
“Hahaha… jadi seperti itu paman? Dia memang gadis pemberani.” Xiao Jun dan Haris terlibat pembicaraan seru penuh gelak tawa. Bos muda itu sengaja mampir ke rumah Weini demi ngobrol dengan Haris.
“Begitulah. Tapi dia sering mengalah agar tidak mencolok. Kelebihan bukan untuk menindas yang lemah.” Ujar Haris mengenang kejadian Weini terlibat adu fisik dengan berandalan yang memeras uangnya.
Xiao Jun bisa saja bertanya pada Weini tentang dirinya, tetapi ia punya alasan lain untuk dekat dengan Haris. Entah mengapa ada rasa nyaman dan ketertarikan khusus kepada ayah Weini yang tidak Xiao Jun mengerti. Semenjak Haris dan Weini kembali ke rumah lama, hampir setiap hari Xiao Jun datang menemui Haris sembari menunggu Weini pulang.
Mobil Weini memasuki halaman rumah saat Xiao Jun dan Haris masih tertawa lepas bercerita. Weini memantau mereka sebelum turun dari mobil, ia kagum dengan Xiao Jun yang cepat mengakrabkan diri dengan Haris. Dua
pria beda generasi itu terlihat klop, namun membayangkan mereka juga membuat Weini sewot. Ia bergegas turun dan setor muka di hadapan mereka.
Xiao Jun langsung terdiam dan menyambut Weini dengan tatapan hangat serta senyuman yang memabukkan. Paras tampannya sungguh memesona, bahkan tidak ada tahi lalat yang mengotori wajah putih mulusnya.
“Weini sudah balik, tumben agak malam?” tanya Haris masih dengan mood baik sehabis tertawa puas dengan Xiao Jun.
Weini dengan wajah lelah dan jutek hanya mengangguk lemah dan berlalu dari mereka tanpa sepatah kata. Xiao Jun melihat tingkah gadisnya yang tidak biasa, ia khawatir lalu menyusul langkah di belakang Weini. Sementara Haris tetap mempertahankan senyumnya sambil menanti adegan dua sejoli yang kasmaran mengutarakan maksud hati masing-masing.
Tangan Weini diraih dari belakang hingga langkahnya terhenti, ia tidak bersedia menoleh ke belakang. Mereka seperti mematung sedetik mempertahankan ego dan saling menunggu siapa yang memulai pembicaraan.
“Kamu kenapa? Sakit? Wajahmu keliatan lelah dan gak semangat.” Xiao Jun menggenggam jemari Weini, mencegahnya berlalu dari hadapannya.
Weini hanya menggeleng, ada banyak perasaan berkecamuk dan ia ingin sendiri dulu menangis di kamar mandi sambil membersihkan diri. Kerjaan seharian sudah cukup membuatnya penat, ditambah harus berlatih dansa… mengingat itu saja airmatanya langsung luruh.
Xiao Jun terkejut mengapa Weini berurai air mata dan diam saja. Gadis kuatnya bisa juga menunjukkan kelemahannya dengan menangis di depannya. Ia segera menarik Weini ke dalam dekapan, membiarkannya tenang
sejenak meski kemejanya mulai basah oleh bulir bening.
“Are you okay?” Xiao Jun bertanya kembali setelah dirasanya Weini mulai tenang.
Gadis itu hanya mengangguk kemudian melepaskan diri dari pelukan. Ia akan kehilangan muka jika Haris melihat adegan romantis mereka di depan mata. “Hanya sedikit lelah bekerja. I’m fine!”
Xiao Jun mengernyit, bukankah Weini sangat menyukai pekerjaannya. Seharusnya ia bekerja tanpa beban seperti pergi bermain dan kembali dengan semangat membara walau badan seakan babak belur karena lelah. Dia justru menangis karena lelah kerja, Xiao Jun mulai peka pasti ada sesuatu yang membebaninya dalam pekerjaan.
“Kamu mau libur syuting atau mau cancel iklan? Katakan saja, aku bisa melakukan apapun untukmu.” Ujar Xiao Jun mantap. Ia selalu serius dalam hal menjaga perasaan Weini.
“Tidak perlu. Aku bisa atasi sendiri. Jangan terlalu memanjakanku, ini resiko profesi yang harus ak jalani.” Tolak Weini mantap. Ia sudah banyak merepotkan Xiao Jun dalam urusan kerjanya. Terlalu banyak andil Xiao Jun hingga rela membeli saham perusahaan yang hampir bangkrut itu hanya karena Weini ada di sana. Ia enggan mencolok lagi di managemen, atau mereka akan semakin menggosipkan dirinya memanfaatkan hati bos muda.
Xiao Jun tidak bisa memaksa, tapi ia siap pasang badan kapanpun untuk Weini. “It’s okay. Tapi kalo ada apa-apa janji ya harus kabari aku.”
Weini mengangguk. “Aku mandi dulu, kamu lanjutin pacaran sama ayahku aja.” Sindir Weini. kadang ia gemas dengan Xiao Jun dan ayahnya yang kelewat akrab seakan Weini adalah pengganggu mereka. Sampai ia berpikir Xiao Jun datang menemuinya atau demi Haris?
“Hahaha… ada ada saja masa kamu cemburu sama ayah sendiri?” Xiao Jun terpingkal. Weini benar-benar imut, hanya karena ia mulai dekat dengan ayahnya lantas dicemburui juga.
Xiao Jun tidak bisa membayangkan jika ada gadis nekad yang mengejarnya, mungkin Weini bisa lebih seram dari film terhoror di dunia. Untungnya Xiao Jun selalu tegas menjaga sikap dengan wanita hingga tidak ada peluang bagi mereka untuk menggodanya. Meskipun ada beberapa yang pernah mencoba menjebaknya atas nama bisnis bahkan rela telanjang demi menarik perhatian Xiao Jun, namun pria itu tidak tertarik dengan wanita yang terlalu
mudah mengobral harga diri. Atau lebih tepatnya sejak awal hatinya sudah dimiliki Weini hingga tidak ada celah untuk wanita lain.
***
“Sorry, aku di tempat Weini dan ponselku ketinggalan di mobil. Ada info apa?” Xiao Jun belum beranjak dari parkiran di tepi jalan dekat rumah Weini. Ia baru masuk dan langsung mengecek ponselnya yang tertera
37 miscal dari Dina. Saat itu juga ia telpon balik ke Dina, pasti ada sesuatu yang menyangkut Weini hingga sedarurat itu Dina menghubunginya.
Terdengar helaan napas berat dari seberang kemudian menyusul informasi beruntun yang disampaikan tanpa jeda. “Jadi gini… (blab la bla) gitu bos ceritanya. Aku harus ngapain ini?” tanya Dina menunggu perintah, ia tidak bisa sembarang bergerak tanpa persetujuan Xiao Jun.
“Diamkan saja, biar aku minta penjelasan Bams dulu.” Seru Xiao Jun tegas. Ia tidak bisa seenaknya mengambil keputusan meskipun perusahaan itu miliknya, namun semua ada aturan main demi kepentingan bersama.
Xiao Jun mengakhiri pembicaraan dengan Dina, ia lebih tertarik segera mendengar langsung alasan Bams yang terkesan memaksa Weini melakukan pekerjaan yang tidak ia sukai. Bams tahu betul Weini adalah kekasihnya dan posisi Xiao Jun dalam PH itu. Mustahil jika ia sengaja mencari masalah dengan Xiao Jun hanya demi keuntungan sepihak.
***
Xiao Jun menikmati segelas sloki koktail sembari menunggu kedatangan Bams. Ia sengaja memilih diskotik elit dan privat untuk menjamu Bams. Bagaimanapun pak co produser itu perlu refreshing dari kepenatan kejar tayang, dan menurut Dina pria itu suka berpesta dan mabuk sebagai hiburan.
“Bos udah mulai? Maaf membuatmu menunggu.” Bams masuk dalam ruangan VVIP yang disewa Xiao Jun dan disambut dengan aneka hidangan dan minuman berkelas yang tak rela ia beli dengan gajinya.
“Tidak masalah, duduklah. Kita habiskan semua baru pulang.” Pinta Xiao Jun dengan penuh kharisma. Ia bisa menjadi orang yang berbeda tergantung pada siapa lawan bicaranya.
Bams kegirangan, seumur-umur baru kali ini ia dijamu dengan segala kemewahan. Kesempatan ini tidak akan ia lewatkan begitu saja, betapa beruntungnya Weini memiliki kekasih seroyal ini. Bahkan dengan karyawan
rendahan seperti diapun dijamu seperti ini, apalagi dengan orang yang paling ia cintai. Gumam bams dalam hatinya, ia tak mengulur waktu dan jaim lagi. Segala yang disuguhkan pasti ia ludeskan.
“Tumben bos cuman ngajak aku pesta begini…” tanya Bams, kesadarannya masih kuat meski bergelas-gelas alkohol ditenggaknya.
Xiao Jun menuang red wine ke dalam gelasnya, di antara banyak jenis minuman alkohol yang ia jamu untuk Bams, ia lebih suka dengan minuman yang satu itu. “Anggap saja ini perayaan sekaligus terimakasihku atas kemenangan kasus Weini.” Xiao Jun mengangkat gelas dan mengajak Bams toas.
“Yang harusnya terima kasih itu aku bos, sejak saham dipegang bos, PH ini beransur kembali ke puncaknya. Yaa… masih harus kerja keras sih tapi aku optimis bisa Berjaya lagi bos.”
“Baguslah. Lalu gimana kabar Weini? kerjaannya lancar?” Xiao Jun mulai masuk ke pokok pembahasan.
Bams tertegun sejenak, bukankah Xiao Jun orang terdekat Weini lalu mengapa bos itu masih bertanya kabarnya lewat dirinya yang hanya sebatas teman kerja.
“Ah, Weini kebanjiran tawaran tapi kami selektif memilih yang paling cocok dan bisa mendongkrak popularitasnya. Apalagi pasca Lisa masuk penjara, sebagian fans fanatic Lisa mengancam boikot Weini. Sedikit banyak sih ngaruh buat citra Weini di kalangan fans remaja, jadi dia harus berusaha mengambil hati mereka kembali.” tutur Bams sejujurnya, ia punya pertimbangan dan kekhawatiran tentang karier Weini, meskipun bukan managernya tetapi Weini adalah bibit yang ia pilih sejak awal dan ia menaruh harapan agar karier keartisannya bertahan.
Xiao Jun bergumam, ia mulai mendapat jawaban yang dicari tanpa langsung menodong. Bams punya pandangannya sendiri demi kebaikan Weini, meskipun langkahnya mungkin tidak diterima Weini tapi ini demi
kebaikannya. Xiao Jun tidak akan membiarkan Weini terbebani, jika Bams punya cara maka ia pun punya caranya sendiri.
***