OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 80 JATUH CINTA YANG SALAH



Li An baru saja menapakkan kaki keluar rumah ketika Chen Kho tiba. Gadis itu sudah hapal jam kedatangan pria yang selama berbulan-bulan setia mengunjunginya. Belum terucap satu katapun dari Chen Kho, tetapi mereka berdua saling beradu tatapan tanpa berkedip.


“Aku ke sini menyampaikan kabar, nyawa ibu dan adikmu sudah diampuni. Tuan besar tidak mempermasalahkannya lagi. Aku memohon pada tuan besar dan meminta bantuan ayahku untuk membujuknya. Kau tidak perlu cemas lagi.” Ujar Chen Kho penuh keyakinan pada Li An yang menatap penuh perasaan padanya.


Gadis itu segera berlutut, ia menundukkan kepala sedalam-dalamnya sebagai bentuk penghormatan. “Terima kasih tuan, hamba berhutang pada anda. Sungguh terima kasih atas kebaikan anda.”


Chen Kho meraih pundak Li An dan menuntunnya berdiri. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan sungkan padaku. Kamu bukan orang lain bagiku, apapun yang bisa kulakukan pasti akan kuberikan yang terbaik untukmu.”


Kini mereka saling berhadapan, Chen Kho masih menggenggam tangan Li An. Gadis itu menunduk malu, tidak berani membalas tatapan tuan muda yang tersohor itu. Chen Kho mengambil inisiatif lain, diangkatnya dagu Li An dengan jemari telunjuk. Herannya gadis itu tidak menolak seperti sebelumnya, ia pasrah diperlakukan selembut itu oleh Chen Kho.


“Li An, aku tidak akan membiarkanmu melewati segala penderitaan sendiri. Mau kah kau percayakan perasaanmu padaku? Aku tidak akan pernah mengecewakanmu.” Chen Kho kembali menyatakan perasaan pada Li An.


Kakak Xiao Jun itu Nampak diam berpikir, bolehkah ia sedikit jujur pada perasaannya? Tanpa ia tahu entah sejak kapan ia mulai terbiasa dengan kehadirannya. Ia menunggunya datang lagi setiap kali pria itu pergi. Meskipun dengan sangat berat ia memungkiri perasaan ini, namun ia akan memilih menuruti kata hati.


“Ya…”


Jawaban singkat dan pelan itu seperti tiupan angin yang berdesis tepat di hatinya. Senyuman Chen Kho merekah, dipegangnya kedua pundak Li An dan dipandanginya wajah cantik itu lekat-lekat. Li An yang tersipu pun


menebarkan senyum termanisnya, ia sangat bahagia hingga tak peduli resiko apa yang kelak ia hadapi karena keputusan ini.


“Wo Ai Ni Li An!” Chen Kho menarik pundak yang sedari tadi disentuhnya ke dalam pelukan. Mereka bertautan erat dengan kulit yang saling bersentuhan. Li An terbuai dalam pengakuan cinta yang memabukkan.


Ia sepenuhnya telah jatuh cinta.


***


Lisa tidak melepaskan pandangan dari pria yang baru pertama kali ia lihat. Ia tak percaya cinta pada pandangan pertama sebelumnya, namun hal yang dikira bualan itu baru ia anggap benar setelah bertemu pria ini. Bagaikan malaikat dari surga, pria dengan postur sempurna, wajah putih bersih, hidung bangir, sepasang mata yang teduh namun tajam, ia belum pernah melihat pria dengan paras setampan ini.


“Talent barukah? Belum pernah liat dia.” Lisa bertanya pada kru yang dekat dengan posisi duduknya.


Kru itu menggelengkan kepala, “Kayaknya bukan. Mungkin teman pak Bams.”


Lisa mengekori gerak gerik pria itu hingga lupa berkedip. Wajah pria itu tampak serius dan penuh kharisma, tanpa tersenyum saja ia sangat enak dipandang. Seakan bisa telepati, saat Lisa mencurahkan segala perhatian pada sosok pria itu, tiba-tiba si tampan itu memandang ke arahnya. Mereka beradu tatap kurang lebih lima detik kemudian pria itu berpaling. Dalam waktu sesingkat itu, Lisa nyaris meleleh kegeeran.


“Dia mandangin gue, habis ini dia pasti naksir dan deketin gue!” Lisa berujar sendiri dengan kepedean level dewa.


"Nggak usah ngarep, hanya cowo nggak waras yang bisa ketipu kedok lu.” Sindir Stevan yang mendengar khayalan Lisa. Andai bisa muntah, mungkin sudah muntah di tempat ketika ia mendengar kata-kata itu.


“Diam Lu! Apa hak lu ngomentarin urusan gue! Gue bisa bikin siapapun yang gue mau jatuh cinta dan bertekuk lutut ama gue!” Lisa menyeringai, ia risih berbicara dengan Stevan.


Stevan malah tertawa geli, menertawakan kebodohan wanita yang tidak pernah mengukur diri. “Hahahhaaa… sumpah lu lucu banget. Nggak pernah ngaca ya? Pria sekelas dia mana mungkin menurunkan standarnya buat


pacarin artis kayak lu! Dia mau cewek kayak apa juga tinggal jentikin jari, ngapain harus milih lu yang … lu mikir sendiri deh.”


Perdebatan yang tidak akan berhenti sebelum menemukan alasan yang pas. Hingga ketika pria yang sedari tadi mereka pertengkarkan berjalan mendekati mereka, Lisa akhirnya merubah mood galak menjadi lembut. Kemampuan actingnya dikeluarkan, ia berupaya sebaik mungkin seperti gadis feminism. Tatapannya teduh serta gesture yang lemah gemulai seperti gadis polos tak berdaya. Stevan yang melihat perubahan 180 derajat itu


seketika muak.


“Dia menghampiri gue. Lu kalah telak.” Bisik Lisa pada Stevan tanpa saling memandang.


Xiao jun cukup puas dengan tur singkat di studio yang dikomandani Bams. Setelah deal membeli saham sebesar 85 persen, ia merasa perlu berkenalan dengan bisnis yang baru saja ia miliki. Bams tidak berani berkutit pada bos barunya, apapun yang Xiao Jun inginkan pasti segera ia lakukan.


“Thanks atas tur singkatnya. Aku perlu menghampiri seorang teman dulu.” Xiao Jun mengakhiri urusan dengan Bams. Apa yang ia inginkan sudah ia dapatkan, tinggal menggeser ke langkah selanjutnya.


“Eh, bos kenal Lisa?” Tanya Bams penarasan. Ia mengikuti arah tatapan Xiao Jun yang tampaknya melihat ke Lisa.


“Bukan dia tapi pria yang duduk di sampingnya.” Jawab Xiao Jun singkat.


“Loh, temenan ama Stevan juga? Dia naksir ama Weini loh, Nampak banget soalnya.” Seru Bams memberi info yang tidak ditanyakan.


Xiao Jun hanya tersenyum, Bams jadi begitu peduli pada urusan pribadinya hingga ikut bersuara tanpa diminta. “Untuk hari ini cukup sekian dulu, tunggu instruksi selanjutnya dariku.” Seru Xiao Jun dan langsung meninggalkan Bams.


Ada hal lain yang perlu dibahas dengan Stevan sekarang, pria itu bukan lagi rival atau saingan dalam memperebutkan cinta. Xiao Jun bisa merasakan ketulusan dari Stevan untuk Weini, namun untuk saat ini


ia tidak punya alasan cemburu yang membabi buta. Setidaknya ia tahu selama tidak ada celah, maka pihak ketiga tidak akan masuk.


“Lagi break ya? Ikut aku sebentar Bro!” ujar Xiao Jun dengan wajah tanpa ekspresi.


Stevan menahan tawa, ia menoleh ke Lisa yang mematung shock. Kegeeran artis itu seakan pecah berkeping-keping, seharusnya ia kehilangan muka saking malu tetapi mungkin saja urat malunya sudah putus. Ia belum


menyerah segampang itu.


“Oke.” Stevan bangkit dari tempat duduk.


“Eh, bro... boleh kenalan dong?” Lisa berusaha mencari perhatian, ia memasang tampang manis menggoda.


Xiao Jun yang sudah berjalan sejengkal tiba-tiba berhenti. Stevan yang mengekorinya di belakang pun ikut menoleh menatap Lisa. Dalam hati Stevan berpikir Xiao Jun tidak mungkin melayani permintaan Lisa, sampai ia mendengar sendiri apa yang Xiao Jun katakana setelahnya.


“Li Xiao Jun.” Xiao Jun berbalik dan melanjutkan langkahnya meninggalkan Lisa yang tersenyum kegirangan.


“Gue Lisa. Lisa… Xiao Jun next time ketemu lagi ya!”


Tak ada balasan ataupun isyarat dari Xiao Jun. ia berlalu dengan dingin bersama Stevan yang masih sempat menoleh dan menjulurkan lidah ke Lisa.


***