
Xiao Jun menyodorkan diri menjadi supir pribadi Wen Ting, walaupun Lau ingin menemani namun Xiao Jun menolak dan mengalihkan tugas Lau ke kantor. Ia ingin lebih mengenal pria ini dalam suasana yang berbeda, melepaskan perlakuan formal yang membosankan.
“Adik ipar, aku perlu beberapa hal untuk lamaran. Kali ini aku mengandalkanmu.” Wen Ting dengan kepercayaan diri tingkat tinggi memerintah Xiao Jun membantunya.
Xiao Jun tertawa kecil dari balik kemudi, perasaan hangat bersama Wen Ting terasa sangat akrab seperti telah lama saling mengenal. Mungkin inilah rasanya jika ia punya saudara laki-laki, ada kecocokan dan keterbukaan, bahkan sekelas Xiao Jun yang introvert saja merasa nyaman membahas hal pribadi dengan Wen Ting.
“Secepat itu? Apa tidak mulai pacaran dulu supaya kakakku tertarik padamu? Cara mainmu kasar juga!” gumam Xiao Jun yang heran untuk apa terburu-buru memutuskan pernikahan, hubungan sakral sekali seumur hidup mana bisa diputuskan dalam satu hari.
“Untuk hal baik, jika bisa cepat kenapa harus ditunda? Kita tidak tahu masalah ke depan seperti apa, yang jelas ketika masalah sekarang sudah teratasi dan kesempatan sudah terbuka, segera laksanakan sebelum masalah lain datang.” Ujar Wen Ting, kali ini ia serius.
Xiao Jun menangkap maksud Wen Ting, setelah keberaniannya membungkam Li San bukan tidak mungkin
jika dibiarkan terlalu lama penguasa itu akan berubah pikiran dan mencari cara menggagalkan pernikahan. Pemikiran yang sangat realistis, Xiao Jun teringat ia juga pernah mengucapkan kata-kata itu dengan lantang pada Weini, ketika gadis itu meragukan lamarannya.
Weini .... desis Xiao Jun dalam hati, ada rindu yang terselip di sana. Ya, Xiao Jun mengakui kerinduan itu.
“Pegang janjimu, sekali kamu menyakiti kakakku kelak aku buat perhitungan padamu!” gumam Xiao Jun bersungguh-sungguh.
Wen Ting tersenyum, “Seorang pria tidak perlu mengulang janji berkali-kali, cukup menepatinya!”
Xiao Jun nyengir mendengar jawaban itu, sungguh pria yang penuh percaya diri dan optimis. Mirisnya ia merasa tengah disindir meskipun ia tahu Wen Ting tidak sedang menyindirnya. “Jadi, apa yang harus kubantu?”
***
Li An bermain-main dengan seperangkat alat make up, ada beberapa teknik yang ingin ia pelajari dari tutorial Weibo. Puluhan setel pakaian baru yang dibelikan Xiao Jun pun masih menanti giliran dipakai, ia tiap hari mengenakan baju baru yang bagus. Benar-benar roda kehidupan yang tidak bisa diprediksi kapan naik dan turun, meskipun ia belum mencapai puncak dan mungkin akan kembali menggembel selepas Xiao Jun kembali ke Jakarta, ia tidak peduli.
“Nikmati waktu ini sebaik-baiknya!” pekik Li An girang sembari mengaplikasikan blush on.
Bel kamar berbunyi, tamu yang ia nantikan datang juga. Li An bergegas merapikan alat tempur kecantikannya dan berlari membukakan pintu. “Juunnn! Kau siang banget ha ... ri i ... ni.” Li An terbata-bata di akhir ucapannya, Xiao Jun datang bersama tamu tak terduga. Senyuman manis dari pria itulah yang mengejutkan Li An hingga tidak
fokus pada kata-kata lagi.
“Halo nona Li An, apa tidurmu nyenyak?” tanya Wen Ting mencairkan ketegangan Li An yang tak siap dengan kehadirannya.
“Ng, tuan Wen Ting senang bertemu lagi. Tidurku nyenyak ....” jawab Li An tetap berusaha tenang walau ada debaran aneh di dadanya.
Xiao Jun baru merasakan bagaimana posisi sebagai obat nyamuk, selama ini jika ia berkencan dengan Weini selalu ada Dina, Lau bahkan Haris di tengah mereka dan ia merasa cuek saja. Ternyata setelah ia merasakan ada di tengah orang yang sedang jatuh cinta dan kehadirannya diabaikan, ingin rasanya ia kabur saat itu juga. Serba
salah.
“Ehem, kak ... aku mau minta tolong padamu. Tuan Wen Ting, bisakah tinggalkan kami berdua sebentar?” ujar Xiao Jun.
“Ada apa Jun sepertinya serius?” tanya Li An cemas, adiknya yang serba bisa itu baru pertama kali minta tolong.
Xiao Jun menghela napas, agak sulit mengatakannya walau sudah berduaan saja. “Kak, beberapa hari lagi aku kembali ke Jakarta. Aku ingin memberikan sesuatu untuk kekasihku, maukah kakak bantu pilihkan mana yang paling disukai gadis muda? Anggap saja selera dia sesuai dengan kakak.”
Li An tersenyum lega, semula ia sempat takut apa yang akan disampaikan Xiao Jun adalah hal serius. “Oh, gitu... huft jantungku nyaris copot, aku kira hal serius apa yang menimpamu. Ayo, kapanpun kau minta aku siap bantu. Tapi sepertinya di tipe gadis yang aktif dan penuh semangat, agak berbeda dengan sifatku. Nanti kupilihkan yang paling cocok menurutku ya.”
Xiao Jun mengangguk senang, “Tidak masalah kak, semua wanita pasti punya sisi feminim. Tolong pilihkan yang paling kakak suka, dia pasti menyukainya.”
***
Satu jam kemudian ....
Xiao Jun mengajak Li An dan Wen Ting mengitari toko perhiasan terelit di Hongkong, Li An tampak senang melihat koleksi perhiasan yang menyilaukan mata. Ia tidak lepas dari Xiao Jun sejak datang, bagi yang tidak mengenalnya pasti salah mengira bahwa mereka sepasang kekasih dan Wen Ting adalah pengganggunya. Pria itu yang gantian dianggurkan bahkan Li An lupa dengan keberadaan pria itu bersama mereka.
“Jun, lihat yang ini.” Li An menunjuk sebuah cincin berlian yang berkilauan dan Xiao Jun dengan sigap meminta pramuniaga mengambilkan cincin yang dimaksud kakaknya.
Li An menatap tanpa berkedip pada cincin yang sudah berada di tangannya itu, senyumnya melebar dan reaksi itu diperhatikan terus oleh Wen Ting.
“Selera Nona sangat berkelas, cincin ini adalah koleksi model terbaru kami dan hanya satu-satunya di dunia.” Pramuniaga itu menambahkan bumbu marketing yang semakin menarik minat Li An begitu mendengar betapa langka dan berharganya cincin itu.
Xiao Jun tersenyum tipis, melihat ekspresi Li An yang begitu kegirangan saja membuatnya jauh lebih bahagia. “Kakak suka? Coba saja nggak apa – apa.”
Li An menghentikan reaksi kagum yang berlebihan itu, gara-gara terpesona ia malah salah fokus. “Eh? Sorry
jun aku malah salah fokus. Kita kemari kan buat cariin kado pacarmu, jangan habiskan uangmu buat beliin kakak. Gimana kalau buat pacarmu saja? Ini spesial loh, hanya satu-satunya. Tapi, apa kau tahu ukuran jarinya?”
“Kira-kira seukuran jarimu, tolong cobain kak. Sekalian aku mau pertimbangkan cocok nggak buat dia.” Pinta Xiao Jun sembari mengernyitkan dahi memerhatikan jari manis Li An.
Li An langsung memasang cincin itu di jari manisnya lalu melentikkan pada Xiao Jun, “Gimana? Baguskan? Kurasa dia pasti suka.”
Xiao Jun nampak berpikir sejenak dengan komentar yang tertahan, “Hmm, not bad. Ah, aku baru ingat dia sudah pernah kuberi cincin. Apa boleh berikan dua kali?”
Li An terperanjat, “Kamu kasih dia cincin? Berarti udah mengikat dia, jangan deh jangan kasih ini. Kita lihat kalung aja gimana?”
Xiao Jun tersenyum dan mengangguk setuju, “Ya, aku pernah melamar dia dengan cincin pemberian ibu.” Gumam Xiao Jun lirih dan terdengar menyedihkan.
“Cincin dari ibu? Cincin warisan leluhur, kalau begitu pacarmu itulah adik iparku yang sebenarnya. Ayo Jun, kakak dukung kamu sama dia. Tapi kau jangan lama-lama gantung gadis lain, jangan permainkan perasaannya.” Li An mengembalikan cincin itu ke pelayan toko, tak lupa meminta maaf karena tidak jadi membeli setelah dicoba. Ia kemudian menepuk pundak Xiao Jun yang berdiri diam meresapi kata-katanya.
***