
Stevan berjalan tergesa-gesa dikawal oleh seorang pengawal yang diutus Haris untuk mengantarnya ke tempat Grace. Sebenarnya ia tahu jalan menuju ke sana, namun statusnya sebagai tamu tentu membatasi geraknya. Pengawal itu memberi anggukan hormat lalu meninggalkan Stevan di depan pintu kamar tempat Grace dan ayahnya tempati.
Tangan Stevan mengetuk pelan pintu kayu itu. Beberapa kali dengan ketukan intens hingga dibukakan dari dalam. Fang Fang heran melihat kedatangan Stevan yang tanpa pemberitahuan.
"Kamu ke sini sendiri?" Tanya Fang Fang kaget, ia takut Stevan mencuri kesempatan datang tanpa ijin.
"Ayah Haris yang mengutus pengawal untuk mengantarku ke sini. Aku mau menemui Grace sebentar." Ujar Stevan.
"Oh, masuklah." Fang Fang menggeser tubuhnya agar Stevan bisa masuk.
Grace berdiri saat melihat Stevan datang, sejak Weini pergi dari ruangan itu, ia kembali menemani Kao Jing yang mulai tenang. Sebelum pergi, Weini sempat bersalaman dengan Kao Jing. Perlahan kesadaran Kao Jing pun beransur membaik, ia tidak kebingungan serta ketakutan lagi.
"Grace...." Lirih Stevan menyapa kekasihnya. Kerinduan yang tak tertahankan lagi padahal mereka bertemu setiap hari namun dalam batasan yang membelenggu.
"Kamu kok ke sini?" Grace tampak tak nyaman mempertemukan Stevan dengan Kao Jing, ia melirik ke belakang menatap Kao Jing yang tampak menyoroti Stevan dengan serius.
Stevan tahu bahwa Grace panik, mungkin bukan seperti ini perkenalan Stevan dan calon mertuanya yang diharapkan Grace. "Aku ke sini untuk menjenguk ayahmu. Sekaligus melihat kondisimu...." Desis Stevan.
Grace terdiam serba salah, sebenarnya ia juga kasihan dengan Stevan yang pasti merasa asing di sini. Apalagi waktu Grace tersita penuh pada Kao Jing. Kini kekasihnya nekad mendatanginya kemari, Grace pun tak sampai hari menolaknya.
"Ng... ya sudahlah kalau gitu." Gumam Grace kaku.
"Aku boleh ngomong sama ayah kamu?" Pinta Stevan.
Grace mengerutkan dahinya, "Dia nggak ngerti bahasamu. Apa yang mau kamu katakan? Biar aku sampaikan."
Stevan terdiam sejenak, ia pun baru menyadari kendala bahasanya. Hanya karena Fang Fang, Grace, Haris, Weini dan Xiao Jun lancar berkomunikasi dengannya sampai Stevan lupa bahwa ia berbeda dengan yang lainnya.
Grace menunggu respon Stevan yang masih tampak berpikir, namun kini pria itu sedang menatapnya.
"Tolong katakan padanya, aku Stevan, temanmu di Jakarta dan ingin mengenalnya." Ujar Stevan yang akhirnya mengandalkan bantuan Grace sebagai penerjemah.
Grace tersenyum lalu mengangguk, ia menghampiri ayahnya dan menyampaikan apa yang Stevan katakan. Kao Jing tampak manggut-manggut, ia menatap Stevan tanpa ekspresi sehingga Stevan gugup dibuatnya.
Sorot tajam Kao Jing yang menatap Stevan membuat pria muda itu pesimis mendapatkan kesan baik di mata ayah kekasihnya. Begitu pula dengan Grace yang mematung grogi karena baru pertama kalinya ia mengenalkan seorang pria walaupun dalam status teman.
Di luar dugaan, Kao Jing menyunggingkan senyuman yang ditujukan untuk Stevan, menyusul sebuah anggukan dari pria tua itu. Stevan kembali bersemangat melihat respon Kao Jing, ia pun segera membalas senyuman Kao Jing lalu membungkuk hormat. Sebuah kebiasaan baru yang ia pelajari dari kediaman Weini, memberi hormat dengan cara seperti itu.
Grace menghela napas lega, sepertinya Kao Jing tidak menilai buruk terhadap Stevan. Ia pun menoleh pada Kao Jing seraya berkata, "Ayah, aku keluar sebentar ya nemamin dia." Bisik Grace.
Kao Jing mengangguk memberi ijinnya. "Pergilah, ngobrol di luar saja kalian." Ujarnya lembut.
Stevan tidak mengerti apa-apa hingga terkejut karena Grace tanpa malu-malu menarik tangannya. "Ayo ngobrol di luar." Ajak Grace.
Stevan menyempatkan untuk menatap Kao Jing dan membungkuk sebentar. Kao Jing hanya memberi lambaian tangan sebagai balasannya.
❤️❤️❤️
"Aku harus belajar lebih giat biar bisa bicara bahasamu." Ujar Stevan begitu semangat dengan tekadnya.
"Hmmm... tidak semudah itu, apalagi kalau tidak sering dipraktekkan. Lagian untuk apa kau seniat itu belajar?" Tanya Grace heran, ia menatap Stevan sambil terus berjalan menuju taman di paviliun itu.
"Supaya aku tidak perlu perantara kalau mau ngomong sama papa mertuaku." Gumam Stevan tampak serius.
Wajah Grace memerah, mendengar Stevan memanggil Kao Jing dengan sebutan papa mertua, membuat angan Grace melayang jauh.
"Hmm... kita belum nikah, jangan dipanggil papa mertua, nggak sopan kalau didengar mereka yang ngerti." Guman Grace malu malu.
Stevan berhenti berjalan dan Grace menyadari itu. Ia pun ikut menghentikan langkahnya, keduanya saling bertatapan dengan tubuh berhadapan.
"Saat ini memang belum, tapi akan segara menjadi kenyataan. Grace, aku serius mencintaimu, akan menikahimu, memberikan kebahagiaan dalam hidupmu. Tunggu aku melamarmu dengan resmi di hadapan ayahmu." Ucap Stevan serius.
Grace menghela napas, ia menatap ke arah lain saat Stevan meraih tangannya. Mereka masih berdiri di koridor sepi, belum sampai ke taman tetapi mereka terlanjur terjebak pembicaraan serius.
"Stev, aku juga cinta kamu, aku mau hidup denganmu. Tapi... aku tidak yakin bisa membahagiakanmu, kau tahu statusku sekarang? Aku dan ayahku sudah bukan bagian keluarga ini. Kami punya masa lalu yang tidak menyenangkan, aku takut... aku hanya akan merusak reputasi mu. Belum tentu juga kedua orang tuamu setuju." Lirih Grace, ia tidak mau egois mengikat Stevan lantaran sadar diri dengan statusnya.
Steven menggeleng kencang, itulah sebabnya ia bergegas mau menemui Grace karena Haris sudah menceritakan segalanya. Kejadian menegangkan di aula utama, yang sama sekali tidak dimengerti Stevan dan Dina, rupanya menyangkut masa depan calon ayah mertuanya.
"Aku tidak peduli siapa kamu di masa lalu, tidak peduli seperti apa rumitnya masalahmu di masa ini. Yang aku tahu... aku perlu kamu untuk membangun masa depan bersamaku. Kita masih punya harapan memiliki masa depan yang indah, asal kau percaya aku sanggup memberikannya untukmu." Stevan tak pernah sesungguh ini mengungkapkan perasaannya, dan tak pernah seserius ini mengharapkan jawaban.
Grace terdiam dengan mata berkaca-kaca, pernyataan yang mantap dari Stevan terdengar sangat menyentuh hatinya. Apalagi yang perlu diragukan dari ketulusan Stevan? Grace lah yang beruntung mendapatkan pria sebaik dia, dan Grace tak akan menyia-nyiakan hati yang sudah tulus mencintainya.
"Grace, sebelum aku melamarmu di depan ayahmu... Aku juga belum resmi melamarmu dengan cincin, maaf karena ini di luar perkiraanku. Tapi aku ingin memintamu, sungguh-sungguh memintamu... Maukah kau menjadi istriku?"
Ucap Stevan masih dengan tangan memegang tangan Grace.
Grace pernah sekali dilamar oleh pria lain, tapi tidak seromantis ini. Kemewahan lamaran terdahulu yang tidak berlandaskan cinta, nyatanya kalah berkesan dibandingkan lamaran sederhana yang hanya bermodal niat hati dan ketulusan. Hanya dengan itu saja sudah sanggup membuat Grace bahagia. Tanpa ada keraguan sedikitpun, ia pun menyuarakan jawabannya.
"Ya, aku bersedia."
❤️❤️❤️