OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 285 KEMATIAN PALSU YANG TERBONGKAR



Li San memukul mejanya hingga menimbulkan suara keras, begitu mendengar laporan rahasia dari penasehat He. Sang penguasa itu menggertakkan gigi, mengepalkan tangan dan terus berusaha menahan diri mendengarkan


kelanjutan cerita penasehat andalannya.


Misi rahasia yang diembankan pada penasehat He akhirnya berbuah hasil, sebuah kantong mayat yang sudah lecak dan berwarna senada tanah. Li San melirik tajam pada benda mengerikan itu, separuh ketakutan dan sisanya rasa penasaran yang begitu dalam. Ia menatap penasehat He dan mengangguk tegas.


“Buka!” Perintah Li San.


Hanya ada ia dan penasehat He dalam aula, otomatis yang diminta untuk mengerjakan bagian tidak menyenangkan itu adalah penasehatnya. Ia yang menggotong benda itu kemari dan melaporkan pada Li San tentang apa yang didapat dari hasil penggalian kuburan Wei Ming Fung.


Kantong jenasah itu mulai digunting lalu dirobek paksa, Li San menatapnya tajam tanpa berkedip. Jantungnya berdegup kencang, namun tetap berdiri menyaksikan penggeledahan fakta yang selama puluhan tahun terpendam. Tubuh Li San terhuyung hingga ia menahan berat tubuhnya dengan berpegangan pada sisi meja. Terasa lemas begitu melihat apa yang ada di balik kantong jenasah bukanlah tulang belulang, melainkan sebongkah kayu.


Penasehat He menunduk, tak berani menatap langsung reaksi tuannya. Ia pun sama terkejutnya ketika pertama kali menyibak apa yang ada di dalam sana, yang mereka kuburkan bukanlah jenasah pengawal setia Liang Jia, melainkan hanya tipu muslihat. Dengan fakta ini, terkuak sudah bahwa Li San telah tertipu sekian lama.


“Tuan, saya turut menyesalinya.” Penasehat He menunduk hormat pada tuan besar yang masih tampak sangat shock.


Li San mengepalkan tangan lalu membalikkan badan, menyembunyikan rasa malu karena telah diperdaya. “Keparat itu … Aku tidak akan memberinya kemudahan hidup. Dia seharusnya sudah mati, dia tak perlu dikasihani.”


Penasehat He masih menunduk, “Apa rencana anda selanjutnya tuan?”


Li San terdiam sejenak, kemurkaannya kali ini bukan sembarangan. Ia perlu pelampiasan agar amarah ini terbayarkan. “Menurutmu, apa benar dia pakai sihir licik untuk menipu kita semua?”


“Sepertinya hanya cara itu yang punya kemungkinan besar meskipun terdengar tidak masuk akal, tuan. Tetapi rumor bahwa klan Wei mempunyai kemampuan sihir turun temurun yang juga dijadikan tameng untuk melindungi keluarga Li sejak dulu. Saya rasa trik ini yang Wei pakai untuk meloloskan diri.” Penasehat He mengutarakan analisanya tentang masalah ini.


Li San mengangguk, ia sependapat dengan penasehat He namun tetap ada yang belum ia mengerti. “Lalu kabur ke mana mereka? Kita sudah menelusuri setiap sudut terpencil di Negara ini, tapi jejak mereka bahkan jasat anak itu tak pernah ditemukan.”


“Kecuali mereka berdua kabur dengan mengandalkan kemampuan sihir, dia bisa membuat kita tertipu potongan kepala palsu, pasti tidak susah baginya memainkan trik selanjutnya. Maaf tuan, menurut saya mereka sudah keluar dari Hongkong, tapi entah sembunyi di mana sekarang.” Terang penasehat He.


Li San mengangkat gelas kacanya kemudian menggenggamnya erat, emosinya sungguh tak stabil hingga ia melempar gelas itu dan berhamburan di lantai. “Keterlaluan pengawal licik itu! He, mulai sekarang awasi secara ketat dan rahasia kepada Liang Jia dan Xin Er. Aku yakin mereka punya andil menyembunyikan keberadaan buronan itu.”


Penasehat He menunduk menerima perintah, “Siap laksanakan, tuan! Saya ijin memberi masukan, kita juga perlu waspada terhadap keturunan Wei. Saya khawatir mereka merencanakan kudeta di belakang anda, apalagi anda


sudah memutuskan menunjuk putra Wei sebagai penerus.”


Sadar bahwa saran itu tak direspon baik oleh Li San, penasehat tua itu segera berlutut memohon ampun. Menyinggung sang penguasa sama saja memasrahkan ajal ke tangannya.


***


“Siapa?” Weini gelisah, tubuhnya mengucurkan keringat meskipun pendingin ruangan berfungsi baik di kamarnya. Tidurnya disinggahi mimpi mengenaskan tentang keterpurukannya di tangan seseorang.  Dalam mimpi, Weini terbaring dengan mata tertutup, berapa kuatpun ia berusaha membuka mata namun terasa merekat kuat.


Seorang pria, Weini yakin orang yang berhadapan dengannya adalah seorang pria bertubuh tinggi tegap. Wajahnya terbiaskan oleh pantulan sinar terang yang mengelilingi tubuh pria itu, ia hanya dapat  mendengar suara baritonnya. Pria itu mengarahkan tangannya mendekati Weini yang tertidur, lalu dengan keji merobek topeng wajahnya.


“Aaarrrgghhh!”


Weini terbangun oleh pekikannya yang melengking, dahinya dibasahi keringat sebesar bulir jagung. Rasa takut itu terbawa hingga ia terjaga dari mimpi buruk, Weini bergegas bangun dan memeriksa wajahnya di depan cermin. Semua masih tampak sama, gadis itu meraba wajah mulusnya demi memastikan kecemasannya hanya sebatas mimpi belaka. Ia memegang dadanya, berusaha tenang agar detak jantung yang kencang itu kembali normal.


“Terlalu menakutkan, ini sangat menakutkan.” Desis Weini, ia kembali duduk di sisi ranjang. Tangannya meraih ponsel yang ia letakkan di samping lampu tidur, ada sebuah pesan dari Xiao Jun yang belum terbaca. Weini kembali tersenyum berkat pesan yang hanya mengucapkan selamat tidur dan mimpi indah itu.


“Aku mimpi buruk, Jun. Doamu kurang manjur.” Gumam Weini, seolah perkataannya bisa sampai pada Xiao Jun tanpa pelantara ponsel.


Dari kamar lain yang tak jauh dari Weini, Haris terduduk diam dengan wajah yang tak kalah cemas. Ia mendengar teriakan Weini, namun kali ini ia tidak berinisiatif menghampiri Weini seperti yang biasanya ia lakukan ketika gadis itu diserang mimpi buruk. Sama halnya dengan Weini, Haris pun tengah berjuang menenangkan dirinya yang juga dikunjungi mimpi buruk, sangat buruk malahan. Haris bahkan lebih dulu diteror mimpi yang sama, yang juga menjadi firasat untuk masa depannya.


“Kita tenangkan diri masing-masing, nona. Sampai pada saat itu, kita pun harus menghadapinya sendiri.” Lirih Haris yang begitu sedih.


Pria tua itu berdiri lalu menarik laci mejanya, mengeluarkan sebuah buku catatan dan menorehkan tulisan panjang. Tulisan yang ia klaim sebagai surat wasiat, andai kenyataan buruk itu tak terhindarkan. Manusia dan segala yang hidup di dunia, punya takdirnya dan pasti akan kembali pada penciptaNya.


Setelah menyelesaikan tulisannya, Haris membacakan mantera lalu membuka pintu dimensi gaib dan menyimpan buku itu ke dalamnya. Kini ia menopang dagu, memikirkan Xin Er yang begitu ia rindukan.


“Kamu harus terus hidup, begitu juga dengan anak-anak kita. Maaf, aku hanya manusia yang berusaha, takdir dan alam semesta ini terlalu kuat untuk dilawan. Tapi matipun aku tidak akan menyesal pernah mengabdikan hidupku pada keluarga Li, pada nona yang memang ditakdirkan menjadi wanita berharga, sesuai arti nama yang kuberikan padanya. Wei Ni, kamu adalah gadis berharga.”


Haris menitikkan air mata, menangisi batas kemampuannya yang mendekati akhir.


***