
Wen Ting melirik perhatian pada Xiao Jun yang masih mengunci mulutnya sejak naik ke jet. Wajah gusar adik iparnya membuat Wen Ting ikut merasa sedih meskipun belum tahu apa sebabnya. Mereka masih harus menghabiskan waktu dua jam perjalanan untuk sampai di Jakarta, dan Wen Ting sudah tidak sanggup diam-diaman seperti ini. Setidaknya ia punya gambaran tentang apa yang terjadi hingga bisa memastikan bantuan apa yang bisa ia berikan.
Wen Ting sengaja berdehem, “Jun... Setidaknya kamu berikan sedikit penjelasan, ada apa sebenarnya?” Tany Wen Ting kepada Xiao Jun yang membuang pandangan ke luar jendela jet.
Agak lama Xiao Jun masih bergeming kemudian perlahan ia menatap kakak iparnya, sebelum menjawab pun Xiao Jun menyempatkan menghela napas lelah. “Entahlah, yang pasti itu pertanda buruk. Aku baru bisa memastikan setelah sampai di Jakarta.” Jawab Xiao Jun kemudian menatap ke luar lagi.
Wen Ting melihat raut sedih dan cemas yang mendominasi wajah Xiao Jun, ia cukup tahu diri untuk tidak mengusik adik iparnya lagi. Suasana kembali hening dan dingin, ketiganya hanya diam menunggu penerbangan ini berakhir.
Antara Weini dan ayah, siapa yang membuat ledakan sihir sekuat itu? Kenapa ayah merahasiakan sesuatu padaku? Kenapa? Gumam Xiao Jun dalam hati, ia belum bisa menerima dengan nalarnya.
Xiao Jun menatap Wen Ting tajam, “Kak, ayah berpesan apa lagi padamu?” Selidik Xiao Jun.
Wen Ting mengerutkan dahi tampak berpikir keras, “Ayah hanya memintaku datang menolongmu, lalu memintaku menjaga ibu dan kalian. Itu saja... Ada apa Jun?” Tanya Wen Ting heran.
Xiao Jun menggeleng pelan, “Dia bilang padaku akan mengurus sisanya, dia menyuruhmu datang menolongku dan tahu celah masuk ke kediaman Li, bisa jadi dia juga sudah tahu kalau Chen Kho akan datang ke Jakarta, makanya dia bersikeras bertahan di sana. Ayah... Dia... Sudah tahu apa yang akan terjadi padaya, tapi tidak membiarkan
kita menolongnya.” Lirih Xiao Jun, wajahnya kian tampak murung. Ia membuang wajahnya agar Wen Ting dan Lau tidak melihat kehancurannya.
Xiao Jun bisa saja menyembunyikan raut wajahnya namun tidak bisa menutupi isakan tangis yang susah payah
ditahannya. Tanpa melihat langsung, Wen Ting dan Lau tahu bahwa Xiao Jun sedang menangis. Dan tanpa perlu dijelaskan lagi, Wen Ting sudah bisa menebak alasan adik iparnya bersusah hati. Lau pun hanya menunduk sedih, firasatnya menduga bahwa Haris telah mengalami hal buruk di sana.
***
“Maaf, Bu... Dilarang melintasi area yang sudah dipasang garis kuning.” Seorang polisi menghadang Fang Fang saat hendak menerobos masuk dari bawah police line.
Fang Fang menatap dengan raut ramah dan tenang pada petugas di hadapannya. “Maaf pak, saya salah satu manager artis dalam kantor ini. Ada rekan saya yang masih tertahan di dalam, tolong ijinkan saya ikut mencarinya.” Pinta Fang Fang dengan sopan.
“Tim penyidik dan petugas kami sedang melakukan evakuasi korban, sebaikanya anda tunggu di sini saja. Petugas kami pasti membawa keluar semua orang yang tertahan di dalam.” Ujar petugas itu masih pada prinsipnya yang melarang Fang Fang ikut campur.
Fang Fang tidak punya pilihan lain, dengan berat sambil menghela napas, ia memutuskan berdiri menunggu di barisan depan garis kuning meskipun harus berdesakan dengan tim pencari berita.
“Gue denger Weini hilang loh.” Ujar salah satu wartawan.
“Iya tuh katanya dia ada di dekat sumber ledakan, apa jangan-jangan dia....” Ujar wartawan lainnya yang tampak menjeda pergosipan mereka setelah menyadari lirikan sinis dari Fang Fang.
Fang Fang pura-pura tidak menyadari tatapan sinis dari mereka yang ditudingkan balik padanya. Ia sibuk mengetik pesan untuk Stevan serta Grace hingga sebuah tepukan ringan di pundak mengejutkannya.
“Sorry, mbak tadi bilang salah satu manager artis di sana? Bisa kasih kita keterangan sedikit tentang rumor tadi? Benarkah Weini menghilang secara misterius?” Tanya seorang wartawan yang menepuk pundak Fang Fang.
Fang Fang tegang seketika, ia tanpa sengaja menyudutkan dirinya dalam posisi tak menguntungkan. Tanpa
berniat menjawabnya, justru sekarang ia membalikkan badan dan berjalan meninggalkan rasa penasaran dari wartawan itu.
***
lutut dan menundukkan kepala. Ia akan terus bersembunyi dalam lemari ini hingga yakin kondisi di luar aman, hingga Xiao Jun menemukannya, atau bahkan hingga ia mati ketakutan dalam kesendirian dan kesepian.
Ingatan Dina terus terpikir tentang wajah Weini, tentang tangisan gadis itu yang penuh keputus-asaan. Terlampau sulit untuk Dina percaya, dalam sekejab ia harus kehilangan dua orang yang teramat berarti dalam hidupnya. Kematian Haris saja masih sulit dipercaya, sekarang ditambah dengan hilangnya Weini serta kejadian di luar nalar manusia. Satu-satunya yang menampar kesadaran Dina untuk mengakui bahwa semua itu bukan halusinasi adalah chip yang dititipkan Weini. Benda mungil yang telah membakar telapak tangannya dan baru bisa ia pegang ketika dililitkan dengan beberapa helai rambut Weini.
“Aku harus menyebutmu keren atau menakutkan non?” Lirih Dina dengan suara kecil dan parau saking ia terlalu banyak menangis, berteriak bahkan kehausan.
“Kalau ternyata masih ada wajah di balik wajahmu, apa mungkin yang kau katakan itu benar kalau hanya aku yang tahu wajahmu non? Apa benar tuan Xiao Jun juga belum tahu? Ah... Kau pasti bercanda nona, bagaimana kau bisa hidup dengan memiliki dua wajah?” Lirih Dina, ia seolah bicara dengan Weini. Tanpa sadar air matanya mengalir lagi, ia benar-benar tak mau kehilangan Weini.
Dina terus bertahan dalam lemari, tanpa ponsel dan tanpa pencahayaan yang memadai. Ia sungguh mengisolasi
dirinya dari dunia luar, belum ada keinginan untuk keluar dari sana meskipun sekeliling sudah terdengar sunyi. Hingga suara decitan pintu terbuka mengejutkan Dina, spontan ia membungkam mulutnya dan mata yang sedikit melotot karena tegang. Ada yang masuk ke dalam ruangan itu, Dina tidak boleh menimbulkan suara jika tidak mau tertangkap.
***
Perjalanan yang ditempuh Chen Kho masih cukup jauh, bahkan ketika sudah mengudara nyaris dua jam, masih belum mencapai separuh perjalanan dari tujuan akhirnya. Ia menatap Weini yang sudah ia rebahkan di atas kursi yang dimiringkan. Belum ada tanda-tanda gadis itu akan sadarkan diri, bahkan Chen Kho intens mengecek nadi
Weini untuk memastikan tanda kehidupan itu masih teraba.
“Kamu itu mau hidup atau mati? Jangan setengah-setengah, bangun kalau memang masih mau hidup!”
Gerutu Chen Kho kesal pada Weini yang tak bereaksi mendengar ocehannya.
“Eh, tapi ya sudahlah kalau mati. Mungkin kamu memang lebih suka menyusul pengawalmu.” Cibir Chen Kho
dengan tampang piciknya.
Agak lama ia menatap Weini hingga Chen Kho mengerutkan dahi setelah menyadari sesuatu yang aneh. Ia mengeluarkan ponselnya lalu membuka sebuah foto di galeri, secara bergantian Chen Kho mengamati foto dan Weini yang ada di hadapannya.
“Ini... Orang yang berbeda! Tapi kenapa bisa?” Ujar Chen Kho terkejut namun memastikan sekali lagi bahwa gadis yang terbaring itu benar sepupunya, dari energi sihir yang terdeteksi dari tubuh Weini lah yang meyakinkan Chen Kho.
“Aku yakin dia orang yang kucari, kenapa wajahnya bisa berubah? Hmm....” Tanda tanya besar dalam hati Chen Kho tampaknya sudah mendapatkan titik terang seiring dengan suara gumamannya. Ia menyeringai licik lantaran mulai paham teka-teki sihir andalan Klan Wei yang ternyata bukan isapan jempol.
“Kalian berdua yang tadi ikut denganku, apa ada orang lain yang melihat wajah gadis ini?” Tanya Chen Kho dengan nada lantang agar pengawalnya yang agak berjarak dengannya mendengar.
“Maaf tuan, suara dengungan membuat kami tidak fokus. Tetapi ada satu orang pria yang ada di sana, saya tidak tahu dia melihat atau tidak.” Jawab salah satu pengawal Chen Kho.
Chen Kho mengangguk pelan dan tanpa melupakan senyum liciknya, “Setelah ini kalian kembali lagi ke sana, habisi saja dia! Tak peduli dia lihat atau tidak, jangan biarkan saksi itu hidup!” Perintah Chen Kho tegas.
Akan lebih bagus kalau hanya aku yang tahu wajah aslimu, sepupuku! Bahkan aku jauh lebih beruntung daripada kekasihmu, mungkin dia tidak akan melihat wajah aslimu selamanya. Gumam Chen Kho dalam hati disusul tawanya yang keras membahana di dalam jetnya.
***
Maaf baru sempat update, mohon apresiasinya dengan like dan komentar ya. Oya, bagi yang belum follow akun author, tolong difollow dong, author lagi mengejar target naik level nih dengan salah satu persyaratan minimal jumlah followers. Dibantu ya, pliss....