
Sorot lampu kamera menyala bagaikan kilauan bintang, flashnya menyilaukan saat para pencari berita yang sengaja dikumpulkan saat ini mengambil potret nara sumber. Mereka diundang untuk menghebohkan berita
terviral di jagat hiburan. Bagai menyiram bensin ke dalam percikan api, mereka dengan senang hati menjadi sumbunya.
Metta duduk di tengah ruangan serba guna dari rumah sakit elit tempatnya dirawat. Ia dikawal dua lawyer dan dua perawat yang mendorong kursi roda serta mengecek infusnya. Kondisinya memprihatinkan, ia cukup meyakinkan untuk membuat air mata berjatuhan dari ribuan pasang mata yang melihatnya dari layar kaca. Press conference ini diatur oleh ayahnya atas keinginan sang drama queen Metta.
“Mbak Metta gimana kabarnya? Dan bagaimana perkembangan kasusnya?” bertubi-tubi pertanyaan dilontarkan saat prescon resmi dibuka.
Juru bicara Metta menjawab semua pertanyaan itu dengan meyakinkan, sedangkan Metta menjalankan perannya sebagai korban yang teraniaya, terluka parah dan menangis dalam diam.
“Pihak kami tidak menerima jalur damai. Berdasarkan bukti baru yang terungkap, polisi sudah menginvestigasi kebenarannya dan akan segera bertindak tegas pasca Weini dinyatakan layak ditahan.” Seru kuasa hukum Metta
dengan lantang dan percaya diri.
“Tapi anda belum mendengar respon dari pihak terlapor, apa tidak terlalu dini menaikkan statusnya sebagai tersangka? Weini saja dikabarkan terluka lebih parah dan belum bisa dikunjungi karena perawatan intensif.” Ujar seorang wartawati yang julid dan teliti.
Metta menggertakkan gigi saking gemasnya. Pertanyaan macam apa itu yang berani mengangkat posisi Weini yang mulai kalah telak. Metta melirik jubirnya, semacam isyarat agar si jubir segera mewakili aspirasinya.
“Mengenai itu pihak kami belum tahu motif dari tersangka, namun bisa dimaklumi bila pihak mereka belum bersedia merespon. Namanya juga udah tersangka, apalagi statusnya sebagai publik figur yang lagi naik daun, ini pasti jadi pukulan besar buat dia. Tapi namanya hukum kan tidak pandang bulu, salah ya harus terima resikonya.” Jubir kembali berujar dengan sangat yakin seakan kasus ini bisa dimenangkan semudah membalikkan telapak tangan.
Saking antusiasnya publik dengan kasus yang melibatkan artis pendatang baru yang tenar, prescon yang digelar Metta ini disiarkan secara langsung di beberapa stasiun TV ternama. Metta mendapatkan jatah popularitasnya dalam sekejab, banyak simpati yang mengalir untuknya dan sebaliknya Weini mendapat caci maki serta fans yang membelot jadi anti fans.
Jangan panggil gue Metta kalo gue nggak berhasil tamatin riwayat lu, Weini.
***
Weini baru saja menghabiskan semangkuk bubur ayam polos tanpa selera. “Makanan rumah sakit, selain tawar porsinya juga dikit.” Keluh Weini yang tak puas dengan menu yang seperti orang sakit.
“Mau makan apa? Aku belikan sekarang.” Ujar Haris yang memang berencana keluar membeli makanan untuk dirinya dan Dina.
“Ayam goreng, pizza, coklat sama mie tek-tek.” Weini tanpa sungkan menyebut daftar makanan yang ia idamkan.
“Non, itu makanan berat semua, bolehkah buat pasien? Kenapa nggak ganti sup jagung, ayam rebus atau telur rebus.” Dina mengganti list makanan dengan yang aman bagi pencernaan orang sakit.
Haris tersenyum, ia tentu tahu kondisi Weini sangat meyakinkan untuk makan semua makanan yang disebutnya. “Oke, aku belikan semua yang kau mau. Asalkan kau jadi pasien yang nurut dengan suster Dina sampai aku
kembali.”
Lama Weini terdiam, Haris tetap saja tidak memberikan keinginannya dengan mudah. Selalu ada pertukaran untuk hal yang dia inginkan. “Baiklah.” Ujar Weini dengan mulut monyong.
Haris mengambil jaket kulitnya dan berlalu. Saat di muka pintu, ia baru menyadari keberadaan dua body guard tengah berjaga. Ia tahu ini pasti kerjaan Xiao Jun, namun sejak kapan kedua pengawal bertubuh kekar itu
mulai bertugas pun tidak Haris ketahui. Ia memilih berlalu tanpa bertanya sedikitpun.
“Ahhh…” tiba-tiba Dina berteriak kencang.
“Ada apa kak?” tanya Weini penasaran.
Wajah Weini bersemu merah, “Apaan sih kak.”
“Hehe… nggak usah malu deh non, kan aku udah ngikutin kisah kalian sampe jadian. Nggak kalah sama pembaca novel ini loh yang udah setia baca hingga episode 79. Pokoknya kalian berdua the best couple deh!”
Weini memikirkan kata-kata Dina, membayangkan apakah dirinya memang cocok dengan Xiao Jun. Ujungnya ia hanya tersenyum sendiri terbawa imajinasinya.
“Non tahu, dia walau terlihat dingin tapi perhatiaaaaan banget. Tuh di depan udah nangkring aja dua body guard biar non gak diganggu wartawan. Kalo menurutku loh, tipe cowo kayak tuan Xiao Jun ini spesies langka. Udah ganteng, tajir, royal eh (Dina menampar mulutnya yang keceplosan kata ini lagi), sopan, care pula. Tolong ya non plis, kalau udah deket banget ama dia, tolong tanyain dia punya sodara cowok nggak sih? Jodohin dong sama aku hahaha.” Celoteh Dina panjang lebar dan penuh kenarsisan.
Weini malah terdiam, merenungkan kata makin dekat versi Dina seperti apa. “Kak, menurutmu aku pantas sama dia? Aku nggak yakin bisa sedekat apa dengan dia. Rasanya seperti menghantam tembok transparan yang
terlampau tinggi. Dia mencintaiku tapi belum tentu keluarganya menerimaku.”
Dina tersentuh perasaannya saat mendengar kegalauan Weini. Kali ini ia punya bahan laporan untuk tuannya, berharap dari pertukaran informasi itu dapat menghasilkan pundi rupiah yang menggiurkan seperti sebelumnya.
“Non, jangan mikir kejauhan dulu. Ibarat belum nyemplung ke kolam tapi udah bayangin tenggelam. Cinta tuh perlu diperjuangkan, nggak cuman dipertontonkan. Nggak jaminan juga yang sering umbar kemesraan di depan umum itu cinta beneran, trus nggak jaminan juga kan yang sifatnya sedingin kulkas dan pendiam itu tidak perhatian. Mungkin itu cara dia melindungi non, dia pasti punya cara memperjuangkan non kelak.” Dina memberi
nasehat sepanjang itu sembari membuka contekan petuah cinta yang ia searching dari internet.
Weini sangat terkesima dengan masukan Dina, ia yang amatiran tentang cinta dan baru merasakan cinta pertama dari Xiao Jun. Pria yang sama tempat asalnya, pria yang semarga dengannya dan pria yang sama-sama
merasakan kesepian karena jauh dari keluarga.
“Jika dia berjuang, aku juga akan berjuang!” ungkap Weini, terbawa suasana roman picisan yang diciptakan Dina.
“Yeah! Fight go go fight for your love!” pekik Dina kegirangan.
***
Cinta itu lucu, tapi bukan lawakan yang hanya berisi kebohongan.
Lucu karena kita tidak tahu kepada siapa dan di mana cinta itu dipertemukan.
Lucu sebab perasaan itu bisa membuat senang, marah, kecewa tapi tetap tidak menemukan alasan untuk saling meninggalkan.
Lebih lucu lagi jika saling mengetahui keburukan, namun terus mencari satu kebaikan demi bertahan.
Dan sangat lucu, ketika sudah dipersatukan namun selalu mencari alasan untuk jatuh cinta berulang-ulang tanpa merasa itu sangat membosankan.
Terakhir, cinta itu lucu karena hingga kata-kata habis pun tak akan sanggup menjelaskan mengapa aku menambatkan hati padanya…
Quote of Weini aka Yue Hwa
***