OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 211 HARUSKAH AKU MENYERAH?



Tubuh Haris tidak bergerak sejak terpental jatuh dengan keras. Sisa tenaganya nyaris hilang semua, pria itu kesulitan mengendalikan kesadarannya sekarang.


“Ayaaaah!” pekik Weini memekakkan pendengaran, tubuh gadis itu juga terpelanting meskipun tidak sekencang Haris. Ia juga tertatih dengan kondisi punggung yang rasanya seakan ditusuk ratusan jarum, Weini mencoba berdiri tetapi kedua kakinya belum kuat menopang tubuh sehingga terhuyung jatuh.


“Ayaaah!” teriak Weini sekali lagi dengan nada melengking, Haris tidak juga meresponnya sehingga Weini tak lagi kuat menahan air mata, saking takutnya. Gadis itu merangkak menuju tubuh Haris dengan isakan tangis tanpa henti. Weini sungguh takut hal buruk itu terjadi – kehilangan satu-satunya keluarganya.


Hal pertama yang Weini lakukan adalah meraba nadi Haris kemudian memeriksa napas di bawah hidung pria itu. Masih ada tanda kehidupan, seketika itu pula Weini menghela napas lega sejenak. Ia kembali mengguncang pundak ayahnya sembari terus memanggil pria itu. Haris tidak boleh pingsan, akan fatal akibatnya hingga kemungkinan terburuk terjadi – koma.


Pekikan Weini yang melengking serta goncangan yang kuat pada pundak Haris akhirnya membuat pria itu bereaksi. Jemari tangannya mulai bergerak pelan disertai dengan suara lemah yang tidak jelas apa yang dikatakan. Weini tersenyum senang melihat Haris yang sudah siuman, ia mendekatkan wajahnya untuk mendengar apa yang ingin disampaikan ayahnya.


“Kamu baik-baik saja?” desis Haris dengan suara lemah.


Pertahanan air mata Weini nyaris bocor lagi ketika melihat sosok Haris yang selama ini kuat kini terbujur lemah, bahkan untuk bicara saja suaranya nyaris hilang. Kondisi ini jelas menunjukkan Haris tengah tak berdaya. Pria tua itu masih berusaha tersenyum walau lengkungan bibirnya sangat terpaksa saking menahan sakit.


“Aku baik, ayah jangan banyak bicara. Ayo, aku papah ke kamar.” Ujar Weini, ia mengusap air mata lalu mencoba berdiri untuk memapah Haris meskipun punggungnya sakit seperti mau patah.


Haris menahan Weini dengan memegang tangan gadis itu, gurat wajah Weini yang kesakitan tidak bisa membohongi Haris bahwa ia baik-baik saja. “Jangan sok kuat kalau memang sakit, aku tidak apa-apa, biarkan dulu begini.” Ujar Haris menolak diurus oleh Weini.


Mereka berdua saling menutupi rasa sakit, Haris memang tidak bisa dibohongi lantaran ia sanggup membaca pikiran Weini. Tetapi Weini, walaupun tidak punya kekuatan membaca pikiran, ia punya perasaan yang bisa diandalkan. Ia yakin ayahnya tengah berbohong dan kondisinya sedang tidak menguntungkan.


Weini akhirnya menuruti Haris, toh ia pun belum sanggup berdiri dan segan merangkak di depan Haris. Tindakannya itu pasti akan membuat Haris makin kuatir. Haris masih tiduran sementara Weini bersandar pada kursi yang ia tarik mendekatinya sebagai tempat bersandar. Bisa tertebak nasib mereka akan bermalam di belakang


hingga tenaga mereka kuat untuk bergerak.


“Maaf, ayah belum sanggup melepas topengmu.” Dengan napas tersengal, Haris berkata demikian lirih dan menyedihkan. Terdengar jelas kekecewaannya yang sangat dalam, menyedihkan.


Bibir Weini menarik seulas senyum getir, “Aku yang harusnya minta maaf ayah. Kalau aku tidak egois, memaksa kehendakku … ah …” Weini menitikkan air mata, tak sanggup melanjutkan kata-kata lagi. Perasaannya sangat sensitif sekarang, yang ia tahu hanya penyesalan dan rasa bersalah pada Haris.


“Bukan salahmu.” Ujar Haris lemah.


“Aku sudah berlatih sihir terakhir itu, tapi ternyata kekuatanku belum cukup. Maaf Weini, hampir saja mencelakakanmu.” Timpal Haris sedih. Selama ini dia sudah mengerahkan kemampuan untuk berlatih sihir tertinggi di klannya, sihir yang belum pernah dipraktekkan oleh pendahulu dan belum teruji efektifitasnya.


Weini menggelengkan kepala dengan lemah, “Kalau aku tahu resikonya seburuk ini, lebih baik kita tidak pernah mencobanya. Aku tidak mau ayah jadi seperti ini, sungguh nggak worth it! Kita lupakan saja soal melepas topeng, aku nggak apa-apa hidup dengan wajah palsu seumur hidup, ayah.”


Haris tersenyum, Weini pernah berkata demikian namun Haris tetap tidak bisa membiarkan gadis itu menyembunyikan wajah asli selamanya. “Perubahan wajahmu adalah tanggung jawabku, aku yang memulai maka aku harus bertanggung jawab. Setelah kita pulih, aku akan berlatih lagi sampai kekuatanku sanggup mengeluarkan sihir itu.” ujar Haris bersungguh-sungguh.


“Ayah, kenapa kau mampu memasukkan tapi tidak mampu mengeluarkan?” Tanya Weini heran, di matanya Haris adalah orang terhebat yang pernah ia kenal di dunia. Sihir dan sebangsanya hanya ada dalam cerita dongeng atau fantasi, namun Haris membukakan mata Weini bahwa keajaiban itu bukan sekedar bualan, itu sangat nyata. Hanya saja mengapa Haris masih tidak mampu mencabut sihir yang jelas-jelas ia masukkan dengan mudah waktu itu.


“Sihir itu seperti tiket pergi tanpa tiket pulang, kami hanya bisa menaruhnya dan belum ada satupun yang menguji cara mengeluarkannya. Aku yang pertama mempraktekkannya, belum ada cerita dari leluhurku tentang keberhasilan sihir penetralnya. Karena sihir ini sangat berbahaya, maka tidak ada satupun yang berani mencoba. Maafkan aku Weini, aku janji akan bertanggung jawab, beri aku waktu berlatih lagi.” Sesal Haris. Akhirnya ia buka kartu tentang bahayanya sihir yang ia tanam dalam tubuhnya dan Weini.


“Kalau ayah paksakan lagi lalu tidak berhasil, apa resiko terburuknya ayah?” tanya Weini memastikan langsung walaupun ia sedikit bisa menebak.


“Kekuatan yang kita kerahkan akan memantul dan berbalik menyerang kita, resiko terburuknya jelas kematian. Dan kau jangan coba memintaku mengajarkan padamu, sampai kapanpun aku tetap menolak.” Haris berterus terang dan tegas.


Weini nyengir, belum apa-apa sudah mendengar penolakan. “Selain itu apa masih ada cara lain?”


“Oh, aku akan berlatih hingga jadi lebih hebat darimu.” Jawab Weini cepat.


Haris berdecak, “Maksudku penyihir dari aliran lain, di luar ilmu klan Wei. Kau mewarisi ilmuku, sudah bisa ditebak hasilnya kurang lebih seperti aku.”


Weini bungkam, tidak tahu harus menjawab apalagi. Ia awam soal dunia sihir, satu-satunya penyihir yang ia kenal hanya Haris. “Sudahlah, ayah … lebih baik kita segera pulihkan tenaga, aku tidak mau berhari-hari duduk di sini.”


Haris yang masih terbaring itu mencoba bangun, namun tubuhnya masih sulit digerakkan hingga ia pasrah sejenak. “Kau benar, tidurlah biar cepat terkumpul energi kita.”


***


Dina menelpon Weini puluhan kali dan hanya mendengar bunyi tut hingga panggilan berakhir otomatis. Gara-gara itu pula yang memicu ia datang lebih awal dengan buru-buru ke rumah artisnya. Tidak biasanya Weini begitu, kecuali gadis itu tengah frustasi karena kekasihnya. Feeling Dina, mungkin ada sesuatu lagi tentang Xiao Jun yang membuat Weini kembali mengurung diri. Namun ketika ia menghubungi nomor Haris, hasilnya sama nihil.


Dan pada jam delapan pagi, Dina berdiri di depan pintu sambil mengetuk dan memanggil nama kedua tuan rumah secara bergantian.


“Holaaa … Non, om Haris bukaaaa!”


***


Hai readers, apa kabar? ^^


Kita vote yuk, setelah mengikuti kisah OPEN YOUR MASK, PRINCESS! Hingga episode ini, siapa tokoh antagonis yang paling kalian benci?


A. LI SAN JING


B. LISA


C. SISI


D. METTA


E. LI CHEN KHO


F. LI KAO JING


G.LI YUE XIN


H. LI YUE XIAO


Pssst!


Boleh lebih dari satu pilihan kok, Thor pengen tahu saja siapa yang sudah bikin kalian sebel di antara mereka.


Terima kasih atas dukungan dan vote dari kalian ya, Thor selalu semangat berkat like dan komentar kalian. ^^