
Stevan terbaring dengan mata terbuka lebar, tubuhnya memang terasa lemah namun ia masih bersemangat. Pandangannya menerawang menatap langit-langit ruangan yang serba putih. Stevan mencoba mengingat apa yang
terjadi sebelum ia tidak sadarkan diri. Sikap Weini yang takut-takut, pelukannya yang seperti mengandung aliran listrik dan melemahkan kesadarannya hingga ia tidak tahu apa-apa lagi. Stevan mengangkat pelan tangannya yang
tengah diinfus, ia mencoba menggerakkan jemari, pikirannya melayang memikirkan keanehan yang janggal tentang Weini.
“Akhirnya kau bangun juga, bikin cemas saja!” Dina tiba-tiba sudah berdiri di samping bangsal Stevan lalu celetuk sok bawel, padahal dari tatapannya tampak jelas ia sangat senang plus lega.
Weini tersenyum menatap Stevan, senyuman yang tidak perlu waktu lama untuk mendapatkan balasan. Stevan menyunggingkan senyum lebar padanya.
“Tahu gak, semua orang kalang kabut lihat kamu pingsan. Ya ampun, aku kira kamu sakit berat apa, tahunya cuman anemia. Tapi ngeri juga bias sampai pingsan gitu, lu udah enakan kan? Masih pusing? Mana yang sakit”
betapa cerewetnya Dina dengan segudang pertanyaan yang malah membuat Stevan bukannya menjawab tetapi tertawa kecil.
“Kak, kamu istirahat ya biar cepat fit. Dokter bilang kamu kelelahan karena anemia.” Ujar Weini pelan. Ia menunggu Dina diam sejenak kemudian gentian bicara pada Stevan.
“Ah, cuman kurang darah ya, hmm … bisa jadi sih, belakangan ini aku sering begadang main games.” Jawab Stevan santai.
“Lah, pertanyaanku belum dijawab tapi bisa gitu komenin Weini. Apaan sih nih orang? Btw, Bams liburkan syuting sampai kondisi lu memungkinkan buat kerja lagi.” Celetuk Dina, ia tidak sepenuhnya sewot hanya tampilan luarnya saja, dalam hati ia sangat senang sahabatnya sudah bisa bercanda dan tak terlihat seperti orang sakit.
Raut wajah Stevan berubah sedih mendengar yang disampaikan Dina, “Begitu ya?” ujarnya lemah.
“Nggak usah dibebanin lah yang penting lu cepet pulih. Banyak pikiran mulu kapan bisa normal tuh badan.” Dina segera menimpali saking takut Stevan terbawa pikiran gara-gara omongannya.
“Din, tolong bilang ama manager gue, gue nggak papa.” Pinta Stevan.
“Lah, dia kan bentar lagi juga ke sini. Lagi ngurus administasi … eh, bentar Bams telpon.” Dina bergegas keluar demi menerima panggilan masuk itu.
Tinggallah Weini dan Stevan dalam ruangan besar itu, IGD yang terkesan ekslusif lantaran hanya ada Stevan sebagai pasien. Seolah segalanya sudah disetting bak tengah syuting. Mereka berdua saling berpandangan namun
dengan pikiran masing-masing.
“Lu udah enakan kan?” Tanya Stevan, ia mencoba meraih tangan Weini.
Spontan Weini yang melihat gerakan lemah dari Stevan itu menjauh agar tidak terjangkau.
Reaksinya yang gesit itu membuat Stevan meringis. “Sepertinya lu udah fit, bisa lincah menghindar gitu. Baguslah, kalo belum fit gue bersedia dipeluk lagi.” Ujar Stevan sembari tertawa kecil.
Weini mengernyitkan dahi, perkataan Stevan terdengar seperti sindiran halus, atau dia tahu sesuatu? Weini terdiam, khawatir Stevan mencurigainya. “Kamu udah bisa bercanda, kak.” Jawab Weini salah tingkah.
Stevan menatap Weini dengan sorot mata teduh. “Gue nggak bercanda, asal lu bisa sembuh, gue bersedia pingsan lagi. Senang aja bisa berguna buat lu, ya … walaupun hanya itu yang gue bisa.”
Weini mendongak menatap keseriusan Stevan, pria itu berbicara seakan ia tahu rahasia Weini. “Maksudmu?” Tanya Weini masih tidak yakin dengan dugaannya.
Belum selesai menyampaikan tudingannya, ketegangan yang membuat jantung Weini memompa nyaris maksimal itu langsung buyar ketika Dina memotong pembicaraan Stevan. Gadis itu menjulurkan kepala dari celah pintu yang
dibuka sedikit, ponsel masih tertempel di telinga kanannya.
“Stev, pak sutradara tanya lu sanggup nggak masuk kerja besok? Managemen agak kacau nih, pihak statiun TV nggak mau program kita diundur lebih dari satu episode.” Ujar Dina yang masih terhubung dengan Bams.
Weini sangat berterima kasih pada Dina, walau tidak diutarakan dengan kata-kata namun managernya sungguh menyelamatkan di saat genting. Ia belum tahu harus menjawab apa pada Stevan dan di sela iklan dari
Dina ini, Weini punya waktu berpikir.
Stevan tertegun, ia sedikit menyayangkan mengapa Dina harus muncul di saat yang tidak diharapkan. Saking melamunnya hingga ia mengabaikan pertanyaan Dina yang mendesak. Dina malah salah kaprah mengira Stevan sedang memikirkan keputusannya.
“Aarrgghhh … lu ngomong sendiri deh ama dia.” Dina tak sabar lagi, ia masuk lalu menyodorkan ponsel pada Stevan. Biar Stevan yang memberikan jawaban langsung pada Bams. Walau masih kurang persiapan, Stevan tak
bisa menolak todongan ponsel itu. Ia terpaksa mengalihkan perhatian sejenak, Weini lolos sementara dari targetnya.
Sementara itu, Weini mendekati Dina sembari tersenyum manis, “Thanks kak.”
Dina bingung, tidak ada hujan dan angin tiba-tiba diucapkan terima kasih. “Buat apa non?”
“Buat segalanya.” Jawab Weini cepat dan singkat. Jawaban yang meninggalkan rasa kepo makin besar pada Dina.
Stevan manggut-manggut mendengar pembicaraan Bams, “Begitu? Oke … besok gue masuk. Oke … oke ….” Telpon itu berakhir, Stevan menyodorkan balik ponsel pada pemiliknya. Kini tatapannya kembali terfokus pada mangsa yang belum selesai diinterogasi.
“Ng … kak, boleh belikan aku minuman? Aku haus.” Weini tahu apa yang inginkan Stevan, ia mengambil inisiatif mengungsikan Dina ke tempat lain dulu untuk menuntaskan yang belum selesai. Stevan terkesiap melihat tindakan yang Weini lakukan, ia pun sebenarnya berniat meminta Dina meninggalkan mereka berdua sebentar dengan alasan yang sama.
“Gue juga titip dong, beliin roti sekalian ya. Laper gue.” Pinta Stevan sembari beracting kelaparan memegang perut.
“Nggak usah sok acting mentang-mentang pemain sinetron. Yaudah gue beli dulu, nggak ada tambahan lagi kan?” celetuk Dina sambil berjalan pergi, ia tidak sungguh-sungguh bertanya tentang titipan lainnya. Buktinya sebelum mereka memberi jawaban, Dina sudah menghilang dari ruangan itu.
Hening sekejab, suara Dina yang mendominasi ruangan kini sudah senyap. Weini menghadap Stevan dengan sorot mata tenang. “Lanjut kak, tadi mau bilang apa?”
Stevan nyengir, gadis itu sungguh tidak tertebak. Sebelumnya terlihat panik, sekarang malah menantang. “Weini, gue bisa menerima keanehan lu. Walaupun lu bukan orang normal, kita tetap sahabatan. So, lu jangan kuatir,
gue tetap jaga rahasia. Gue tahu lu bukan manusia kan? Jujur aja, lu makhluk apa? Gue janji gak bakal bocorin dan gak bakal takut.”
Deg! Dina menutup mulut dengan kedua tangan. Ia belum sepenuhnya beranjak dari sana namun menguping di belakang pintu, meski harus berjongkok agar tidak terlihat dari kaca pintu. Dina bisa merasakan ada yang aneh dengan dua orang sahabatnya itu, terkesan ingin membicarakan sesuatu yang enggan diceritakan padanya.
Yang benar aja non Weini bukan manusia? Trus dia apa dong? Dina membatin dengan pertanyaan aneh-aneh yang muncul dari pikirannya.
***