OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 466 KESEPAKATAN ORANGTUA



Aula utama masih ramai pelayat yang datang dan pergi, Liang Jia tampak kelelahan tapi masih memaksakan diri untuk ramah menyambut tamu. Xin Er mendekat pada nyonya besar itu kemudian membujuknya agar berisitirahat.


"Nyonya, kita minum teh di belakang dulu ya. Biar Jun dan yang lainnya yang menggantikan mu sebentar." Pinta Xin Er lembut.


Liang Jia tersenyum, ia menghargai betul perhatian Xin Er. "Baiklah, sebentar ya."


Liang Jia menatap Yue Yan hingga putri sulungnya sadar bahwa ibunya sedang membutuhkannya.


"Ada yang ibu perlukan?" Tanya Yue Yan saat mendekat pada ibunya.


"Ibu mau minum sebentar dengan bibi Xin Er, kamu gantikan posisi ibu ya, ramahlah pada tamu, siapapun dia." Pesan Liang Jia, ia memang membuka diri pada kalangan manapun yang datang. Dan ia ingin anak-anaknya meniru apa yang ia lakukan.


Yue Yan mengangguk paham, "Baik ibu, istirahat lah biar kami yang urus di sini."


Kedua wanita itu berjalan keluar dari aula utama lewat jalan samping. Bersamaan dengan itu pula, seorang pengawal menghampiri Haris dan membisikkan sesuatu. Haris mengangguk paham kemudian mengkode agar pengawal itu beranjak dari sana dan kembali bertugas.


Xiao Jun sedang membakar uang kertas ketika Haris menghampirinya. "Jun, ikutlah dengan ayah sebentar. Ada yang perlu kita bahas dengan nyonya besar."


Suara Haris seketika menghentikan pekerjaan Xiao Jun, wajah putih pria itu memerah karena kepanasan di dekat perapian. Ia meletakkan setumpung uang kertas yang belum dibakar itu lalu berdiri.


"Oh, baik ayah. Di mana ibu dan nyonya besar?"


Saking asyiknya Xiao Jun tak sadar kalau Xin Er dan Liang Jia sudah tidak ada di aula.


"Mereka sudah di taman belakang, kita susul segera." Ajak Haris kemudian memimpin jalan.


Xiao Jun menatap ke arah Yue Yan yang juga menatapnya, "Kak, aku keluar sebentar. Apa kamu nggak apa-apa aku tinggal?" Tanya Xiao Jun cemas jika ke empat nona Li itu perlu bantuan.


Yue Yan tersenyum lalu menggeleng, "Tidak masalah, aku dan yang lainnya bisa saling bantu. Kamu selesaikan saja urusanmu dulu."


Xiao Jun mengangguk, "Baiklah kalau begitu, aku permisi kak."


Bagi Xiao Jun dan nona nona Li itu, kesempatan bicara yang hangat dan akrab seperti itu adalah momen langka. Mereka nyaris tak pernah bertemu, sekalipun dikumpulkan dalam satu tempat, ke empat nona Li itu terkesan tidak menganggap Xiao Jun. Namun sekarang tampak ada harapan cerah bagi hubungan persaudaraan mereka, dan semuanya mengalir apa adanya.


🌹🌹🌹


Liang Jia menyeruput pelan teh manis yang masih mengepul uap, seketika ia merasa lelahnya terbayarkan hanya dengan kenikmatan teh yang mampu mengendorkan syaraf tegangnya.


"Sudah lama aku tidak menikmati teh senikmat ini, ketika kamu pergi, aku merasa hidupku hampa." Gumam Liang Jia.


Xin Er tersenyum pada nyonya itu, "Saya sudah kembali, kelak kita akan sering minum bersama."


"Aku harap dia berisitirahat dengan tenang. Di saat kami sudah membuka diri lagi, ternyata kehendak langit berkata lain." Sesal Liang Jia.


"Jangan memberatkan lagi yang sudah pergi, lepaskan biar dia pergi dengan tenang. Masih ada nona Yue Hwa dan kami yang menemanimu di sini." Ucap Xin Er memberikan kekuatan pada Liang Jia, bagaimana pun Liang Jia tetap lebih terbuka pada Xin Er ketimbang yang lainnya.


Pembicaraan mereka terhenti saat menyadari Haris dan Xiao Jun menghampiri. Liang Jia langsung mempersilahkan mereka duduk dan bergabung dalam acara minum teh itu.


Haris mengangkat gelasnya untuk mengajak bersulang pada Nyonya besarnya sebelum ia meneguk tehnya. Begitupun dengan Xiao Jun yang mengikuti tradisi penghormatan di sana.


"Nyonya, kemunculan nona Yue Hwa sudah menjadi perbincangan publik. Meskipun belum ada berita resmi dari media, namun para tamu yang datang menyimpan kecurigaan mereka. Kita tidak bisa membiarkan mereka berasumsi pribadi lalu rumor merebak di masyarakat. Sebaiknya nyonya mengatur waktu untuk mendeklarasikan keputusan tuan besar dalam wasiatnya. Penasehat kepercayaan tuan besar bisa mengambil alih tugas ini, yang penting harus ada pernyataan resmi kepada semua penghuni kediaman ini bahwa tahta resmi diserahkan pada nona ke lima."


Liang Jia tampak diam memikirkan perkataan Haris, lalu ia menyuarakan pendapatnya. "Awalnya aku pikir ini terlalu cepat dilakukan. Rencana ku penyerahan tahta itu lebih baik setelah pemakaman, tapi aku juga tidak mempertimbangkan resiko lainnya. Ku rasa apa yang kau pikirkan benar, Wei. Tolong carikan hari baik untuk ritual penyerahan tahta klan Li pada Yue Hwa."


Haris mengangguk menyanggupi permintaan Liang Jia. "Baik nyonya. Memang lebih baik jika ritual itu dilakukan di depan jenasah penguasa sebelumnya. Pihak luar atau yang tidak mendukung pun tidak bisa berkutik, kita semua percaya sakralnya pengambilan sumpah di hadapan jenasah. Maka ini bisa jadi kekuatan bagi Weini untuk mendapatkan kepercayaan serta rasa hormat dari yang lain."


Liang Jia mengangguk setuju, "Kamu bisa memikirkan sejauh itu, bahkan aku saja tak sempat berpikir ke sana. Aku percayakan padamu, Wei. Terima kasih atas loyalitas kalian pada keluargaku. Mari bersulang!" Liang Jia mengangkat gelasnya kemudian diikuti yang lainnya, mereka pun meneguk bersamaan. Meskipun bukan arak namun pekatnya teh itu sudah cukup mengakrabkan suasana.


"Saya sangat bangga bisa mengabdi pada klan Li, tetap menjaga loyalitas leluhur kami pada klan Li, itu saja sudah membuat hidup saya berarti." Jawab Haris tetap rendah hati.


Liang Jia terdiam, ia teringat pesan Li San yang tak boleh ia langgar. "Wei, masih ada satu hal penting yang tuan besar sampaikan padaku. Ini tentang hubungan Jun dan Yue Hwa."


Xiao Jun yang sejak tadi hanya jadi pendengar setia tiba tiba menatap Liang Jia dengan was was, entah apa yang akan dibahas tentang ia dan Weini.


Liang Jia tersenyum melihat ketegangan di wajah Xiao Jun. "Jun, kau tampak cemas padahal aku belum juga bicara."


"Maaf ibu." Ujar Xiao Jun seraya menunduk malu.


Liang Jia melirik Xin Er dan secara bersamaan dua wanita tua itu tertawa kecil, rasanya sangat puas melihat ekspresi Xiao Jun yang persis anak kecil saat ketakutan.


"Sebelum suami ku memanggil Yue Hwa di saat terakhirnya, ia sudah berpesan padaku tentang kelanjutan hubungan kedua anak kita. Beliau berpesan, jangan menunda pernikahan. Yue Hwa dan Jun tidak perlu menunggu masa berkabung tiga tahun. Setelah pemakaman selesai, ia ingin pernikahan kedua anak kita segera digelar. Apa kalian keberatan dengan permintaan terakhir tuan besar?" Liang Jia menatap Haris, Xin Er dan Xiao Jun secara bergantian.


Baik Haris maupun Xin Er mengangguk setuju, lain cerita dengan Xiao Jun yang masih diam tertegun. Ia terlalu bahagia, akhirnya jalan untuk mengajak Weini ke pelaminan semakin dipermudah. Saking bahagianya ia justru asyik dalam lamunannya hingga tak menggubris suara tawa ketiga orang tua yang merasa lucu melihat ekspresinya.


*Aku akan melamar Weini, hmm... Bagaimana caranya melamar gadis dengan cara romantis? Apa kubuatkan pesta kejutan biar dia terharu? ah tidak, itu sudah biasa... Gawat, kak Wen Ting dulu menantangku untuk melamar Weini dengan cara yang lebih romantis daripada caranya melamar kak Li An. Hmm... Aku harus bagaimana? Ide romantis ku sangat kaku....


🌹🌹🌹*


Noted : Pembaca setia, tolong bantu Xiao Jun memikirkan cara melamar Weini dengan romantis ya. Hayoo... keluarga imajinasi kalian ❤️❤️❤️