
Angin berhembus kencang ketika jet Xiao Jun mendarat di tempat teratas di gedung kantor managemennya. Hal yang pertama ia lakukan saat jet itu mendarat sempurna adalah mengaktifkan kembali ponselnya. Wen Ting dan Lau bersiap turun mengikuti langkah Xiao Jun, mereka bertiga datang tanpa persiapan dan hanya membawa
pakaian yang menempel di tubuh serta ponsel. Xiao Jun mengerutkan dahi ketika puluhan pesan masuk dari nomor Dina menggetarkan ponselnya.
Tuan di mana sekarang? Aku harus menemuimu segera... Ini penting tuan!
Tuan, kenapa nomormutidak aktif? Aku harus segera memberikan benda ini padamu.
Dua pesan yang dibaca Xiao Jun itu langsung membuat hatinya tak tenang, ia segera scroll pesan itu hingga yang terbaru.
Tuan, tolong aku! Nona Weini berpesan aku tidak boleh menceritakan apapun yang kulihat pada siapapun selain kamu. Aku sekarang terjebak di toilet lantai 4, dikawal seorang polisi yang akan mencidukku ke kantor polisi. Tolong aku segera tuan!
Xiao Jun membalikkan badannya dan menatap serius pada Lau. Pengawal tua itu paham arti sorot tuannya, ia menunduk pelan pertanda patuh akan perintah yang belum ia dengar sekalipun. “Paman, polisi sedang menyelidiki kasus ini. Dina bilang ia terjebak dengan seorang polisi di toilet lantai 4. Aku tidak boleh membiarkan Dina dibawa pergi, tolong paman aturkan kondisi para penyidik dan tenangkan massa di bawah sana, bilang ke mereka bahwa pihak managemen akan gelar perskon besok siang.” Perintah Xiao Jun dengan tegas.
“Baik tuan.” Lau mengangguk patuh kemudian berlari mendahului Xiao Jun yang akan muncul belakangan setelah Lau menyelesaikan hambatan di depan.
Kini fokus Xiao Jun beralih pada Wen Ting yang masih tampak kebingungan. “Maaf, kamu datang di saat kondisi kacau. Aku mungkin tidak bisa terlalu fokus denganmu, ada yang harus aku selesaikan dengan seseorang. Nanti kakak pulanglah dengan Lau ke apartemen dan istirahatlah, jangan menungguku pulang.” Jelas Xiao Jun, kemudian ia kembali melanjutkan langkah yang tertunda.
“Lalu bagaimana dengan ayah mertua? Aku ikut mencarinya denganmu, Jun!” Pekik Wen Ting mencegah
Xiao Jun berlalu dan ia pun masih belum terima bila Xiao Jun memintanya tidak terlibat dulu.
“Ada hal yang harus kupastikan dulu, nanti kukabari setelah aku temukan jawabannya. Kakak sebaiknya mengabari orang rumah, kak Li An mengirimiku pesan dari tadi.” Jelas Xiao Jun lalu berjalan agak cepat menuju lift.
***
Polisi yang menunggui Dina tampak tertidur dalam posisi duduk di lantai, menunggu barang pesanan online Dina datang yang tanpa kejelasan, tentu membuat polisi itu bosan dan mengantuk. Lau datang sesuai arahan Xiao Jun yang menyebutkan bahwa Dina berada dalam toilet, perlahan pengawal tua itu mengetuk pelan satu-satunya pintu yang terlihat tertutup. Ia yakin Dina pasti berada dalam kamar kecil itu.
“Dina... Dina... Buka, ini aku!” Desis Lau di depan pintu.
Dina yang duduk terkantuk sembari menopang dagu pun tersentak kaget, bergegas ia bangun dan membuka kunci pintu. Tanpa perlu menyebutkan nama, Dina sangat hapal siapa pemilik suara yang memanggilnya. “Pamaan....” Panggil Dina girang, yang kemudian mendapatkan isyarat telunjuk menempel di bibir dari Lau agar ia diam.
Dina langsung paham situasi, ia membungkam mulutnya sendiri dengan satu tangannya. Lau agak prihatin melihat wajah Dina yang tampak sembab dan mata yang memerah karena kantuk. Mereka mengendap-endap keluar dari ruangan itu agar tidak membangunkan polisi itu.
“Pergilah temui tuan di atap gedung, sembunyilah di tempat yang aman dulu. Aku akan bereskan yang lainnya.” Perintah Lau pada Dina yang dibalas dengan anggukan dari gadis itu.
Dina berlari kencang menuju lift, akhirnya ia punya kesempatan kabur setelah sempat merasa pesimis akan nasibnya. Dengan mata yang memburam karena berkaca-kaca, Dina berlari tanpa melihat sekitar, tangisan bahagia karena bisa menghirup napas lega sejenak. Ia akan berlari menuju tuannya, demi titah Weini yang telah menaruh harapan besar padanya.
Bruk! Dina nyaris terpental dan jatuh andai Xiao Jun terlambat menangkap tangannya. Saking kencang berlari, gadis itu tak peka sekitarnya hingga menabrak Xiao Jun yang baru keluar dari lift dan berjalan beberapa langkah menjauhi tempat itu.
Dina mendongak saat merasa mendarat di dada kekar seorang pria, senyum lega serta air mata harunya keluar bersamaan. “Tuan! Anda kembali akhirnya....” Isak Dina, tangisnya benar-benar pecah. Ia tak pernah seberharap ini pada siapapun, tetapi saat ini ketika bisa dipertemukan dengan orang yang sungguh ia tunggu, kebahagiaan itu
bahkan tak lagi sanggup diungkapkan.
“Paman Lau menyuruhku menemuimu dan pergi sembunyi ke tempat yang aman. Di sini masih banyak polisi, lebih
baik jangan lama-lama di sini tuan.” Ujar Dina menyampaikan sesuai yang Lau pesankan padanya.
Xiao Jun tampak berpikir sejenak, masih disempatkannya melirik Wen Ting yang kebingungan lantaran tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Dina pun sama bingungnya menatap Wen Ting yang belum ia kenali dan terlihat sangat tampan.
“Ikut aku, kita pulang ke apartemenku saja.” Ujar Xiao Jun membuyarkan pandangan Dina pada Wen Ting.
“Kakak ipar, aku antarkan kau ke tempat tinggalku dulu. Kita akan pulang bertiga bersama asistenku ini.” Jelas Xiao Jun, kali ini Dina yang kebingungan karena tak mengerti bahasa mereka.
Xiao Jun dan yang lainnya bergegas masuk kembali ke lift, jet Xiao Jun masih menunggu di atap dan kini Xiao Jun punya tujuan sementara. Dina menatap takjub pada jet yang baru pertama kali ia lihat dan naiki. Jiwa keponya tak tertahankan kala menatap interior jet yang begitu mewah mencolok mata. Sekarang ia tahu seperti apa tempat kencan pertama nona dan tuannya, benar-benar romantis kencan di atas udara... Berduaan saja.
“Katakan sekarang, apa yang terjadi.” Perintah Xiao Jun yang tidak sabaran lagi.
Kesenangan sejenak Dina buyar lagi karena tekanan dari Xiao Jun. Ia sebenarnya sangat ingin menyampaikan amanah Weini, tetapi orang asing di sebelah Xiao Jun yang membuatnya menahan diri sedikit lama lagi. “Ng... Maaf tuan, bukan aku tidak mau tapi....” Dina melirik sejenak ke Wen Ting yang langsung dipahami oleh Xiao Jun.
“Nona berpesan, hanya tuan yang boleh tahu.” Timpal Dina.
Xiao Jun menghela napas berat, “Baiklah, aku hargai keputusan Weini.”
***
Mereka bertiga tiba di apartemen Xiao Jun, tidak ada yang berubah dalam ruangan itu meskipun Xiao Jun tahu bahwa Weini sempat masuk ke dalam. Wen Ting diminta istirahat di kamar tamu, ia pun menyanggupinya lantaran tubuhnya mulai merasa lelah dan kantuk. Ia lebih baik menyendiri juga, membiarkan Xiao Jun fokus dengan urusannya. Dan ia pun perlu mengabari orang rumahnya.
“Li An, maaf baru menghubungimu. Aku sekarang di kediaman Xiao Jun di Jakarta, ceritanya panjang... Aku... Halo? Sayang kenapa kamu menangis?” Wen Ting tiba-tiba merasa takut saat mendengar istrinya menangis terisak.
“Ayaah... Ayaaah... Dia meninggal!” Lirih Li An dalam tangis yang menggetarkan Wen Ting. Pria itu langsung beranjak dari ranjang saking shocknya. Ia harus menemui Xiao Jun sekarang!
***
“Sekarang katakan apa yang mau kamu sampaikan!” Perintah Xiao Jun tidak sabaran lagi.
Dina menyodorkan sesuatu yang ia simpan baik-baik dalam saku celananya. Benda yang membuat Xiao Jun mengernyitkan dahi lantaran tak mengerti, namun begitu sinyal sihir itu terdeteksi olehnya, ia langsung paham benda apa itu.
“Nona berpesan agar tuan memiliki benda ini, nona bilang... Benda ini adalah hidup matinya... Tuan harus menemukannya! Kembalikan nona Weiniku!” Ujar Dina dengan tangisan yang kembali pecah, ia memang tak mengerti banyak namun yang ia tahu pasti, nyawa Weini dalam bahaya dan ia sangat mengandalkan Xiao Jun untuk menyelamatkannya.
***
Hayoloooh! Kembalikan Weini pada pembacaku!