
Weini sedang mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, semenjak berambut curly ia harus sedikit rempong menata rambut khususnya sehabis keramas. Dipandangnya wajah polosnya tanpa make up dari cermin, ia masih terlihat cantik natural meski tanpa polesan. Tiba-tiba sekelebat bayangan muncul dari cermin, Weini terkesiap hingga hair dryernya jatuh ke lantai. Seolah tengah menonton film layar lebar, seorang gadis yang wajahnya blur terlihat bersama Xiao Jun. Sekejab penampakan itu hilang, Weini bahkan mengucek mata berulang kali untuk
memastikan ia tidak berhalusinasi.
“Apaan itu? terasa nyata tapi aneh.” Weini memegang dada, ada yang mengganjal perasaannya. Semacam firasat buruk yang menandakan sesuatu akan terjadi. Ia belum pernah mendapat petunjuk seperti itu, mungkin ini pengaruh dari sihir yang ia kuasai. Tapi siapa wanita itu? Dari bayangannya jelas itu bukan dirinya
yang bersama Xiao Jun.
Weini berusaha menguasai diri, dipungutnya hair dryer yang masih menyala lalu mematikannya. Ia harus bergegas menemui tunangannya, siapa tahu ada petunjuk yang bisa ia dapatkan tentang penglihatan gaibnya barusan.
“Ayah, lain kali kita bertiga makan di Hongkong ya. Aku akan atur waktunya, tidak perlu memberitahu ibuku. Kita hanya pergi makan lalu pulang.” Xiao Jun masih mengobrol santai ditemani martabak dan teh yang mulai mendingin.
Haris tertawa kecil, “Kau niat sekali pergi jauh-jauh hanya untuk makan. Lebih baik aku masakkan buat kalian daripada bikin capek badan.” Seru Haris. Ia ingin kembali melihat Hongkong, namun resikonya terlalu besar jika Xiao Jun ketahuan pulang tanpa seijin Li San.
Weini tidak sengaja menguping pembicaraan mereka, panggilan Xiao Jun pada Haris sangat menggelitik rasa penasarannya. “Wah… Wah, kayaknya aku kelamaan mandi sampe ada berita yang terlewatkan. Xiao Jun panggil ayahku dengan sebutan ayah? Wah… kita kakak adik dong hahaha.”
Xiao Jun tersenyum dan langsung menarik kursi kosong di sebelahnya untuk diduduki Weini. Memberi perhatian lebih diutamakan ketimbang menjawab candaan Weini.
“Kalian sudah tunangan, masa iya aku masih dipanggil paman. Memangnya kalian sepupuan? Hahaha…” jawab Haris meladeni keisengan Weini.
Jawaban itu membuat Weini tersipu sekaligus senang, tidak perlu usaha ekstra untuk mengakrabkan kekasih dan ayahnya. Sekarang tinggal bagaimana ia bisa diterima dengan hangat oleh keluarga Xiao Jun yang masih tanda tanya bagi Weini.
“Ya sudah kalian ngobrol dulu, aku mau masak yang enak. Tadi ada yang nekad mau ajak kita PP ke Hongkong hanya untuk makan. Belum tahu dia kalo aku bisa bikin masakan lebih enak dari chef bintang lima.” Seru Haris bercanda. Ia sengaja memberi kesempatan berdua bagi pasangan muda, sementara ia harus menyicil tanggung jawabnya pada anak yang haus kasih sayangnya, memberikannya masakan terlezat yang ia rindukan.
“Serius tuh kamu mau ngajak ke luar negri hanya buat makan lagi?” Weini geleng-geleng kepala, kekasihnya hobi banget bikin capek badan.
“Ya, aku sudah pernah janji padamu.” Ujar Xiao Jun dengan menyunggingkan senyum termanisnya.
Weini menatap lekat-lekat wajah Xiao Jun lalu ia merebahkan kepala di pundak kekarnya. “Nggak usahlah, yang paling penting selalu bersamamu. Di sini pun sudah cukup menyenangkan, makan masakan ayah, paman Lau, berkumpul dengan mereka juga.”
“Kita sudah bertunangan, kau ingin hadiah apa untuk merayakannya?” Xiao Jun merasa lamaran tempo hari terlalu simpel untuk gadis seperti Weini. Ia ingin memberikan lebih dari itu asal bisa menyenangkannya.
Weini menggeleng pelan masih dalam posisi bersandar. “Nggak perlu neko-neko. Kadang aku masih nggak habis pikir, apa hubungan kita nggak terlalu cepat?”
“Apa ikatan ini membebanimu? Aku tidak akan mengekangmu, kita bisa santai jalani hubungan sampai kamu siap menikah.” Xiao Jun menatap Weini, ia tidak mau disebut egois dengan memaksakan kehendak agar hubungan mereka menuju jenjang lebih serius.
“Tidak, bukan begitu. Aku tidak mungkin menerima lamaranmu jika merasa keberatan. Hanya saja, masih serasa mimpi dan aku punya firasat nggak enak.” Weini enggan meneruskan lagi meskipun bayangan wanita yang muncul dalam cermin itu masih mengganggunya.
Xiao Jun bisa merasakan kegelisahan Weini, ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. “Apa yang kamu khawatirkan? Coba ceritakan padaku, aku harap tidak ada yang perlu ditutupi di antara kita.”
Ingin rasanya Weini menceritakan yang sebenarnya, namun ia pasti akan dianggap aneh. Apalagi Xiao Jun hanya orang biasa yang mungkin tidak percaya tentang magic. Weini hanya perlu bertanya pada Haris, hanya Haris orang yang tepat untuk berkonsultasi tentang hal aneh itu.
“Bila perlu langsung menikah hahaha. Urusan baik kenapa harus ditunda? Kita sudah saling mengenal dan mantap dengan pilihan ini. Selama ibuku sudah merestui, aku tidak mau mengulur waktu lebih lama untuk mengikatmu.”
Tapi aku masih punya rahasia yang belum sanggup kuceritakan padamu. Apa kamu masih menganggapku baik dan layak jika tahu aku gadis berwajah dua. Masih ada satu wajah yang tidak aku ketahui bentuk aslinya di balik topengku. Keluh Weini dalam hati, ia merasa bersalah mendengar keyakinan Xiao Jun yang merasa sudah
sangat mengenalnya.
“Ah… Aku baru ingat kak Dina merengek untuk ditraktir. Dia sudah bisa menebak begitu melihat cincin ini.” Weini menunjukkan cincin yang melingkar manis di jarinya. Xiao Jun tersenyum, Dina memang tidak mau ketinggalan dalam perayaan ini tetapi dia memang pantas mendapat reward karena tanpa andilnya, Xiao Jun dan Weini mungkin masih keras kepala dan gengsi menutupi perasaan.
“Kita rayakan saja untuk syukuran, undang siapapun yang kamu mau dan aturlah konsep acara sesuai impianmu. Bila perlu minta Dina mengaturkan waktu untuk prescon, kabar baik tidak perlu ditutupi.” Ujar Xiao Jun, pesta ini pasti sangat penting bagi Weini mengingat statusnya sebagai publik figur.
Weini setuju, ia mengangguk pelan. “Aku hanya perlu perayaan kecil saja dengan teman kantor dan bersama paman Lau. Selebihnya biar saja menjadi privasi, kecuali untuk berita pernikahan.”
“Kau aturlah, aku dukung apapun pilihanmu.” Xiao Jun mengacak rambut Weini, ia gemes dengan model rambut curly itu.
Baru saja mereka berdua beradu pandang tanpa berkedip, ponsel Xiao Jun bergetar. Ia bergegas melihat panggilan masuk yang dipastikan dari pengawalnya. “Sebentar ya.” Xiao Jun meminta ijin pada Weini untuk mengangkat telpon itu, ia berjalan menjauhi Weini sejenak.
“Ya, paman?”
“Tuan, maaf mengganggu. Bisakah kau pulang sekarang? Ada hal penting yang harus ku sampaikan langsung.” Lau terdengar sangat serius, Xiao Jun dapat merasakan ketegangan dari kata-kata Lau meskipun pria itu mencoba menyampaikan dengan tenang.
“Oke, aku pulang sekarang.” Xiao Jun tidak perlu bertanya urusan apa yang sedemikian penting, ia telah menyerahkan banyak hal untuk ditangani Lau namun kali ini pengawalnya mengalami kesulitan. Ini pasti bukan perkara mudah yang bisa dihandel tanpa dirinya.
Weini mengernyit ketika mendengar jawaban Xiao Jun, “Ada apa? Apa ada masalah penting?” tanya Weini cemas.
“Entahlah, Weini aku pulang dulu. Kurasa ini hanya urusan kantor yang tidak bisa paman handel tanpa persetujuanku. Bentar ya, aku pamit sama ayah Haris dulu.”
Xiao Jun masuk ke dalam rumah menemui Haris tanpa diantar Weini. Gadis itu mematung di tempat, firasatnya semakin tidak enak. Ia yakin bukan urusan kantor yang begitu mendesak Xiao Jun pulang, bayangan wanita dalam cermin itu kian mengacaukan pikirannya. Apa ini firasat buruk yang berhubungan dengan wanita tak dikenal itu?
***
Special Thanks untuk reader setia yang sudah memfavoritkan cerita Weini dan Xiao Jun. Tidak lama lagi mereka akan masuk ke konflik utama, semoga kalian tetap betah mengikuti kisahnya ya.
Oh iya, Author juga menulis novel lain loh yang tak kalah seru dan lucu. Kisahnya tentang seorang pria Korea yang datang ke Jakarta untuk menghibur diri namun malah bertemu gadis menyebalkan dan manja hingga perjalanannya kacau. Namun bukan gadis ini loh yang membuatnya jatuh cinta, melainkan gadis nomanden yang hidup
mengandalkan profesi sebagai driver online gara-gara harta ayahnya disita bank. Bagaimana mereka berdua yang berlatar belakang berbeda itu saling jatuh cinta?
Ikuti kisahnya ya dalam novel berjudul ‘Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta’. Kamu bisa klik profil author untuk menemukan novel ini. Mohon dukungannya ya. Terima kasih…
***