
Beberapa saat yang lalu…
Xiao Jun berdiri terpaku menatap wajah polos Weini yang terpejam, betapa ia ingin melindunginya dan tak pernah dilepaskan. Selama mengenalnya, sudah dua kali Weini mendapat musibah saat kerja. Meskipun ia telah
mempekerjakan Dina secara diam-diam, ternyata tak cukup efektif menjamin keselamatannya. Atau mungkin Xiao Junlah yang nyaris berhenti memerdulikan Weini saat itu?
Ponsel Xiao Jun mendapat panggilan masuk dalam mode silent, ia tak menyadari meski dikantonginya dalam kantong kemeja. Hingga beberapa menit layar ponsel itu menyala namun tak menarik perhatian pemiliknya.
“Jam berapa sekarang? Paman mungkin sudah sampai.” Xiao Jun akhirnya teringat Lau dan meronggoh ponsel di koceknya. Ia tersenyummelihat orang yang paling dipercaya itu tengah menghubunginya. Pasti saat ini
Lau sudah bertemu ibunya, Xiao Jun menjauh dari hadapan Weini untuk menerima panggilan.
“Halo paman, kau sudah bertemu ibuku?” tanya Xiao Jun penuh semangat saat menerima video call itu. Sesaat setelah menodong pertanyaan yang blak-blakan itu, Xiao Jun baru menyadari ekspresi wajah Lau yang tegang. Pria tua itu bahkan tidak berani menjawab Xiao Jun.
“Kurang ajar!” terdengar pekikan Li San dari seberang, menyusul ponsel yang berpindah tangan dan menyorot lantai aula dengan langkah kaki seseorang.
Xiao Jun terdiam, ia bisa menebak yang akan terjadi selanjutnya. Kemarahan Li San yang tak terelakkan, sekarang tergantung kepiawaian Xiao Jun mengatasi masalah yang ia ciptakan.
“Xiao Jun memberi salam pada ayah.” Xiao Jun memegang ponsel dengan sebelah tangan, lalu membungkuk sambil menyilangkan tangan yang satunya ke bahu.
“Anak lancang! Beraninya kau melanggar perintahku! Kau tidak takut aku menghabisi nyawa ibu dan pengawalmu?” bentak Li San saat melihat Xiao Jun via telpon. Ia sebenarnya merindukan putra angkatnya, hanya saja ia tetap harus menjaga wibaba dengan tidak terlalu jelas menunjukkan perasaan.
“Mohon maaf ayah, seperti yang Lau sampaikan. Kami sudah dalam perjalanan dengan jet, tapi karena ada berita mendadak dari kolega yang masuk rumah sakit, aku terpaksa turun di rumah sakit dan menjenguknya. Dia kolega
penting untuk bisnis kita ayah, aku belajar dari anda tentang pentingnya menjaga relasi.” Kilah Xiao Jun menjelaskan.
“Jadi kau di rumah sakit sekarang?” tanya Li San mulai melunak.
“Iya, ayah. Silahkan ayah lihat.” Xiao Jun menyorot ke bangsal yang sedang ditiduri Weini. Dari kejauhan tidak akan terlihat jelas siapa pasiennya, yang jelas tampak hanyalah peralatan medis dan ruangannya.
Li San terdiam dalam pikirannya, Xiao Jun rupanya tidak berbohong. Mungkin dirinya yang terlalu berlebihan dan membesarkan masalah yang tak seharusnya ada. Diam-diam Li San menyesal menciptakan suasana
menegangkan di hari pernikahan putrinya.
“Ya sudah, kau selesaikan urusanmu di sana. Tenggak waktumu di sana tinggal setahun, jalankan bisnis sungguh-sungguh.” Perintah Li San yang juga menandakan masalah di sana selesai.
“Terima kasih ayah. Saya tidak akan mengecewakan anda.”
Pembicaraan ditutup, Xiao Jun bisa bernapas lega sekarang. Ia merasa kasihan pada Lau yang pasang badan untuknya. Demi memperjuangkan cinta yang butuh pengorbanan berat ke depannya. Tetapi Xiao Jun sudah
memutuskan bahwa cinta ini pantas diperjuangkan.
Jemari Weini bergerak lemah, samar-samar ia membuka mata. Sesosok punggung pria menjadi objek pandangan pertama. Siapa? Semua masih terlihat blur, kesadaran Weini belum sepenuhnya pulih.
Xiao Jun menoleh ke bangsal Weini, meskipun dengan jarak tiga meter pria itu dengan jelas melihat Weini membuka mata. Bergegas ia berlari menghampiri dan memastikan gadis itu siuman.
“Weini, aku di sini…” bisik Xiao Jun. Ia memencet tombol panggilan emergency untuk memanggil tim medis.
Apa ini mimpi? Xiao Jun di sini? Ia tersenyum, apa tidak marah lagi? Weini belum sanggup mengeluarkan sepatah kata, seluruh tubuhnya terasa tak bertenaga. Namun yang paling mengganggunya adalah pria di hadapannya nyata atau hanya mimpi? Ia tak bisa membedakannya sekarang.
terburuk. Namun ia hanya berdiri di luar, dokter tidak akan mengijinkannya masuk. Ia berpikir Xiao Jun pasti akan diusir keluar sebentar lagi. Jadi lebik baik ia menunggu di luar sampai semuanya jelas.
***
Haris saling bertatapan dengan Anwar hingga akhirnya Haris lebih dulu melempar senyuman agar suasana tegang mencair. Anwar tidak berniat membalas keramahan itu, ia mengalihkan pandangan lalu mendekati Metta.
“Siapa yang bikin kamu kayak gini!” Anwar murka melihat kondisi kaki Metta yang terlihat parah.
Metta tersenyum culas, pertanyaan itulah yang ia tunggu untuk ditunjukkan pada musuhnya. Nyali mereka pasti ciut mengetahui seberapa berkuasa ayahnya. “Anak dari bapak itu yang mencelakaiku!” Metta menunjuk Haris yang belum beranjak dari posisi berdirinya di pojokan pintu.
Anwar menoleh mengikuti petunjuk Metta, giginya mengerat kesal melihat Haris yang memajang wajah tenang seakan tak berdosa. Anwar mengganggap sikap itu sebagai tantangan, ia harus memberi pelajaran hingga
lawannya jera.
“Beraninya kau! Apa kau tidak bisa mendidik anakmu? Akan kutuntut dia! Kasus ini akan kulaporkan ke polisi.” Gertak Anwar, anak semata wayangnya tidak akan ia biarkan ditindas siapapun. Ia tidak mengajarkan anaknya
untuk kalah atau menjadi lemah sekalipun ia anak gadis.
Stevan yang sedari tadi diam sebagai penonton akhirnya gerah, ia tidak kuat melihat Haris dan Weini didzolimi. “Anda salah paham, pak. Banyak saksi di TKP yang melihat, Metta lah yang mulai mencelakakan Weini.”
Anwar melirik sinis ke Stevan, “Siapa yang suruh kamu bicara bocah? Aku tidak peduli siapa yang mulai dan salah! Yang pasti akan kubuat dia membayar setiap luka Metta. Jadi namanya Weini? catat itu dan buat laporan ke polisi!” Anwar memerintah asistennya agar segera bertindak.
“Anda yakin mau kasus ini diproses hukum? Jika fakta terungkap, saya justru khwatir reputasi anda dan anak anda akan habis.” Stevan tidak gentar dengan gertakan Anwar, ia bersedia jadi saksi jika kasus ini lanjut. Namun akan lebih baik kalau masalah ini tidak diperpanjangan, Stevan hanya tidak tega melihat Weini yang lebih parah kembali menderita.
“Kamu bocah kemarin sore, ngapain sok menasehatiku! Atau kau mau kulaporkan sekalian?” cecar Anwar tak berperasaan.
Metta tersenyum puas, ayahnya pasti bisa diandalkan dan ia bisa membayangkan akhir yang buruk untuk Weini dan orang terdekatnya.
“Baiklah, jika itu jalan yang anda pilih. Saya hadapi anda di pengadilan!” seru Haris tegas namun penuh kharisma. Ia membalikkan badan hendak meninggalkan ruangan, percuma memberi kesempatan pada orang yang
tidak pantas mendapat rasa kasihan.
“Ayo pergi, anak muda!” lanjut Haris menyadarkan Stevan dari syok agar segera menyusul langkahnya keluar.
***
Jangan pakai hati pada orang yang tidak punya belas kasih
Jangan beri kesempatan berulang kali pada orang yang tidak punya ambisi
Dan jangan sekalipun gentar sekalipun kuasa mengintimidasi, kebenaran punya jalannya sendiri.
Quote of Haris
***