OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 260 WAKTU YANG TIDAK MENGUBAH SEGALANYA



Sepasang suami istri yang sudah menghabiskan hampir empat puluh tahun kebersamaan itu masih berdiam dalam sebuah pendopo. Pembicaraan serius belumlah berakhir, suasana yang semula hangat dan cenderung romantis itu


kini berubah panas dan berbau konflik. Li San masih sinis menatap wanita yang sudah bermahkota uban di hadapannya, hatinya masih belum puas sampai wanita itu memberikan kejelasan tentang pernyataannya.


“Apa kamu sedang menghakimi masa laluku?” Li San menyorotkan tatapan sinis pada Liang Jia yang masih menunduk. Ia melirik jemari wanita itu yang begitu sibuk meremas sapu tangan, kebiasaan buruk itu sudah ia


hapal di luar kepala, Li San tahu bahwa istrinya tengah gugup.


“Aku mana berani melawan tuan pemilik kekuasaan tertinggi. Seandainya memang benar, tentu tidak ada berefek apapun bagimu. Kamu selalu merasa yang paling benar, apa perlu kamu merasa bersalah?” Cecar Liang Jia sembari membalas tatapan Li San dengan tak kalah sengit, membuat pria itu tertegun melihat keberaniannya.


Li San tertawa kecil, “Kau mulai berani melawan, oh … Memang sejak dulu kau suka membantah. Aku tidak kaget dengan sikap burukmu itu. Sudah setua inipun kau masih belum belajar menjadi istri yang baik.”


Liang Jia ikut tertawa, sindiran barusan jelas melukai harga dirinya. Pengorbanan apapun yang ia lakukan, kontribusi apapun yang ia berikan untuk memperkokoh kejayaan Li San rupanya masih tak dianggap nyata. “Lalu, apa kau pikir setua inipun kau sudah jadi suami yang baik untukku?”


Li San mengepalkan tangannya, sindiran Liang Jia membuat hatinya panas. Namun ia masih bisa menahan diri untuk tidak berucap kasar demi membalas istrinya. Liang Jia menatapnya tajam, ia beransur-ansur mendekati Li San.


“Jangan bertingkah seperti kacang lupa kulit. Kekuasaanmu, kekayaanmu yang nomor wahid di negara ini, apa kau kira datang dengan sendirinya? Kau jangan lupa bahwa semua itu bisa bertahan dalam genggamanmu karena andil


klanku!” Pekik Liang Jia, ia mengeluarkan seluruh keberaniannya untuk menyuarakan isi hati.


“Kau!” Li San nyaris menampar Liang Jia, namun tangan itu batal mendarat di wajah Liang Jia lantaran wanita itu tanpa takut mendelik padanya.


“Kenapa? Tampar saja! Aku sudah biasa memakan tamparanmu, bukan hal baru yang menyakitkan lagi bagiku. Pernikahan kita hanya berlandaskan keuntungan bisnis, dan kau yang berotak licik ini yang paling diuntungkan. Apa


pernah kau bertanya padaku, apa aku bahagia dengan pernikahan ini? Sampai melahirkan lima anak untukmu, aku belum mengecap kebahagiaan menjadi istri orang nomor satu!”


Tangis Liang Jia yang tertahan, nyatanya pecah karena begitu emosionalnya saat menyentil masalah anak. Ia tahu sampai saat ini, Li San hanya mengakui mempunyai empat orang putri. Seluruh orang di penjuru negri ini tahu ia telah menghilangkan putri kelimanya, dan ia masih punya keberanian untuk hidup sebagai seorang ayah yang tidak merasa bersalah.


“Oh, kau memang mudah melupakan satu orang yang tak berdosa. Tapi aku yang mengandungnya, sampai matipun aku tidak akan pernah lupa, ada putri kelima yang Sembilan bulan hidup di rahimku. Kulahirkan dan besarkan sampai berusia enam tahun, lalu hampir kau bunuh seakan nyawanya tak berharga. Aku tidak akan pernah mengingkari bahwa aku adalah ibunya!”


Li San membalikkan badan, wajahnya memerah karena marah. “Dia sudah mati, buat apa diungkit lagi! Kau terus menyalahkanku juga percuma, tak akan bisa mengembalikan waktu lagi. Syukuri saja yang masih ada, empat anak gadismu juga butuh perhatianmu. Kau terus hidup dengan mengenang yang sudah mati, apa kau tidak tahu betapa anak gadismu yang lain menaruh iri dan sakit hati padamu?”


Tudingan Li San terdengar seperti lelucon, pria itu berusaha menasehatinya dan membandingkan kasih sayangnya terhadap keempat anak mereka. Liang Jia terkekeh dibuatnya, tawa yang begitu renyah dan berderai air mata. Mereka tidak lagi muda namun masih sanggup menghabiskan tenaga untuk berargumen satu sama lain.


“Kau yakin dia sudah mati? Jika dia masih hidup, apa kau mau memperbaiki kesalahan masa lalu? Apa kau bisa jadi ayah yang baik bagi dia dan berjanji tidak akan mencoba merusak hidupnya lagi?” Akhirnya Liang Jia punya kesempatan untuk menudingkan pertanyaan yang sudah sesak di dadanya. Ia dengan lantang dan sorot mata menantang, menguji di mana hati nurani suaminya yang tersisa untuk putri mereka yang malang.


Li San tepekur, ia tak menyangka ditodong seperti ini. Ekspresi Liang Jia terlihat menakutkan, dari raut wajahnya saja Li San merasa bahwa pertanyaan barusan bukanlah perandaian. Ini terdengar seperti sebuah kenyataan yang disembunyikan darinya, dan Liang Jia tengah membuka rahasia itu satu persatu.


“Oh, pengawal setiamu masih bertahan hidup? Putri pembawa sial itu juga masih hidup? Katakan di mana kau sembunyikan mereka?” Li San mencengkeram kerah baju Shanghai Liang Jia, tenaga yang lepas kontrol itu membuat Liang Jia sedikit kesulitan bernapas.


“Aku hanya bertanya, bukan berarti aku tahu.” Liang Jia terbata-bata, lehernya terasa sakit namun ia dengan nanar menatap suaminya. Mereka saling bersitegang dan di posisi ini jelas tak menguntungkan Liang Jia.


“Aku mengenalmu hampir setengah abad, dan aku tahu kamu sedang berbohong. Jadi benar dia masih hidup? Sebaiknya kau jujur, agar aku punya alasan untuk mengampunimu.” Li San berbisik pada Liang Jia, mendesiskan ancaman serius ke daun telinga wanitanya.


Liang Jia memberontak, sekuat tenaga ia kerahkan untuk melepaskan diri dari jerat suaminya. Didorongnya tubuh pria yang tak lagi muda itu hingga tersungkur, kendati hasilnya iapun harus ngos-ngosan karena menumbangkan seorang pria. Ia tak menyangka seorang Li San yang gagah perkasa semasa muda, kini bak ranting lapuk yang dengan mudah bisa dipatahkan. Mereka benar-benar sudah mulai renta karena usia, namun sangat disayangkan tak ada kesadaran dan kedewasaan dalam fase hidup senja mereka.


“Aku tidak perlu pengampunanmu, kamu bukan Tuhan! Kau tetap tak punya hati, meskipun ada kesempatan memperbaiki kesalahan. Jangan pernah berharap aku akan membiarkanmu merusaknya sekali lagi. Berdoalah semoga kelak penyesalanmu tidak terlambat.”


Liang Jia beranjak pergi, ia cukup puas telah menyuarakan isi hati meskipun harus berpuas diri dengan hasil yang di luar prediksi. Ia terlalu menaruh harapan besar bahwa pria itu telah berubah, nyatanya ia masih sama berbahaya bagi Yue Hwa. Jika seperti ini terus, Liang Jia tak punya banyak pilihan selain tetap diam. Niatnya untuk ke Jakarta dengan alasan mengunjungi Xiao Jun pun dihapus dari benaknya. Xin Er benar, ia tak boleh gegabah sedikitpun, Li San pasti akan ketat mengawasinya setelah ini. Ia telah membuka peluang untuk dicurigai, dan Li San yang terlanjur terpancing itu tak akan tinggal diam.


Wei, aku serahkan semuanya padamu sekali lagi. Kau bisa membawa anakku pergi, jadi tolong bawalah dia kembali.


***