OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 316 SEGELAS WINE PERSAHABATAN?



Hari H resepsi Li An.


“Terima kasih buat teman-teman wartawan yang hadir dalam prescon ini. Ya … Kesan saya selama dipercaya memerankan film laga bersama sederet aktor dan artis senior, serta rekan-rekan lain rasanya luar biasa. Tidak hanya sisi profesionalnya tapi kami yang terlibat selama satu setengah bulan dari proses syuting sampai syuting ini menjadi saling mengenal dan kekeluargaan banget. Thanks buat teman-teman, thanks untuk para produser,


sutradara, dan semua pihak. Nantikan premiere-nya bulan depan ya ….” Weini begitu bersemangat dan ceria di hadapan kamera, ia begitu luwes menjawab setiap pertanyaan seputar pekerjaan yang dilontarkan pers.


Sedari tadi prescon berlangsung lancar, silau kamera yang terus memotret para artis papan atas itu seakan tiada henti diambil dari berbagai sudut. Setelah puas bertanya kepada Weini, perhatian pers beralih pada sosok pendatang baru yang sangat memukau. Dari wajahnya saja mereka bisa menebak bahwa artis itu bukan berasal dari Indonesia.


“Grace, satu pertanyaan dong. Ada kesulian nggak selama meranin karakter kamu? Dan kerja sama dengan rekan lain gimana? Kamu nggak kesulitan dengan bahasa?” Tanya salah satu wartawan, ia meminta ijin bertanya satu pertanyaan tetapi malah menyebutkan lebih dari itu.


Grace tersenyum sebelum melontarkan jawabannya, ia menatap flash yang terasa sedikit menyengat saking terang dan banyaknya. “Pertama ikut casting peran ini, aku udah suka banget jadi ketika syuting tidak merasa kesulitan memerankan karakter itu.” Grace berhenti menjawab sejenak, ia harus mengontrol perasaan dan menata kata-kata yang akan dijadikan jawaban untuk pertanyaan rumit selanjutnya.


“Semua teman dan kru sangat baik, mereka sangat terbuka dan selalu menyemangatiku. Aku rasa mereka adalah keluarga keduaku di sini, setelah ini berlalu aku akan sangat merindukan mereka.” Grace menatap ke arah Stevan, Weini dan beberapa petinggi yang duduk sejajar dengannya serta yang duduk di kursi penonton. Senyum manis penuh kepalsuan disunggingkan dari bibir Grace, memang berat rasanya menjawab seperti itu, mengingat yang ia


rasakan justru perasaan sebaliknya.


Stevan sedikit menunduk untuk menyembunyikan senyumannya, ia merasa senang meskipun jawaban Grace sedikit berlebihan menurutnya. Grace baru menganggap mereka teman ketika hari terakhir syuting, namun demi menjaga nama baik tim maka gadis itu memberikan jawaban manis yang tak sesuai kenyataan.


“Lalu untuk masalah bahasa, karena aku suka tinggal di sini maka aku serius belajar bahasa Indonesia. Kurang lebih satu minggu untuk serius belajar demi mengikuti casting film ini.” Ungkap Grace, dan kali ini ia tidak berbohong.


Decak kagum dan tepuk tangan riuh seketika, Grace berhasil menuai takjub bagi semua yang hadir di ruangan itu termasuk Weini. Dengan hati lapang yang mengakui keunggulan Grace, Weini memberikan tepuk tangan dan


senyuman ke arah gadis itu untuk menyemangatinya. Grace yang melihat itupun membalas dengan senyuman yang tak kalah lebar. Sementara Dina hanya terpaku melihat keakraban mendadak dua gadis itu, ia masih terheran sejak kapan persisnya mereka berdua baikan.


Sesi tanya jawab dan jumpa dengan wartawan akhirnya kelar setelah menghabiskan waktu satu jam. Suasana yang tadinya sedikit formal kini berubah lebih santai dan hidup, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan menyantap hidangan yang disediakan. Lebih tepatnya, ini adalah puncak perayaan atas jerih payah para kru dan talent dengan pesta yang berbalut kemeriahan.


“Aku yakin film perdana non bakalan laris, toas!” Dina mengangkat gelas berisi Wine dan mengajak Weini bersulang.


Weini tersenyum, tangannya pun mengangkat dan mengetuk gelas Dina sebagai balasan toas. Setelah itu matanya celingukan mencari sosok Stevan dan Grace, senyumnya merekah saat mendapati kedua orang itu berdiri berdekatan dan sepertinya terlibat percakapan hangat. Dari sorot mata Stevan serta tingkah lakunya, Weini yakin bahwa Stevan sungguh jatuh cinta pada Grace.


“Kayaknya Stevan jatuh cinta tuh, non perhatiin nggak sikap dia belakangan ini rada beda loh. Aku sering mergoki dia lagi ngelirik Grace waktu di studio.” Bisik Dina, seolah tahu isi pikiran Weini yang juga berpendapat seperti itu.


“Mereka cocok kan, kak. Semoga aja cepat jadian.” Ungkap Weini, kali ini ia serius dengan doanya barusan.


Tiba-tiba seorang wartawan menyela pembicaraan hangat Weini dan Dina, apa daya di saat seperti ini Weini tidak punya pilihan menghindar dan harus melayani wartawan itu dengan terbuka. Dina mengawasi wartawan yang mulai wawancara seputar kesibukan Weini serta rencananya setelah proyek film ini selesai. Segalanya terlihat biasa saja, hingga sebuah pertanyaan mengejutkan terucap dari bibir wartawan itu.


“Mbak, gimana kabar kedekatan mbak sama pengusaha muda itu? Kapan mbak siap mengekspos kehidupan cinta mbak buat pemirsa di rumah?”


Air muka Weini yang awalnya ceria dan menyenangkan sekejab berubah. Dalam hati ia bertanya, perlukan ia membeberkan masalah pribadi sebagai konsumsi publik? Tidak bisakah ia mempunyai sedikit kehidupan normal layaknya orang biasa, khususnya untuk masalah perasaan? Weini tahu bahwa ini resiko pekerjaannya sebagai publik figur, namun bukan berarti semua aspek kehidupannya bisa dibuka untuk kalangan umum. Ia pun perlu ketenangan dan dihargai sebagaimana mestinya orang pada umumnya.


“Sorry mas, ganti topik pertanyaannya atau udahan aja. Udah banyak juga bahan wawancaranya kan, mbak Weininya udah lelah.” Gumam Dina yang langsung sigap menarik lengan Weini dan menjauh dari si wartawan. Itulah


gunanya seorang manager, Dina menjalankan tugasnya dengan baik kali ini.


“Nyaris aja, huft … Kepo banget tuh mas-mas.” Kesal Dina. Ia terpaksa meletakkan gelas yang masih separuh terisi Wine demi menyelamatkan Weini dari pertanyaan jebakan itu.


Weini bergeming, ia hanya membalas Dina lewat isyarat anggukan. Selalu ada celah bagi para pemburu media untuk mengulik kehidupan pribadinya, kelak Weini akan lebih berhati-hati agar tidak terjebak pertanyaan aji mumpung seperti itu. Jika tanpa Dina yang menjauhkannya, mungkin ia sudah menjawab pertanyaan itu secara spontan.


Grace menatap Weini dengan serius, ia bahkan melihat reaksi terkejut Weini ketika ditodong wartawan. Demi memberi perhatian lebih pada Weini, ia memberi Stevan sedikit kerjaan agar bisa lepas dari pria itu sejenak. Grace bersikap setenang mungkin dan santai, tangannya meraba sebuah benda kecil yang nyaris tidak terlihat oleh mata. Senyumnya mengembang pada siapa saja yang kebetulan bertatapan dengannya, namun tangannya tetap lincah


memainkan peranan penting pada sebuah gelas berisi Wine yang sudah ia persiapkan.


Sempurna. Dua gelas Wine kini berada dalam genggamannya, perlahan namun pasti kakinya melangkah gemulai mendekati Weini. Ia sudah melangkah sejauh ini, tidak ada kata mundur lagi. Jantungnya berdebar kencang, ia menutupi ketakutannya dengan senyuman dan berbekal kemampuan aktingnya. Tatapan tajam tertuju pada Weini, setajam hatinya yang terus mencari alasan agar ia sanggup menyelesaikan bagian terakhir ini. Weini berdiri


sendirian, menunggu Dina yang pergi mengambil minuman baru.


“Mari bersulang.” Grace mengejutkan Weini karena tiba-tiba muncul dan menyodorkannya segelas wine serta mengajaknya bersulang. Senyum gadis itu begitu meyakinkan, membuat Weini tidak bisa menolak ajakan tersebut


meskipun ia enggan meneguk minuman beralkohol itu lagi.


“Segelas wine sebagai awal persahabatan. Bersulang ….” Kini gelas itu sudah berpindah ke tangan Weini, tanpa ragu ia mengetuk gelas Grace sebagai balasan toas. Tawa kedua gadis itu begitu lepas, selepas perasaan Grace yang lega telah menyelesaikan misinya.


Sempurna ….


***