
Tubuh Weini yang berdiri memantung akhirnya kembali ditempati oleh sukmanya. Tubuhnya sedikit terdorong ke depan saat kesadarannya timbul, untung saja Xiao Jun yang sigap menjaganya sejak tadi langsung mendekap erat. Lega hati Xiao Jun mendapati Weini kembali bernapas, kekasihnya telah kembali. Satu tangan Xiao Jun masih memegang pedang sihirnya, sedangkan yang satunya memeluk Weini. Pandangan mereka saling beradu ketika Weini telah membuka lebar matanya.
“Jun....” Lirih Weini, masih sedikit bingung dengan keadaan. Ia tak lagi sendirian, tidak lagi terkurung dalam kegelapan tanpa batas. Sepasang mata Weini berkaca-kaca, ia telah menemukan kembali sosok yang ia cintai.
“Hwa... maaf aku terlambat menolongmu.” Lirih Xiao Jun yang merasakan sesal ketika melihat raut wajah Weini yang nyaris menangis.
Weini menggeleng kencang, kemudian mempererat pelukannya. “Kamu datang di saat yang tepat, terima kasih Jun.” bisiknya lirih.
Keadaan telah kembali seperti semula, waktu yang terhenti beberapa menit itu berjalan lagi. Tidak ada yang peka menyadarinya, sekalipun mereka telah terkena imbas kekuatan sihir itu. baik Dina, Grace, Stevan, dan yang lainnya tidak ada yang sadar kalau mereka menjadi patung sekian menit.
Pelukan hangat dua insan itu disadari oleh Ming Ming dan Su Rong yang mengintip di dekat sekat ruangan. Mereka kebingungan lantaran tidak sesuai gambaran yang mereka bayangkan. Sampai sampai mereka berpikir mungkin Weini takut berada dalam kegelapan dan tengah meminta perlindungan dari Xiao Jun, padahal kejutannya bukan seperti ini direncanakan.
“Tadi aku berhadapan dengan wanita... dia... dia....” Lirih Weini hendak bercerita, namun Xiao Jun justru membungkam bibir Weini dengan kecupan ringan. Ciuman reflek itu jelas berhasil mendiamkan Weini, bukannya tidak senang diberi kejutan tapi Weini tetap bingung karena Xiao Jun menghalanginya bicara.
“Hwa, kita bicarakan nanti ya. Kamu harus tenang dulu, sudah nggak apa apa. Di sini ada aku....” Lirih Xiao Jun menjelaskan kebingungan Weini, masalah yang berkaitan dengan sihir itu tidak bisa mereka bahas secara transparan di ruangan ini. Karena Xiao Jun tahu ada banyak pasang telinga yang siap mendengar mereka.
Weini mengerti, ia pun mengangguk pelan. “Untuk apa kau membawaku ke sini Jun?”
Xiao Jun belum menjawab apa apa, namun lantunan instrumen lagu oriental yang romantis terdengar sayup dalam ruangan itu. Weini mengedarkan pandangannya yang terbatas dalam kegelapan, kondisi yang paling ia takuti saat ini – berada dalam gelap. Xiao Jun membiarkan Weini melihat ke sekeliling, tentu saja masih dengan tangan yang berpegangan erat dengannya. Musik yang begitu menenangkan itu membuat suasana mencekam berubah lebih tenang dan menyenangkan, buktinya Weini mulai bisa menarik senyuman. Ia menoleh ke arah Xiao Jun, mencari jawaban dari wajah tenang pria itu. Semua akal akalan ini pasti sudah direncanakannya.
“Ini pasti ulahmu kan?” Tanya Weini sembari tersenyum senang. Xiao Jun yang sedang disoroti itu hanya menggidikkan bahunya, pura pura cuci tangan.
Dina yang sudah merasa sesak di dalam lemari, mulai mengitung mundur dalam hatinya. Mereka menggunakan musik sebagai penanda kemunculan secara bersamaan. Dina berharap kode yang ia sepakati bersama teman-temannya itu bisa berjalan lancar.
Tiga... dua... satu....
Dina membuka lemarinya, menyalakan lilin elektrik yang ia pegang dengan dua tangan. Menyusul Grace yang juga melakukan hal senada, keluar dari tempat persembunyian lalu melambaikan lilin elektriknya yang bercahaya keemasan. Stevan, Fang Fang serta Su Rong melepaskan banyak lentera mini yang telah diisi dengan lilin elektrik. Lentera itu melayang mendekati tempat Xiao Jun dan Weini berdiri. Suasana dalam kamar itu menjadi sangat remang, pekatnya gelap telah berganti dengan cahaya yang meskipun redup namun akhinya bisa menampakkan wajah orang terdekat di sana.
Weini memandanginya dengan takjub, tak menyangka akan mendapatkan kejutan seromantis itu. Ia mengangkat tangannya, berusaha menggapai salah satu lentera namun tetap saja ia kalah tinggi dengan benda itu. Untungnya Xiao Jun yang memiliki postur tubuh tinggi kisaran seratus delapan puluhan centimeter itu tidak kesulitan menggapai satu lentera itu dan diberikan pada kekasihnya. Alunan musik masih mengalun, dan Ming Ming lah yang bertugas menjaga musik itu tetap bersuara.
Dina, Grace, Stevan, Su Rong dan Ming Ming dengan kompak mendekati ruangan tengah kamar itu. Membiarkan Weini menyadari kehadiran mereka di sana. Weini sungguh terkesima, ia menutup mulut dengan kedua tangannya saking bahagia dan tidak menyangka. Mereka yang baru datang itu mengepung dua orang itu dengan membentuk lingkaran kecil, memberikan pencahayaan lagi dengan lilin lilin di tangan mereka.
Xiao Jun berdiri berhadapan dengan Weini, dari luar ia terlihat sangat tenang padahal dalam hatinya merasa sangat grogi. Tidak ada yang bersuara, bahkan si bawel Dina pun tahu kapan ia harus bungkam dan serius. Mereka menempatkan diri sebagai penyimak, menjadi saksi bahwa pasangan yang berdiri di depan mereka akan segera melakukan prosesi paling mengesankan – lamaran.
Xiao Jun mulai menekuk satu kakinya, kemudian bersimpuh di hadapan Weini. Satu tangannya disembunyikan di belakang, sementara yang satunya terjulur bebas di atas lutut. Weini tentu peka dengan apa yang akan terjadi, yang ia tak sangka adalah cara Xiao Jun yang begitu mengejutkan. Ia benar benar bahagia sekarang. Xiao Jun menatapnya dengan lembut, remang remang cahaya lilin bisa memperlihatkan dengan jelas sorot mata teduhnya kepada Weini.
“Li Yue Hwa... aku tahu caraku ini mungkin sederhana bagimu. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa cintaku tidak sesederhana itu. Aku... Wei Li Jun dengan penuh kesungguhan hati, memintamu untuk menjadi pendamping hidupku. Li Yue Hwa, aku meminangmu sebagai istriku.” Ujar Xiao Jun dengan penuh kelembutan namun sarat kemantapan hati. Beberapa detik setelah ungkapan cinta itu, Dina segera berlari membuka tirai jendela kamar itu lebar lebar. Tepat di saat itu pula, suara kembang api terdengar jelas dari sana, seluruh perhatian orang orang di kamar itu, pun perhatian orang orang yang lalu lalang di luaran sana, bisa menyaksikannya dengan jelas. Namun hanya segelintir orang yang bisa mengerti apa maksud kembang api itu. Dan Xiao Jun hanya perlu seorang Weini saja yang memahaminya saja, itu sudah lebih dari cukup baginya.
Menikahlah denganku, Li Yue Hwa.
Tertuliskan permintaan itu di langit, hal yang terbaca jelas oleh Weini dan beberapa orang yang mengerti bahasa Mandarin di kamar itu. Xiao Jun memang tidak salah memilih, spot dari kamar ini menampakkan jelas tulisan itu. Dan sukses mengharukan hati semua yang menyaksikannya. Weini masih ingat betul momen yang kurang lebih sama, saat Xiao Jun melamarnya dan memainkan kembang api dengan tulisan juga. Pria itu sungguh mengulang kenangan, sungguh ingin memperbaiki keadaan yang dulu sempat terhalang.
“Hwa... terimalah sebagai tanda kesungguhanku.” Xiao Jun masih bersimpuh di hadapan Weini, menyodorkan sebuah kotak merah yang telah terbuka dan terlihat jelas ada satu cincin di dalam sana. Weini melihat dengan sepasang matanya yang berkaca kaca. Tak menyangka akan diberikan cincin untuk kedua kalinya oleh pria yang sama, pria kesayangannya.
“Ng... aku sudah memakai cincinmu yang tidak bisa lepas ini.” Weini menunjukkan jemarinya yang berhiaskan cincin wasiat dari klan Wei. Barangkali bisa mengingatkan Xiao Jun bahwa ia sudah punya cincin sebelumnya.
Xiao Jun tersenyum tipis, tangannya masih menjulurkan kotak itu. Menunggu kesediaan Weini menerimanya. “Aku tahu Hwa, tapi ini beda. Ini cincin yang aku buat khusus untuk kita. Bukan cincin wasiat, tapi cincin yang akan jadi pengikat di jari kita nantinya. Maukah kau menerimanya?” Pinta Xiao Jun sekali lagi.
Dina yang mendengar pertanyaan itu reflek mengangguk, seakan mewakili jawaban Weini. Teman teman yang menyaksikan di sana sudah tidak sabaran lagi, ingin melihat Weini berkata ‘Ya’.
Weini tak bersuara, namun gestur tubuhnya lah yang berbicara. Tangan perlahan menjulur ke arah kotak perhiasan yang ada di tangan Xiao Jun. Bukan untuk mengambil cincinnya, melainkan untuk menyentuh tangan pria itu. Perlahan Weini menarik tangan Xiao Jun, menggiring pria itu agar berhenti berlutut dan berdiri berhadapan dengannya.
“Pakaikanlah.” Ujar Weini singkat dan mantap sebagai jawabannya.
“Yessss!” Sorak sorai dari Dina pecah, sulit bagi dia untuk menahan kebawelannya, dan ia memang berikrar menunggu jawaban dari Weini dulu, barulah ia bersuara. Riuh tepuk tangan pun terdengar, suara musik yang masih mengalun, lentera mini yang masih menggelantung di langit langit kamar, dan lilin di tangan para sahabatnya yang telah diletakkan begitu saja di lantai, demi bisa ikut memeluk sepasang calon suami istri yang tengah berbahagia itu.
Xiao Jun mendekatkan wajahnya pada Weini, membiarkan hidung bangir mereka saling bersentuhan. Tak peduli dengan beberapa pasang mata yang menatap girang, ia tetap ingin mengekspresikan rasa senangnya secara langsung.
"Xie Xie ni de ai, Hwa. (Terima kasih atas cintamu, Hwa)" Gumam Xiao Jun lirih. Pernyataan cinta yang langsung mendapat anggukan dari Weini.
"Cium cium..." Pekik Dina usil, awalnya semua melirik dirinya dengan sorot aneh, namun tak begitu lama kemudian justru mereka ikutan berteriak, mengompori pasangan itu agar melakukan apa yang mereka teriakkan.
wajah Weini tampak malu-malu, ia menundukkan wajahnya, belum pernah sama sekali ia memperlihatkan momen kedekatan bersama Xiao Jun di hadapan teman-temannya. Ini sangat memalukan baginya.
Xiao Jun sadar bahwa gadisnya tidak nyaman, namun demi memberi rasa puas bagi teman-teman yang telah mensukseskan acara lamarannya, ia pun perlu memuaskan hati mereka. Xiao Jun mendekap pundak Weini agar lebih mendekat kemudian mendaratkan ciuman ringan tepat di keningnya.
Weini terkesiap sekaligus lega karena hanya itu saja yang Xiao Jun lakukan. Tepuk tangan dan suasana pun kembali gaduh, benar benar hidup berkat kehadiran orang orang terdekat mereka.
Dua hati akan segera menyatu dan hanya maut yang akan memisahkan mereka. Semoga....
❤️❤️❤️