
H-1 resepsi pernikahan Li An.
Semenjak kedatangan Kao Jing dan Chen Kho, suasana kediaman Li sedikit menegang. Bahkan penghuni rumah asli di sana merasa tak nyaman berada menempati rumah mereka, selalu ada rasa was-was yang dirasakan,
terutama Liang Jia. Sang nyonya besar kehilangan kepercaya-diriannya untuk menunjukkan kharismatik sebagai pemilik rumah. Baru sehari datang, Kao Jing sudah memonopoli waktu bersama Li San sehingga ia kesulitan menemui suaminya sendiri.
Kini Liang Jia berdiri di aula utama, menunggu Li San menampakkan diri memenuhi permintaannya untuk bertemu. Aneh rasanya jika dipikir, kehidupan mereka dengan status suami istri justru terlalu formal dan kaku. Mereka tidak menjalani kehidupan sebagai pasangan suami istri seperti kebanyakan orang awam, hanya untuk bertemu saja harus ada persetujuan dan tidak setiap hari bisa bertemu meskipun tinggal di tempat yang sama.
Li San muncul dengan raut tegas, penampilannya cukup gagah dengan cheongsam kebesarannya. Liang Jia berdegup dan sedikit gentar melihat kedatangan suaminya, ia perlu mengumpulkan keberanian untuk kembali
menentangnya.
“Suamiku, lama tidak bertemu. Kamu terlihat cukup baik, istirahatmu pasti cukup.” Liang Jia berbasa basi tetapi terdengar kaku.
Li San menyeringai, seperti bisa menebak kedatangan Liang Jia bukan tanpa alasan. Jika tidak ada keperluan, wanita itu tidak mungkin kemari dan sekedar memperhatikannya. “Bukan kebiasaanmu datang hanya untuk bertanya kabarku, ada perlu apa kamu kemari?” Ujar Li San, dari nadanya saja terdengar ia masih memendam kekesalan pada istrinya.
Liang Jia tertegun, ia seperti diserang sebelum mengeluarkan senjata. Namun ia tetap berusaha tenang dan tersenyum seolah tidak ada hal besar, ini semua demi Yue Xin. Liang Jia berjalan mendekati meja suaminya kemudian mengambil bangku kecil dan menarik bangku itu agar dekat dengan jarak Li San.
“Kamu memang paling mengenalku.” Ujar Liang Jia seraya tersenyum, antara sedang menyindir atau memuji suaminya.
Li San hanya diam tak berekspresi. Ia menunggu kelanjutan kata-kata yang akan Liang Jia lontarkan, dari raut wajah wanita itu saja ia bisa menebak bahwa pembicaraannya ada kelanjutan.
“Aku dengar kamu berniat menjodohkan Yue Xin dalam waktu dekat, kenapa tidak membahas bersamaku. Dia anak kita, tidak bisa sepihak kamu putuskan masalah perjodohan.” Liang Jia mulai melontarkan uneg-unegnya, percuma ditahan toh bagaimanapun juga Li San sudah bisa menduga maksud kedatangannya.
“Kenapa dipermasalahkan? Anak gadis sudah dewasa memang harus menikah, siap tidak siap ketika sudah menikah juga dia bisa adaptasi. Daripada salah memilih pria, sudah dicarikan pria yang tepat, kenapa harus ditolak?” Kecam Li San.
“Kita sudah hidup di jaman modern, sadarlah sikap kolotmu hanya membawa penderitaan pada anak-anak kita. Tidak bisakah kita hanya menjadi orangtua yang diam membiarkan anak-anak menentukan pilihan hidupnya? Kamu
hanya mempertahankan kekunoan, tidak menerima perkembangan jaman dan dunia yang sudah sangat terbuka. Tidak sadarkan kamu bahwa itu hanya menjebak anak kita tidak bisa mandiri? Setelah kita tiada, apa yang bisa diwariskan pada putri-putrimu selain memberikan mereka suami?” kesal Liang Jia, sikap egois Li San hanya menjadi sandungan bagi anak-anak mereka.
“Cukup!” Bentak Li San. Ia menatap tajam pada Liang Jia yang matanya sudah berkaca-kaca.
“Apa kamu masih punya nyali untuk protes tentang caraku, sedangkan di belakangku kamu dengan lancang menuduh saudaraku dengan hal yang hanya kamu karang? Beraninya kamu berpikir bahwa kakakku yang menghasutku menyingkirkan putri sial itu? Kamu wanita … Tahu apa tentang urusan tahtaku?” Li San menggulingkan bola panas pada Liang Jia, menyudutkan wanita itu dengan ucapannya yang secara rahasia disampaikan pada Xiao Jun.
Liang Jia bergetar, tubuhnya dipepet oleh Li San yang condong ke arahnya. Liang Jia menatap sayu pada suaminya, kecurigaannya terbukti, Li San memang mengawasinya. Namun tetap saja ia merasa sangat takut melihat reaksi pria tua itu. “Itu kenyataan, aku tidak mengarang cerita. Mata hatimu sudah dibutakan oleh dia, saudaramu itu apa lebih berharga daripada darah dagingmu?”
Li San murka, tangannya mengepal lalu melayang hendak menampar Liang Jia. Untung saja dengan sigap, Liang Jia menghindar dan berdiri menjauhi Li San. “Kamu jangan lupa, klan siapa yang membantumu mengamankan posisimu sekarang. Kekuasaanmu sekarang berkat dukungan dan sumbangsih dari klanku juga hingga kamu bisa meyakinkan orangtuamu untuk menyerahkan tahta padamu, bukan pada saudaramu!”
***
Chen Kho tahu pertengkaran yang barusan terjadi antara tuan dan nyonya besar rumah ini, ia hanya mengulum senyum. Lebih bosan lagi ketika ia harus kembali ke kamar yang dulu dijadikan penjaranya, kalau bukan karena ayahnya yang meyakinkan bahwa kedatangan mereka kali ini pasti membawa kemenangan, ia tak mungkin sudi menginjakkan kaki kembali ke sini.
Kejenuhan di rumah yang luas nan sunyi itu membuatnya inisiatif mencari hiburan, ia tengah berjalan menghampiri kediaman para nona Li untuk sekedar menggoda kedua nona manja itu. Sekeliling cukup sepi di tengah hari yang begitu terik matahari, Chen Kho meminta pengawal kediaman itu menyampaikan kedatangannya, namun berujung penolakan. Ia tidak putus asa, ditolak bukan berarti tidak bisa masuk. Ia bukan pria penurut, dan tidak perlu
persetujuan untuk masuk menghampiri mereka.
Yue Xin mendengar pintunya diketuk dari luar, seorang pengawal menyampaikan kabar bahwa tamu yang tadi ditolak sudah berdiri di depan pintu. Yue Xin tersentak dari duduknya, ia sedang menonton drama di televisi namun
buyar saat tahu orang yang enggan ditemuinya berani masuk tanpa seijinnya.
“Apa kamu tidak tahu sopan santun? Beraninya masuk kamar seorang gadis tanpa permisi.” Sindir Yue Xin ketika Chen Kho menerobos masuk ke dalam kamarnya meskipun sudah mendengar langsung penolakannya.
Chen Kho tertawa, padahal tidak ada yang lucu dari perkataan Yue Xin. Gadis itu melirik sinis padanya, dulu ia sempat bersimpati dengannya namun sekarang setelah tahu sifat asli Chen Kho yang menjengkelkan, ia berubah pikiran.
“Ayolah, sejak kapan aku jadi orang yang tahu sopan santun? Hanya untuk masuk kamarmu saja untuk apa formalitas? Aku datang sebagai tamu, bukan orang yang hendak menerkammu.” Ujar Chen Kho nyinyir, tatapannya
bermakna ejekan pada sepupunya.
Yue Xin sedikit gentar, saat Chen Kho berjalan menghampirinya pun ia spontan berjalan mundur menghindariya. “Mau apa kamu mencariku? Kalau dipikir memang benar juga, pria sepertimu jangankan tahu sopan santun, bahkan
rasa malupun tidak punya. Kamu masih punya muka untuk kembali ke tempat ini setelah mencoreng nama baik kediaman ini dengan perbuatan menjijikkan itu.” Umpat Yue Xin. Perbuatan Chen Kho yang nyaris menodai Li An di tempat terbuka dan masih di sekitar kediaman Li jelas menjadi bahan gunjingan, betapa tidak senonohnya pria itu terhadap seorang gadis, mentang-mentang punya kedudukan dan harta lalu seenaknya menindas golongan rendah.
Chen Kho nyengir, ia benci kejadian itu diungkit lagi. Pria itu berjalan mendekati Yue Xin yang terus mundur hingga mentok menabrak meja. Kesempatan itu digunakan Chen Kho untuk mengancamnya. “Tadinya aku kemari untuk menyapa sepupuku yang manis, tidak tahunya gadis manis yang tumbuh besar bersamaku ini sudah berubah menjadi gadis sok suci. Apa kamu tidak pernah berbuat jahat pada Li An? Jangan langsung cuci tangan saat kamu dengan sengaja menjebaknya agar diusir dari sini.” Bisik Chen Kho, bisikan yang berhasil menggertak telak Yue Xin. Gadis itu ketakutan, bibirnya bahkan tak bisa mengatup saking kaget dan takut.
“Aku kasih saran gratis, kalau kamu memang peduli sama orangtuamu, menikah saja! Terima perjodohan itu dengan pasrah, atau kamu memang senang melihat ayah dan ibumu saling bertikai karena kamu? Mereka baru saja bertengkar hebat gara-gara kamu, dan mungkin akan berseteru lebih parah lagi jika kamu tetap keras kepala menolak.” Chen Kho tersenyum licik, jelas sudah bahwa ia memang ditakdirkan sebagai pemenang.
Yue Xin menangis, ia merasa tersudutkan dan bersalah pada kedua orangtuanya. Chen Kho yang melihat psikologis gadis itu terguncang, semakin besar kepala lalu melontarkan kata-kata provokatif lagi. “Salahkan saja takdirmu kenapa jadi seorang perempuan. Lihat aku, tidak perlu dipaksa menikahi orang yang bukan kriteriaku. Kelak kalau ada kelahiran ulang, jadi laki-laki saja. Dan sekarang kamu terima saja nasibmu tanpa banyak berontak.” Chen Kho
menepuk pipi Yue Xin dengan pelan disertai seringai yang begitu puas.
Yue Xin menatapnya dengan sinis, “Katakan itu pada adikmu saja, aku tidak perlu kamu kasihani.” Ujar Yue Xin, ia bisa menyalurkan amarahnya dengan tepat karena sindiran itu berhasil membuat wajah Chen Kho memerah menahan kesal.
***