OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 220 MENJAUHLAH DARIKU



Kepanikan masih mencekam dalam ruang studio, tubuh Stevan yang pingsan masih tergeletak di lantai. Beberapa kru mengerubuni dan memberikan pertolongan pertama, minyak angin di kotak medis pun dijadikan alat bantuan sembari menunggu penanganan selanjutnya.


“OMG dingin banget badannya.” Pekik Dina kaget luar biasa memegang tangan dan kening Stevan yang sejuk seperti frozen food yang baru dikeluarkan dari lemari es.


Weini ikutan panic mendengar teriakan Dina, tetapi ia tak berani menyentuh pria itu lagi. Sekalipun ia sangat khawatir dan penasaran sedingin apa yang dimaksud Dina.


Bams menerobos kerumunan, ia merasa wajib mengecek kondisi aktor itu dengan ikut meraba keningnya. Bams langsung bergidik dan spontan mengibas tangannya, “Ya ampun dia kenapa sih perasaan tadi sehat kok tiba-tiba bisa ambruk. Cepat telpon ambulans, ini nggak boleh dibiarin. Kacau nih kalau kenapa-napa di lokasi syuting.” Bams menjambak rambutnya, stress. Mengapa penghujung sinetronnya mendapat begitu banyak cobaan, ini bukan lagi konflik dalam lakon, namun kenyataan dalam kehidupan nyata. Andai terjadi dalam sinetron, mungkin rating untuk episode kali ini akan mendapatkan rating tinggi.


Seorang kru menghubungi ambulance, yang lainnya berusaha melakukan pertolongan yang menurut mereka manjur untuk menyadarkan orang pingsan. Dina kelabakan sehingga mengoleskan terlalu banyak minyak angin


pada jidat dan bawah hidung Stevan. Sementara Weini, duduk mematung menyaksikan kontribusi rekan-rekannya dan ia hanya berpangku tangan.


“Eh, mana non Weini?” pekik Dina yang baru sadar kehilangan jejak artisnya. Ia masih mencemaskan kondisi Weini yang menurutnya juga kurang sehat. Untungnya tak perlu lama mengedarkan pandangan, ia mendapati Weini duduk di dekat kursi yang biasanya Bams pakai untuk mengawasi monitor.


Dina meninggalkan Stevan untuk diurus oleh managernya dan kru lain, ia bergegas menyusul Weini. “Non, kamu nggak apa-apa?” Dina hendak memeriksa suhu tubuh Weini, masih parno setelah memegang jidat Stevan lalu ingin mengetes pada artisnya yang barangkali ikutan dingin.


Belum juga tangan Dina sampai, Weini dengan sigap menepis tangan itu. Ia memasang proteksi diri yang kuat, tak membiarkan siapapun melakukan kontak fisik dengannya. “Jangan sentuh aku kak, plis. Aku nggak apa-apa, kakak fokus ke Stevan aja dulu.” Ujar Weini meyakinkan managernya.


Dina mendadak sedih, ia sudah dua kali ditolak tanpa alasan. Hari ini Weini benar-benar aneh, Dina masih mencoba berbaik sangka, mungkin Weini begitu karena bawaan lagi tidak enak badan. Ia enggan mempersoalkan lagi dan menuruti saja kemauan Weini, lagian kondisi Stevan jauh lebih mengkhawatirkan.


Ambulance datang tidak lama kemudian, para petugas medis berbondong-bondong menghampiri orang yang patut ditolong. Dina mengajukan diri untuk ikut bersama rombongan perawat itu dan langsung terdengar Weini, ia pun ingin ikut dalam mobil ambulance menemani Dina dan Stevan.


“Perhatian semuanya, syuting kita tunda dulu hari ini sampai kondisi memungkinkan. Ntar gue kabari di WA grup.” Teriak Bams mengakhiri kerjaan yang sia-sia hari ini. Urusannya belum selesai begitu saja, gara-gara kejadian tak terduga maka manajemennya harus membayar denda atas penundaan tayangan. Tapi semua itu tidak lebih berharga dibanding nyawa para pekerjanya.


***


Stevan langsung dilarikan ke IGD begitu sampai rumah sakit, Weini dan Dina serta manager yang datang bersama hanya bisa pasrah menunggu di luar, mempercayakan segalanya pada tim medis.


“Non, aku ngerasa nggak asing sama kejadian ini. Persis waktu non masuk rumah sakit, Stevan dan aku kalang kabut nungguin berjam-jam di depan.” Celetuk Dina yang blak-blakan dengan apa yang ia rasakan.


Ucapan Dina barusan membuat senyuman Weini tersungging tipis. “Kalian sangat perhatian padaku, thanks banget kak.” Weini tetap berusaha menjaga jarak agar Dina tidak menyentuhnya tiba-tiba. Ia belum bisa tersentuh siapapun sebelum mencari penjelasan pada Haris, orang satu-satunya yang Weini percaya sanggup mengatasinya.


“Kak, badanku agak ngilu, belum bisa terima sentuhan. Ngilunya makin terasa ….” Weini terpaksa beracting meyakinkan, padahal badannya sudah terasa normal semenjak ia memeluk Stevan hingga pingsan.


Dina memincingkan mata, melihat lebih dekat wajah Weini yang menurutnya sudah oke, tidak lagi pucat seperti tadi pagi. “Gitu ya, kita sekalian periksa aja non mumpung lagi di rumah sakit.” Bujuk Dina.


“Fokus ke Stevan dulu kak, dia lebih mengkhawatirkan.” Tolak Weini dengan alasan yang masuk akal. Sementara managernya sibuk mengurus administrasi dan menenangkan media yang sudah mencium berita ini, hanya Dina dan Weini lah yang siap sedia menunggu hingga salah satu dokter yang memeriksa Stevan keluar dari ruang IGD.


“Keluarga pasien atas nama Stevan.” Seorang dokter muda keluar mencari pihak keluarga dan mendapati Weini yang lebih dulu menghampiri. Dokter itu tahu siapa Weini, artis yang selama ini ia kenal lewat layar kaca dan kini berdiri di hadapannya. Sejenak wajah cantik Weini membuat dokter itu terpesona, kecantikan yang bahkan lebih memukau ketimbang di TV.


“Bagaimana kondisi teman saya, dokter?” tanya Weini yang langsung mengembalikan konsentrasi dokter itu.


“Pasien sudah siuman, kondisinya mulai stabil hanya perlu istirahat total satu hari di sini. Diagnosanya ia pingsan karena anemia dan kelelahan saja. Saya sudah resepkan obat dan vitamin, silahkan diurus di bagian administrasi ya.” Ujar dokter itu.


Weini dan Dina tersenyum lega, terutama Weini yang mulai tenang dan tidak menyalahkan diri. Kalau sampai terjadi hal buruk pada Stevan, jelas dialah yang bertanggung-jawab atas musibah itu.


“Terima kasih dok, jadi kami boleh jenguk pasien sekarang?” tanya Dina menggebu-gebu.


Dokter itu mengangguk, “Tentu saja, silahkan.”


Dina dan Weini saling memandang dan tersenyum lalu mengucapkan terima kasih pada dokter ganteng yang ditaksir berusia dua puluhan tahun itu. Ketika dua gadis itu berbalik badan, tak ia sangka dokter itu mencegat mereka dengan sebuah kata tunggu. Weini dan Dina mengurungkan niat membuka pintu, mereka kompak menoleh pada dokter itu.


Ditatap dengan pandangan penuh tanda tanya dari dua gadis itu membuat dokter tersipu malu. Ia meronggoh ponsel dari saku jas putihnya lalu menyodorkan pada Dina. “Kamu Weini kan? Bolehkah kita foto bareng sebentar? Mbak tolong ya.” Ujar si dokter malu-malu, ponselnya sudah berpidah tangan pada Dina.


Sebagai manager yang baik, Dina tentu tanggap dan dengan senang hati meladeni permintaan dokter itu.  “Oh, tentu saja. Non, agak mendekat dikit.” Celetuk Dina mengomando Weini agar tidak berdiri renggang hingga terkesan jauh.


Weini tersenyum pada dokter itu sebagai jawaban bahwa ia bersedia atas permintaannya, sudah menjadi hal biasa bagi Weini meladeni fans yang mengajak selfie bersama. Hanya saja ia tidak berani berdiri terlalu dekat meskipun Dina dengan bawelnya meminta agar ia lebih mendekatkan diri dan berpose lebih akrab. Sebelum ia kembali normal, jangan ada yang menyentuhnya. Ya, hanya itu cara agar tak lagi ada korban karena kekuatan anehnya.


***