ia pun tak perlu mengandalkan alat untuk bernyanyi. Weini hanya ingin terus berusaha mengajak ayahnya bicara, berharap semangatnya bisa menulari ayahnya yang sedang di ujung tanduk maut. Berharap ayahnya punya keinginan hidup yang kuat dan kembali sadarkan diri.


Xin Er dan Liang Jia yang berperasaan halus itu diam-diam menangis, melihat betapa polosnya Weini yang masih saja mengingat kejadian masa kecilnya. Liang Jia ingat betul saat itu Li San yang belum terhasut memang terkadang menyempatkan waktu untuk mengajari langsung putrinya, termasuk bernyanyi. Liang Jia juga ingat, saat itu Weini yang sudah hapal lagu yang diajarkan Li San setelah sekian lama, tak sabar ingin memamerkan kemampuannya, namun sayangnya keinginan itu belum sempat terpenuhi dan Weini harus terpisah dari mereka.


"Hǎo yī duǒ měi lì de mò li huā...." Lirik pertama dinyanyikan Weini dengan merdu, ia masih sanggup tersenyum dan mengekspresikan diri menyesuaikan lagu yang ceria.


Semua yang berdiri di sana semakin hening, mendengar dan melihat apa yang Weini lakukan pada ayahnya.


"Hǎo yī duǒ měi lì de mò li huā...." Lirik kedua lagu itu, suara Weini masih merdu, tatapannya terus melekat pada mata Li San dan berharap ayahnya membuka mata.


"Fēn fāng měi lì mǎn zhī yā...." Ingatan masa lalunya mulai terngiang, di bagian lirik inilah ia sering mendapatkan kritik dari Li San karena tidak hapal. Suara Weini mulai pelan, ia terbawa nostalgia.


"Yòu xiāng yòu bái rén rén kuā...." Suara Weini mulai terbata-bata, sangat terlambat rasanya membuktikan kemampuannya pada Li San. Ini lagu yang dibanggakan ayahnya, lagu yang punya filosofi baginya, itulah mengapa Li San cukup tegas menekankan Weini untuk menyanyikan dengan sempurna. Tapi apa yang ia lakukan sekarang, suaranya justru mulai kacau karena nyaris menangis.


Weini menjeda nyanyiannya, menenangkan diri agar bisa melanjutkan lirik selanjutnya. Lagu yang sebenarnya pendek itu malah terulur menjadi panjang.


"Ràng wǒ lái jiāng nǐ zhāi xià...." Pecah sudah tangisan Weini, rasanya tak mampu lagi melengkingkan nada tinggi di lirik ini. Tapi ia tetap nekad melanjutkan lagunya.


Sesak... Itulah yang dirasakan semua orang yang mendengar nyanyian Weini. Lagu anak-anak yang begitu ceria, justru kini dibawakan dengan penuh kesedihan. Weini membenamkan wajahnya di sisi ranjang Li San, membiarkan air matanya membasahi tangan pria itu. Tidak ada yang berani mengusik mereka, sekalipun Xiao Jun yang sejak tadi ikut menangis diam-diam.


"Mò li huā yā mò li huā...." Lirik terakhir itu diselesaikan Weini dengan lirih, pelan nyaris tak terdengar. Ia bernyanyi dalam wajah yang terbenam, menyembunyikan tangisan dan kesedihan yang tak bisa dijelaskan lagi lukanya seperti apa.


Tuhan... Apa boleh aku meminta? Sekali ini saja, kabulkan permintaanku. Aku ingin mendengar suara ayahku lagi, aku mohon....


Liang Jia menangis dengan isakan yang terdengar, beruntung saja ada Xin Er didekatnya yang tanggap dan menguatkannya. Pertemuan kembali keluarga yang sekian lama diharapkan Liang Jia, nyatanya tak seindah khayalannya yang berharap terjadi dengan penuh haru, layaknya yang terjadi pada keluarga Haris. Keluarga Liang Jia justru dipertemukan dalam suasana sedih dan sarat isakan pilu.


🌹🌹🌹


Dalam mimpi Li San yang tak beraturan, ia seperti terjebak dalam ruangan gelap tanpa batas. Ia ketakutan namun rasanya percuma berteriak minta pertolongan, tidak ada siapapun selain dirinya.


"Waktumu sudah tiba...." Sebuah suara menggema menakutkan. Li San terkesiap, ia hendak berlari tanpa tujuan, tanpa tahu harus sembunyi di mana.


"TIDAK!" Teriak Li San menolak jemputan dari kegelapan itu. Hingga sebuah suara terdengar, suara seorang gadis yang melantunkan lagu kesukaannya.


Li San terpaku diam, ia serius menyimak lagu itu dan menebak siapa yang menyanyikannya. Terasa familiar, lirik demi lirik yang dinyanyikan terdengar menyayat hati karena bercampur tangisan. Dan akhirnya Li San sadar siapa yang menyanyikannya.


"Hwa... Putriku... Li Yue Hwa." Lirih Li San, ia bertekuk lutut. Suara anak gadisnya begitu menyentil hatinya, Li San ikut menangis dalam kegelapan.


"Kamu sudah pandai menyanyikannya, Hwa. Suaramu sangat merdu, putriku." Lirih Li San menangis terisak, ia ingin bertemu Weini tapi keadaan ini menghalanginya.


Tuhan... Apa boleh aku meminta? Sekali ini saja, kabulkan permintaanku. Aku ingin mendengar suara ayahku lagi, aku mohon....


Doa yang dilantunkan Weini terdengar nyaring, Li San terpaku diam dengan wajah basah karena air mata. Putri yang sempat ia perlakuan dengan kejam, kini justru mendoakannya, berharap bisa melihatnya. Li San sangat terpukul, ia belum sempat mengucapkan kata maaf secara langsung, belum sempat melihat bagaimana rupa putrinya, dan juga belum sempat menyampaikan langsung wasiatnya.


"Maafkan ayahmu, Hwa. Maafkan ayah... Ayah pantas mati, pantas menerima hukuman ini." Lirih Li San pasrah dengan kenyataannya.


"Kamu memang pantas mendapatkan hukuman, tapi putri mu yang berbakti itu telah menggugah langit. Kau diberi pengampunan dan sedikit waktu untuk mewujudkan harapanmu!" Suara yang menggema itu kembali terdengar, dan tanpa menunggu Li San memahami betul pesan suara itu, tiba-tiba ia merasakan tubuhnya terhempas kencang dan sensasi seperti terjatuh dari ketinggian terasa begitu nyata.


🌹🌹🌹


"Ayaaah? Ayaaaah...." Pekikan Weini yang spontan saking bahagianya melihat Li San membuka mata.


Dan semakin bahagia karena orang pertama yang dilihat Li San adalah dirinya. Rindunya tersampaikan, doanya terkabulkan, Li San telah sepenuhnya sadar.


🌹🌹🌹


Sedih... 😭


Halo, kita tampilkan visual lagi ya. Kali ini salah satu kakak Weini yang bernama Li Yue Fang. Perannya baik ya, dia nggak neko-neko dan nggak sirik pada sesama saudaranya. Semoga cocok dengan selera kalian ❤️