
Keriuhan dan sorot kekaguman dari seluruh tamu pun memancing semangat host untuk membangkitkan suasana. Ia tidak menyangka, acara yang semula dianggapnya sebagai prom night biasa rupanya bisa menjadi batu
loncatannya. Ia yakin setelah ini akan diburu wartawan untuk klarifikasi tentang pengakuan sensasional CEO muda yang menjalin asmara dengan artis muda berbakat.
“Ya… sebuah kejutan kami hadirkan untuk anda dalam pesta kali ini. Anda sekalian pasti tidak menyangka akan menyaksikan betapa romantisnya dansa antara sepasang kekasih? Maka sangat beruntunglah anda yang hadir malam ini, kita beri tepuk tangan yang paling meriah untuk Mr. Li Xiao Jun dan Miss Weini. Mr. Li Xiao Jun merupakan sosok misterius yang sangat terkenal di dunia bisnis, banyak yang penasaran dengan wajahnya yang kabarnya sangat tampan. Dan malam ini, rumor itu terjawab sudah. Kharisma dan ketampanan Tuan Li Xiao Jun memang tidak diragukan. Eits… tapi anda harus siap patah hati jika menyukainya, karena Tuan Li Xiao Jun merupakan kekasih dari Miss Weini. Mereka pasangan serasi kan!” Teriak host itu tak kalah antusias dengan pembawa berita gossip.
Weini tersenyum canggung, diperkenalkan sebagai pasangan Xiao Jun di depan umum – di depan teman-teman sekolahnya – seperti prosesi pernikahan saja saking formalnya. Ia menghargai surprise dari Xiao Jun, tapi
apa harus segitunya memberi kejutan hingga harus mengumbar status hubungan depan khalayak?
“Daaaan… sebagai bentuk apresiasi untuk kita semua yang hadir, tuan Li Xiao Jun sudah menyiapkan goodie bag yang berisi 10 gram emas murni. Dalam kesempatan ini Tuan Li Xiao Jun menyatakan rasa terima kasih kepada anda yang telah menjadi teman sekolah Weini. Semoga seusai meninggalkan jenjang SMA, masa depan anda makin sukses. And the last, kami mohon maaf kepada para rekan pers karena tidak bisa melayani sesi wawancara, sebagai gantinya akan diaturkan jadwal untuk klarifikasi.” Host itu merasa kehilangan, setidaknya ia ingin mendapatkan selfie dengan orang sukses dan berpengaruh. Jika berhasil, ia pasti akan kecipratan viral.
Stevan merasa tersisihkan dari sorot panggung, ia berdiam menonton dansa pasangan itu. meskipun perih, ia turut bahagia hanya dengan melihat tawa lepas dari Weini. Sesuatu yang tidak bisa ia lakukan untuk mendapat senyum seperti itu dari sang gadis. Ia merasa kehadirannya tidak lagi berguna dan diam-diam keluar dari pintu samping. Lebih baik menata hati yang terluka daripada terdiam menyaksikan kebahagiaan orang.
“Tuan… Nona… lewat sini!” Dina melambaikan tangan agar kedua bosnya mengetahui keberadaannya. Jalan pintas untuk kabur sudah ia siapkan, segala sesi acara sudah diselesaikan Weini. Xiao Jun sudah memperhitungkan keadaan hingga ia menyiapkan solusi pengalihan yang rupanya cukup mumpuni. Sekarang baik para remaja maupun tamu undangan terhormat pun rela mengantri demi mendapatkan goodie bag.
“Jalan udah kami sterilkan dari wartawan, yuk buru!” Dina mempercepat langkah agar pasangan yang tengah diincar media itu bisa mengikuti di belakang.
Di luar prediksi, Dina nyaris kehilangan jejak mereka jika ia tidak menoleh ke belakang. Weini dan Xiao Jun tengah dihadang oleh musuh masa lalu yang tak diharap kemunculannya. “Ngapain lagi si resek!” ujar Dina dongkol, ia terpaksa balik badan menyusul mereka.
“Weini, gue minta waktu lima menit pliss.”
Xiao Jun tak mau menghiraukan permintaan sepihak dari gadis di hadapan mereka, namun Weini menolak pergi begitu saja. Mereka saling bertatapan sesaat, kemudian Xiao Jun memberikan kesempatan bicara asalkan ia
tetap di samping Weini.
“Weini, thanks banget lu nggak jeblosin gue ke penjara. Gue… habis ini gue nggak akan pernah usik hidup lu lagi. Nggak akan nongolin muka di hadapan lu. Gue nggak harap dimaafin, tapi gue tetep say sorry. Moga lu bahagia dan sukses.” Metta berusaha meraih tangan Weini, namun dihadang oleh Xiao Jun. Gadis itu tampak serius dengan pengakuannya, mungkin dalam kesempatan perpisahan ini ia baru menyadari segala kekhilafannya.
“Aku udah lupain semua. Sukses juga buat kamu.” Ujar Weini sekenanya. Ia tidak perlu merespon berlebihan, yang berlalu ya sudahlah. Belajar dari pengalaman, Metta orang yang tidak terduga emosinya. Entah apalagi tingkahnya jika ia diberi hati.
“Udah lima menit, yuk!” Xiao Jun mengingatkan waktu, mereka harus segera kabur dari keramaian. Ada janji lain yang harus dituntaskan malam ini dengan Weini. Kencan privat untuk sebuah perayaan kelulusan.
Dina yang berdiri dengan jarak dua meter menatap cemas pada Weini, ketika sudah berpapasan dengan keduanya, ia memberanikan diri bertanya. “Non, gak papakan? Tuh cewek mau ngapain?”
Weini tersenyum melihat kecemasan Dina, “Cuman minta maaf kak. Kali ini dia serius kok.”
Mulut Dina monyong, “OOO… baguslah masih tahu tobat. Buru non, helikopternya udah disiapin.” Usai mengucapkan itu, Dina langsung menepuk mulutnya. Lagi-lagi ia keceplosan, kali ini bisa tamat riwayatnya
karena Xiao Jun melirik tak senang padanya.
Tanpa menghentikan langkah, Weini melirik ke Xiao Jun. Lagi-lagi ia akan diculik dengan jet pribadi, entah kemana… Xiao Jun sadar lirikan mata Weini tertuju padanya namun ia pura-pura tak peka demi menghindari
pertanyaan yang membingungkan. Dina hampir saja mengacaukan kejutan yang ia atur sedemikian rupa, dan sekarang si pengacau itu memelas ampun lewat isyarat tatapan.
***
Tidak ada jaminan bahwa pesta yang sangat meriah dan identik suasana bahagia pasti mendatangkan kebahagiaan bagi siapapun yang berada di dalamnya. Bertubi kejutan dan keberuntungan yang dibawa Xiao Jun
nyatanya tidak mempan bagi mantan sahabat Weini. Ia memilih meninggalkan auditorium dan menepi di sudut terpencil dari sekolahnya. Dalam keremangan ia mencoba menenangkan diri yang terlanjur terluka karena melihat pria yang ia cintai tertawa bahagia di depan mata. Cinta yang bertepuk sebelah tangan itulah yang mengantarkan persahabatannya dengan Weini ke jurang kehancuran. Ia tidak akan mengotorkan matanya menyaksikan adegan dansa dari dua orang itu.
Stevan keluar dari pintu samping yang mengarahkan pada tempat sunyi di tengah keramaian. Udara malam yang segar dan taburan bintang yang gemerlap di langit malam, ia menengadah sejenak mencari ketenangan batin. ia memasukkan kedua tangan dalam saku celana kemudian menyadari sesuatu di dalam kantong itu. secarik cek yang diberikan Xiao Jun rupanya masih ia kantongi, ditatapnya sesaat kesempatan emas menambah pundi rupiah itu, kemudian tanpa ragu merobeknya hingga tak berbentuk dan tercecar oleh tiupan angin.
Betapa terkejutnya dua pasang mata yang saling bertatapan itu ketika si gadis merespon tepukan itu. Kini ia harus bersyukur atau menggerutu pada takdir yang mengirimkan pria itu ketika hatinya tak bisa berhenti memikirkannya?
“Sorry ngagetin. Kok di sini? Nggak gabung di dalam aja?” Stevan bertanggung jawab atas apa yang sudah ia mulai.
“Di sini lebih enak, hirup angin malam. Lah, lu bukannya harus dansa?” Sisi bertanya balik, ia berharap Stevan tidak mendegar degub jantungnya.
“Pemeran utamanya udah nongol, ya gue cabut aja.” Jawab Stevan sekenanya. Obrolan itu terdengar tidak asyik, setidaknya pertemuan tak direncana ini mungkin kesempatan yang Tuhan berikan untuk meluruskan masalah
yang belum usai antara mereka.
“Oww… bukannya elu peran utamanya? Ah… bodo amat dah.” Sisi bertanya sendiri lalu tidak tertarik mendengar jawabannya. Ia tak berani menatap lawan bicara meskipun mereka berdampingan.
“Gimana kabar lu? Waktu itu pertemuan kita endingnya gak asik.” Stevan mulai masuk ke pembahasan utama sambil melihat respon Sisi.
Sisi mengangat bahu, “Kayak yang lu lihat. Asik nggak asik juga udah masa lalu.”
Tawa Stevan mulai pecah, ia sengaja supaya suasana kurang bersahabat itu lebih menyenangkan. “Ya sih. But, serius gue minta maaf. Gue gak maksud ninggalin lu di tengah jalan.”
Sisi tidak mau kalah, ia sengaja tertawa lebih keras meskipun kesan dibuat-buat sangat kentara. “Lu nyindir? kan bukan lu yang ngusir gue turun, gue yang mau keluar. Udahlah apaan sih hari gini masih bahas yang udah lewat.”
Stevan mencari perhatian Sisi, ia menepuk pundak gadis itu agar mereka bisa bertatapan. Sorot penuh keseriusan dari mata Stevan akhirnya mampu menahan gadis itu untuk tidak berpaling wajah. “Lu bisa bilang gak papa, tapi gue bisa ngerasa itu jauh dari kenyataannya. Lu nggak baik-baik aja. Si, gue trims banget ama perasaan lu. Tapi gue… gue lebih nggak tega nyakitin hati cewek. Gue gak bisa jalin hubungan sementara hati gue aja nggak
kosong. Dan gue nggak mau cari pelampiasan, itu bakal nyakitin banget bagi lu.”
Mata Sisi mulai membendung bulir bening yang mendesak turun. Ia ditolak? Hal yang enggan ia dengar harus didengar langsung sekarang. Cmon si… di mana harga diri lu!
“Plis deh, gue nggak mood bahas gituan. Gue cuman fans fanatic lu, perasaan gue gak lebih dari cinta kepada idola. Lu nggak usah mikirin perasaan gue, atau lu emang brengsek yang manfaatin perasaan fans lu!”
Stevan kehabisan kata-kata, gadis itu pintar menjaga imagenya. Ada baiknya seperti itu yang penting ia sudah mengutarakan maaf yang baru sempat terucap. “Cinta nggak bisa dipaksa, gue tahu betul perasaan itu. gimanapun kita bakal dewasa dan berproses dalam mencari cinta sejati. Gue harap lu juga move on, kalo lu buka hati pasti lebih mudah melihat mana yang sesungguhnya milik lu.”
Betapa naifnya Stevan, ia bisa seyakin itu menasihati orang namun tertatih menyembuhkan luka batinnya. Jika move on memang semudah membalikkan telapak tangan, ia tidak akan tersakiti melihat kebersamaan
Weini dan Xiao Jun.
“Gue tahu. Jangan geer deh, gue udah move on dari kapan hari. Justru lu yang harus move on, gue tahu lu nggak sanggup liat Weini ama pacarnya kan.” Tebakan jitu Sisi yang kian menambah daftar penderitaan Stevan.
“Whatever lah… mau cabut nggak? Gue anter balik sekalian. Kali ini gue jamin bakal nurunin lu di depan rumah. Bila perlu pagarnya gue tabrak sekalian.” Canda Stevan usil.
Sisi terpingkal, pria yang sering berperan mellow romantis itu rupanya punya sisi humor. “Lu cocok jadi pelawak deh, sumpah! Thanks, tapi gue masih betah di sini. Plis beri gue privasi, gue perlu waktu sendiri.”
Stevan memegang dadanya, ia berekspresi seakan kesakitan. “Awww… gue ditolak cewek. Seumur-umur gue ditolak fans.”
Sisi ngakak, lelucon garing itu bisa membuatnya merasa geli hingga terpingkal.
“Gue duluan ya. Jangan pulang malam-malam sendirian, dan jangan sampe masuk angin. Lu pantas bahagia, jangan nyiksa diri lagi.” Stevan melambai tanpa menoleh, ia tidak perlu melihat balasan Sisi sebesar apapun rasa ingin tahunya, lebih baik tidak meninggalkan kontak mata untuk sebuah perpisahan yang mungkin untuk selamanya.
***