
H-6 sebelum pesta dansa...
Kesadaran Xiao Jun dan Bams masih cukup kuat setelah menghabiskan empat botol alkohol bersama. Berbagai topic pembicaraan sudah mereka bahas, hingga Xiao Jun merasa ini saat yang tepat untuk memberi win win
solusi bagi ketidak-nyamanan Weini.
“Jadi prom night dengan pesta dansa itu sangat penting untuk mengembalikan citra Weini? apa karena Stevan yang jadi nilai jualnya?” tanya Xiao Jun yang membelokkan arah pembicaraan dari strategi bisnis entertainmen menjadi masalah Weini.
Dahi Bams mengkerut, ia mulai paham modus bos muda mentraktirnya minum pasti dalam rangka membahas Weini. “Iya bos. Karena mereka berdua couple dalam drama, jadi euphoria fans di dunia nyata pasti akan
membangun citra mereka. mereka akan menjadi kecintaan lagi dan perlahan fans kalangan remaja bisa menerima image baik Weini lagi.”
“Poin utamanya pada chemistry mereka sebagai pasangan dalam drama kan, gimana kalau bintang tamunya diganti yang lebih mengejutkan? Orang yang selama ini terkenal tapi tidak terjamah sorotan media. Gimana?” Xiao Jun melakukan penawaran, ia sudah memikirkan resikonya tanpa penyesalan.
“Maksudmu? Orang yang lebih menarik dan terkenal dari Weini dan Stevan?” Bams masih tidak mengerti kehendak Xiao Jun.
Bos muda mengangguk mantap, “Pasangan dalam drama tidak lebih menghebohkan dibanding pasangan di kehidupan nyata. Aku yakin pamorku lebih tinggi dibanding Stevan. So… to the poin saja, aku yang akan menjadi pasangan dansa Weini. Keputusan ini tidak boleh diganggu gugat, sebagai pemilik saham terbesar aku merequest kemunculan perdanaku di depan publik.”
Bams tercengang, ia tidak tengah bermimpikan? Xiao Jun, sang CEO muda yang misterius dan enggan tersorot publik, sekarang sedang menawarkan diri muncul perdana dalam naungan acara mereka plus secara terbuka
menyatakan identitas sebagai kekasih Weini.
“OMG booosss! Ini tawaran paling menarik yang pernah kudapatkan. CEO muda paling bersinar mau buka diri dan mengakui punya hubungan dekat dengan seorang artis muda papan atas. Ini pasti akan menggemparkan jagat
hiburan. Bos jangan menarik ucapan ya! Weini pasti mendapat posisi teratasnya setelah kemunculanmu.”
Xiao Jun hanya tersenyum datar, selama bisa membantu Weini terlebih membuatnya merasa nyaman bekerja, ia bersedia menanggung dampak dari terbukanya jati dirinya. Bams sudah berhasil ditakhlukkan, ia masih punya
yang menunggu di ruang VVIP lain dalam tempat yang sama.
***
Stevan tak segan menikmati santapan yang dihidangkan untuknya meskipun orang yang menjamunya belum muncul. Ia tak perlu berlaku sungkan dengan seorang rival meskipun posisinya lebih terhormat. Ketika pintu
berderit dan sosok yang ditunggu hadir, Stevan menghentikan sejenak aktivitas mengunyahnya.
“Tuan rumah yang baik tidak akan membiarkan tamunya servis sendiri. Gue nggak nunggu lu buat makan, keburu dingin semua.” ujar Stevan tanpa rasa sungkan dan bersalah, ia membeberkan alasan walau tidak ada yang bertanya.
Xiao Jun datang tanpa ditemani siapapun, ia lega melihat inisiatif Stevan yang mulai pesta dulu. Toh, kali ini ialah yang terlambat datang lantaran urusan dengan Bams harus mutar-mutar di luar prediksinya. Terlebih ia cukup kenyang minuman dan mungkin tidak berselera meladeni makan bersama.
“Maaf terlambat setengah jam. Jangan sungkan, silahkan dinikmati.” Xiao Jun mempersilahkan Stevan melanjutkan makan yang tertunda sementara ia mengambil posisi duduk di sampingnya. Diraihnya sebotol air mineral untuk menetralkan tenggorokan kering yang terlalu banyak meneguk alkohol.
“Gue tahu maksud lo, ngomong aja langsung. Lu nggak mungkin sesantai itu menghabiskan waktu nongkrong am ague kalau nggak ada sesuatu.” Tebak Stevan.
Xiao Jun menahan senyum geli, Stevan selalu begitu setiap mereka bertemu. Aura persaingan yang kentara namun tidak mematikan. Setidaknya Xiao Jun tahu bahwa aktor itu punya pikiran terbuka dan hati yang baik.
“Santai dulu, tidak etis langsung membahas masalah dengan perut kosong. Aku punya banyak waktu senggang untukmu, kecuali kamu yang tidak berkenan.” Ujar Xiao Jun tetap santai.
“Perut siapa yang masih kosong di tengah malam. Gue tahu kok pasti lu mau bahas soal Weini yang ogah dansa.” Cecar Stevan. Ia cukup kenyang walau makanan yang dihabiskan belum separuh.
“Ya. Kamu sangat peka soal Weini membuatku salut.” Puji Xiao Jun. Tapi Stevan membalasnya dengan cengiran yang tak bersahabat.
“Weini nggak nyaman ama gue. Dia lebih milih keinjak kakinya saat latihan asalkan nggak liat muka gue.” Stevan pesimis, seeneg itukah wajahnya hingga Weini pun menutup mata saat berpasangan dengannya.
Xiao Jun lepas kontrol menahan tawa, meskipun dalam volume yang kecil namun tawanya terkesan mengejek bagi Stevan.
“Lucuu!” protes Stevan sewot.
“Aku rasa soal wanita, kamu lebih berpengalaman. Setahuku yang namanya perasaan itu ngak bisa dipaksakan, termasuk kenyamanan.” Ujar Xiao Jun mulai membahas hal serius.
Stevan terdiam, bukan karena ia tersindir namun ia mencoba merenungi lebih dalam. Sepanjang Weini bahagia dan tidak kehilangan senyum, ia bersedia korban perasaan. “Trus gue musti gimana?” tanya Stevan mulai pasrah menerima kenyataan tidak berkesan di mata Weini walau sudah berupaya meraih simpati.
Stevan memincingkan mata, bos muda itu licik juga memberi opsi seperti itu. Semua pasti sudah ia atur sedemikian rupa hingga ia penuh percaya diri memerintahnya.
“Apa imbalan buat gue? Kalo nggak menarik jangan harap gue mau.” Ujar Stevan yang masih mempertahankan gengsinya. Harus menyerahkan kesempatan bersama wanita yang tidak mungkin ia miliki kepada pasangan yang
sesungguhnya, jika Xiao Jun tidak bisa memberinya hadiah yang layak maka ia tidak akan melepaskan.
“Apapun yang kau mau.” Xiao Jun menyodorkan secarik cek kosong yang sudah ia bubuhi tanda tangannya. Dalam senyum yang manis namun menyorotkan kesan serius itu, ia mempersilahkan Stevan menulis angka di dalam
cek itu sesuka hati.
Meskipun terkejut, Stevan beracting tetap tenang dan dengan senang menerima cek itu. Selain keberanian menunjukkan perhatian, tidak membiarkan Weini mengalami kesulitan, bos muda itu bahkan rela menukar apapun
yang paling berharga demi membahagiakan Weini.
Cinta itu mesti ada ‘saling’
Saling mengasihi, saling mencintai, saling melengkapi, saling menerima, saling setia dan saling lainnya.
Akan sangat menyenangkan jika bisa mendapatkan itu semua
Cinta itu harus memiliki, kalau hanya mencintai tanpa dicintai…
Lebih baik jangan simpan perasaan itu lagi.
Dan aku hanya menjadi yang tersisih dari percintaan yang tidak akan pernah dimiliki
Menuju membebaskan hatiku darimu…
_Quote of Stevan_
***
Tubuh Weini bergerak mengikuti alunan lagu klasik dan gerakan yang sudah ia hapal luar kepala. Show must go on! Seberapa terkejutnya ia saat ini, terlalu banyak pertanyaan mengapa dan bagaimana yang membuatnya pusing namun ia harus menunggu dansa ini selesai untuk menemukan jawabannya.
“Kamu sangat cantik.” Bisik Xiao Jun mesra saat mereka berpelukan dalam dansa. Tangan kekar dan kuat itu merangkulnya dalam pelukan yang hangat.
“Kamu gimana bisa di sini?” Weini tak sabar lagi bertanya, kesempatan yang dekat dan suara musik yang keras pasti akan menutup bisikan mereka.
“Menjadi pangeranmu, tuan putri.” Xiao Jun berlutut dan mencium tangan Weini. sebuah serangan manis yang berhasil meluluh lantakkan perasaan Weini. Ia hanyut dalam romansa, di mana ia tampil anggun layaknya putri
dan berpasangan dengan pangeran tampan pujaan hati. Suasana yang memabukkan itu membuatnya merasa hanya berdua di dunia ini, tidak ada penonton, tidak ada kebisingan, hanya ada dia dan sang kekasih.
Sorak sorai dan tepuk tangan yang menggema dalam ruangan besar itu menepis khayalan Weini. Ia dan Xiao Jun memberi penghormatan kepada penonton sebagai ungkapan terima kasih. Keduanya saling bertatapan dan
tersenyum bahagia, beban di pundak Weini seakan lenyap semua. Hal yang dianggap beban rupanya berakhir penuh kejutan yang menyenangkan. Harus ia akui, Xiao Jun sangat hebat mengendalikan segalanya. Seakan semua pasti beres di tangannya.
Dina mendekati Host dan menyodorkan secarik kertas yang sudah diatur Bams. Meski semua masih terpukau akan penampilan si ganteng yang misterius dan muncul saat mata Weini ditutup, namun mereka masih penasaran
siapa identitas pria yang terlihat sangat cocok dengan Weini itu.
“Ehem…” Host sempat mendehem pelan, ia masih menata hati yang tak karuan saking kagumnya dengan pasangan barusan. Meskipun dipercaya sebagai pembawa acara, namun sesi pergantian pasangan tidak tertera dalam rundown acara hingga ia pun ikut terkejut.
“Kita beri tepuk tangan yang paling meriah untuk the real prince and princess kita, Mr. Li Xiao Jun dan Miss Weini.” setelah membaca nama itu, Host kondang itu tersentak kaget lagi. Naskah berikutnya tertahan sejenak saking ia masih tidak percaya dengan apa yang ia baca. Seisi ruangan di sana pun tak kalah heboh, mereka mulai berbisik bahkan ada yang menjerit histeris.
“Yang bener nih Li Xiao Jun? CEO paling terkenal di Asia Tenggara?”
***