
Grace menarik diri dari hadapan Weini, ia tak tertarik untuk melirik reaksi Weini meskipun penasaran apakah Weini masih tetap tersenyum padanya. Untuk saat ini, lebih baik Grace semakin menutup diri. Ia tak mampu menghadapi posisi serba salah, antara menuruti permintaan kakaknya atau menuruti kata hatinya. Sebenci-bencinya ia pada Weini, tangannya tidak akan mampu melukai. Bibirnya, mimik wajahnya menatap Weini memang sinis namun hatinya tidaklah sadis.
Weini menatap kepergian Grace dengan bingung, ekspresi gadis itu yang berubah sekejab cukup mencolok. Padahal Grace mulai bersedia berada satu tempat dengannya di belakang layar, namun entah pemicu apalagi yang
menjauhkan jarak mereka.
Grace berjalan kembali ke studio dengan tergesa, ponselnya masih di genggaman. Tiba-tiba saja alat komunikasi itu bergetar, Grace menahan napas sejenak. Ia yakin bunyi notifikasi pesan itu adalah pesan lanjutan dari Chen Kho. Ia perlu menata hati untuk membaca pesan mengerikan itu lagi, dan Grace belum siap. Ponsel itu terus ia genggam dalam kepalan tangan, dan ia langsung mengambil tempat duduknya di studio. Kembali bersandar di sana dengan mata terpejam.
Stevan yang duduk di seberang menatap ponselnya, lalu beralih menatap Grace yang tiduran di kursi malasnya. Pria itu menghela napas kecewa, pesan yang dikirim untuk gadis itu belum juga dibaca. Stevan menggelengkan kepala kemudian mengumpulkan semangat untuk meneror Grace dengan pesan selanjutnya.
Grace bergidik saat merasakan getaran ponsel kembali mengguncang ketenangannya. Setengah malas ia membuka mata lalu mengarahkan ponsel ke wajahnya, mungkin memang tak bisa terus dihindari, ia harus membalas
pesan Chen Kho supaya berhenti mengusiknya. Mata Grace menyipit begitu sadar bahwa tebakannya salah, bukan Chen Kho yang menerornya lewat pesan namun pria lain. Grace melirik sejenak ke seberang, pria yang mengiriminya pesan ternyata sigap menunggu responnya. Begitu tatapan mereka bertemu, Stevan langsung
tersenyum lalu berisyarat agar Grace membaca pesan darinya.
Senyuman Grace tersungging sedikit, ia pun membuka pesan masuk dari Stevan. Senyumnya makin dikulum ketika membaca chat singkat itu.
Ntar dinner yuk ….
Grace melirik Stevan lagi, kali ini pria itu memberi kode agar Grace membalas pesannya. Bibir serta tangan Stevan sibuk membuat gerakan isyarat itu, Grace tentu tahu apa maksudnya namun ia masih malas, gengsinya terlalu tinggi untuk langsung menjawab meskipun ada sedikit rasa senang karena ajakan itu. Ia memilih kembali menutup mata dan menjauhkan ponsel dari hadapannya.
***
Sampai syuting berakhir dan menyisakan lelah bagi seluruh orang yang terlibat pekerjaan itu, pesan dari Stevan masih digantung oleh Grace. Pria itu menatap lemah pada ponselnya, mengharapkan datangnya balasan rasanya sesulit mengharapkan hujan salju di negara bermusim tropis. Grace tampak bersiap meninggalkan studio, gadis itu sempat menoleh kepada Stevan yang membuat pria itu kegeeran. Sayangnya tatapan yang dibalas senyum manis dari Stevan itu tetap ditanggapi dingin oleh Grace. Kini gadis itu berlalu, semakin menjauh bersama dayangnya.
Sesampai di parkiran, Grace berhenti tepat di depan mobilnya. Dari sikapnya, tampak bahwa ia belum berminat segera meninggalkan parkiran. ‘Fang Fang, pulang dulu ya. Aku masih ada urusan penting, kamu nggak apa-apa kan naik taksi online sendiri?”
Fang Fang menatap Grace dengan lekat, binar di matanya begitu antusias. Grace sampai salah mengartikan tatapan itu sebagai rasa berat hati gadis pelayan itu meninggalkannya sendirian. “Oya, Fang … Nggak perlu masak jatahku ya, aku nggak makan malam di rumah. Kamu istirahat saja jangan tunggu aku pulang.” Timpal Fang Fang.
“Baik nona, hati-hati ya.” Tak disangka Fang Fang justru mengangguk senang dan segera mengiyakan perintah Grace. Kelakuannya yang aneh itu membingungkan Grace, biasanya gadis pelayan itu akan merengek dan menahan Grace agar bisa mengikuti kemana saja ia pergi. Tetapi sekarang, entah apa yang salah dengan Fang Fang.
“Eh, nggak perlu aku pesankan mobil?” Teriak Grace ketika sadar Fang Fang berlari meninggalkannya dengan gesit.
"Tidak perlu, sampai jumpa nona.” Teriak Fang Fang tanpa berhenti berlari keluar dari area gedung. Grace hanya menatap kepergian pelayannya dengan bingung, “Apa Fang Fang lagi jatuh cinta?” Gumam Grace, ia mengira Fang Fang mungkin senang karena bisa memanfaatkan kesempatan untuk pergi menemui pria yang ia sukai.
Grace tersenyum melihat Stevan dengan tampang kusut dan pesimis, pria itu menunduk lalu berjalan masuk ke mobilnya. Grace meraih ponsel kemudian mengetik sebuah pesan balasan dari chat Stevan. Ketika pesan itu berhasil terkirim, Grace menajamkan penglihatannya, ia tak ingin melewatkan setiap detik dari pria itu. Stevan mulai sadar ada pesan yang masuk di ponselnya, ia berhenti berkutat dengan mobil kemudian beralih fokus pada ponsel.
Tiba-tiba saja raut Stevan yang sedari tadi ditekuk langsung sumingrah saat harapannya terkabulkan. Ia menatap pada Grace yang masih berdiri melipat tangan di tempat yang sama. Gadis itu hanya tersenyum tipis kemudian melangkah masuk ke mobilnya.
Tunjukkan jalannya.
Sesingkat itu pesan balasan dari Grace namun mampu menarik lebar senyuman Stevan hingga di lekukan maksimal. Ia bergegas menyalakan mesin mobil lalu membunyikan klakson sekali sebagai tanda bahwa ia siap menunjukkan jalan pada gadis itu.
“Bukan hanya jalan menuju restoran, tapi jalan menuju hati lu pun bakal gue lewati.” Gumam Stevan yang tancap gas dari sana diikuti mobil Grace dari belakang.
***
Sebuah sudut meja di restoran bintang lima kawasan barat ibukota menjadi tempat persinggahan yang dipilih Stevan. Di hadapannya duduk seorang gadis yang setiap hari ia temui, namun mala mini mereka bertemu dalam suasana yang berbeda dan urusan yang jauh dari kepentingan pekerjaan. Grace banyak terdiam, kini ia sibuk memilih menu dari buku menu yang disodorkan oleh pelayan.
“Apa yang istimewa di sini? Aku pesan itu saja satu porsi.” Grace mengembalikan buku menu itu setelah dua kali bolak-balik dan tidak menemukan minat makanan yang ingin ia cicipi.
“Sama, satu porsi juga.” Ungkap Stevan mengikuti jejak Grace. Ia tak peduli masakan apa yang akan dihidangkan nanti, asalkan pilihan gadis itu maka ia akan ikuti.
Grace menyipitkan mata begitu mendengar pilihan Stevan. “Hei, untuk apa kamu sibuk pilih menu kalau akhirnya hanya ikut seleraku?” Protes Grace.
Stevan hanya mengangkat bahu sembari tersenyum, namun Grace tetap menunjukkan wajah ketus sehingga terpaksa ia harus bersuara. “Gue bingung mau pilih yang mana, semua kelihatan enak.”
Grace hanya geleng-geleng kepala, ia melihat sekeliling yang sepi. “Ini kebetulan atau settingan? Kenapa hanya ada kita di sini?”
Stevan tertegun, gadis itu cukup teliti. Ia memang optimis akan berhasil mengajak Grace makan malam di sini dan mereservasi satu ruangan ini secara khusus. Meskipun sempat putus asa, untung saja Stevan tidak membatalkan pemesanannya.
“Ya, setiap hari kuping kita sudah penat dengan kebisingan. Biarlah kali ini kita makan dengan tenang. Grace, terima kasih lu mau datang ke sini.” Ungkap Stevan dengan tulus.
Mereka cukup bertatapan, lama tanpa suara, hanya senyuman tipis dan diiringi instrumen lagu romantis. Biarlah semuanya mengalir apa adanya, dan biarkan mereka saling mengenal karena jodoh sesungguhnya dimulai dari proses perkenalan.
***