OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 127 WHAT HAPPEN WITH YOU, LAU?



Lau baru selesai menggantikan Xiao Jun memimpin rapat penting hingga menghabiskan waktu dua jam tanpa memegang ponsel. Di saat perusahaan sedang fokus mendapatkan kerjasama dengan pihak asing, Lau justru harus menjadi peran pengganti. Ia sadar beberapa pimpinan perusahaan menilai kemangkiran Xiao Jun sebagai itikad yang kurang baik untuk awal kerjasama, namun apa daya tuannya bila penguasa sesungguhnya sudah mengeluarkan ancaman maka tidak akan ada alasan yang bisa membatalkan kehendaknya.


Betapa kagetnya Lau ketika mendapati ratusan miscal dari dua nomor yang ia kenali, dengan panggilan sebanyak itu bisa dipastikan Weini sedang mencemaskan keadaan Xiao Jun. Hari mulai beranjak siang, Xiao Jun bahkan belum memberi kabar kepadanya. Ia perkirakan pukul empat subuh waktu Hongkong, tuan mudanya tiba di


kediaman Li. Dalam kurun waktu selama itu, apa yang telah Xiao Jun lakukan? Lau mulai gusar, ia sangat khawatir seandainya Xiao Jun gagal meyakinkan Li San. Pikirannya kian cemas, sepertinya dugaannya benar. Tidak mungkin Xiao Jun diam tanpa berita jika memang ia berhasil mendapatkan pengertian tuan besar.


“Tuan, apa anda baik-baik saja?”  Lau berbicara sendiri saking cemasnya.


Ia berhenti berpikir negative, selama ia masih di sini yang bisa ia lakukan untuk tuannya adalah melindungi gadis yang ia cintai. Lau yakin Weini pasti khawatir lantaran tidak bisa menghubungi Xiao Jun. Ia menelpon balik nomor Weini dan tak perlu menunggu lama untuk terhubung, telpon darinya mungkin sudah dinantikan sejak tadi.


“Halo paman?” seru Dina dari seberang.


“Ah, Dina. Apa kau bersama Weini, boleh berikan telpon ini padanya?” ujar Lau. Ia ingin menyampaikan langsung pada Weini apa yang sedang terjadi.


“Ng, dia lagi dandan sih paman. Aku nggak boleh tahu ya? Ini rahasia banget kah?” tanya Dina kepo dan sedikit sedih karena Lau terkesan main rahasiaan padanya padahal ia adalah mata-mata mereka.


“Boleh Dina, tapi aku ingin sampaikan langsung ke Weini dulu. Dia pasti cemas banget mikirin tuan Xiao Jun. Bisa kau berikan sebentar ke dia?” Lau meminta kembali agar dihubungkan dengan Weini.


“Okelah. Tuan kemana sih? Non Weini sampe nangis loh, tuh matanya bengkak padahal mau syuting.” Ujar Dina sambil masuk menghampiri Weini.


Lau hanya tersenyum tanpa suara dan pastinya Dina tidak mengetahuinya, ia hanya merasa Lau tidak bersedia memberitahunya.


“Non, telpon dari paman Lau.” Dina langsung menyodorkan ponsel ke telinga Weini.


Weini terkesiap, kedua matanya seketika melek saat tahu ada panggilan dari orang yang ia cari, meskipun bukan Xiao Jun. Ia memberi isyarat pada penata riasnya agar menunggu sejenak sembari ia berjalan menjauh mencari tempat yang lebih sepi.


“Paman, ini Weini. paman… di mana Xiao Jun?” Weini sangat gusar, tanpa basa basi ia minta kepastian dari orang terdekat Xiao Jun.


“Nona, maaf membuatmu khawatir. Tuan Xiao Jun saat ini pulang ke Hongkong, ada urusan mendadak di keluarganya. Ia pergi tadi malam setelah mendapat panggilan dari ayahnya. Nona tenang saja, ia pasti menghubungimu setelah urusannya selesai.” Lau bicara apa adanya, memang itulah yang terjadi pada Xiao Jun. Jika bukan karena telpon dari Li San, mana mungkin Xiao Jun bergegas pulang tanpa pamit pada Weini.


“Jadi ia sudah pergi… tanpa pamit padaku…” ujar Weini lemah. Semestinya ia diberitahu langsung oleh Xiao Jun, andai tidak sempat tatap muka setidaknya pria itu bisa berpamitan dengan mengirim sebuah pesan singkat untuknya. Ada rasa kecewa dan sedih yang tak dapat Weini jelaskan.


Lau sudah menduga Weini pasti akan berpikir demikian, itulah sebabnya ia menyarankan Xiao Jun berpamitan sebentar dengan kekasihnya. Sekarang tuannya saja entah bagaimana nasibnya, lalu Lau harus menanggung beban yang harusnya diemban Xiao Jun. Ia lebih piawai berperang ketimbang menghadapi perasaan wanita.


mengganggu waktu tidurmu. Tuan berpesan agar nona jangan mengkhawatirkannya, ia pasti segera kembali setelah urusannya selesai.”


Weini mengerti, sangat mengerti betapa Xiao Jun mengutamakan perasaannya. Konfirmasi dari Lau cukup menenangkannya, namun masih ada satu hal yang mengganjal, “Paman, apa urusan penting itu ada kaitannya denganku? Apa pihak keluarga Xiao Jun mempermasalahkan hubungan kami?”


Pertanyaan itu bak buah simalakama, dimakan salah, tidak dimakan juga salah. Lau memutar otak sejenak mencari jawaban yang tepat. “Saya rasa bukan karena anda, ini murni urusan internal keluarga Li. Nona bisa tanyakan langsung pada tuan sekembalinya dia dari Hongkong.”


Lau mendapat jawaban brilian, lebih baik Xiao Jun saja yang menjelaskannya daripada ia membuat Weini sedih dan merasa bersalah. Walau kenyataan memang demikian, namun ia memilih bungkam demi menjaga perasaan seorang gadis yang tengah rapuh.


“Paman, aku tahu paman menutupi sesuatu. Aku mohon bicara sejujurnya, aku tunangan Xiao Jun, susah senang kami hadapi bersama. Masalah dia adalah masalahku, jadi kumohon paman jujurlah! Jangan tutupi kebenaran hanya karena takut melukaiku.” Weini berbicara dengan sangat tenang demi meyakinkan Lau bahwa ia baik-baik


saja.


Pernyataan Weini barusan membuat Lau terkagum, gadis itu sangat tangguh dan luar biasa. Hanya gadis dengan mental baja lah yang layak diperjuangkan oleh tuannya, karena latar belakang dan status keluarga yang bagai langit dan bumi pasti mendapatkan tentangan dari klan Li.


“Sejujurnya ya nona, memang benar tebakan anda. Tuan Xiao Jun pulang untuk meyakinkan ayahnya agar merestui kalian. Mungkin ini tidak mudah, tapi jika kalian saling mencintai dan siap berjuang maka percayalah padanya. Tuan muda pasti tidak akan mengecewakanmu.” Lau menyemangati Weini, ia menghela napas lega karena bisa menceritakan yang sebenarnya.


“Aku mengerti paman, terima kasih atas keterbukaanmu. Selama ada kejujuran antara kita, aku pasti lebih kuat berjuang. Dia tidak sendiri, ada aku yang akan selalu menyemangatinya.” Seru Weini, ia mulai tenang meskipun kenyataan tak seindah harapan. Masih ada perjuangan yang harus dimenangkan, dan jalan masih terbentang panjang. Ia berharap Xiao Jun segera kembali, akan ia sampaikan padanya bahwa ia tidak akan merasa tersakiti bila ada keterbukaan di antara mereka. Ini tentang cinta, dua orang harus saling bicara dari hati ke hati agar tidak


saling menyakiti.


“Baik nona. Bersabarlah, tuan pasti segera kembali. Selamat bekerja nona, yang semangat ya…” seru Lau di ujung percakapan, masih banyak pekerjaan menanti diselesaikan.


“Ah paman, kalau kau kesepian silahkan mampir ke rumah…” ucapan Weini terpotong, suara berisik dari tempat Lau membuatnya salah fokus.


“Pengawal Lau, atas perintah tuan besar kau ikut kami pulang dan ditahan!”


Beberapa tamu tak diundang mendobrak masuk ke ruang kerja Xiao Jun, Lau tertangkap basah oleh gerombolan pria berwajah sadis itu sebelum ia mengakhiri pembicaraan dengan Weini.


Weini berteriak cemas namun tidak ada respon apapun dari lawan bicaranya. “Paman? Halo… halo???”


***