OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 206 LAMARAN ANTI MAINSTREAM VERSI WEN TING



Pilihan Li An setelah menghabiskan nyaris dua jam di toko perhiasan itu jatuh pada sebuah kalung berliontin berlian yang dengan ukiran simpel dan mungil beraksen tetesan air. Ia begitu puas melihat pelayan toko memasukkan kalung itu dalam kotak merah dan menyerahkan padanya.


“Nih, sampaikan kalau aku yang memilih untuk dia.” Li An menyodorkan pada sang pemilik sambil tertawa.


Sebaliknya, Xiao Jun menerimanya dengan reaksi yang biasa saja. Ia menyimpannya dalam saku jas dan tak yakin apa benda itu mampu ia berikan pada Weini. “Xie Xie kak, aku pasti sampaikan.”


“Oya, di mana tuan Wen Ting. Astaga kita melupakan dia, gimana kalau dia marah dan bikin masalah padamu?” Li An celingukan mencari sosok pria itu, selama memilih perhiasan ia tak sedetikpun kepikiran tentang pria itu.


Xiao Jun ikut menyebar pandangan mencari calon kakak iparnya dan dengan mudah mendapati pria itu sedang duduk menelpon di kursi tunggu. Ia menunjukkan pada Li An keberadaan Wen Ting lalu berjalan bersama-sama menghampirinya.


“Tuan Wen Ting, maaf membuatmu menunggu lama.” Ujar Xiao Jun sopan.


“Maaf tuan, ini salahku terlalu plin plan memilih jadinya lama.” Li An mengakui kesalahan agar tidak menyulitkan posisi Xiao Jun. Gadis itu membungkuk beberapa kali sebagai pernyataan maaf.


Wen Ting mematikan layar ponsel kemudian tersenyum manis pada Li An, “Aku malah merasa kalian sangat sebentar, telpon dengan temanku membuat lupa waktu. Apa sudah dapat yang dicari?” tanya Wen Ting, ia mengarang alasan demi menjaga perasaan Li An. Aslinya saking bosan menunggu, ia menelpon sahabatnya untuk sekedar membuang kejenuhan.


Li An mengangguk senang, tanpa perlu bersuara Xiao Jun sudah mewakilinya memberi jawaban.


“Sudah. Selanjutnya kita makan di restoran terbaik. Setelah ini, tuan Wen Ting pasti membandingkan rasa masakan restoran dengan rasa masakan kokiku.” Canda Xiao Jun penuh keakraban yang juga dirasakan oleh Li An.


“Oke, tapi aku yakin masakan Li An yang terbaik.” Ujar Wen Ting yang secara tidak langsung menggoda gadis idamannya hingga tersipu malu.


Xiao Jun menuntun penumpangnya masuk ke dalam mobil ketika ia hendak menyalakan mesin, dering ponselnya berbunyi. Ia menatap si pemanggil lalu menoleh ke arah Wen Ting untuk ijin mengangkat panggilan itu.


“Ya, paman? Oke ... oke ....” Pembicaraan singkat itu terlihat bukan tanda baik, Xiao Jun cukup tegang setelah panggilan itu berakhir.


“Ada apa Jun?” tanya Li An cemas. Ia duduk sendiri di kursi belakang lalu menongolkan kepala ke celah kursi depan demi melihat wajah Xiao Jun.


“Ada masalah sedikit di kantor. Aku harus ke sana, tapi kalian?” ujar Xiao Jun ragu.


“Pergilah! Urusan pekerjaan harus dinomor satukan. Aku akan temani nona Li An, jika dia tidak keberatan.” Seru Wen Ting penuh keyakinan, seolah tidak memberikan Xiao Jun untuk menolak.


Li An menatap Wen Ting, ia dengan polos setuju dengan pendapat pria itu. “Tuan Wen Ting benar, pergi selesaikan dulu baru nyusul kami.”


Xiao Jun terusir telak, ia melepaskan sabuk pengaman kemudian memberikan ultimatum terselubung pada Wen Ting. “Anda yakin tidak perlu supirku? Kalau begitu tolong jaga kak Li An, dan jangan nyasar.”


“Pasti!” Jawab Wen Ting dengan sorot tajam seakan bisa menyetrum siapapun yang menatapnya.


Li An merasa bingung dengan sikap dua pria di depan, mereka lebih mirip berseteru masalah pribadi ketimbang bersikap selayaknya mitra bisnis.


Xiao Jun ditinggalkan begitu saja, menatap mobil yang kini dikemudikan Wen Ting. Membawa pergi seseorang yang ia lindungi, memberikan kesempatan pada pria lain untuk menempati hati kakaknya. Bunyi klakson menyadarkan Xiao Jun dari pikirannya, Lau membuka kaca kemudian tersenyum di balik kemudi.


“Kemana tuan?” tanya Lau sopan.


“Ikuti mereka, jangan sampai ketahuan.”


***


Wen Ting beberapa kali melirik Li An yang kini berpindah duduk di sampingnya. Sepanjang perjalanan menuju restoran yang sudah direservasi Xiao Jun, pria itu mengandalkan GPS untuk sampai pada tujuan.


“Ng, nona ... apa kamu sudah lapar?” akhirnya Wen Ting memulai percakapan.


“Oh\, aku juga belum begitu lapar. Apa kamu keberatan kalau kita tunda makan dulu\, gimana kalau jalan-jalan sebentar?” Wen Ting menawarkan opsi lain\, ia bosan harus menikmati nuansa formal dan kemewahan di setiap waktu. Apalagi masa pendekatan ini tidak mau ia sia-siakan dengan kencan mainstream yang hanya sekedar makan di restoran elit bertemankan iringan lagu romantis dihiasi cahaya lilin penuh remang. *Xiao Jun tengah disindir author\, hehe ... masih ingat kan cara Xiao Jun melamar Weini?*


“Boleh!” Li An berucap girang dan sangat singkat.


Wen Ting tertawa kecil melihat respon yang sangat bagus dari gadis itu, “Cuaca sangat mendukung, kita ke Disneyland saja. Kamu suka?”


Li An mengangguk berulang kali hingga kepalanya seperti gesper yang elastis. “Itu impianku ke sana. Aku belum pernah ke sana, tuan terima kasih.”


Beberapa meter di belakang, sebuah mobil terus membuntutinya. Xiao Jun mulai gusar melihat arah pengemudi di depan yang melenceng dari tempat yang dijanjikan.


“Apa mereka nyasar? Arahnya makin jauh dari restoran ....” ujar Xiao Jun yang terus menatap jalanan.


“Menurut saya biarkan saja tuan, kita jadi penonton saja.” Lau masih tetap tenang, pengalamannya dalam urusan anak muda mulai melatihnya menjadi pengamat yang bijak.


“Hmmm, tapi dia tidak mengabari perubahan rencana. Apa paman yakin mereka bukan nyasar?”


“Tenang tuan, pria itu terlihat sangat cerdas. Dia pasti bisa menyelesaikan kesulitannya, justru menurut saya tuan lah yang lebih kesulitan. Anda harus belajar melepas saudara menjalani hidupnya bersama orang yang tepat.” Lau menyindir Xiao Jun telak, dengan halus namun menusuk.


***


Kebahagiaan Li An tumpah ruah saat mereka sampai di tempat tujuan, arena bermain terbesar dan tersohor yang diimpikannya sejak kecil. Li An berlari dan sesekali berputar, senandung kecil tidak lepas menemani derap langkahnya. Wen Ting mengikutinya sambil tersenyum, jatuh cinta itu membuatnya mengobral sebagian stok senyumnya yang mahal untuk sebagian orang.


“Tuan, apa kamu berani coba permainan itu?” tanya Li An penuh harap.


“Asal kau mau, aku oke.” Jawab Wen Ting lembut.


Li An bersorak girang, ia menanggalkan segala kejaiman apalagi melihat Wen Ting melepas jas formalnya sebelum turun dari mobil. Mereka datang untuk bersenang-senang dan melupakan sejenak perbedaan status.


“Buat bekal bermain.” Wen Ting tiba-tiba menyodorkan kembang gula besar kepada Li An. Saking senangnya Li An bahkan tidak memperhatikan kapan pria itu membeli makanan manis itu.


Aneka permainan dicoba mereka, banyak tawa yang mengakrabkan mereka. Li An tak pernah sebahagia ini, memiliki pasangan yang cocok adalah yang paling membahagiakan bagi gadis seperti dirinya. Diam-diam ia berdoa dalam hati, berharap kebahagiaan ini jangan cepat berlalu.


“Tuan, terima kasih berkat anda akhirnya aku bisa ke sini.” Ujar Li An tersenyum, manis ... sangat manis.


“Membahagiakanmu itu sudah seharusnya.” Desis Wen Ting yang sayangnya suara yang romantis itu malah kalah keras dengan bunyi musik di arena bermain.


“Apa?” Li An mengernyitkan dahi, ia tidak mendengar perkataan Wen Ting.


Wen Ting tersenyum, mungkin belum waktunya menyatakan perasaan. “Panggil aku Wen Ting, aku panggil


kamu Li An.”


Li An agak terkejut, pria itu memintanya menanggalkan keformalan. “Hmm, baiklah tuan, Eh Wen Ting.” Li An masih kaku mengucapkan panggilan akrab itu. Ia menundukkan wajah sejenak, menyembunyikan gurat merah bersemu yang jadi perona alami saking malunya. Pengunjung kian memadati arena permainan, beberapa orang berlarian kencang sehingga menyenggol Li An hingga nyaris terjatuh. Untung saja pertahanan tubuhnya sigap dan ia menahan beban tubuh yang hampir tumbang itu dengan kedua kaki. Setelah kembali berdiri tegak, ia baru menyadari ada yang hilang saat ia lengah. Li An memucat seketika, apa ia ditinggalkan? Kemana Wen Ting yang baru memulai keakraban dengannya?


“Wen Ting? Wen Ting? Kamu di mana?”


***