
“Non, gimana keadaanmu?” Dina mengetuk pintu toilet lantaran cemas dengan kondisi Weini yang sudah berada di dalam sekitar sepuluh menit, tanpa suara sedikitpun. Beberapa ketukan yang semula pelan berubah kencang karena tetap tidak ada jawaban dari dalam.
“Non ….” Pekik Dina. Ia gelagapan dan mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya. Saat ini yang bisa dihubungi hanya Stevan. Dina menempelkan telpon pada telinganya dan membagi fokus antara mengawasi pintu toilet.
Beberapa kali nada sambungan telpon terdengar tanpa jawaban dari si pemilik nomor. “Aarrgghh ….” Dina kesal dan menyerah menghubungi Stevan, entah apa yang disibukkan pria itu. Pasti perhatiannya sekarang sepenuhnya bersama Grace.
“Adik lu lagi bahaya tapi lu malah asyik ngejer musuhnya. Gimana sih lu!” Pekik Dina kesal. Pekikan itu langsung ia kirimkan pada Stevan sebagai pesan suara di WA nya. Dina menyimpan lagi ponselnya lalu kembali hendak menggedor pintu.
Weini hanya perlu menenangkan diri di tempat yang sunyi sendirian, namun Dina tak membiarkannya menyembuhkan diri sendiri. Efek mulas yang ia rasakan itu membuatnya kerepotan dan tidak bisa beranjak dari toilet. Namun sekarang setelah ia menyalurkan tenaga dalam untuk menahan di pusat rasa sakit, keadaannya beransur membaik. Ia pun segera berdiri hendak meninggalkan ruangan sempit dan tidak menyenangkan itu. Ketika pintu terbuka, Weini mendapati Dina yang mengacungkan kepalan tangannya akan mengetuk pintu. Melihat ia keluar, wajah Dina langsung berbinar bahagia.
“Non, udah baikan ya? Kita perlu ke rumah sakit nggak nih?” Tanya Dina masih cemas.
Weini memperlihatkan raut wajahnya yang tenang dan sangat meyakinkan agar Dina tertular rasa tenang. “I’m fine. Aku mau pulang sekarang kak.” Ujar Weini pelan. Dalam kondisi seperti ini, ia tidak punya semangat melanjutkan pesta.
Dina setuju, ia mengangguk lalu mengekori langkah Weini dari belakang. “Aku yang nyetir aja non. Aku nginap di rumahmu ya!” Dina tidak sedang bertanya, ia mengambil keputusan langsung lewat pernyataan itu tanpa perlu menunggu kata setuju dari Weini. Ia mengambil alih tas jinjingan Weini dari tangan artis itu.
“Tidak perlu kak, jangan terlalu cemas. Aku nggak apa-apa kok. Biarkan aku istirahat sendiri di rumah ya, kalau ada apa-apa aku janji, orang pertama yang kuhubungi adalah kak Dina.” Weini meyakinkan Dina dengan memose jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V sebagai simbol janji. Ini kali pertama ia bertingkah kekanakan agar bisa meyakinkan managernya yang over protektif.
Dina menyipitkan mata menatap Weini, hatinya ragu bercampur rasa tidak tega membiarkan Weini seorang diri di rumah. “Nggak ada om Haris di rumah, ayolah non jangan keras kepala. Aku beneran khawatir, jarak rumah kita lumayan jauh. Kalau ada apa-apa, aku nggak bisa segera sampai ke sana.”
“Yakin deh kak, nggak bakal ada apa-apa. I’m really fine.” Senyum Weini dengan manis dan sangat meyakinkan Dina. Padahal mules di perutnya mulai berkontraksi lagi.
Dina kalah, ia bungkam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Namun ia tidak akan berhenti mencemaskan Weini dan ia punya cara untuk melindunginya. Habis ini aku pasti kabarin om Lau, sekalian tuan Xiao Jun juga harus tahu. Batin Dina.
***
Sepanjang perjalanan yang dilewati Grace bersama Stevan lebih didominasi suasana hening. Grace hanya bicara jika Stevan memulai pembicaraan, sesekalipun gadis itu hanya tersenyum bungkam saat Stevan berceloteh hal yang menurutnya lucu. Stevan agak pesimis, ia merasa Grace tidak mempunyai selera humor sebagus dirinya, atau mungkin memang gadis itu tidak tertarik sedikitpun padanya.
“Grace ….” Stevan memanggil gadis itu dengan lirih, membuat gadis itu menoleh sebagai respon dari panggilannya. Grace memiringkan kepala dengan rasa penuh tanda tanya menatap pria di sampingnya. Namun Stevan justru mengurungkan niatnya bertanya, ia kemudian tersenyum lalu menggelengkan kepala.
Laju mobil berhenti ketika mereka sampai pada tempat yang diinginkan pengemudinya. Bukan sebuah bar ramai atau sebuah restoran romantis seperti yang pernah Stevan ajak sebelumnya, kini pria itu hanya menepikan mobil di sebuah tempat pinggiran kota. Dari tempat itu terlihat jelas hamparan kota dengan lampu-lampu bertebaran sebagai hiasan. Stevan mengajak Grace keluar dari mobil, tak perlu menunggu lama untuk melihat responnya, gadis itu langsung takjub begitu pandangannya tertuju ke spot yang indah itu.
“Sudah kubilang kamu pasti nggak menyesal ikut kemari.” Ungkap Stevan puas melihat kebahagiaan di wajah Grace.
Gadis itu menoleh pada Stevan, memamerkan sederet barisan gigi putih cantiknya sebagai tanda terima kasih. “Ya, tempat ini sangat cantik. Begitu damai ….” Ujar Grace, pemandangan sesimpel itu saja bisa menghadirkan ketenangan saat menatapnya. Sejenak menepi dari hiruk pikuk masalah serta beban yang diembankan pada pundaknya memang melenakan. Bagaikan singgah ke surga, tempat terindah yang diharapkan manusia ketika sampai pada ujung kehidupan. Dan sejauh itulah pikiran Grace tertuju sekarang.
Grace tidak terkejut mendengar pertanyaan itu, ia bukan gadis polos yang tidak tahu bagaimana reaksi seorang pria ketika jatuh cinta. Grace tahu Stevan menginginkan dirinya, dan pertanyaan itu adalah ajakan agar ia masuk lebih dalam pada kehidupan pria itu.
“Apa aku masih bisa?” Grace malah bertanya, seolah pesimis bahwa ia lah yang tak punya kesempatan untuk dicintai dan mencintai.
Stevan sedikit gugup mendengar kata-kata Grace, ia malah salah menafsirkan artinya. “Kenapa tidak? Asalkan kamu mau membuka hatimu dan biarkan aku mencoba memerhatikanmu. Kita butuh cinta yang berbalas, bukan
cinta yang selalu sepihak diperjuangkan. Kecuali … Kamu yang belum menyerah mengejar cinta dia.” Stevan menundukkan kepala, agak geram rasanya mengetahui bahwa Xiao Jun masih menjadi alasan Grace menyakiti diri sendiri.
Grace tersenyum getir, lucu rasanya mengetahui bahwa Stevan sedang mengekspresikan rasa cemburu pada pria yang sudah dihempaskan Grace dari hatinya. Tetapi Grace tetap ingin membiarkan Stevan berdebat dengan asumsi
serta rasa cemburunya sebentar lagi. Hanya seperti itu saja membuat Grace sangat bahagia, ia merasa dicintai dan dianggap berharga oleh pria selain ayah dan kakaknya. Itupun sebelum kedua pria itu berubah menjadi orang-orang yang haus kekuasaan dan menakutkan.
“Kalau aku menolak, kamu mau apa?” Grace masih mencoba memancing emosi Stevan. Ia melirik wajah pria itu yang mulai kesal, harus Grace akui Stevan memang masuk tipe pria kesukaannya. Ia berwajah cantik, ya … Stevan bisa disebut pria cantik yang bisa memincut hati gadis manapun yang punya selera kepada pria berwajah cantik.
Stevan menghela napas demi mengontrol emosinya lalu seketika beralih menatap Grace dengan lembut. “Aku tidak akan menyerah, tidak akan lelah meyakinkanmu bahwa aku sanggup membahagiakanmu!” Tegas Stevan.
Debaran di hati Grace mulai terasa, kata-kata itu seolah berhasil merayunya. Ini debaran seperti yang pernah ia rasakan pada Xiao Jun, saat ia pertama kali melihat ketampanan pria milik Weini itu. Namun kini ia rasakan pada pria lain, yang sama sekali belum pernah melukai perasaannya. Grace tidak bersedia menjawab, dalam kata yang membisu itu ia berjalan pelan mendekati Stevan. Jelas saja Stevan heran dengan apa yang hendak Grace lakukan
tetapi ia tetap bergeming menunggu apa yang akan gadis itu perbuat.
Jarak dua orang itu semakin dekat, nyaris tanpa sekat. Degup jantung mereka serasa nyaris meloncat keluar, terlebih saat Grace menjinjit demi menyeimbangkan tinggi tubuh mereka. Tanpa Stevan sangka, kerah kemejanya ditarik kedua tangan Grace hingga wajah mereka saling melekat. Oh … Bukan wajah lagi yang melekat namun bibir mereka yang tak lagi berjarak, menempel satu sama lain mengatas-namakan kecupan. Pelan, lembut dan dalam tempo yang sesingkat hembusan angin nakal. Grace melepaskan kerah kemeja Stevan tanpa berani menatap wajah pria itu. Ia yakin kini wajahnya bersemu merah, ia baru saja menyerahkan ciumannya yang sekaligus menghapus jejak bibir Xiao Jun selamanya dari bibirnya. Ciuman paksa yang pernah ia sodorkan pada Xiao Jun demi mengemis cintanya, namun kali ini berbeda cerita. Ia memang memaksakan kecupan itu pada Stevan, tetapi pria itu tidak mungkin menganggap itu sebagai bentuk paksaan. Dan rasanya jauh lebih melegakan bagi Grace, ia merasa sedikit
lebih berharga ketimbang sebelumnya.
Hembusan napas Grace meniupi hidung Stevan, rasa terkejutnya mendapatkan kecupan dadakan telah membiusnya sesaat. Tetapi kini kesadarannya kembali, Stevan yakin itu adalah jawaban dari Grace. Gadis itu
menerima cintanya, bukan lewat kata-kata namun lewat cara yang jauh lebih manis. Stevan menarik Grace yang masih menunduk dan mulai menjauh itu ke dalam pelukannya. Ia tidak rela kemesraan itu hanya berhenti di sini saja. Dagu Grace diangkat dengan jemari Stevan kemudian menyusul bibir yang mendarat pada bibir merah Grace. Bibir yang kembali dipersatukan dalam ciuman yang lebih hangat, Grace tersentak dan matanya masih terbuka lebar melihat mata Stevan yang terpejam sembari menciumnya. Sensasi panas terasa mendesak kelopak matanya, ada tetesan bening hangat yang luruh membasahi pipi Grace. Ia biarkan Stevan menjamah bibirnya, memagutkan dirinya sebagai luapan perasaannya. Grace mulai memejamkan mata, menahan derasnya air mata yang enggan berhenti hingga terasa di bibirnya.
Biarlah, kunikmati sejenak kasih sayang ini. Ciuman yang akan menjadi kecupan terakhir, kecupan selamat tinggalku untukmu … Stevan.
***
Mengapa Grace mengucapkan selamat tinggal?