OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 167 JEBAKAN TAK TERDUGA



Dari balik kemudi, Chen Kho menguping semua pembicaraan Xiao Jun dan Li An. Sesekali ia tertawa kecil mendengar pembahasan mereka, termasuk menggunjing dirinya. Seorang tuan muda secerdik Xiao Jun rupanya masih bisa lengah dan terlalu polos mempercayai rivalnya hingga ia tak sadar ketika Chen Kho menyelipkan sebuah alat penyadap saat menepuk pundaknya.


“Kau masih mencurigaiku setelah menerima kebaikanku, tapi kau tetap masuk dalam jebakanku.  Ya sudahlah, aku tak perlu pusing mikirin alasan menghempaskan kakakmu. Kau yang suruh dia pergi kan.” Chen Kho tertawa keras. Cengkraman yang kuat dari tangan kanannya meremas botol mineral kosong hingga penyok. Walau berkata seolah ia sanggup menerima pernyataan Xiao Jun, namun hati kecilnya tetap tak terima. Ia benci dikalahkan dan tak akan membiarkan seorang gadis lemah memutuskannya dulu.


Ia membanting setir dengan emosi, saatnya kembali mengenakan topeng hingga permainan ini berakhir. Sebuket mawar merah dan satu kotak perhiasan ia letakkan di kursi sebelahnya, kini ia kembali menjemput Xiao Jun. Tak peduli waktu yang ia berikan masih panjang, telinganya sudah tak mampu menampung komentar buruk Xiao Jun terhadap dirinya.


***


Dua nona Li tengah manyum berjalan menuju kediaman Liang Jia, semestinya mereka bersantai menyaksikan acara TV sembari menikmati cemilan di malam dingin ini. Ternyata Liang Jia justru meminta mereka secepatnya menghadap dengan membawakan masing-masing satu masakan.


“Ibu nggak pernah kekurangan makan, kenapa mendadak minta kita bawakan makan malam ya kak?” tanya Yue Xiao, ia tak habis pikir untuk apa seribet itu jika ada pelayan yang bisa mengurus mereka.


Yue Xin sependapat dengan adiknya, hanya saja ia sungkan untuk protes. “Pasti ada maksud lain, ibu tak pernah repot meminta kita jadi pelayannya. Kita nurut aja, sejak kejadian itu ibu juga makin perhatian sama kita.”


Mereka memilih diam dan menikmati suasana, dalam benak mereka berpikir Liang Jia akan mengajak mereka makan malam bersama dengan bekal ini. Kebersamaan itu membuat Yue Xiao senyum-senyum sendiri membayangkannya.


Suasana kediaman Liang Jia di malam hari terasa hidup, alunan music lawas oriental sangat relax didengar. Liang Jia terpejam di kursi goyang sembari menanti kehadiran dua buah hatinya.


Yue Xin dan Yue Xiao masuk ke dalam kamar Liang Jia dan mendapati wanita itu tengah tiduran santai, mereka saling berpandangan antara sungkan dan tak tega membangunkan.


“Yue Xin dan Yue Xiao tiba, hormat kepada ibu.” Ucap mereka berdua dengan pelan seakan berbisik.


Liang Jia yang memang terjaga langsung membuka mata, ia tersenyum dan membetulkan posisi duduknya. “Kemarilah putriku. Kalian sudah bawakan yang ibu minta?”


Yue Xin dan Yue Xiao menunjukkan bungkusan yang mereka jinjing. Lebih praktis membawanya dalam bungkusan ketimbang dalam piring. Mereka menunjukkan isi dalam plastik itu, “Kami khusus memasakkan sup ginseng ayam dan sarang burung wallet untuk ibu. Dua makanan itu cocok untuk menjaga kesehatan dan kecantikan kulitmu.”


Liang Jia melihat bungkusan yang mereka bawa dan tersenyum, “Terima kasih putriku, kalian sangat perhatian pada ibu. Baiklah, bawa makanan itu dan ikut ibu.” Liang Jia berdiri dan mematut diri sebentar di depan cermin.


“Kemana ibu? Apa kita akan makan bersama?” tanya Yue Xin antusias.


Liang Jia menggeleng pelan, “Nanti kalian pasti tahu.” Ia mengambil mantel tebalnya dan membawakan satu mantel yang dijinjing di lengan.


Tidak ada yang berani bertanya lagi, kedua nona itu memilih diam mengikuti langkah Liang Jia. Langkah mereka menuju gerbang paviliun, sepertinya Liang Jia akan membawa mereka pergi dari sini. Sepanjang jalan terdiam hingga mereka sadar kemana akan dibawa, barulah salah satu di antara mereka melayangkan protes.


“Ibu, untuk apa ke sini? Ini bukan jam besuk, kalau ketahuan ayah maka habislah kita.” Timpal Yue Xiao, ia menduga ibunya akan bertemu dengan pelayannya di sini. Liang Jia sebenarnya bisa datang sendiri, yang ia tak habis pikir mengapa harus mengajak mereka?


Setelah meminta seorang pengawal menunjukkan jalan, Liang Jia berhenti lalu menoleh ke belakang. Senyuman yang sangat meneduhkan hati itu diberikan untuk kedua putrinya. “Ibu mengajak kalian ke sini untuk bertemu Bibi Xin Er. Kalian belum minta maaf telah membuang obatnya, dan ini waktunya menunjukkan kesungguhan hati.”


“Maaf ibu, aku tidak bisa melakukan ini. Sesalah-salahnya kami, dia tetap tidak pantas mendapat kata maaf dari kami. Statusnya hanya pelayan, ia sudah terbiasa disalahkan. Mohon ibu jangan berlebihan dalam masalah ini.” Yue Xin menyatakan keberatannya.


“Benar ibu, kami sudah menyesali perbuatan itu dan berjanji akan baik ke depannya. Tapi tidak juga dengan cara memohon maaf dari dia. Ini sangat merendahkan harga diri kami sebagai majikan.” Timpal Yue Xiao, mau ditaruh kemana mukanya kalau sampai memohon pengampunan pada wanita tua pelayan ibunya itu.


Liang Jia tersenyum, ia tidak akan marah dengan pemikiran putrinya. Bisa dimaklumi harga diri kedua nona yang sangat tinggi itu karena belum paham apa yang mereka lakukan adalah hal yang keliru. “Salah ya salah, tidak pandang status tinggi rendah, kebenaran tetap ditegakkan. Sebagai nyonya besar, aku tak sungkan minta


maaf pada pelayan kalau memang aku yang berbuat salah. Sikap rendah hati itu justru membuatmu lebih dihargai.”


“Ayah sering salah, tapi nggak pernah minta maaf sama pengawalnya. Selama ini walau kami yang salah, para pelayan tetap akan minta maaf walau mereka tidak salah. Jadi untuk apa bersikap seperti itu pada pelayanmu, Ibu maaf kami tidak bisa melakukannya.” Yue Xin keukeh membantah, bagaimanapun juga ia enggan memohon


kepada ibu Xiao Jun itu.


“Mereka juga manusia, punya perasaan, punya dendam. Kalian tidak akan dianggap terhormat tanpa ada mereka yang menghormati. Andai sikap kalian keterlaluan, tidak ada yang yang bersedia jadi pelayan, lalu siapa yang akan memanggil kalian nona atau majikan?” ujar Liang Jia tegas, ia perlu menekankan sesuatu ketika dengan cara lembut belum cukup menyadarkan.


Ucapan Liang Jia seakan menampar kesadaran mereka, Yue Xiao memandang kakaknya untuk mendapatkan sebuah respon, apa yang harus mereka lakukan sekarang? Mereka saling bertatapan dan melihat bungkusan yang dijinjingnya, mereka yakin makanan ini pasti akan diberikan pada Xin Er. Ibunya sudah menyusun rencana yang menjebak mereka datang, untuk mundur sekaranga rasanya mustahil namun untuk terus melangkah pun kaki mereka terasa berat.


Liang Jia menghela napas, keras kepala kedua anak gadisnya ternyata di luar perhitungannya. “Baiklah, jika kalian tidak bersedia. Biar aku yang menggantikan kalian berlutut minta maaf padanya.” Liang Jia serius dengan


 ucapannya dan ia kembali berjalan menuju sel Xin Er.


Ancaman Liang Jia seketika menggetarkan hati kedua putrinya, mereka lebih takut membuat Liang Jia menangis lagi ketimbang harus mengutarakan maaf pada seorang pelayan. Walau dengan sangat terpaksa, jika itu bisa membahagiakan Liang Jia maka mereka akan tutup mata dan melakukannya.


“Jangan ibu. Tunggu kami ….” Yue Xin dan Yue Xiao mengejar langkah ibunya menyusuri lorong yang berpencahayaan minim.


***