OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 191 SISI LAIN SI JAHAT CHEN KHO



Chen Kho mengurung diri sejak kemarin malam, ia bahkan sengaja melewatkan sar apan dan menolak meskipun


pengawalnya menawarkan mengantarkan ke kamar. Belum pernah ia dipermalukan separah ini, pasca kejadian yang merusak reputasinya ia kehilangan nyali untuk menginjakkan kaki ke kantor. Emosinya yang membuncah ia lampiaskan dengan memporak-porandakan barang dalam ruang pribadinya, saking marahnya ia mampu


menggerakkan benda dengan tatapan tajam.


“Anak sialan! Kau hanya anak pungut, kacang lupa kulit, berlagak seperti pewaris. Jangan harap bisa lolos dari tanganku, aku bersumpah menghabisimu dengan kedua tanganku!” sumpah serapan terucap penuh amarah, kebencian Chen Kho yang awalnya hanya sebatas memenuhi obsesi ayahnya, kini berkembang menjadi dendam pribadi. Ia tak menyangka Xiao Jun bersifat sangat bertentangan dengannya dan sangat menyebalkan.


Seseorang menggedor pintu yang ia kunci rapat, Chen Kho enggan bertemu siapapun sebelum mampu menguasai diri. Ia mengabaikan permintaan masuk itu lalu kembali menghancurkan papan catur tak bersalah menjadi berkeping-keping. Semakin dibiarkan, gedoran itu makin kuat dan mengacaukan konsentrasi Chen Kho.


“Siapa!? Lancang banget, mau cari mati?” teriak Chen Kho menghampiri pintu dan membukanya dengan kasar. Ia


bersiap memberi tamparan pada tamu tidak tahu diri yang tak sadar kedatangannya ditolak.


Begitu pintu terbuka, Chen Kho bagaikan tersambar petir melihat siapa yang barusan ia amuki. Ia yakin ucapannya barusan pasti didengar oleh pria tua itu.


Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Chen Kho hingga ia terpental di pintu. Pria tua itu meradang bukan hanya karena mendengar omelan Chen Kho, namun puncak kemarahannya disebabkan oleh insiden memalukan kemarin. Matanya nanar menatap darah dagingnya yang berdiam pasrah dihukum.


“Kamu pikir ayah tidak dengar yang kamu gerutukan? Sekarang aku yang cari mati atau kamu? Apa kau gila? Napsumu segede gajah sampai kebelet di sana?” Kao Jing lanjut memukuli pundak dan kepala Chen Kho sambil berjalan masuk dan menutup pintu.


Chen Kho meringis menahan sakit tanpa berniat menangkis, dibiarkan begitu saja ayahnya melampiaskan


kekesalan. “Aku memang salah, maaf ayah.” Ujar Chen Kho.


Kao Jing melunak setelah mendengar pernyataan maaf itu, cengkraman di lengan Chen Kho akhirnya ia lepaskan. Kao Jing berdiri membelakangi anaknya, masih ada sisa emosi yang rentan meledak jika harus bertatapan.


“Masalahnya tidak sesimpel minta maaf, Li San sudah mendengar kabar itu. Kau mungkin tidak begitu mengenal sifat pamanmu, tapi dia sangat menjunjung tinggi martabat dan nama baik keluarga. Ayah tidak tahu harus melakukan apa untuk menolongmu sekarang. Tadi pagi aku menemuinya, dan ia masih murka. Kau melakukan kesalahan yang terlalu fatal. Ayah kecewa padamu!”


Chen Kho langsung berlutut meminta maaf, ungkapan kekecewaan yang dilontarkan ayahnya lah yang membuatnya melemaskan kaki dan bersimpu. “Aku tidak berguna, mengecewakan ayah. Aku rela dihukum apapun yang penting ayah memaafkanku.” Chen Kho menampari pipinya sebagai bentuk penyesalan.


Kao Jing menoleh ketika mendengar suara tamparan itu, ia meringis dan yakin bahwa tamparan itu cukup menyakitkan. “Sudah, berhenti! Sampai pipimu bengkakpun tidak bisa mengubah kenyataan kemarin. Kemana kemampuanmu? Kenapa tidak kau pengaruhi sihirmu pada mereka tapi kau malah biarkan anak pungut itu merendahkanmu?”


Chen Kho menunduk dengan tatapan nanar, bukan ayahnya saja yang geram, ia juga geregetan karena pengaruh sihirnya tidak berfungsi pada mereka. “Aku sudah mencoba tapi tidak mempan pada kedua anak Wei itu. Anak-anak sialan itu tidak bisa diremehkan, walaupun tidak punya kemampuan sihir yang terdeteksi tapi mereka kebal dengan ilmu kirimanku.”


“Maka kau harus perdalam kemampuanmu, pasti ada celah menembus mereka. Tidak ada sihir yang sempurna di dunia ini, kamu hanya perlu mencari kelemahannya.” Ujar Kao Jing menyemangati putranya setelah mendengar alasan yang sesungguhnya. Ia mulai mendinginkan kepala untuk tidak menyalahkan Chen Kho lagi.


Chen Kho trenyuh, dukungan kecil itu membuatnya merasa jauh lebih tenang. Ia bersedia berkorban apapun demi mewujudkan ambisi Kao Jing selama ini. Ia yang sejak kecil tidak tahu menahu polemik keluarga ayahnya, dipaksa dan dicegoki agar turut campur melakukan strategi kudeta. Yang ia tahu hanyalah mendengarkan kemauan Kao Jing meskipun seringkali mengabaikan kehendak pribadinya. Ia seperti telah dilahirkan untuk menjadi bidak catur ayahnya.


“Jangan kecewakan ayah. Kamu satu-satunya harapanku mengambil kembali yang semestinya milikku! Kamu


juga satu-satunya yang mewarisi kemampuan nenek buyutmu, sihirmu jauh lebih hebat daripada klan Wei. Kamu harus berlatih lebih keras lagi!” Kao Jing menekankan pada Chen Kho lagi dan lagi.


Bagi Chen Kho, kurang apalagi ia berlatih? Sekeras apapun usahanya selalu kurang di mata Kao Jing. Andai


ia egois menuruti kata hati, bisa saja ia tutup mata dan bersenang-senang di luar sana tanpa terikat obsesi sang ayah. Tapi setelah itu, selamanya ia akan dicap anak durhaka. Apalah daya, ia hanya mampu mengangguk nurut.


Seorang pengawal mengetuk pintu dan berteriak dari luar menyampaikan maksud kedatangannya. “Tuan muda Chen Kho diminta menghadap tuan besar sekarang juga!” pekik suara bariton itu dengan lantang dan tegas.


Perintah mendadak itu memberi efek kejut yang luar biasa, Kao Jing dan Chen Kho saling berpandangan. Mereka


bisa menebak atas dasar apa panggilan yang terkesan mendesak itu dilayangkan padanya.


“Pergilah! Mengalah saja apapun yang dia putuskan jangan diprotes.” Kao Jing menepuk pundak Chen Kho,


membisikkannya saran yang dirasa efektif meloloskannya dari amukan Li San.


***


Li An merasa gugup saat tiba kembali di kediaman Li San. Beberapa waktu lalu ia diusir dengan cara yang menyedihkan lantaran fitnahan yang harus ia terima dianggap sebagai kenyataan. Ia was-was jika harus bertemu dengan kedua nona Li yang sentimen padanya, Li San mungkin tidak memberi ampun jika ia ketahuan kemari.


“Jun, aku pulang saja ya. Bahaya kalau tuan besar tahu keberadaanku di sini. Dia sudah memblokirku dari kediamannya. Aku tidak mau jadi masalah buat kamu dan ibu.” Li An sungguh ragu dan cemas, bukan untuk keselamatannya melainkan orang yang ia cintai. Dengan keterbatasan kekuasaan, yang bisa ia lakukan untuk melindungi mereka hanya dengan menjaga sikap dan menepati perintah sang penguasa.


Xiao Jun paham dengan kecemasan itu, tidak berlebihan terlebih kakaknya punya riwayat tahanan rumah oleh Li San. Li An belum tahu bahwa Xiao Jun sudah memikirkan resikonya dan tahu caranya main aman. “Tenang kak, percayakan padaku. Tuan besar sudah tahu kamu ke sini, kalau bukan seijin dia, akupun tidak berani bertindak.”


Li An berkedip beberapa kali menatap Xiao Jun, kesannya malah terlihat seperti kelilipan padahal itu ekspresi kaget dan senang yang berlebihan. “Serius Jun? Wah ... adikku memang hebat!” puji Li An sambil mengelus rambut Xiao Jun, ia harus berjinjit demi mencapai ujung rambut pria yang tingginya cukup jauh selisih dengannya.


Mereka berjalan menuju kediaman Liang Jia, pertemuan ini bukanlah dadakan lantaran Xiao Jun telah membuat janji dengan ibu angkatnya. Jika bukan karena bantuan dan kepedulian Liang Jia, pertemuan ini pasti sulit terjadi.


“Ibu tetap bekerja dengan nyonya besar, kita sedang menuju tempatnya. Akhirnya ya kak, kita bisa berkumpul bertiga walau sebentar. Lain kali aku janji akan mengumpulkan semua anggota keluarga kita, asal kakak percaya dan bersabar.” Ungkap Xiao Jun penuh rasa senang, mereka belum juga bertemu namun kebahagiaan itu sudah meluap.


“Dan aku bantu doa Jun, langit dan leluhur kita pasti membantumu.” Ujar Li An sembari meraih tangan Xiao Jun untuk digenggam. Dalam genggaman hangat itu, terselip doa dan harapan yang begitu besar untuk Xiao Jun.


***