OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 78 KEKUASAAN YANG SESUNGGUHNYA



“Anda siapa?”


Pria yang dimaksud itu tersenyum ramah – jika tidak mau disebut senyum mematikan – yang membuat bulu kuduk Bams berdiri. Meskipun usianya terlihat sangat muda, namun Bams mengakui pesan yang dikabarkan krunya memang benar, pria ini bukan orang biasa, ada power besar tersembunyi di baliknya.


“Perkenalkan saya Li Xiao Jun.” Xiao Jun menawarkan sebuah jabat tangan hangat yang dengan cepat disambut Bams.


“Li Xiao Jun? Anda… CEO perusahaan X yang terkenal itu? ah… ada angin apa yang membawa anda kemari?” Bams mempersilahkan Xiao Jun duduk di sofa dalam ruang kerjanya.


“Maaf mengganggu waktu kerja anda, kedatangan saya untuk sebuah penawaran kerjasama.” Ujar Xiao Jun kalem.


Bams tersenyum girang, sepertinya proyek perdana mereka berkesan positif bagi klien ini sehingga ia dengan rendah hati menawarkan kerjasama selanjutnya. “Dengan senang hati kami terbuka untuk kerjasama selanjutnya dengan anda. Ehem… gimana tanggapan anda tentang proyek sebelumnya? Apa ada masukan untuk diperbaiki ke depannya?”


Xiao Jun tetap tenang, ia bersandar santai pada sofa sambil melipat tangan. “Saya cukup puas dengan proyek sebelumnya dan akan meminta bantuan kalian untuk produk kami selanjutnya. Tapi kedatangan saya kemari untuk membahas kerjasama di luar karya. Saya ingin membuat kesepakatan khusus dengan anda secara pribadi.”


Bams mengernyit, ia menyibak rambutnya yang sudah dikucir rapi hingga tampak kusut. Ia tak bisa menebak arah pembicaraan bos muda di hadapannya.


Xiao Jun melihat kebingungan lawan bicaranya, kemudian ia mulai membuka kartu satu persatu. “Saya akan perjelas, anda pasti tahu kasus Weini sekarang sudah masuk ke jalur hukum. Saya hanya ingin transparansi dari


anda untuk bukti-bukti yang anda miliki.”


Ekspresi Bams berubah total, pembicaraan ini berubah tidak nyaman lagi baginya. Ia tidak tertarik membahas sesuatu yang tidak berkaitan dengan kerjaan, tak peduli siapapun lawan bicara yang ia hadapi. “Maaf, Tuan. Ini di luar ranahku. Bukan kapasitas saya mencampuri urusan artis, apalagi yang menyangkut masalah pribadi. Jika anda belum ada keperluan lain, saya mohon diri untuk kembali kerja.”


Bams berdiri dan hendak meninggalkan Xiao Jun yang masih duduk tenang.


“Video yang beredar hasil editanmu kan? Bagaimana kalau itu jadi barang bukti keterlibatanmu dengan kasus pencemaran nama baik, pelanggaran UU ITE dan kebohongan publik?”


Ucapan Xiao Jun berhasil menghentikan langkah kaki Bams yang baru beranjak sejengkal. Bams meremas tangannya, emosinya mulai tersulut hingga ia merasa perlu menghantam wajah seseorang.


“Jadi lu ngancam gue!” Bentak Bams yang langsung menyerang Xiao Jun dengan melayangkan bogem mentah. Sayangnya serangan tanpa teknik itu dengan sigap ditepis Xiao Jun, hanya dengan satu tangan saja Xiao


Jun mencengkeram balik tinju yang gagal mendarat itu kemudian mencengkramnya dengan sangat kuat hingga Bams merintih kesakitan.


“Bukan ancaman, lebih tepatnya memberi ultimatum. Sebaiknya kamu memilih pihak yang kuat dan benar kalau mau selamat. Jika salah pilih, bisa jadi kamu juga ikut terseret hancur.” Xiao Jun melepaskan cengkramannya


tetapi Bams tetap merintih kesakitan, ia mengibas tangannya saking perih.


“Lu peduli banget ama Weini sampe segitunya? Dia hanya artis pendatang, lebih baik ngorbanin satu orang daripada ratusan orang kehilangan kerjaan. Lu nggak bakal ngerti dilemma gue! Coba katakan di pihak


mana yang lu kira punya power sekuat Anwar Gumilang?” Cecar Bams, akhirnya ia tersulut untuk membahas hal yang dari tadi ia hindari secara berkelit.


“Aku!” Xiao Jun menekankan dengan tegas tetapi ia bisa membaca pikiran Bams yang tak percaya padanya.


“Bos, nggak bermaksud meremehkanmu, tapi dia punya separuh saham di sini yang artinya ini PH udah bisa dibilang punya dia. Sedangkan anda hanya pernah terlibat satu kali kerjasama proyek iklan, perbandingannya


terlalu jauh bos.” Seru Bams, ia merasa kepercayaan diri Xiao Jun kelewatan.


Xiao Jun menghubungi Lau, setelah pembicaraan mereka tersambung ia langsung memencet loud speaker. “Paman, bagaimana soal Anwar Gumilang?”


Bams terperangah mendengar Xiao Jun memanggil nama bos besar itu dengan enteng dan tanpa rasa hormat. Ia mulai tertarik dengan pembicaraan itu dan memasang kuping baik-baik.


“Sudah beres tuan. Dia tidak menolak menjual seluruh sahamnya di PH Multi Utama dan berharap kita menerima tawaran kerjasama dengan perusahaannya.” Lau membeberkan dengan lantang meski via telpon.


Bams menundukkan kepala, menyembunyikan urat malunya yang sempat meremehkan bos muda di hadapannya. Ia tak tahu harus berkata apalagi setelah mengetahui Anwar Gumilang telah menjual seluruh kepemilikan


sahamnya di PH ini kepada bos ini.


“Anwar Gumilang hanya berani menaruh saham 45%, sekarang aku akan berinvestasi sebesar 85% saham untuk perusahaan ini dan tidak akan membiarkannya kolaps. Jadi anda ingin berdiri di pihak mana?” Xiao Jun menskak


mat Bams dengan pertanyaan menohoknya.


Bams belum bersuara, antara shock dan malu. Bos muda itu pasti memiliki perasaan yang dalam pada Weini hingga berani berkorban segitu besar untuknya. Tetapi ia sudah terlanjur berbuat curang dan pasti terseret hukum bersama Metta.


“Masih ada harapan untuk beralih jalur. Aku tidak akan menyulitkan posisimu di kemudian hari, kau bisa pegang ucapanku. Yang aku perlukan hanya kejujuranmu dan video utuh saat itu.” Xiao Jun tersenyum, kali ini senyuman itu terlihat hangat bersahabat hingga Bams terkesima dan menaruh kepercayaan penuh padanya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Bams membuktikan dengan mata kepala sendiri seperti apa kekuasaan yang sesungguhnya.


***


Stevan membolak-balik naskah, matanya sangat penat melihat scene dirinya dan Lisa yang mendominasi dalam setiap episode. Walaupun harus professional soal kerjaan, namun Stevan pribadi tidak cocok bekerja sama dengan


artis itu. Andai ada Weini… ah! Stevan menepis pikirannya. Andai Weini kembali pun ia terjebak dilemma dengan perasaannya, ia belum siap beradu peran layaknya sepasang kekasih dengan kenyataan bahwa ia baru saja patah hati.


“Cih… lu eneg ya ama peran lu yang borongan ama gue? Sabar-sabar aja, gue juga eneg ama lu kok. Hihi…” Lisa mencibir Stevan yang terlihat lebih pasif sejak Weini diliburkan dari peran.


Nyinyiran itu tak dianggap oleh Stevan, ia justru angkat pantat dari kursi yang didudukinya dan memilih tempat duduk lain yang jauh dari jangkauan Lisa.


“Gue mau lihat kesombongan lu itu tahan sampe kapan! Begitu sinet ini gulung tikar, lu masih punya job apa lagi?” cecar Lisa yang tak terima dicueki begitu saja.


Stevan pura-pura sibuk menghapalkan dialognya. Melihat keangkuhan Lisa yang menjengkelkan, lebih baik ia korban perasaan bekerja dengan Weini ketimbang harus makan hati setiap kali bertemu wanita jahat itu. Tak


dihiraukannya lagi suara berisik Lisa yang mencaci maki dirinya hingga suara Bams terdengar di studio, Stevan langsung menengadah mencari sumber suara itu.


Seketika Stevan lupa bernapas saat melihat siapa yang datang bersama Bams, apa yang direncanakan Xiao Jun sampai harus masuk ke ranah yang bukan jangkauannya? Stevan mulai beranjak dari posisi enaknya, ia


mesti mencari kesempatan untuk bicara dengan Xiao Jun.


Sementara itu, Lisa mematung dengan mulut ternganga saat melihat ketampanan dan kharisma Xiao Jun yang seakan memancarkan sinar. “OMG, gantengnya!”


***