OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 240 DENGARKAN PENJELASANKU!



Ada sepasang mata beradu tatap dalam bisu


Sepasang jiwa yang melantunkan bahasa kalbu


Dengan raga yang nyaris tanpa spasi itu


Kita saling menyuarakan rindu, lewat kata-kata semu


Kita … Dapatkah bertemu lebih lama?


Aku masih meyayangkan sang waktu yang bergulir terlampau cepat


Kau berlalu, tanpa sempat mendengarkan rintihan hatiku


Bahwasannya kau adalah cintaku, hanya KAMU!


_Quote of Xiao Jun_


***


“Tuan Xiao Jun, nona Weini menemui anda sesuai perjanjian.” Suara sekretaris yang sopan itu membuyarkan perhatian tiga pasang telinga yang mendengar.


Weini? Grace berguman dalam hati, gadis itu membuat janji bertemu Xiao Jun di kantor? Pantas saja Xiao Jun begitu dingin mengusirnya. Nama yang sangat ia hapal namun belum mengenali sosok si pemilik nama, akhirnya datang menyodorkan diri di mukanya. Aku mau lihat sehebat dan secantik apa kamu! Lanjut Grace, tubuhnya yang masih menghadap Xiao Jun akhirnya berbalik.


“Weini?” Sepasang bola mata Xiao Jun membesar kala tatapannya berpapasan dengan Weini yang berdiri di depannya. Ia bahkan tidak sadar telah memanggil nama gadis itu. Xiao Jun bergegas berdiri, bersiap menyambangi


tamu istimewanya.


Weini tahu betul bahwa Xiao Jun hendak menghampirinya, jika bukan karena kehadiran gadis lain di dalam ruangan ini, mungkin Weini akan khilaf dan berlari ke dalam pelukannya. Tetapi sulit rasanya untuk terwujud, gadis yang belum ia ketahui namanya – bahkan Weini merasa tidak perlu tahu – terus mendelik kepadanya.


“Tuan Xiao Jun, maaf menggangu waktu pribadi anda. Aku datang untuk mempertanyakan maksud keputusan


anda lepas tangan dari managemen kami? Jika hanya karena masalah pribadi, aku tidak keberatan dikorbankan. Bukankah anda cukup memblack-listku dari sana. Kenapa harus mengorbankan lebih banyak orang tidak bersalah? Apa anda puas, tuan?” Weini menyindir dengan sinis, tatapan nanar dilayangkan untuk Xiao Jun.


Sindiran Weini membuat kening Xiao Jun mengkerut, gadis itu datang karena ingin protes? Seketika Xiao Jun tersenyum miris, menertawakan dirinya yang sempat kegeeran mengira gadis itu datang karena rindu.


Grace menatap Weini dengan tajam, hawa persaingan begitu kentara terasa, mereka belum saling mengenal namum percikan benci sangat terasa jelas. Weini tanpa gentar menatap Grace tak kalah nanar. Weini bukan dibutakan cinta, namun tidak akan tinggal diam diperlakukan tak mengenakkan oleh gadis itu.


“Keluar semuanya! Aku perlu bicara empat mata dengan tamuku!” Xiao Jun bisa membaca suara hati Grace yang


licik. Belum apa-apa gadis itu sudah sangat membenci Weini. Sayangnya pikiran Weini tidak tembus terbaca oleh Xiao Jun, entah mengapa.


Hening sejenak, bentakan Xiao Jun menciptakan suasana menjadi semakin tegang. Lau adalah orang pertama yang patuh, menyusul Dina yang tahu diri dan memang mengharapkan kesempatan berdua mereka. Sekretaris itu sudah pergi sejak tugasnya mengantar Weini selesai, sementara Stevan masih tertahan di luar karena melayani foto fans


wanita di kantor itu.


“Tidak bisa! Sebagai tunanganmu, aku berhak ikut mendengar pembicaraan kalian. Ayo bicara enam mata!” Gertak


Grace, ia mulai pamer statusnya. Pandangannya tertuju pada Weini, ketika ia dengan lantang menyuarakan posisi yang membanggakan itu. Grace merasa puas selangkah lebih unggul dari gadis bernama Weini, yang ditenggarai adalah gadis kecintaan Xiao Jun.


Dina menghentikan langkahnya, begitu pula dengan Lau yang tak jadi menyingkir dari sana. Manager Weini


“Tunangan? Wow, bos mah bebas ya bisa punya tunangan du ….” Mulut Dina dibungkam Weini sebelum


ucapannya selesai.


“Kak Dina.” Weini mengisayaratkan dengan menggeleng pelan, meminta Dina berhenti bicara.


“Grace jaga ucapanmu!” Xiao Jun melontarkan nada kasar, ia semakin ilfeel dengan gadis pembangkang yang


tidak tahu aturan itu.


Weini tersenyum nyengir, ia tidak menampik cukup terkejut mendengar pengakuan brutal itu. Namun hatinya seakan telah siap mendapati kenyataan seperti itu. Bukankah dalam mimpi saja kau bersedia pergi bersama dia dan meninggalkanku? Lirih Weini dalam batin.


“Oh ….” Weini merespon dengan tenang, ketenangan yang nyaris membuat Xiao Jun serangan jantung. Ia lebih


baik mendengar gadis itu melabraknya dengan serangkaian umpatan ketimbang sebuah jawaban seakan tidak peduli. Ada yang tidak beres di balik sikap tenang itu.


“Tuan Xiao Jun, kita cukup bicara sekarang saja! Aku hanya minta pertanggung-jawabkan janji anda!” Sahut Weini, tegas. Pertanggung-jawaban janji yang disentil Weini ini punya makna ganda, dan Xiao Jun mengerti sindiran itu. Weini secara tidak langsung menyindir Xiao Jun atas janji manis kepadanya, serta janji yang menyangkut


nasib managemen.


Xiao Jun menatap Weini tanpa berkedip, melihat bibir merah gadis itu ketika bicara, dan melihat raut sinisnya. Spontan Xiao Jun mendekatinya dan hendak menarik Weini ke dalam pelukan. Namun Weini justru mengelak dengan gesit membalikkan badan. Grace yang melihat tingkah Xiao Jun itu langsung naik pitam, jika bukan karena Lau menghadangnya mungkin ia sudah berlari mendekati Weini lalu memberi tamparan.


“Harap jaga batasan anda, kasihan gadis tunangan anda bisa mati kesal. Saya tunggu pembuktian janji anda, selamat bersenang-senang tuan LI XIAO JUN!” Weini sengaja menekan suaranya ketika menyebut nama lengkap Xiao Jun. Gertakan itu sekaligus menjadi pamitan dari Weini, ia melenggang dengan anggun meninggalkan rivalnya yang kalang kabut penuh amarah, serta rasa sakit yang teramat bagi Xiao Jun.


Stevan baru saja selesai melayani foto bersama dan menyusul Weini ke dalam. Ketika sampai di pintu, justru ia melihat Weini dan Dina berjalan menuju ke arahnya. Ia datang kemari bersama namun ketinggalan berita, “Kenapa cepat banget? Gue barusan mau nimbrung!” Protes Stevan tanpa menyadari bahwa pertemuan itu dibumbui rasa tegang. Ia menatap Grace yang berdiri di sebelah Xiao Jun dengan tatapan sinis kepada Weini.


“Buruan cabut!” Dina menggeret lengan Stevan agar berhenti menghalangi di depan pintu.


Weini melangkah keluar tanpa sepatah kata, ia masih bersikeras menahan perasaan sesungguhnya. Pertemuan konyol seperti ini, ia dengan suka rela datang menyodorkan diri untuk disakiti. Aku tidak selemah ini, aku bersumpah tidak akan menangis lagi karena dia! Weini berikrar dalam hatinya.


“Weini, tunggu! Dengarkan penjelasanku!” Xiao Jun berjalan menyusul Weini, ia enggan membiarkan gadis kecintaannya berlalu dengan salah paham.


“Xiao Jun, kamu mau ke mana? Dia siapa sampai kamu harus mengejarnya?” Grace menghalangi langkah Xiao Jun, ia membentangkan kedua tangannya agar pria itu berhenti.


“Minggir!” Xiao Jun tak peduli lagi, persetan dengan Grace si pengacau. Ia mendorong tubuh kurus gadis itu tanpa menyadari kekuatannya terlampau kuat sehingga gadis itu tersungkur ke lantai.


“Pergi, jangan sentuh aku!” Grace membentak Lau ketika hendak ditolong. Ia tak perlu siapapun, hatinya tercabik-cabik mendapati Xiao Jun telah berlalu, membiarkannya kesakitan karena perlakuan kasarnya.


***


Cuplikan episode selanjutnya ^^


Xiao Jun : “Weini, Aku bisa jelaskan!”


Weini : “Oke, aku memang perlu penjelasan tentang status


kita!”