
Sikapku tergantung bagaimana sikapmu.
Kau bermain lumpur, aku akan ikut mengotorkan diri untuk menakhlukkanmu.
_Quote of Xiao Jun_
***
Borgol melingkar di kedua pergelangan tangan Lisa, ia tak mengelak sama sekali ketika polisi membekuknya. Kejutan yang ia terima dari Xiao Jun masih membekaskan shock, ia tak habis pikir apa salahnya hingga
pria itu menyuruh polisi membekuknya. Tubuhnya diseret mengikuti polisi, tapi ia tersadar dari lamunan dan sedikit memberontak.
“Jawab dulu, siapa lu? Kenapa lu gituin gue?” Lisa menatap Xiao Jun sembari memelas, berharap mendapatkan simpati darinya.
Stevan melangkah ke depan berjejer dengan Xiao Jun, tetapi saat ia hendak berbicara Xiao Jun justru mencegatnya. Dua pria itu berpandangan sekilas, kemudian Stevan tak jadi bersuara.
“Aku orang di belakang Weini. Menyakiti Weini sama dengan menantangku.” Kilah Xiao Jun singkat.
Lisa manggut-manggut sekarang, benang kusutnya mulai terjuntai lurus. Ia tersenyum sangat sinis, mengasihani dirinya yang terlalu bodoh menyukai pria milik Weini. Dalam kehampaan pikiran, ia pasrah dibawa oleh polisi yang mengawalnya bersama pria yang bekerja sama dengannya.
“Kenapa lu larang gue ngomong?” protes Stevan kesal. Betapa gemasnya ia pada Lisa dan ingin membuka kedoknya langsung. Membayangkan wajah keki Lisa saat tahu Stevan yang merekam semua bukti kejahatannya namun tak berdaya melawan karena sudah ditakhlukkan itu sangat menyenangkan.
Xiao Jun hanya tersenyum sesaat kemudian memberikan jawaban yang menyadarkan Stevan. “Dia tipe pendendam, lebih baik tidak membiarkannya menyusahkanmu di kemudian hari. Aku tidak masalah menghadapinya dan akan melindungi setiap orang yang membantuku menyelesaikan kasus Weini.”
Stevan menopang dagu memikirkan kata-kata Xiao Jun. Ada benarnya ucapan bos muda itu, karena dendam dan kedengkianlah Lisa nekad melakukan hal keji demi menyingkirkan Weini. Bagi Xiao Jun yang punya kuasa dan
harta, membungkam Lisa bukan hal sulit tetapi baginya yang hanya mengandalkan pamor dan reputasi baik untuk bertahan di dunia entertainment mungkin akan tamat riwayatnya sekali tersandung skandal walau itu jebakan. Ia Memandangi Xiao Jun sekilas, haruskah ia berterima kasih padanya yang sudah memikirkan dampak terburuk dan mencegahnya terlibat lebih jauh? Sayangnya gengsi Stevan terlampau tinggi, ia cukup menaruh respek pada Xiao Jun dalam hati.
Bams menghampiri Xiao Jun, antara segan dan takut menyinggung masalah ini mengingat ia punya andil dalam pemalsuan barang bukti. Xiao Jun yang menyadari keraguan Bams pun mengambil inisiatif mendekatinya.
“Terima kasih pak sutradara. Jangan khawatir, aku tidak akan melibatkan siapapun yang membantuku.” Xiao Jun menepuk pundak Bams yang memasang wajah tegang.
“Makasih bos. Tapi Anwar tidak akan melepasku, dia pasti menyeretku masuk untuk meringankan posisi anaknya.” Bams tertunduk sedih, karier yang ia perjuangkan puluhan tahun akan tercoreng catatan hitam gara-gara
kasus ini.
Xiao Jun menyunggingkan senyum, tak mudah meyakinkan seorang yang bersalah untuk cuci tangan begitu saja dari kejahatannya. “Aku sudah pernah bilang, pilih tuan yang tepat dan ia akan melindungimu. Sepertinya
kamu masih ragu kemampuanku sampai lupa kalo aku pernah bilang kamu aman bersamaku.”
Bams menengadahkan kepala kemudian menggeleng berkali-kali, ia ceroboh menyinggung perasaan Xiau Jun. “Bukan begitu bos. Sorry sorry aku nggak maksud begitu. Lalu aku harus gimana sekarang bos kalau Metta menyebut namaku sebagai pemberi video editan itu?”
“Aku akan mengirim pengacara terbaik untuk membelamu. Cara kotor juga harus dihadapi dengan kotor.” Seru Xiao Jun sembari menyeringai.
***
“Apa anda masih mengelak setelah melihat bukti rekaman itu?”
Walaupun hatinya bergerumuh dan ketakutan, Lisa masih mempertahankan imagenya sebagai artis terkenal. “Biar pengacaraku yang menjawabnya nanti. Bapak menahan saya tapi saya punya hak untuk menggandeng
pengacara kan.” Ujar Lisa dengan angkuh, ia tidak menunjukkan itikad baik sejak tiba di kantor polisi.
Penyidik mengijinkan Lisa menghubungi pengacara tetapi tetap menjebloskannya dalam sel setelah interogasi selesai. Ketika ia diijinkan memegang ponsel, orang pertama yang dihubungi Lisa tentu bukan pengacara. Ia perlu orang belakang yang kuat untuk menginjak pria yang melindungi Weini itu. Lu bakal nyesel udah nyentil gue!
“Mas, plis tolong aku. Weini menyeretku dalam masalahnya dengan anakmu. Kirimkan pengacara paling bagus ke kantor polisi sekarang.”
“Loh? Kamu ditahan? Gimana ceritanya sampe kasus Weini melibatkan kamu?” jawab Anwar dari seberang telpon.
“Ceritanya panjang. Pokoknya kirimin lawyer sekarang juga mas.” Lisa mulai menggerutu tidak sabaran. Ia tidak betah berlama-lama di kantor polisi, sebelum media mencium berita ini maka ia harus segera beranjak.
Terdengar helaan napas Anwar, belakangan ini ia selalu dipusingkan dengan perkara anak remaja dan sekarang sugar babynya mengiba-iba. “Siapa sih yang laporkan kamu ke polisi?”
Kening Lisa langsung berkerut, benar juga semua itu gara-gara pria itu. Ia muncul hanya untuk merencanakan penangkapan Lisa. Tak peduli seberapa hebat dia, Lisa yakin Anwar pasti bisa menanganinya. “Xiao Jun…
Li Xiao Jun brengsek itu. Aku nggak tahu hubungan apa dia dengan Weini. Maaasss… keluarkan aku dari sini!”
“Apa? LI XIAO JUN?”
Anwar terbelalak mendengar nama itu yang terucap dari Lisa. Sampai seorang CEO muda dan berkuasa itu turun tangan dalam kasus ini, Anwar bisa menebak seberapa penting Weini bagi pria itu. Hampir setengah tahun Anwar menawarkan kerjasama namun Xiao Jun menggantungnya tanpa kepastian. Sangat sulit meraih simpati anak muda itu, tapi akan lebih menakutkan apabila terlibat masalah dengannya.
Metta? Anwar baru teringat gugatan yang dilayangkan putrinya kepada Weini. Seketika itupula keringat dingin mengucur dari kening Anwar. Jika Lisa saja bisa dibekuk, maka sasaran selanjutnya adalah Metta. Anwar
mulai panik, ia tidak tahu selicik apa Xiao Jun dan mulai was-was kalau bisnisnya akan kena imbas gara-gara masalah ini. Kini Anwar paham mengapa Xiao Jun tertarik membeli saham di PH Multi Utama dengan harga tidak masuk akal.
“Halo? Halo? Mas kamu denger nggak?” Lisa mengulang berkali-kali namun tidak mendapat jawaban. Anwar larut dalam pikiran dan kepanikannya.
“Sorry Lisa. Aku nggak bisa bantu. Kamu urus masalahmu sendiri dan jangan libatkan aku.” Anwar memutus telpon sepihak, hatinya langsung membeku untuk Lisa.
“Mas??? Massss!!! Brengseeek!” pekik Lisa, air mata akhirnya luruh. Satu-satunya orang yang bisa dia andalkan pun tak sudi pasang badan untuknya lagi. Lisa tak habis pikir, seorang Anwar yang berkuasa bisa ciut hanya karena ia menyebut nama pria itu.
“Li Xiao Jun? sehebat itukah lu?”
***