OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 249 SEMAKIN TAK MENGENALIMU



Seberapa kamu mampu mengenali seseorang yang kau sebut itu belahan jiwamu?


Kamu memiliki raganya, tetapi yakinkah bahwa kamu sepenuhnya adalah pemilik hatinya?


Kedekatan yang kukira mampu untuk membuka tabir tentang dirimu


Ternyata tak juga cukup untuk mengenalmu lebih dalam


Aku terjebak ragu dan bingung tentang jati dirimu


Terbukalah hatimu … Dirimu … Untuk kumiliki tanpa sekat apapun yang membatasi!


_Quote of Xiao Jun_


***


“Tuan muda, sesuai perintah anda, saya sudah mendapatkan rekaman CCTV pada saat itu. Silahkan anda periksa.” Lau menghampiri Xiao Jun dan menyodorkan sebuah flashdisk kepada tuannya, hasil meminta data rahasia dari tim IT gedung perkantoran itu.


Xiao Jun menerima barang itu dari tangan Lau kemudian dengan antusias mencolokkan ke laptopnya. Demi menunggu hasil ini, ia bahkan tak bisa tidur nyenyak memikirkannya. File rekaman itu tengah diputar oleh Xiao Jun, ia mengatupkan jemarinya dan memasang penglihatan dengan jeli. Ia mempercepat tayangan yang dirasa bukan pada momen itu sinyal sihir ayahnya terasa. Bola mata Xiao Jun membesar, ia sampai mengulang lagi ketika rekaman itu menunjukkan gerak-gerik Weini yang mencurigakan.


“Paman, coba lihat ini.” Xiao Jun menjeda tayangan, menunggu Lau menghampirinya dan ikut menonton. Ia perlu sepasang mata lain untuk referensi, apa hanya perasaannya atau memang begitu adanya.


Lau membungkuk mendekatkan diri dengan layar laptop, Xiao Jun memutar ulang tanpa memberitahu bagian mana yang dirasanya aneh. Ia ingin mengetes kepekaan Lau terhadap kejanggalan sikap Weini itu.


“Hmm … Maaf tuan, sepertinya pada detik ini dalam sekejab semua berhenti bergerak kecuali nona Weini.” Gumam Lau, meskipun terdengar tidak masuk akal namun rekaman itu tentu saja berdasarkan kenyataan. Lau sengaja menjeda di bagian yang tengah ia komentari.


Xiao Jun menatap pengawalnya dengan serius, Lau memang tidak pernah mengecewakan bahkan untuk hal serumit inipun ia tetap jeli. Xiao Jun kemudian mengangguk, membenarkan dugaan Lau yang masih sulit dipercaya mereka. “Kalau hanya satu dua orang yang diam, mungkin tidak akan mencolok. Tetapi dalam waktu bersamaan, meskipun hanya beberapa detik semua mematung dan hanya Weini yang leluasa bergerak, apa itu normal paman?”


Tuan muda dan pengawalnya saling bertatapan dalam diam, segalanya terasa sangat sulit dicerna nalar dan rekaman tanpa suara itu tidak bisa banyak memberi bukti lain. Sebenarnya apa yang Weini katakan saat itu? Atau mungkin dia tidak mengeluarkan sepatah kata dan hanya bergerak menarik tangan kedua sahabatnya?


Xiao Jun melanjutkan tayangan itu pada adegan selanjutnya, tak lama setelah seluruh staf mematung dan Weini berlari dengan menarik dua rekannya, Xiao Jun keluar dari ruang kantornya lalu terdiam.


“Apa anda ikut mematung tuan? Apa anda tidak sadar apa yang terjadi saat itu?” Lau inisiatif bertanya, ia heran melihat rekaman itu dan khawatir bahwa tuannya tertular sindrom aneh itu.


Xiao Jun masih mengingat jelas apa yang terjadi saat itu, ia menggelengkan kepala dengan mantap untuk menolak dugaan Lau. “Tidak. Waktu itu aku mengejar Weini dan terkejut tiba-tiba sihir ayahku terasa sangat jelas dan dekat. Aku bahkan tidak sadar bahwa orang di sekelilingku bersikap aneh. Setelah sinyal sihir itu hilang, aku tersadar bahwa gadisku sudah lolos dan lanjut mengejarnya.” Xiao Jun mencoba menarik benang merah permasalahannya,


kecurigaanpun harus ada dasar dan buktinya.


Hening sekejab, dua pria itu tenggelam dalam pikiran masing-masing, hingga Grace dan Fang Fang muncul di hadapan mereka tanpa permisi, saat itulah mereka disadarkan oleh keterkejutan. Lau bergerak menghampiri dua tamu tak diundang itu, terlebih mereka hadir di saat Xiao Jun tengah serius memecahkan masalah lain.


“Maaf nona, anda tidak boleh masuk tanpa panggilan atau keperluan. Ruang kerja anda ada di luar, silahkan kembali ke tempat anda.” Lau mengusir Grace secara halus, ia membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai


Grace malah meringis, dengan angkuhnya ia membantah pengawal tua itu. “Sejak kapan ada peraturan harus ijin dulu kalau mau bertemu tunanganku? Ini bukan Hongkong, tidak ada aturan ketat yang mengikat.” Cecar Grace, ia sungguh tidak menyukai Lau yang over protective kepada tuannya. Kini pria tua itu bahkan berani terang-terangan menghalangi gerak-geriknya.


Lau hanya membungkuk hormat tanpa bisa memberikan jawaban lagi, Gadis cantik di hadapannya sungguh bermulut tajam. Sementara itu, Grace yang merasa menang kembali melangkah dengan lirikan mata tajam yang


menyindir Lau.


“Berhenti di situ! Tiap Negara punya aturannya, di Hongkong memang ayahku yang berkuasa, tapi di sini … Selama kamu hidup dalam kekuasaanku, akulah pemegang aturan.” Xiao Jun menegaskan batasan pada gadis itu, matanya memincing menatapnya dari tempat duduk.


Grace seakan kehilangan simpati, ia tidak tunduk pada perintah Xiao Jun. “Lalu aku harus menurutimu, begitu?” Grace melangkah semakin mendekati meja Xiao Jun, matanya tidak berkedip memandang pria yang juga


menyorotkan pandangan tajam padanya.


Xiao Jun duduk bergeming, membiarkan gadis itu bertingkah sesukanya. Ia ingin melihat sejauh mana batas kelakuan minus gadis yang dijodohkan padanya itu. Hingga akhirnya Grace berhenti tepat di depan mejanya, melototinya dengan tatapan menantang kemudian melemparkan sebuah berkas ke hadapan Xiao Jun.


“Aku kemari mengajukan surat pengunduran diri.” Sikap Grace berubah total, yang semula terkesan antagonis kini malah terlihat lebih hangat dan bersahabat. Ia tersenyum tenang demi meyakinkan Xiao Jun yang masih terheran dengan perkataannya barusan.


“Aku serius. Maaf atas kejadian kemarin yang sudah menyusahkanmu.” Grace menundukkan kepala, sebuah penghormatan yang diajarkan bibi Gu padanya.


Lau yang berdiri di belakang langsung melirik Fang Fang, dalam sorot mata itu meminta penjelasan atas apa yang dilakukan majikannya. Apa ini sebuah jebakan atau memang Grace sudah sepenuhnya menyerah?


Xiao Jun membalas senyuman itu dengan lembut, ia hanya membalas perlakuan sebagaimana yang dilakukan lawannya. “Apa kamu yakin dengan keputusan ini? Tidak terlalu mendadakkah resign hanya dengan kerja satu hari?” Xiao Jun belum mengetahui maksud Grace, entah hanya sebuah trik atau memang ia sudah sepenuhnya sadar bahwa ia hanya buang waktu berada di sini. Terlebih jika ini hanya jebakan, maka bukan tidak mungkin Grace akan mengadukan bahkan mencari keadilan kepada Li San.


Grace mengangguk seraya tersenyum manis, “Ini bukan passionku, aku tersiksa bekerja di bidang yang tidak kusukai. Bukannya membantumu, yang ada aku akan menyusahkanmu di sini.” Jawab Grace mantap dan


begitu meyakinkan.


Lau lagi-lagi melirik Fang Fang, namun pengawal wanita itu menggelengkan kepala. Ia sendiri tidak mengerti apa yang majikannya perbuat, ia pun tak kalah terkejut mendengar keputusan itu.


“Lalu apa rencanamu selanjutnya? Kamu ingin pulang ke Amerika saja?” Xiao Jun sedikit melunak, fleksibel mengikuti sikap Grace yang mulai bersahabat. Terlebih jika gadis itu memutuskan untuk menyudahi hubungan mereka dan kembali ke kampung halamannya, itu jauh lebih baik dan segalanya akan lebih mudah untuk Xiao Jun dan Weini.


Grace tersenyum namun menggelengkan kepala, bahasa tubuh itu membuat Xiao Jun sedikit kecewa. “Aku tetap akan tinggal di sini, sementara tidak bekerja dulu sampai aku berhasil mendapatkan pekerjaan yang aku sukai.” Ujar Grace penuh semangat dan optimis.


“Kenapa harus bersusah berjuang di sini? Dengan kemampuan bahasamu yang minim dan hanya mengandalkan penerjemah, akan sulit bagimu mendapatkan pekerjaan di kota ini. Dan lagi, kamu memang tidak perlu bekerja keras.” Xiao Jun mulai tidak sabar, ia mencoba terus menghasut Grace untuk meninggalkan Jakarta.


“Xiao Jun, apa kamu pikir hanya kamu yang boleh punya impian? Aku memang dari keluarga terhormat, sangat berkelimpahan harta, tapi bukan berarti aku tidak boleh berkarier dengan usahaku.” Tegas Grace, ia menyuarakannya tanpa seulas senyum dan membuat Xiao Jun terkejut dengan tekadnya.


“Jadi jangan rusak mimpiku. Kita jalani bidang masing-masing, sementara aku harus mengandalkan tempat tinggal darimu. Aku usahakan dalam waktu singkat, tidak akan menyusahkanmu.” Timpal Grace, ia tidak memberi Xiao Jun kesempatan berkomentar lalu pergi meninggalkan pemilik perusahaan itu tanpa kata pamit, karena memang mereka pasti akan bertemu kembali.


***