
Lau menyuguhkan secangkir kopi panas dan setangkup roti isi keju sebagai menu sarapan Xiao Jun. Belakangan ini bos muda itu kecanduan kafein dari kopi sehingga mengganti kebiasaan minun tehnya menjadi kopi. Sejak bertetangga dengan Weini, belum pernah ia sarapan bersama. Kesibukan masing-masing yang tidak cocok waktu akhirnya membuat mereka belum menemukan kesempatan itu.
“Paman, bisa bawakan sarapanku? Aku mau ke depan, paman Haris mungkin belum sarapan.” Pinta Xiao Jun, ia belum menyentuh hidangan pembuka itu.
“Baik tuan.” Lau memindahkan segelas kopi dan roti dalam nampan lalu berjalan mengikuti Xiao Jun dari belakang.
Xiao Jun memencet bel apartemen Haris, ia tahu masih tersisa satu orang di dalam sana. Dalam bayangan Xiao Jun, calon mertuanya itu pasti baru bangun atau masih berbenah diri setelah bangun. Pintu dibuka dari dalam, Haris menunjukkan senyum ramah yang sekaligus mematahkan bayangan Xiao Jun. Pria yang kepalanya mulai dipenuhi uban itu sudah sangat rapi dalam setelan kemeja panjang dan celana panjang hitam, persis orang kantoran yang hendak berangkat kerja.
“Selamat pagi paman.” Xiao Jun menyapa dengan membungkukkan separuh tubuh.
Haris hanya menganggukkan kepala sebagai balasan, “Pagi anak muda. Kau bersemangat sekali pagi ini, tapi Weini sudah berangkat sekolah.”
Xiao Jun tersenyum, ia tentu hapal kebiasaan dan jadwal Weini tetapi kedatangannya kali ini bukan demi gadis itu. “Terima kasih, paman. Anda juga sudah rapi sepagi ini. Saya kemari mengajak paman sarapan bersama. Apa paman keberatan?”
Nampan berisi secangkir kopi dan setangkup roti yang dibawa Lau dilirik sekilas oleh Haris, hanya satu porsi tetapi anak muda itu menawarkannya sarapan bersama. Haris menggantung keputusan sejenak, sampai ia agaknya
mengerti bos muda itu tidak ingin makan sendiri.
“Silahkan masuk. Kita makan bersama.” Haris melebarkan daun pintu hinga Lau dan Xiao Jun bisa masuk bersamaan.
Haris langsung menuntun tamunya sampai ke ruang makan lalu mempersilahkan Xiao Jun dan Lau duduk bersama. Haris mengambil tiga buah mangkuk ukuran sedang dan sendok, lau inisiatif membantunya menata
peralatan makan di atas meja bundar itu.
“Tuan muda dan adik, aku tidak tahu seperti apa kebiasaan sarapan kalian tapi kali ini kebetulan aku sudah masak bubur ikan untuk sarapan Weini dan masih ada sepanci. Bagaimana kalau kita sarapan bubur ini? Apa sesuai selera tuan muda?” Haris sengaja berbicara formal pada Xiao Jun untuk mengujinya.
Xiao Jun dan Lau bertatapan sebentar kemudian Lau menganggukkan kepala. Tanpa sepatah kata pun Lau mengerti isyarat yang Xiao Jun sampaikan. Haris merasa kagum dengan kedekatan tuan dan pengawalnya itu.
“Saya sangat menyukai bubur ikan, sudah lama tidak mencicipinya. Terima kasih atas tawaran paman, saya tak sabar mencobanya.” Jawab Xiao Jun sopan.
Lau kemudian berdiri dan hendak membantu menyuguhkan hidangan namun Haris lebih sigap mencegatnya. “Biar aku yang melakukannya adik. Kamu juga tamuku, bersantailah sejenak.”
“Terima kasih Da Ge, mohon maaf karena kondisi perutku cukup sensitif. Saya tidak bisa sarapan bubur di pagi hari, hanya bisa mencicipi minuman dan roti. Untuk itu, tanpa bermaksud menyinggung da ge, saya mohon diri kembali ke apartemen dulu. Silahkan menikmati sarapan dengan tuan Xiao Jun.” Lau berdiri lalu memberi hormat pada Haris, diambilnya nampan sarapan Xiao Jun untuk dibawa pulang.
“Eh, begitu ya. Baiklah adik, lain waktu kita makan malam bersama ya. Aku akan mengantarmu keluar.” Haris bangkit dari tempat duduknya, ia merasa harus mengantar tamunya.
Lau ternyata menolak diperlakukan spesial, ia meminta Haris menikmati sarapan dengan tuannya tanpa menghiraukan dirinya. Lau bergegas berlalu dari hadapan mereka agar tidak menyita waktu privat yang
diharapkan Xiao Jun. Tuannya sangat ingin bicara empat mata dengan Haris.
“Paman, Maafkan pengawalku, sifatnya memang tertutup.” Xiau Jun mewakili Lau memohon pengertian Haris.
Haris hanya memberikan senyuman yang tak bisa dimenegerti Xiao Jun. Ayah Weini itu terkesan misterius bagi Xiao Jun, itulah sebabnya ia ingin mengenalnya lebih dekat.
Deg! Rasa ini? Xiao Jun berhenti pada suapan pertama, cita rasa bubur ini membekas dalam ingatannya. Aromanya, tekstur daging ikan serta rasanya begitu kentara mengingatkan masa lalu.
Flash back Xiao Jun…
“Li An, Li Jun… buburnya keburu dingin. Jangan main lagi, ayo habiskan makanan kalian!” suara Xin En yang menghentikan keusilan Li An pada adiknya. Ibunya menyuguhkan semangkuk kecil bubur ikan yang masih
mengebulkan uap panas. Kedua anaknya yang sudah menahan perut kosong karena asyik bermain itu segera terpancing rasa lapar lalu melahap cepat.
“Ditiup dulu nak, itu masih panas.” Xin Er tertawa melihat Li Jun kecil yang terlalu semangat makan hingga harus membuka mulut dan meniup bubur yang belum ditelannya.
Xin Er tampak bahagia melihat kedua buah hatinya makan dengan lahap, hanya dengan melihat saja cukup membuatnya kenyang.
“Eh, ce Li Me, ayah dan ibu kenapa nggak makan?” Li Jun kecil yang polos bertanya karena merasa aneh hanya ia dan Li An yang menikmati bubur seenak ini.
“Kami sudah kenyang, lagian ayah nggak suka bubur. Makan sebentar sudah lapar lagi.” Ujar Wei Ming Fung (Haris) yang mendengar pertanyaan putra bungsunya.
Masih teringat jelas wajah ayah, ibu dan kakak pertamanya yang tersenyum melihatnya makan. Dulu ia terlalu polos menganggap alasan kenyang dan tidak suka sebagai alasan yang masuk akal, sampai akhirnya ketika ia tinggal di kediaman Li baru ia menyadari semua alasan itu adalah bentuk pengorbanan orangtua dan kakak pertamanya. Mereka hanya sanggup makan bubur dua porsi karena miskin. Ibu peduli dengan pertumbuhan Li An dan Li Jun
hingga rela meronggoh uang lebih untuk memasak ikan dalam bubur mereka. Selebihnya mereka berhemat di kebutuhan lain untuk bertahan hingga gaji ayahnya cair.
Flash Back selesai…
Xiao Jun meremas tangan kirinya dengan kencang, emosinya membuncah saat teringat masa kecilnya yang suram. Keluarga Wei sudah beberapa generasi menjadi pengawal klan Li, kesetiaan dan pengabdian itu nyatanya tidak berharga di mata mereka. Kehidupan keluarga Wei tidak pernah berkecukupan, lebih sering kekurangan malahan padahal tenaga dan seluruh waktu dicurahkan pada mereka. Ketika ayahnya berkorban menyelamatkan gadis keluarga Li, jasanya tidak dianggap tapi justru divonis sebagai pengkhianat. Li San sungguh tak punya hati nurani pada keluarga Wei, namun Xiao Jun malah melanjutkan pengabdian padanya. Xiao Jun semakin menguatkan tekad untuk menghentikan penindasan itu dan mengangkat derajat klan Wei.
“Anak muda? Ehemm…” Haris sengaja mendehem keras agar nyawa Xiao Jun kembali pada kesadarannya. Suapan pertama bubur yang ia hidangkan itu langsung menghipnotis Xiao Jun menjadi pemurung.
Xiao Jun kembali fokus pada keadaan sekitar, ia setengah membungkuk meminta maaf. “Maaf paman, saya malah tidak sopan melamun saat makan.”
Haris tersenyum, “Apa bubur ini kurang cocok seleramu?”
“Tidak… bukan begitu. Justru karena bubur ini sangat enak, membuatku teringat sesuatu di masa lalu. Maafkan kelancanganku paman.” Xiao Jun sangat tidak enak, bisa-bisanya ia melamunkan masa lalu di depan orang
penting. Ia berusaha meraih hati ayah Weini tapi malah bertingkah konyol.
Ini hanya kebetulan, ayah Weini hanya kebetulan masak bubur yang mengingatkanku pada orangtua. Ataukah Haris mengenal ayahku? Xiao Jun kembali gusar dengan dugaannya, haruskah ia curiga pada Haris atau
menyelidiki siapa teman terdekatnya? Mungkin Xiao Jun bisa menemukan petunjuk keberadaan ayahnya, namun bagaimana jika dugaannya salah? Ia akan sangat lancang telah menguntit kehidupan ayah dari orang yang ia cintai.
Di saat Xiao Jun menghabiskan jatah makanannya dalam dilemma, Haris dengan tenang menyembunyikan senyum misteriusnya.
***