
Sejak tahu bahwa Weini adalah putrinya yang hilang, Liang Jia menghabiskan banyak waktu menonton di kamar. Berbekal Youtube, ia mengikuti drama yang diperankan oleh Weini dan terpukau dengan kemampuan aktingnya. Tak jarang pula Xin Er diajak nonton bersama dan keduanya kerap terbawa perasaan saat menonton adegan sedih Weini.
“Putri anda sangat berbakat, nyonya.” Puji Xin Er kagum. Jika bukan karena Liang Jia mengajaknya nonton, ia tak mungkin bisa melihat kebolehan Weini dalam seni peran.
Liang Jia mengangguk sembari menatap Xin Er dengan senyum lebar. “Tak kusangka Wei mendidiknya dengan baik, pasti sulit membesarkan anak gadis sendirian. Tapi aku sangat kagum pada putriku, pantas saja Jun menyukainya. Mereka memang terlihat cocok, bukan begitu Xin Er?” Liang Jia meminta pendapat Xin Er tentang hubungan kedua anak mereka.
Xin Er ikut tersenyum dan sedikit menundukkan kepala, “Putraku belum tahu siapa Weini sebenarnya, sungguh takdirlah yang mengikat mereka hingga punya kejodohan besar seperti ini. Tapi kita jangan berharap banyak dulu, nyonya. Li Jun masih punya ikatan dengan gadis lain, dan sekarang mereka berada dalam satu kota. Ini pasti jadi kenyataan yang sulit bagi nona dan Li Jun.” Gumam Xin Er, ia tak bisa menampik kecemasannya tentang perasaan
putranya yang terkekang.
Liang Jia tampak berpikir, terlepas dari kegirangannya mengetahui bahwa Xiao Jun mencintai putrinya dan pasti ia restui, masih ada masalah yang belum terselesaikan tentang perjodohan paksa itu. “Putriku sudah menderita sejak kecil karena ayahnya, setelah dewasa dan jauh dari ayahnya, ia tetap dbuat menderita karena dipisahkan dari pria yang dicintai. Xin Er, apa yang harus kita lakukan?”
Kedua wanita tua itu saling berpandangan sesaat, hingga Xin Er yang sedang ditunggu responnya pun memberi jawaban. “Kita tidak punya kekuatan untuk melakukan apapun, nyonya. Ketika kita membantahnya, tuan besar
selalu punya cara menekan kita. Jika kita bersikeras mendesaknya membatalkan pertunangan, lalu terang-terangan mendukung hubungan dengan nona, saya kuatir akan membuat tuan besar curiga dan menyerangnya.”
Liang Jia meremas sapu tangannya, membayangkannya saja sudah membuatnya geram. Ia tak ingin sejarah kembali terulang, Yue Hwa yang sudah tenang tidak boleh diusik lagi oleh pria berhati dingin yang tak lain adalah ayahnya. “Sampai kapan kita di posisi lemah? Aku tak yakin sudah setua inipun, dia masih membenci putrinya.”
Usai berkata demikian, Liang Jia menyudahi tontonannya lalu berdiri. Xin Er menatapnya dengan sorot bingung, entah apa yang ada di benak nyonya itu sekarang. “Nyonya, apa yang anda pikirkan? Ingat janji anda untuk tidak mengungkit yang saya ceritakan, mohon percayakan pada Wei sekali lagi. Biarlah dia yang mencari jalan kembali, jangan sampai kita yang mengacaukan segalanya.” Xin Er membungkuk hormat, ia memohon agar Liang Jia tetap
menjernihkan pikirannya dan tidak gegabah bertindak.
Liang Jia menebar senyum sinis, “Aku tidak akan gegabah. Dia punya cara memisahkanku dengan anakku, maka aku juga punya cara menyatukan mereka kembali.” Ungkap Liang Jia tegas, ia melangkah pergi dari kamarnya tanpa bersedia menjawab kemana langkah itu akan membawanya.
***
Li San baru selesai membaca laporan harian ketika pengawalnya berteriak menyampaikan kedatangan seseorang. Matanya tertuju pada pintu masuk, menyambut tamu yang tak lain adalah pendamping hidupnya. Li San spontan
berdiri lalu turun dari singgasananya demi menghampiri wanitanya.
“Istriku, apa yang membuatmu datang tiba-tiba?” Tanya Li San dengan nada lembut. Belakangan ini suasana hatinya cukup baik bahkan bisa bersikap romantis pada Liang Jia.
Liang Jia tersenyum kemudian meraih kedua tangan suaminya untuk digenggam. Ia menuntun pria itu duduk di kursi yang disediakan untuk tamu. “Akhir-akhir ini kamu sering begadang, aku khawatir tentang kesehatanmu. Kita sudah tua, jangan paksa tubuh seperti mesin muda.”
Li San tertawa senang mendapatkan perhatian dari istrinya, ia membalas genggaman Liang Jia dengan meremas jemari wanita itu. “Kamu benar, aku juga baru sadar kita sudah lama tidak duduk berdua. Menghabiskan waktu luang bersama, bagaimana kalau kita ke kolam teratai saja?”
Liang Jia mengangguk, kesempatan bagus itu tidak boleh dilewatkan. Ia akan lebih leluasa bicara dengan pria itu jika suasana mendukung. “Ide bagus, aku akan meminta pelayan membawakan kudapan.” Liang Jia merespon
dengan baik, pria itu tertawa kecil seraya melingkarkan tangan di pinggangnya.
meninggalkan kesan baik di hati wanita yang sudah banyak berkorban untuknya.
“Silahkan diminum, suamiku.” Liang Jia menyodorkan secangkir teh yang baru ia tuang dari poci, ia sengaja menyuruh seluruh pelayannya pergi dan membiarkan dirinya melayani Li San.
Li San terkesima lalu menyambut cangkir itu, tanpa perlu disuruh lagi ia menyeruput teh dengan puas. “Sudah berapa lama kita tidak jalan berdua ke luar negri?”
Liang Jia mengangkat bahu, saking lamanya sampai ia sendiri lupa kapan terakhir melancong bersama suaminya. “Aku lupa, mungkin sudah bertahun-tahun.”
“Ah, begitu ya.” Ungkap Li San dengan nada penuh penyesalan.
“Kamu terlalu asyik bekerja, bahkan sudah setua inipun kamu masih mengurus segalanya. Harusnya kita menikmati masaa tua, sedikit berpikir dan lebih banyak bergembira.” Timpal Liang Jia, ia menyuguhkan kudapan yang diambil sebagian di atas piring kecil lalu memberikannya pada Li San.
Li San tertunduk dengan perasaan bersalah, ia menghela napas berat. “Harusnya begitu, maafkan aku Liang Jia. Setelah Xiao Jun dan Grace menikah, aku janji akan melepaskan tahta pada Xiao Jun. Saat itu kita pasti bisa sering liburan bersama, aku juga merasa sudah cukup lelah dan tua untuk ambisi bekerja.” Li San tertawa kecil mengakui kelemahan fisiknya yang mulai tak bisa dibohongi. Ia selama ini hanya berupaya menutupi kondisinya agar tetap mendapat penghormatan dan disegani.
Liang Jia terperanjat saat mendengar rencana yang dilontarkan Li San, yang paling mengejutkan tentu rencana pernikahan paksa terhadap Xiao Jun. “Syukurlah kamu sudah mulai sadar akan keterbatasan dirimu. Suamiku,
di sini hanya ada kau dan aku … Kita bisa bicara apa saja dari hati ke hati, kita yang sudah tua ini tak pantas lagi saling berselisih paham seperti waktu muda.”
Li San mengangguk, ia tak perlu terus-terusan memakai topeng terlebih ketika berduaan dengan istrinya. “Bersabarlah sebentar, tak sampai setahun lagi mereka pasti menikahi. Setelah itu kita tinggal di luar negri untuk sementara, aku ingin suasana baru dan tenang bersamamu.”
“Rencana yang kedengarannya bagus, tapi suamiku … Apa menurutmu Grace sudah pantas jadi menantu kita? Jika ada gadis yang lebih pantas dan tepat menjadi istri Xiao Jun, apa kau akan merestui mereka?” Liang Jia meremas sapu tangannya, ia berusaha sekuat tenaga menyembunyikan rasa takut. Tatapannya masih beradu dengan sang suami, dan ia masih harus tersenyum tenang penuh kepalsuan.
Li San mengernyit, “Menurutmu ada gadis yang lebih tepat daripada Grace? Siapa?”
Jantung Liang Jia berdebar kencang, Li San sudah meladeninya. Umpan yang mulai dilempar kini siap ditarik ulur, ia hanya punya dua pilihan, meneruskan permainan atau menghentikannya. Wanita itu menatap suaminya, lidahnya mulai terasa kelu namun ia terus memaksakan untuk bersuara.
***
Apa yang akan Liang Jia katakana pada Li San?
A. Ada. Gadis itu adalah putri kita, Yue Hwa.
B. Ah, tidak aku hanya bercanda.
C. Aku tidak suka Grace, lebih baik kita carikan gadis terhormat lainnya sebagai calon istri Xiao Jun.
***