OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 254 IKATAN BATIN IBU DAN ANAK



Haris tengah berdiri di depan rumah, menunggu seorang kurir menyelesaikan prosedur penerimaan barang. Kendati masih terheran-heran, ia menurut saja saat diminta membubuhi tanda tangan di atas kertas resi. Barang yang dibeli Weini atas namanya itu sedikit mengejutkannya, walau begitu ia tetap berlaku tenang sampai kurir itu pamit dari hadapannya.


“Keluarlah, dia sudah pergi.” Pekik Haris pada Weini yang mengintipnya dari jendela dalam rumah.


Gadis itu berlari antusias menyambangi ayahnya yang masih berdiri sebagai satpam penjaga barang. Senyum sumingrah begitu kentara di wajah Weini, “Xie Xie ayah.” Weini menunduk demi mengecek kondisi barang dari


luar, ia menatap Haris untuk meminta bantuannya memindahkan barang yang besar dan berat itu ke dalam.


“Maaf merepotkanmu, dengan statusku ini agak repot kalau aku harus ketahuan sebagai pembeli. Makasih ya, sudah pasang badan untukku.” Weini tahu Haris agak sewot, ia langsung inisiatif minta maaf agar suasana hati pria itu kembali adem. Mereka kini mengeluarkan sedikit tenaga untuk mengangkat barang yang cukup menyita tempat itu.


“Bukan itu masalahnya, kamu nggak bilang dulu mau beli barang. Tiba-tiba suruh jadi penerima, lagian barang semahal ini apa aman beli lewat online?” Protes Haris. Jelas saja ia bingung, Weini tidak mengabarinya terlebih dulu. Andai ia tahu gadis itu berniat membeli barang yang ia taksir seharga puluhan juta rupiah itu, jelas Haris akan mengajaknya ke toko langsung untuk memilih kualitas terbaik.


“Sorry ayah, aku juga dadakan belinya pas nggak bisa tidur kemarin. Pikirku biar lebih praktis aja beli online, kalau nggak sesuai kualitas yang kubeli bisa dikomplain kok.” Jawab Weini sedikit membela diri meskipun ia tahu tetap salah, lain kali ia tidak akan gegabah lagi.


Haris diam saja, ia kembali tersenyum. Apa yang sudah terlanjur terjadi, ya sudahlah. Mereka sudah mengangkat barang itu sampai ke ruang tamu kemudian berhenti sejenak. “Taruh di mana bagusnya?”


Mereka menatap ke setiap sudut ruang tamu, memastikan posisi yang tepat untuk barang yang lumayan menyita tempat dan terlihat mencolok itu. Saat tatapan ayah dan anak itu tersita pada satu titik, lalu dengan serentak mereka bersuara, “Di sana saja!”


Weini tersenyum geli, bisa-bisanya ia sependapat dengan ayahnya. “Ayah mengintip pikiranku ya?”


Pertanyaan itu hanya bermaksud bercanda tetapi dianggap serius oleh Haris, “Sejak kapan kamu sadar aku bisa baca pikiranmu?” Tanya Haris serius.


Barang yang masih terbungkus rapi itu kini sudah menempati tempat yang dipilihkan tuannya. Tetapi perbincangan yang semula hanya diniatkan untuk candaan rupanya berlanjut menjadi pembahasan serius. Weini menatap Haris dengan mata yang menyipit, ia tak menyangka Haris merespon dengan pertanyaan balik, seakan menekankan bahwa pernyataan Weini itu bukan main-main.


“Ayah sungguh punya kemampuan seperti itu?” Weini balik bertanya, betapa shocknya ia hanya dengan membayangkan kengerian yang Haris kuasai itu andai tudingannya benar.


Haris tersenyum tenang, “Aku pikir kamu sudah tahu, ternyata malah tanya balik. Kalau sudah begitu, ditutupi juga percuma. Aku memang bisa membaca pikiran orang, bahkan bisa telepati dengan sesama pemilik sihir klan Wei yang levelnya setara. Sejak kapan? Tentu sejak aku menjadi penerus klanku. Kelak tidak menutup kemungkinan kamu pun bisa menguasainya.”


Pengakuan Haris seketika itu juga membuat Weini merinding, “Jadi selama ini ayah ….” Tak perlu diteruskan lagi, Weini yakin pria itu tahu apa kelanjutannya.


Dan benar saja, Haris mengangguk membenarkannya sembari tertawa kecil. “Aku tidak mau menguping, tapi otomatis terdengar.” Haris menyatakan pembenaran agar tidak disalahkan.


Weini terdiam, tidak bijak menyalahkan kemampuan seseorang apalagi itu sudah bakat alam. Lebih baik ia mulai mengontrol pikirannya daripada terus menyalahkan orang. Sayangnya Weini belum menguasai kelebihan itu, andai saja ia bisa, jelas sangat menguntungkannya untuk membaca perasaan Xiao Jun.


“Ehem, belum bisa saja niatmu sudah tidak benar.” Ledek Haris, setelah kemampuannya terungkap ia lebih berani terang-terangan menegur Weini.


Weini kebablasan lagi, baru saja berpikir akan mengontrol pikiran nyatanya malah memikirkan hal memalukan. “Ayah, boleh bantu aku membuka ini?” Weini mengajak Haris unboxing paketan jumbonya, hanya itu alasannya mengalihkan pembicaraan.


“Kamu masih bisa memainkannya?” Tanya Haris, ia takjub melihat alat musik tradisional bernama Gu Zheng (kecapi) itu berdiri kokoh di hadapannya. Sudah belasan tahun sejak ia menetap di sini, alat musik itu menjadi tontonan langka baginya. Ia merasa seakan bernostalgia dengan masa lalu, dengan indahnya kehidupan di tanah kelahiran.


Weini memetik beberapa senar alat musik itu, ia tersenyum mendengar nada yang asal-asalan ia bunyikan. “Entahlah, sudah lama sekali tidak memainkannya. Ayah mau coba duluan?” Weini menodong Haris untuk


meresmikan, ia tak menyangka reaksi pria itu terhadap barang ini jauh lebih antusias ketimbang dirinya.


“Sungguh? Aku boleh?” Tanya Haris dengan mata berkaca-kaca, tanpa perlu mendengar jawaban Weini, ia langsung menarik kursi yang datang satu set dengan alat musik itu dan duduk menatap sejenak. Jemarinya


menyentuh lembut tiap senar lalu mulai mengatur tali senar yang menurutnya perlu diperbaiki.


Haris memejamkan mata, jemarinya mulai gemulai memetik nada demi nada sebuah lagu mandarin lawas kesukaannya. Suara petikan itu teramat nyaring nan merdu, Weini bahkan begitu menikmatinya. Ia bertepuk


tangan sangat kencang ketika di penghujung lagu, “Lagi, ayah! Lagi!” Pinta Weini, ia ketagihan mendengar konser instrumental secara langsung. Sensasinya sangat berbeda dibanding menontonnya dari Youtube.


“Sekarang giliranmu, nona. Aku akan berdiri sebagai penonton.” Haris menggeleng pelan kemudian menyingkirkan diri dari tempat duduknya. Sikap tubuhnya sungguh memperlakukan Weini sebagai seorang nona, dan ia berlagak kembali pada statusnya sebagai pengawal. Cara itulah yang Haris lakukan untuk mengenang masa lalu.


Weini mengikuti permainan Haris, ia pun berdiri lalu membungkuk hormat pada Hari sebelum memainkan alat musik itu. Sikap ramahnya dibalas senyum tipis oleh Haris, betapa mereka sedang membodohi diri mereka dengan sikap demikian.


Sesaat Weini ragu, ia tak tahu lagu apa yang ingin dibawakannya hingga akhirnya jemarinya bergerak seakan tak terkendalikan. Terasa sedikit perih di hati, namun jemarinya makin lincah memainkan sebuah lagu kenangan yang paling ia suka saat kecil.


“Ni wen wo ai ni you duo sheng, wo ai ni you qi fen. Wo di qing ye zhen, wo di ai ye zhen. Yue liang dai biao wo di xin.” Weini menyanyikannya dengan lirih, dengan mata terpejam sekalipun ia begitu piawai memetik setiap senar kecapi itu hingga menghasilkan suara yang sempurna.


Haris terkesima, ia tahu jelas lagu itu adalah lagu kesukaan nona Yue Hwa dan ibunya, Liang Jia. Weini yang memainkan lagu itu di hadapannya terlihat bagaikan gadis kecil enam tahun yang dijaga Haris, ia membayangkan wajah Yue Hwa kecil sedang bernyanyi. Mata Haris seketika basah, ia hanyut dalam perasaannya, terlebih melihat Weini sudah lebih dulu berlinang air mata.


“Ni wen wo ai ni you duo shen, wo ai ni you qi fen. Wo di qing bu yi, wo di ai bu bian. Yue liang dai biau wo de xin.” Haris turut bernyanyi bersama Weini, suaranya yang merdu mengejutkan Weini. Sambil terus bernyanyi, mereka beradu tatapan yang masih menitikkan tetesan bening. Saling menguatkan hati mereka yang nelangsa, biarlah hanya sekedar hiburan ini yang menjadi pelipur lara.


Ibu, aku yakin ibu pasti hidup dengan baik di sana. Puluhan tahun sudah, apa ibu masih ingat aku? Aku tidak baik-baik saja di sini, ibu. Aku merindukanmu … Selalu. Tetaplah hidup, tunggu aku pulang. Aku ingin hidup bersamamu lagi, ibu!


***


Dalam sebuah kamar mewah di kediaman Li, seorang ibu yang dimaksud Weini sedang meringis kesakitan seiring dengan rintihan hati yang disuarakan gadis itu. Ikatan batin antara ibu dan anak yang sepertinya terkoneksi, ada tangis yang bersamaan meski terpisah oleh jarak. Wanita itu memegang jemarinya yang terluka dan berdarah sembari menyebutkan satu nama yang seketika sangat mengguncang perasaannya.


“Yue Hwaku.”