OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 307 DIA YANG DATANG KEMBALI



H-2 resepsi pernikahan Li An


Chen Kho dan ayahnya, Kao Jing mendarat di bandara Hongkong tanpa sepengetahuan Li San. Kedatangan mereka yang tiba-tiba sangat mengejutkan Li San yang baru sadar ketika pengawalnya melaporkan bahwa ayah dan anak itu sampai di gerbang.


“Ingat, jangan buat kesalahan lagi. Kita datang bukan untuk kembali mundur.” Bisik Kao Jing pada putranya. Kegagalan masa lalu dipicu oleh kecerobohan Chen Kho yang mengacaukan sebagian besar rencana mereka. Dan


Kao Jing tidak akan membiarkan terulang lagi.


Chen Kho mengangguk paham, “Ayah bisa andalkan aku kali ini.” Jawab Chen Kho sambil berbisik.


Pintu gerbang terbuka, Li San muncul tergesa menyambut kakaknya. Dari rautnya terbaca bahwa ia bingung dan belum siap dengan kedatangan dadakan itu.


“Kakak, kenapa baru bilang sekarang kalau mau datang.” Seru Li San yang mempersilahkan Kao Jing dan Chen Kho masuk. Mereka berjalan beriringan menuju kediaman Li San.


Kao Jing tertawa kecil, “Apa aku harus melapor dulu sebelum kembali ke rumah orangtuaku? Adik aku hanya tidak mau merepotkanmu.” Gumam Kao Jing. Sementara Chen Kho cukup santai menjadi pendengar.


Li San serba salah mendengar respon Kao Jing, senyumnya ditekut paksa. “Ah, bukan seperti itu, aku hanya tidak mau kakak repot. Kalau kakak bilang, pasti aku sudah menyuruh orangku menjemputmu.”


“Tenang saja adik, yang penting aku sudah sampai kan.” Ujar Kao Jing santai, ia tertawa seakan menunjukkan bahwa tidak ingin memperpanjang masalah.


Li San ikut tertawa, ia menggiring tamunya menuju aula. Sekedar bersantai melepas lelah perjalanan mereka yang memakan waktu lama. Setelah minuman dan makanan ringan disajikan, Li San mulai mengorek informasi pada kakaknya.


“Ah, sebenarnya kedatangan kakak yang mendadak ini dalam rangka apa?” Tanya Li San serius, namun tetap menjaga nada bicaranya.


Kao Jing tertawa kecil, “Adik terlalu bersemangat, baiklah kalau kamu betul penasaran. Aku kemari untuk membahas lebih lanjut tentang pernikahan anak kita.”


Li San mengernyitkan dahi, “Bukankah aku sudah menyetujui usul kakak untuk mempercepat pernikahan mereka, lalu apa yang harus kita bahas lagi kak? Aku belum menentukan hari pastinya namun akan segera kukabari ketika sudah fix. Kalau hanya untuk itu, kakak tidak perlu repot terbang jauh-jauh kemari.”


Kao Jing tersinggung, ia berusaha menahan diri dan berpura-pura nyaman dengan alur pembicaraan ini. “Bukankah lebih puas membahas urusan penting secara tatap muka daripada lewat telpon. Lagipula aku perlu terlibat dalam persiapan pernikahan ini, Grace putriku satu-satunya, aku mau yang terbaik untuknya. Termasuk memastikan bahwa putramu sudah memperlakukannya dengan baik.” Kao Jing mengecam Li San secara halus.


Li San tertegun, ia tahu betul bahwa Xiao Jun sampai sekarang tidak menaruh hati pada Grace. Dan kini Kao Jing menyampaikan protes padanya. Li San menghela napas, ia sanggup memaksakan pernikahan namun tidak akan pernah bisa memaksakan anak-anaknya mencintai orang yang dijodohkan pada mereka.


***


Liang Jia merasa kesepian tanpa Xin Er di sisinya, baru beberapa jam pelayan itu meninggalkan rumah namun Liang Jia sudah merana. Mulai sekarang ia harus terbiasa tanpa Xin Er, ia berharap Xin Er tak perlu kembali lagi. Bagaimanapun Li San tidak punya kekuasaan untuk menjemput paksa ketika Xin Er ada dalam kekuasaan Wen Ting.


“Semoga kamu mendapatkan kebahagiaanmu di sana.” Liang Jia berdoa tulus untuk Xin Er.


“Ibu, kabar buruk! Chen Kho dan paman datang, mereka kembali.” Yue Xiao tergagap menyampaikan kabar itu saking gugupnya.


Liang Jia merasa lututnya lemas, kepergian Xin Er lalu kedatangan tamu tak diharapkan di saat ia merasa perlu mencari kesempatan baik untuk berunding dengan suaminya. Setelah ada Kao Jing, kecil kemungkinan bagi Liang Jia untuk membujuk suaminya membatalkan perjodohan Yue Xin.


“Ibu, aku dengar kedatangan mereka kemari khusus untuk mendesak ayah memajukan tanggal pernikahan Xiao Jun. Itu artinya perjodohanku akan dipercepat juga. Ibu, aku nggak mau ….” Rengek Yue Xin, ia begitu panik hingga wajahnya memucat.


Liang Jia meremas jemarinya yang mengepal, ia tidak bisa tinggal diam lebih lama lagi. Pengacau itu mungkin berencana merusak anak-anaknya yang lain, demi mereka maka Liang Jia akan maju, setakut apapun dia. Tidak akan ia biarkan putrinya yang lain menyusul nasib tragis Yue Hwa. “Di mana ayahmu sekarang?”


***


Haris mengemasi barang keperluan yang akan dibawanya besok, Weini duduk di sisi ranjang mengamati kesibukan Haris memilih baju untuk dimasukkan ke dalam koper. Haris akan berangkat bersama Xiao Jun, satu hari menjelang pernikahan. Pria tua itu terlihat berseri dan penuh semangat, kalau Weini perhatikan gerak-gerik ayahnya itu persis saat mereka diundang makan malam keluar negri oleh Xiao Jun. Weini berpikir mungkin itu memang kebiasaan


Haris yang senang bisa jalan-jalan keluar negri, apalagi dalam rangka pesta.


“Ayah, aku titip kado ini untuk cece An. Sampaikan salam dan maafku padanya, bukan aku tak mau hadir tapi besok pas banget hari terakhirku syuting.” Weini cukup kecewa, ini adalah pesta pernikahan pertama yang mengundangnya namun ia justru tak berkesempatan hadir. Bisa dibilang Weini tidak punya teman, selain Stevan dan Dina lalu sekarang kakak Xiao Jun yang langsung akrab dengannya. Harapannya untuk menghadiri undangan pernikahan di masa mendatang hanya menunggu kabar baik dari Stevan dan Dina saja. Entah kapan kedua sahabatnya menemukan jodoh mereka dan menikah.


“Mungkin kamu lebih dulu menikah daripada mereka.” Haris tiba-tiba bicara seperti itu, pikiran Weini yang sedang mengkhayal itu terbaca jelas olehnya.


Weini menyengir, “Bisakah ayah tidak membaca pikiran orang? Itu kan tidak sopan ayah.” Ketus Weini.


Haris hanya tertawa, “Terbaca otomatis, mau gimana lagi.”


Mereka terdiam sejenak, Haris mengambil kado yang disodorkan Weini lalu berpikir sejenak bagaimana menatanya dalam koper. “Dia pasti sangat senang dengan pemberianmu, doakan saja pernikahannya langgeng bahagia.” Seru Haris.


Weini tersenyum dan mengangguk, “Pasti. Ah, andai saja Jakarta Beijing itu dekat, aku pasti segera menyusul begitu kerjaanku kelar.” Sesal Weini. Ia hanya bisa gigit jari mendengar serunya pesta dari Haris ataupun Xiao Jun.


“Tenang, aku bawakan oleh-oleh nanti. Hmm, di Beijing yang bagus apa ya?” Haris bertanya pada dirinya sendiri, ia belum pernah ke Negara itu sebelumnya.


Weini tersenyum, “Nggak usah repotlah, ayah nikmati saja liburan ke sana. Bila perlu jangan langsung pulang, jalan-jalan dulu beberapa hari. Jun pasti nggak keberatan jadi guide ayah.”


“Dan kamu bisa menyusul ke sana kan? Syutingmu tinggal besok, setelah itu bukankah kamu bebas? Ayah tunggu kedatanganmu ke sana, bagaimana?” Tanya Haris, ia bersungguh-sungguh dengan ajakannya.


Weini terlihat antusias, senyumnya berbinar mendengar ide Haris yang terdengar menarik.


***