OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 184 KEMBALINYA PENGUASA YANG SESUNGGUHNYA



Lau berdiri menyender pada tembok di depan lift kantor, ia bisa saja naik duluan namun niatnya tetap menunggu sang majikan tiba. Ponselnya sibuk menerima pesan masuk berisi informasi yang ia himpun dari beberapa orang kepercayaan dalam perusahaan ini. Sebelum Xiao Jun memutuskan buka cabang di luar negri, segala urusan bisnis pusat berjalan lancar dan maju pesat. Bos muda itu mengembalikan wewenang penuh kepada sang pemilik utama yakni Li San untuk menjalankan roda bisnis di Hongkong, yang tak mereka sangka adalah kebijakan tuan besar memercayakan posisi penting pada orang yang minim pengalaman. Meskipun atas dasar kekluargaan tetapi keputusan itu terlalu riskan mempertaruhkan nasib perusahaan ke tangan pecundang yang hanya mengandalkan pada tim professional.


Lau melihat orang yang ia nantikan telah sampai, ia memperbaiki posisi berdiri dan bersiap menyapa tuannya. Di sisi Xiao Jun ada seorang wanita cantik yang berjalan beriringan, Lau tak mengenali wanita itu namun ia tahu bahwa tuan mudanya akan datang bersama saudari kandungnya.


“Jangan gugup kak, kan ada aku.” ujar Xiao Jun yang sadar kekacauan hati Li An. Kian masuk ke dalam, ia makin salah tingkah melihat setiap orang menuduk hormat dan bertatapan aneh saat berpapasan dengan mereka.


“Jun, aku pernah ke sini beberapa kali tapi mereka bersikap dingin.” Li An hanya takut mendapat perlakuan seperti tempo hari.


“Kakak bersamaku, tidak ada seorang pun yang berani. Aku hanya sebentar di sini, kalau kakak kurang nyaman aku janji segera selesaikan urusan lalu kita pergi.” kilah Xiao Jun yang tak tega memaksa Li An.


“Hormat untuk tuan Xiao Jun dan ini pasti nona Li An.” Sapa Lau ramah dan menatap Li An dengan kagum. Dua bersaudara itu bagaikan ukiran langit yang mendekati sempurna dengan paras yang indah.


Xiao Jun mengangguk sebagai balasan sapaan Lau. “Langsung ke atas paman!” perintah Xiao Jun agar pengawalnya membawa mereka menuju lantai atas di mana kantor direktur dan beberapa jajaran penting perusahaan menempati gedung itu.


Lau mempersilahkan kedua orang kehormatan masuk ke dalam lift kemudian ia memencet tombol lantai yang dituju. Di dalam hanya ada mereka bertiga dan suasana hening sekejab hingga bunyi lift terdengar nyaring. Lantai yang dituju telah sampai seiring terbukanya pintu lift, Lau keluar duluan dari sana diikuti dengan langkah Xiao Jun dan Li An yang menyusul. Satpam penjaga yang paling pertama menyadari kedatangan sang bos asli dan segera menunduk dengan gugup. Begitu pula dengan karyawan yang ada dalam ruangan itu, semuanya berlari membentuk dua barisan berhadapan menyambut kembalinya Xiao Jun. Li An baru terbuka matanya menyaksikan


betapa berpengaruhnya Xiao Jun di perusahaan ini. Sejauh ini ia masih lega karena belum bertemu dengan Chen Kho, ia bahkan mengira mungkin pria itu sedang keluar untuk urusan pekerjaan hingga Xiao Jun harus datang mengambil alih.


Beberapa karyawan saling bertatapan meskipun masih menunduk, dari isyarat mereka sangat mudah ditebak bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan dan pasti ketahuan jika Xiao Jun terus melangkah masuk. Kecemasan itu tidak luput dari sorotan Xiao Jun, ia tahu pikiran mereka dan terus berjalan mendekati ruang kantor yang semestinya miliknya.


***


Chen Kho tengah beradu kehangatan bersama sekretaris idolanya. Wanita yang bersedia melayani urusan ranjang itu memang dipilih Chen Kho berdasarkan penampilan fisik. Perihal pekerjaan yang diembankan sebagai tanggung jawabnya malah dilempar kepada asisten sekretaris yang handal namun tak memiliki fisik yang menggairahkan. Agenda bercumbu mesra di kantor sudah seperti rutinitas harian Chen Kho dan sekretarisnya. Hubungan itu pun sudah menjadi rahasia umum di kalangan kantor namun tidak seorangpun yang berani membocorkannya pada Li San.


“Ah … sayang, satu kali lagi. Kamu bikin aku tanggung.” Desah si wanita yang tengah dibakar gairah.


Mendengar desahan manja dan permintaan yang menggiurkan itu jelas langsung membangkitkan hasrat Chen Kho. Ia siap menerkam mangsanya dengan kebuasan yang lebih panas. Meskipun tahu bahwa ini bukan tempat yang tepat untuk bergumul dengan birahi, namun tantangan di tengah tempat umum lebih memacu adrenalin dan membangkitkan fantasinya. Dan ini jelas bukan satu-satunya wanita pemuas Chen Kho, dengan memanfaatkan status sebagai direktur perusahaan terbesar  jelas ia punya modal menggaet hati selebriti ternama dan cantik sebagai simpanan.


Wanita itu membaringkan diri di atas meja\, beralaskan beberapa dokumen penting serta buku-buku\, menantikan cumbu mesra Chen Kho yang mulai menindihnya. Selanjutnya *sensor* …


Bunyi pintu yang sengaja dibuat mendecit oleh Lau langsung disadari oleh dua orang yang keasyikan itu. Bukan hanya Lau yang berjalan masuk, Xiao Jun bahkan Li An yang terkejut mendapati pria yang ia kenali tengah separuh telanjang bersama seorang wanita yang tanpa sehelai benang.


Chen Kho langsung berdiri dan membenahi pakaian, ia kaget bukan main dikepung dan tertangkap basah dalam posisi bersetubuh. Sialnya lagi orang-orang yang menggegerebek rupanya Xiao Jun dan seorang gadis, Chen Kho baru menyadari gadis itu adalah Li An.


“Sorry, aku nggak tahu pak direktur sedang senam saat jam kantor.” Sindir Xiao Jun sembari melirik Lau agar memberikan pakaian si wanita yang berserakan di lantai kepada pemiliknya.


Lau yang sudah sehati dengan Xiao Jun mampu menerjemahkan perintah tanpa suara itu. Ia memunguti pakaian luar sang sekretaris dan melemparkannya ke meja. Wanita itu meraih kemudian merangkak mundur turun menutupi diri di bawah meja.


“Apa kamu tidak punya sopan santun? Bagaimana kalian bisa masuk ke ruanganku?” bentak Chen Kho, habislah ia kehilangan pamor sebagai tuan muda pasca kejadian memalukan ini.


Xiao Jun meringis, senyumnya sinis ditambah tatapan yang dingin mematikan. “Kau lupa kalau ini juga ruanganku, aku pemilik aslinya dan pasti punya kunci.”


Chen Kho menggertakkan gigi, tangannya mengepal keras hingga gemetar. Jika bukan karena takut semakin memancing perhatian orang luar, sudah pasti bogem itu dilayangkan buat Xiao Jun. Nyatanya ia masih punya akal sehat untuk mengabaikan sejenak tamu tak diundang itu dan segera memakai kembali pakaiannya.


Li An hanya diam berdiri di samping Xiao Jun dengan wajah memanas dan tatapan nanar. Kedua bola matanya mulai berkaca-kaca namun ia dengan sadar menolak untuk meneteskan bulir beningnya. Adegan seronok yang barusan ia saksikan dengan mata kepala, tontonan dewasa yang belum pernah ia lakukan bahkan tak pernah ditonton sebelumnya justru harus ia saksikan langsung. Kedua matanya telah ternodai oleh hal memuakkan yang dilakukan oleh pria yang paling ia cintai. Inikah kedok pria yang setiap waktu ia rindukan? Yang selalu ia nantikan kehadiran dan peluk hangatnya? Kini melihat Chen Kho dalam kondisi vulgar malah membuat Li An merasa telah menjadi gadis yang menjijikkan yang pernah disentuh oleh kepalsuan cintanya.


“Li An? Kamu Li An?” usai berpakaian, perhatian Chen Kho beralih pada gadis cantik yang ikut memergokinya. Sekilas terlihat seperti Li An namun ia ragu karena gadis itu tak pernah berdandan secantik ini.


Li An diam, tak ada niat sedikitpun untuk menjawab.


“Berhenti memanggil nama kakakku dengan mulut kotormu.” Tegas Xiao Jun yang mulai tidak senang pria hidung belang itu mulai jurus merayu padahal wanita yang ia ajak bermesraan saja masih belum berani menampakkan muka dan memilih bersembunyi di belakang meja.


Li An yang muak tak tahan berada di ruangan kotor itu, ia berbalik dan berlari pergi. Lau segera menyusulnya sementara Xiao Jun masih berdiri tenang.


“Kau sengaja kan? Ini pasti jebakanmu!” bentak Chen Kho yang mulai marah, ia tak jamin bahwa Xiao Jun bisa keluar dari ruangan ini dengan kondisi utuh.


“Otak licik sepertimu hanya bisa memikirkan hal negative saja. Aku ke sini untuk urusan kerjaan, mana kusangka akan melihat bioskop horror secara live. Aku tidak mood bahas kerjaan lagi, ruangan ini harus disterilkan dulu. Lain kali kita bahas tentang perkembangan perusahaan selama kau kelola.” Xiao Jun berbalik hendak meninggalkan Chen Kho yang dikuasai amarah. Perasaan Li An sekarang jauh lebih penting dari segalanya. Ini adalah skenarionya dan ia harus bersiap menyediakan hati yang lapang untuk menampung luka Li An.


“Jangan harap kau lolos begitu saja!” Chen Kho menyerang dengan tendangan sekuat tenaga dari arah belakang sementara Xiao Jun terus berjalan mendekati pintu tanpa sadar serangan itu kian mendekat.


***