OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 252 TERSENYUMLAH, HANYA ITU YANG BOLEH KAU LAKUKAN!



Grace mengurung diri di kamar sejak pulang dari kantor Xiao Jun. Pelayannya bahkan tidak diijinkan masuk kecuali ia yang memanggilnya terlebih dulu. Fang Fang sampai kelabakan lantaran tidak bisa melaporkan apa yang gadis itu perbuat kepada Lau. Grace mengucilkan dirinya dengan kesibukan entah apa sehingga betah mendekam dalam kamar. Itulah yang ada dalam persepsi dari sudut pandang pelayan itu, padahal Grace begitu menikmati


kesendiriannya dengan serius belajar.


Ia melepaskan headset yang sudah berjam-jam dipasang di telinganya, maraton menonton drama lokal demi belajar bahasa membuatnya merasa penat juga. Grace berpaling dari laptop ke ponsel, seharian benda itu ia abaikan. Namun setelah melihat layar ponselnya, Grace malah berdecak. Betapa naifnya ia mengharapkan sebuah kabar dari Xiao Jun, lebih miris lagi ia yang berstatus tunangannya dan memakai cincin yang disematkan pria itu, tetapi tidak dianggap ada. Jangankan sebuah kabar, sampai detik inipun Grace tidak tahu nomor ponsel Xiao Jun. Mereka hanya mengandalkan komunikasi lewat perantara pelayan, Grace jelas bisa menilai hubungan ini bukanlah hubungan yang sehat.


Jemarinya dengan lincah menekan nomor ponsel yang ia hapal di luar kepala, ia perlu melakukan panggilan internasional kepada seseorang yang bisa diandalkan.


“Hi, brother.” Sapa Grace begitu pria di seberang menerima panggilannya.


Grace merubah posisinya agar lebih nyaman, ia tengah berbaring sembari menempelkan ponsel di telinganya. “Aku sudah melakukan saranmu, thanks banget bro. Sepertinya ini cukup efektif, dia agak melunak padaku.”


***


Dari sebuah kamar mewah nan luas di Amerika, Chen Kho tersenyum puas mendengar laporan dari Grace. Tak pernah terpikir sebelumnya bahwa ia dapat memanfaatkan adiknya yang keras kepala, mengejar cinta dari


seorang pria yang bertepuk sebelah tangan untuknya. Jika Grace tetap bersikukuh pada prinsipnya, mencintai dan berusaha mendapatkan hati rival Chen Kho itu, maka lebih baik gadis bodoh itu dikorbankan sebagai bidak catur saja.


“Bagus, aku ikut senang mendengarnya.” Ujar Chen Kho, senang yang ia ungkapkan jelas hanya manis di bibir saja.


“Teruskan saja rencana berikutnya, kamu pasti bisa! Dan kabari aku terus, jangan sungkan cerita jika kamu merasa kesulitan.” Chen Kho menyampaikan pesan sebelum mengakhiri pembicaraan. Ia sudah cukup puas dengan


permulaan yang baik ini.


Berkat Kao Jing, ia akhirnya diajak kembali ke Amerika. Ayahnya yang haus kekuasaan itu tidak memberinya kemudahan setelah pulang. Ia tetap dipaksa untuk bertindak jahat dan semakin menghalalkan segala cara agar obsesi ayahnya tercapai.


“Tunggu tanggal mainnya, Wei Li Jun!”


***


Dina baru saja terbangun setelah entah berapa lama ketiduran di sofa. Ia mengucek kedua mata dan menyadari hanya sendirian bertemankan TV yang menontonnya tidur. “Kemana para penghuni rumah?” Gumam Dina


seraya mengintip jam dinding kemudian berteriak, “Kok bisa aku tidur empat jam?” Ia bergegas beranjak dari sofa dan lari tergesa-gesa menuju dapur.


Kedua mata Dina mengerjap saat mendapati ayah dan anak itu sibuk berlaga di belakang rumah. Dina semakin mendekatkan diri agar leluasa menonton, ia tak mengira akan menyaksikan secara langsung tontonan menarik yang biasanya hanya bisa dinikmati dari layar kaca. Mereka yang sedang berlatih itu mungkin tidak menyadari bahwa Dina menjadi penonton di belakang, dengan mulut ternganga setiap kali Weini meringankan tubuhnya hingga seolah


terbang lalu menggencarkan serangan pada Haris. Sampai akhirnya tanpa Dina sadari, ia reflek memberikan tepuk tangan saking kagumnya. Sorak sorai norak dari manager itu akhirnya membuyarkan latihan mereka sore ini.


“Wow … Keren, sumpah keren banget. Nggak pake efek tapi beneran nyata, ternyata di dunia ini ada pertunjukan silat sekeren ini.” Dina memberikan standing applause pada ayah dan anak itu.


Weini tersenyum sembari mengambil handuk kecil yang ia siapkan di meja lalu mengelap keringat di dahinya. “Itu kungfu kak.” Ralat Weini.


Haris ikut menyumbang senyuman manisnya, Dina cukup beruntung bisa menyaksikan latihan mereka yang terakhir dilakukan entah kapan, saking lamanya Haris tidak berlatih bersama Weini. “Kamu mau belajar?” Haris menawarkan Dina seraya menyodorkan pedang panjangnya yang tampak tajam.


Dina bergidik, pedang yang tampak berkilau karena terang itu terlihat menakutkan. “Boro-boro mau belajar, lihat pedangnya saja aku hampir kencing di celana ini om. Tolong dijauhkan saja ya, om … Takut khilaf hehe.” Dina


minta Haris menjauhkan pedang itu, namun sebelum Haris bergerak, Dina lebih gesit mengambil beberapa langkah mundur.


Spontanitas gadis itu berlebihan melindungi diri terlihat lucu menurut Weini, ia menutupi tawa kecilnya dengan tangan. Nyali Dina benar-benar kecil, hanya melihat pedang saja seakan hendak menikamnya. Weini mengemasi peralatannya, latihan kali ini sangat memuaskan untuk mencari keringat. Ia sungguh bahagia dapat kembali berlatih dengan guru satu-satunya. Masih banyak yang harus dipelajari, dan Weini beruntung memiliki banyak waktu luang


“Udahan nih non?” Dina kecewa, ia baru menonton sebentar pertunjukan menarik berdurasi singkat dan berharap ada bonus beberapa menit tayangan. Ya … Minimal behind the scenelah.


Sayangnya para peman itu tidak bersedia mengabulkan permintaannya. Haris juga ikut mengemasi pedang panjang dan lenturnya. Senja mulai memerahkan langit cerah kota Jakarta, mungkin ini alasan mereka menyudahi atraksi itu. Meskipun kecewa, namun Dina tak patah arang, ia harus memastikan jam tayang pertunjukan itu lagi di kemudian hari.


“Hmm … Kapan latihan lagi om?” Tanya Dina antusias.


“Dina mau belajar?” Lagi-lagi Haris mengulang pertanyaan itu padahal Dina sudah menjawab sebelumnya. Senyum pria itu yang lebih mirip menyeringai juga menambah kesan menakutkan, nyali Dina jadi ciut. Ia salah bertanya pada orang, harusnya ia meminta kepastian kepada Weini.


“Ng, aku nyusul Weini ya om.” Dina kabur secepat kilat, sebelum Haris kembali menggodanya.


***


Weini membaca ulang pesan dari Xiao Jun, berkat pesan itu ia termotivasi untuk bakar kalori dengan berlatih kungfu. Tubuhnya boleh saja sibuk bergerak ke sana kemari, namun pikirannya masih tertuju pada kekasihnya, dan kali ini pada pesan yang mempunyai makna ganda.


“Apa kamu menyindirku?” Gumam Weini setelah berkali-kali membaca pesan itu tanpa berniat membalas Xiao Jun.


“Siapa? Aku nggak nyindir kok, non.” Jawab Dina, ia masuk begitu saja ke kamar dan mendengar pertanyaan Weini.


Weini menoleh saat mendengar suara Dina, “Ng, bukan kakak. Maksudku ini ….” Weini menyodorkan ponselnya agar Dina membacanya sendiri.


Dina agak malu setelah tahu bahwa jawabannya tadi tidak nyambung, Weini ternyata sedang mempertanyakan pesan Xiao Jun. Tumben Weini bersedia terbuka padaku? Gumam Dina dalam hati, namun ia girang bukan


main. Ia punya bahan laporan pada Xiao Jun hari ini, dan ia yakin bos muda itu pasti senang.


“Hmm ….” Dina manggut-manggut, beberapa kali ia bergumam seperti itu seakan tidak ada pendapat lain lagi.


Weini agak was-was, Dina saja tidak bisa mengartikannya. Weini sebenarnya paham, namun ia hanya perlu sebuah dukungan untuk lebih yakin.


“Artinya apa ya non?” Akhirnya Dina bersuara, wajahnya mengkerut saking pusing membaca tulisan Mandarin dalam teks itu.


Weini menepuk jidatnya, mengapa ia jadi sekonyol itu dan menyusahkan Dina yang tidak mengerti bahasa Mandarin. “Sorry, kak. Dia bilang, cemburu karena suka, marah karena peduli, termenung karena rindu, sedih


karena tidak ingin kehilangan.” Weini mengambil alih ponselnya kemudian membacakan arti pesan itu.


Dina langsung sumingrah, “Wow, Xiao Jun puitis juga. Romantis banget itu non, ciyee … Ciyee ….” Dina sungguh tidak bisa diharapkan, ia malah balik menggoda Weini.


Weini geleng-geleng kepala dibuatnya, “Kak, ini hanya kata bijak punya orang. Aku rasa, dia sedang menyindirku.”


“Hmm … Bisa jadi non, Xiao Jun menyuruh non jangan cemburu, jangan marah, jangan termenung, jangan sedih. Ya udah non, tersenyum aja biar nggak disindir.” Ungkap Dina, kali ini melibatkan otaknya dan bisa sedikit diandalkan.


Weini gusar, ia menghela napas.  Dina pun bisa menangkap maksudnya, dan cara pria itu memperhatikan Weini memang unik. Tak perlu kata romantis, cukup dengan sindiran halus itu saja membuat Weini salah tingkah. Ia memang cemburu, memang marah, memang sering termenung apalagi sedih. Dan semua dapat diartikan oleh


Xiao Jun, pria itu memang luar biasa.


Selama masih ada cinta, aku akan tetap mengalami empat perasaan itu. Gumam Weini dalam benaknya, ia menujukan kata-kata itu sembari membayangkan wajah Xiao Jun.


***