
Hari H resepsi Li An
Weini terbangun dengan perasaan yang janggal, ada yang belum biasa dirasakannya. Ia beranjak keluar dari kamar tanpa memerhatikan penampilannya yang sedikit kurang rapi, namun tetap saja ia cuek karena menyadari hanya dia seorang yang ada di rumah. Matanya menatap sedih pada ruang dapur yang sunyi, biasanya pada jam pagi seperti ini Haris selalu sibuk dengan rutinitas paginya menyiapkan sarapan. Weini baru sadar, perasaan janggal dan tak biasa itu datang dari rasa rindunya pada Haris.
“Tanpamu rumah jadi sepi, ayah.” Ujar Weini lirih. Gadis itu beringsut menuju dapur, rasa laparpun tak terlalu menggugah seleranya. Ia mengambil satu bungkus minuman susu instan lalu menyeduhnya dengan air hangat. Lumayan meski hanya untuk mengganjal perut, Weini belum terbiasa makan di ruangan ini sendirian. Rumah benar-benar terasa hambar ketika salah satu penghuninya pergi. Tak terbayangkan bagi Weini jika ia hidup tanpa Haris, jika bukan karena pria itu berpergian jauh selama beberapa hari, mungkin Weini tidak akan menyadari arti penting Haris baginya.
Jemari Weini lincah memainkan layar sentuh ponselnya, ia membagi fokus antara minum dan mengetik pesan. Tatapannya tertuju pada setiap kata yang ia ketikkan, rasa kangen menggiringnya mengirimkan pesan pada Haris.
Ayah, selamat bersenang-senang ya. Aku di sini baik-baik saja, jangan cemaskan aku.
Pesan itu terkirim dan menunggu dibaca oleh si penerima. Weini menghela napas berat, faktanya kondisi yang ia sampaikan itu berbanding terbalik dengan kenyataan. Weini tidak sepenuhnya baik-baik saja, ia merindukan ayahnya, kekasihnya walau baru satu hari tak berjumpa.
Perhatian Weini beralih pada chat Xiao Jun, rupanya chat terakhir mereka tadi malam belum juga dibaca. Bibir Weini manyun, Xiao Jun sudah minta ijin padanya untuk slow respon selama hari H resepsi Li An. Ia bisa mengerti, namun tetap saja ia berharap mendapat kabar intens dari kekasihnya. Maklum saja, kejadian sewaktu Xiao Jun kembali ke Hongkong dan sulit dihubungi itu masih meninggalkan bekas tidak mengenakkan di hati. Weini enggan bernostalgia dengan masa itu namun jika ada hal yang membuatnya terngiang, kecemasannya pun muncul dan khawatir akan terulang lagi.
“Ah, sudahlah … Biarkan mereka senang-senang dengan tenang. Mungkin karena efek kerjaanku sudah kelar, aku jadi punya waktu untuk memikirkan hal yang tidak-tidak.” Ujar Weini. Setelah menghabiskan minumannya, ia bergegas kembali ke kamar dan bersiap mempercantik diri untuk menghadiri presscon promo filmnya.
***
Dina menunggu kedatangan artisnya di depan lobby, ia tak mau masuk ke dalam sebelum Weini datang. Di dalam ruangan sebuah hotel yang dijadikan tempat press conference sekaligus gathering sudah ramai dipadati para
pers serta para talent dan semua pihak yang terlibat dalam pembuatan film itu. Bisa dikatakan ini promosi film sekaligus syukuran atas kerja keras semua pihak selama syuting. Kini tinggal menunggu film tersebut dirilis dan premiere (tayang perdana) di salah satu bioskop ternama di bilangan selatan ibukota.
Sayangnya yang ditunggu Dina adalah Weini tapi justru Grace yang lebih dulu terlihat. Artis pendatang baru itu datang dengan penampilan memukau, gaun merah yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang terbalut itu begitu cocok dengannya. Aura bintangnya pun begitu terpancar, dan harus Dina akui bahwa Grace memiliki talenta dan keistimewaan sebagai seorang entertainer. Dina bersikap kalem dan pura-pura sibuk dengan ponsel ketika Grace
berjalan menuju tempatnya berdiri. Ia malas berurusan dengan Grace, sekalipun itu hanya sekedar adu tatapan.
“Hai kak Dina, kok nggak masuk?”
Dina tersentak mendengar pertanyaan dari suara yang cukup familiar baginya. Mimpi apa aku semalam sampe cewek arogan itu ngajak ngomong duluan? Tanya Dina dalam hati, ia masih perlu sedikit waktu meyakinkan
diri bahwa Grace tengah mengajaknya bicara. “Ng, ntar aja sekalian tunggu non Weini biar barengan.” Akhirnya Dina memilih kata-kata itu sebagai balasan, plus ia sedikit terbata-bata saking nervous.
“Oh … Aku masuk dulu ya kak.” Jawab Grace dan lagi-lagi memamerkan senyuman manisnya. Setelah itu ia melirik Fang Fang dan mengajak pelayan itu masuk ke dalam.
Dina ditinggalkan begitu saja dalam keadaan mematung, terpaku bingung antara percaya atau tidak. “Dia beneran Grace kan? Kok bisa berubah baik begitu?” Sikap Grace yang berubah drastis dalam satu hari itu malah membuat Dina merinding. Ia merasa ngeri dan pikiran buruknya terus memprovokasi. “Jangan-jangan dia punya rencana licik? Hiii….” Lanjut Dina seraya memeluk kedua tangan saking merindingnya.
Mobil Weini tampak dari kejauhan dan bergerak memasuki area parkir hotel, melihat itu semangat Dina kembali hidup setelah merasa terusik oleh sikap baik Grace yang aneh. Manager itu setengah berlari menghampiri Weini yang berjalan ke arah pintu masuk. Padahal hanya berdiam di sana pun, Weini tetap akan sampai di tempat Dina berdiri sekarang. Namun ia sudah tidak sabaran ingin menyampaikan isi hatinya.
“Non, kok siang banget?” Tanya Dina dengan tampang sewot.
Weini tersenyum, ia tampil sangat memukau dengan balutan long dress warna hitam yang bertaburkan Swarovski di bagian atas. “Nggak telat kan kak, aku agak rempong dandan tadi.” Ujar Weini sambil berjalan dan diikuti oleh Dina dari samping.
“Non, si Grace aneh deh hari ini. Masa tadi dia nyapa aku, ramah banget. Nggak biasanya kan dia gitu, siapa tahu dia punya rencana terselubung, non hati-hati aja deh sama dia.” Cerocos Dina, ia tak peduli jika ada yang mendengar pembicaraan mereka. Lagipula ia memastikan suaranya hanya bisa terdengar oleh Weini sendiri, saking pelan suaranya.
Weini mengernyit heran, “Oya? Bagus dong, akhirnya dia sadar dan mau berteman. Yuk samperin ke atas.” Gumam Weini, kabar dari Dina dianggap sangat bagus padahal bagi Dina sendiri tetap mengutamakan rasa curiga. Dina tidak paham betapa Weini mengharapkan hari ini tiba, di mana uluran pertemanan darinya disambut oleh Grace.
***
Stevan terpukau menatap Grace yang tampil sangat feminim, pesona cantik gadis itu menyita perhatian nyaris semua mata yang menatapnya, terlebih para wartawan yang dengan sigap mengabadikan setiap posenya. Grace mendapat sorotan penuh terlebih ia adalah artis pendatang baru dan digadang-gadangkan akan melejit dalam karier keartisannya.
Ketika Grace mulai menempati kursi yang bertuliskan namanya, Stevan datang menghampiri sembari membawakan segelas jus. Gadis itu melihat gelas serta sebuah tangan yang menjulur, kemudian ia mendongak untuk menemukan siapa pemilik tangan yang mengenakan jas itu. Senyuman lebar Stevan yang pertama dilihat oleh Grace, senyuman yang berhasil memamerkan sederet gigi putih dan rapi milik aktor itu. Grace membalas dengan tersenyum manis, ia
meraih gelas itu lalu mengangkatnya sedikit sebagai kode mengajak Stevan bersulang.
“Thanks.” Ujar Grace singkat, ia langsung meminum sedikit minuman manis itu.
Stevan menempatkan diri di samping Grace, ia tak peduli kursi yang didudukinya bertuliskan nama pemeran lain. Yang penting saat ini ia ingin duduk berdekatan dengan gadis itu. “You look so beautiful in red.” Bisik Stevan. Sebuah pujian yang tidak berlebihan karena Grace memang sangat cantik hari ini.
Grace hanya tersenyum sebagai balasan, fokusnya beralih pada sosok Weini yang baru hadir dan langsung dikerumuni wartawan. Bagaimanapun Weini tetap unggul sebagai primadona, seluruh perhatian kini terpusat padanya kecuali Stevan yang hanya sekilas menatap Weini lalu tersenyum dan kemudian kembali menatap lembut pada gadis di sampingnya. Grace jauh lebih menarik perhatiannya untuk saat ini.
***