OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 318 KEPASTIAN YANG TAK MUDAH DITEBAK



Hari H resepsi Li An.


Flashback dua hari sebelum gathering.


Grace meratapi sebungkus kecil kiriman dari Chen Kho, sebuah pil transparan berukuran seujung kuku yang nyaris tak kasat mata itu dibebankan padanya sebagai misi utama. Gadis itu duduk di tepian ranjangnya dan menyibak tirai kamarnya hingga terbuka lebar, langit malam yang pekat kala itu menjadi temannya merenung. Memikirkan apa yang harus ia lakukan, jalan mana yang harus dipilihnya serta konsekuensinya. Bukan hal mudah memang, terlebih Grace mengalami jungkir balik kehidupan dalam waktu sekejab dan terjerumus secara paksa ke dalam kepentingan ayahnya. Pil yang ada di tangannya itu terus ditatapnya, Chen Kho sudah menjelaskan cara menggunakannya. Hanya tinggal waktu yang tepat untuk bertindak.


“Kenapa mereka mengincar Weini? Apa perlu segitunya mengorbankan dia hanya demi aku? Atau ada alasan lain yang lebih masuk akal sehingga Weini harus disingkirkan? Weini … Siapa kamu sebenarnya?” Grace terus bertanya pada dirinya sendiri. Chen Kho hanya memberinya penjelasan yang rancu, Grace tak perlu menghilangkan nyawa seseorang demi memenangkan cinta Xiao Jun. Dan desakan Chen Kho yang mengatas-namakan alasan itu, tidak bisa Grace percaya sama sekali.


Grace menghela napas berat, pandangannya menatap kosong ke luar jendela. “Andai ada yang mengerti, rumitnya menjadi diriku.” Menjadi seorang nona yang hidup berlimpah harta sejak lahir bukan menjamin kebahagiaan


Grace seutuhnya. Iya, dia memang bahagia setidaknya sampai perjodohan itu dipaksakan padanya. Semenjak kecil, ia yang terlahir dari keturunan campuran dari ibu yang berkebangsaan Amerika, membuat ayahnya harus dihapus dari pewaris kekayaan keluarga yang katanya tidak akan habis tujuh turunan.


Grace tahu cerita itu dari kakaknya, termasuk obsesi ayah mereka yang ingin mendapatkan kembali haknya. Menurut tradisi keluarga mereka, kekayaan dan tahta akan diberikan pada anak tertua namun nyatanya yang


menduduki singgasana itu justru Li San – pamannya. Ayah Grace tidak berhenti sampai di situ, setahu Grace memang ayah dan kakaknya punya misi terselubung, namun yang tidak ia sangka adalah dirinya yang tidak tahu apa-apa dan tidak mau tahu itupun ikut diseret dalam permainan mereka. Salah satunya adalah perjodohan paksa, menikahi Xiao Jun sama dengan meletakkan pion catur beberapa langkah sekaligus untuk menggoyahkan raja.


Kembali ke masa saat itu, di mana Grace mendapatkan kesempatan bagus untuk menjalankan misinya. Ia sudah memikirkan keputusan mana yang akan dipilihnya, dan berikrar tidak akan ada penyesalan. Pil transparan itu dikeluarkan dari tasnya, cara yang sangat mudah seperti yang sering ditontonnya dalam drama ketika seseorang akan meracuni targetnya. Grace memasukkan pil itu dalam segelas wine yang sudah ia persiapkan, tidak perlu waktu lama pil itu langsung larut dalam air.


Grace tersenyum tipis, lebih tepat lagi dengan ekspresi yang sulit dijelaskan antara senang atau harus bersedih. Dengan dua gelas wine di tangan, ia menghampiri Weini yang berdiri sendirian. Sepertinya semesta pun merestui niatnya, kesempatan diberikan begitu jelas di depan mata. Grace tak akan bisa mundur lagi, ia berdiri tepat di belakang Weini.


“Mari bersulang.” Seru Grace mengejutkan Weini dengan kemunculannya tiba-tiba. Weini berbalik menatapnya, senyum gadis itu begitu lebar menyambutnya. Dari tatapan yang polos itu, Grace tahu bahwa Weini sangat senang karena ia menerima uluran persahabatannya. Grace menyodorkan gelas di tangan kanannya pada gadis itu. Tanpa kecurigaan apapun, Weini menerimanya lalu mengangkat gelasnya untuk toas.


“Segelas wine sebagai awal persahabatan. Bersulang ….” Ujar Weini penuh semangat.


Grace tersenyum tipis, ia mmengetuk gelas Weini kemudian mencuri lirikan pada Weini yang dengan cepat meneguk minuman itu. Sementara Grace, belum juga menyentuh minuman di tangannya hingga Weini menatapnya barulah minuman itu ia teguk sedikit.


Sudah terjadi, ya sudahlah …. Gumam Grace dalam hati.


Weini tersenyum, “Oya, aku besok mau menyusul ke Beijing. Apa kamu mau ikut?” Tanya Weini, entah terlalu baik atau polos sehingga ia begitu yakin Grace sungguhan move on dan tidak akan terluka jika mengetahui apa yang ia lakukan bersama Xiao Jun.


Grace tersenyum sembari menggelengkan kepalanya pelan, “Aku lebih baik tidak ke sana. Itu bukan tempatku.” Jawab Grace lirih.


Weini menunduk, sedikit menyesali ajakannya. “Maaf … Grace, aku sungguh berterima kasih atas pengertianmu. Kamu pantas dicintai dan bahagia, aku siap mendukungmu. Termasuk kalau kamu sudah mulai menyukai


seseorang, jangan sungkan berbagi padaku.” Bisik Weini, yang ia maksud adalah Stevan yang sangat jelas menunjukkan pendekatan pada Grace.


“Dia hanya teman kok, belum lebih dari itu.” Lanjut Grace, ia tahu siapa yang dimaksud Weini dan tidak perlu berpura-pura tidak peka.


Weini antusias tersenyum, “Dia belum pernah pacaran loh, yang naksir banyak tapi susah dapatin hatinya. Dia baik, benar-benar baik, percayalah.” Weini malah terang-terangan mempromosikan Stevan, padahal pria itu tidak perlu mengandalkan siapapun untuk membantunya.


“Ya, aku bisa merasakannya. Tapi … Biarlah dia mendapatkan yang lebih baik dariku.” Ujar Grace lirih, ia sedikit menunduk untuk menyembunyikan wajah pesimisnya.


Weini peka dengan ketidak percayadirian Grace, ia menatap lirih gadis itu. “Kenapa? Apa dia bukan tipemu? Hmm … Apapun itu yang pasti kamu pantas bahagia dan mendapatkan yang terbaik. Mari bersulang, kali ini untuk kebahagiaanmu.” Ajak Weini, ia kembali mengangkat gelasnya.


Grace tersenyum getir, Weini jelas tidak tahu apa yang ia gusarkan sekalipun ia memendamnya sendiri. Dan kali ini, Weini kembali mengajaknya meneguk minuman memabukkan itu bahkan ia sudah mulai meminumnya. Grace tak kunjung menolak, minuman di gelasnya hanya diseruput sedikit. Ia mengangkat gelasnya sebagai balasan ajakan Weini, lalu dengan senyum getir menahan perih, diteguknya habis anggur merah dalam gelas itu.


***


Liang Jia tidak menyangka gedoran keras di pintunya dikarenakan Yue Xin dan Yue Xiao yang tak sabar ingin segera masuk ke dalam kamarnya. Liang Jia terheran menatap raut cemas kedua putrinya yang ketakutan.


“Kalian kenapa?” Tanya Liang Jia heran. Jantungnya berdetak tidak karuan, ia berfirasat bukan hal baik yang akan disampaikan anaknya.


Yue Xin menarik tangan ibunya agar lebih menepi sementara Yue Xiao berjaga di depan pintu, khawatir ada yang menguping pembicaraan mereka.


“Ibu, apa ibu tahu di mana ayah sekarang?” Tanya Yue Xin cemas, matanya mulai berkaca-kaca. Tidak biasanya ia mengkhawatirkan ayahnya apalagi sampai mempertanyakan keberadaan sang ayah.


Liang Jia menggelengkan kepala, matanya menyipit dengan wajah yang mengkerut juga. “Tidak, bukankah dia selalu di aula utama pada jam seperti ini?”


Yue Xin menahan isaknya, “Tidak ada, ayah tidak ada di sana. Yang duduk di kursi kebesaran ayah sekarang justru paman. Ibu … Kita harus pergi dari sini, kita harus temukan ayah.” Isak Yue Xin, tangisnya kini pecah.


Tubuh Liang Jia goyah seketika, rasa dingin pun mulai menjalari tubuhnya. Kedua lututnya tak mampu lagi menopang berat tubuhnya hingga ia tersungkur ke lantai. kedua putrinya histeris, namun untungnya kesadaran Liang Jia tetap terjaga meskipun kondisinya terlihat shock.


“Ini sungguh kepastian yang tidak terduga, entah bagaimana nasib ayah kalian sekarang.” Desis Liang Jia sedih, ia tahu hari seperti ini akan tiba. Sejak dulu ia tahu, dan semuanya seperti bom waktu yang menunggu masa yang tepat untuk meledak.


***


Apa yang akan terjadi pada Weini dan Li San?


***