OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 23 INIKAH RASANYA… TERABAIKAN



Cuaca mendung pekat mengawali pagi yang seharusnya hangat dan cerah. Weini berandai jika ia masih seorang gadis sekolahan biasa dan tidak terikat kontrak kerja yang mengharuskannya stripping tanpa mengenal weekend. Mungkin saja ia sudah bersiap belanja ke pasar tradisional dan mencuci pakaian, kenyataannya sekarang ia malah menunggu Haris mengantarnya ke lokasi shooting di Cibubur. Pria itu bersikeras menemaninya bekerja karena terlalu cemas membiarkan Weini keluar kota tanpa sendiri. Padahal Weini sampai lelah menjelaskan bahwa ia aman bersama tim kerjanya.


“Ini semua gara-gara kejadian beberapa hari lalu. Kebebasanku jadi terbatas sekarang.” Weini menggerutu, dampak penyerangan pria bayaran Lisa tempo hari alhasil menumbuhkan proteksi berlebihan dari Haris. Ia rela


menemani Weini seharian shooting di akhir pekan. Weini betul-betul canggung dibuatnya.


“Ayo berangkat, aku sudah menyiapkan bekal makan siang kita.” Haris mengunci pintu lalu membawakan helm untuk Weini.


Weini memakai pelindung kepala itu tanpa berkomentar. Resiko memakai motor menuju kantor yang kurang lebih menghabiskan waktu satu jam perjalanan mungkin akan membuat mereka basah kuyup. Meskipun hujan belum turun, namun cuaca begitu mendukung rintik itu turun nantinya.


“Tenang saja, nggak akan hujan. Nanti kamu tak perlu cemas kehujanan atau kepanasan lagi kemanapun. Kamu sudah cukup umur membuat SIM, nanti kubelikan mobil.” Ujar Haris sembari menstarter motor maticnya.


“Aku masih suka pakai motor. Uangnya ditabung saja pak Haris.” Weini membonceng di atas kendaraan roda dua yang mulai melaju.


“Motor lebih cocok aku yang pakai, kamu pakai mobil lebih aman.”


Weini enggan menjawab lagi. Ia kenal watak Haris, percuma melawan jika ia sudah bersikeras. Lagipula memakai mobil tidak terlalu buruk. Ia juga sudah berpenghasilan besar meskipun mungkin hanya sesaat.


***


“Papi, plissss! Minta Om Rama kasih peran utama buat aku. Apapun deh plis, aku pengen jadi artis.”


Si manja Metta ternyata serius membuktikan kesombongannya. Semula ia sangat yakin bisa menyaingi bahkan mengungguli Weini dalam debut artis. Bermodal latar belakang keluar terpandang dan berada, ia optimis mendapat jalan pintas untuk meraih opsesinya. Namun reaksi ayahnya yang tidak mendukung, sepertinya akan meruntuhkan kepercayaan diri Metta menjadi selebriti.


“Ayah bilang tidak tetap tidak. Kalau kamu sangat ingin terjun di bidang itu, jangan andalkan koneksi ayah. Usaha sendiri dari nol untuk buktikan kamu pantas dapat dukungan orang dalam.”


Metta merengek persis balita di hadapan ayahnya. Segala hal yang dia inginkan selalu diberikan, tetapi untuk keinginan yang satu ini, mengapa ayahnya tegas menolak.


“Papi, ku mohon kali ini tolonglah. Aku janji tidak akan mengecewakanmu.” Metta memohon sembari berlutut. Namun ayahnya bahkan enggan meliriknya.


“Kamu terlalu manja. Sebagai anak tunggal, kamu terlalu kami manja. Jika begini terus, kamu tidak akan pernah mandiri. Jika keinginanmu kuat untuk profesi itu, perjuangkan sendiri. Papi tidak bisa menopang kakimu terus.”


Metta mematung dalam kesunyian. Keping demi keping khayalannya untuk mengalahkan Weini rontok tersapu bayangan ayahnya yang berlalu.


***


Minggu pagi yang berwarna abu-abu, mendung pekat disertai kilatan petir yang intens dalam beberapa menit. Xiao Jun menatap kelamnya langit, dengan kondisi seperti ini hujan tak kunjung turun. Dibukanya jendela kamar dan menjulurkan tangan kanan keluar. Angin sangat kencang bertiup, aroma air pun tecium jelas.


“Pasti ada seseorang yang menghalangi hujan.” Xiao Jun memejamkan mata, berkonsentrasi merapalkan mantera. Sebuah energi amar-samar ia rasakan. Xiao Jun semakin terfokus mencari sumber energi itu hingga sekeliling


terasa seperti ruang hitam tanpa sekat dan batas. Ia mulai masuk ke dimensi lain, mendeteksi aura apa yang mengitari.


“Li Jun.” bisikan suara wanita terasa sangat dekat hingga mengejutkan Xiao Jun. Konsentrasinya buyar, ia sangat terganggu dengan suara yang terdengar familiar itu. Siapa sebenarnya wanita yang memanggilnya dari alam bawah sadar?


“Paman.” Xiao Jun memanggil Lau yang berada di luar kamar.


Lau bergegas menghampiri. “Ya, tuan. Ada yang bisa saya lakukan?”


“Apa gadis itu sudah setuju menemuiku?” Xiao Jun menaruh harapan penuh agar ia bisa bertemu Weini lagi.


“Maaf Tuan, belum ada perkembangan lagi sejak kabar yang disampaikan managemen bahwa nona Weini menolak kompensasi keamanan yang tuan tawarkan.”


“Gadis itu keras kepala juga.” Xiao Jun mengalihkan pandangan keluar jendela lagi. “Terima kasih paman. Aku cukup puas. “


Lau menyadari bahwa tuannya kecewa, terlebih rutinitas yang ia jalani terasa sangat membosankan. Di hari minggu jika tidak ke kantor, maka tuan muda akan menghabiskan waktu membaca dan berlatih sihir di apartemen.


“Tuan, bagaimana kalau hari ini kita jalan keluar?” Lau berharap mendapat jawaban ‘Ya’


“Baiklah kalau begitu. Saya tidak akan mengganggu. Permisi Tuan.” Lau membungkuk hormat kemudian keluar dari kamar.


Xiao Jun mengambil ponsel yang tergeletak di kasur. Ia menscroll layar untuk menemukan kontak seseorang. Pencariannya berhenti pada satu nama, Xiao Jun larut dalam kebingungan antara menelpon atau tidak. Sedetik


kemudian ia menekan tombol telpon berwarna hijau.


Memanggil Nona galak…


***


“Cut!!! Oke kita break sejenak!”


Kalimat itu terdengar sakti bagi Weini. Ia langsung merasa plong setelah teriakan Bams mengudara. Shooting kesempatan ini terasa kaku, ia belum biasa diperhatikan terus oleh Haris nyaris di setiap adegan. Kini ia bisa bernapas lega sejenak, Haris tak lagi menghujamkan sorotan ke arahnya.


“Hei, capek ya? Nih…” Steven muncul menyodorkan sebotol air mineral dingin. Weini canggung dengan pria itu meskipun dalam acting mereka kerap dipuji memiliki chemistry yang kuat, nyatanya setelah kelar shooting, Weini merasa pria itu masih asing baginya.


“Thanks” Weini menyambut pemberian Steven. Saat ia hendak membuka tutup botol, tiba-tiba Haris muncul dari belakang dan berdehem.


“Halo anak muda.” Sapa Haris sok ramah.


“Halo, Om. Saya Stevan, lawan main Weini. Om ayahnya Weini kah?” Stevan menjulurkan tangan untuk sebuah awal perkenalan. Ia harus memberi kesan pertama yang baik di mata pria itu.


“Benar. Saya Haris.” Tangan pria muda itu disambut hangat oleh Haris. Kesempatan inilah yang ia tunggu untuk mendeteksi isi hati si pemilik tangan.


Stevan sumingrah mendapat sambutan ramah dari Haris. Rasanya seperti ketiban durian runtuh, Weini membawa ayahnya ke lokasi hingga ia bisa mencoba meraih simpati orang terdekat gadis itu sekarang.


“Weini, makan siangmu sudah kusiapkan. Oya, Steven mau ikut gabung?” tentu Haris hanya basa-basi.


“Tapi,kita dapat jatah makan dari sini pak.” Weini galau, mengapa ia harus diperlakukan seperti anak SD di hadapan khalayak. Ia sungguh tak nyaman berada dalam kondisi ini.


“Silahkan, Om. Saya nggak enak gangguin.” Steven melambaikan tangan sebelum berbalik meninggalkan Weini dan Haris.


Haris menatap Steven tanpa ekspresi, ia berjalan kembali ke tempat duduk. Weini menyusul langkah Haris tanpa sepatah kata. Mau sampai kapan Haris mengikuti kegiatannya? Tak mampu berpikir keras lagi, Weini langsung membuka botol minum yang diberikan Steven.


“Biar aku yang minum. Kau yang ini saja.” Haris menyerobot botol dari tangan Weini lalu menyodorkan air bekal dari rumah.


“Segitu banget sih, Pak.” Protes Weini kesal tapi tidak digubris Haris yang sudah meneguk air dingin itu. Weini tergiur kesegaran air itu di tengah kelelahan fisiknya.


Ah sudahlah… batin Weini mengikhlaskan diri dengan keadaan. Ia belum cukup lapar untuk menyantap bekal dan meraih tas ranselnya. Sebuah ponsel pintar lebih menarik ketimbang mengisi perut. Saat password ponsel


tersinkron, Weini terkesiap melihat jumlah Miscall dari sebuah nomor asing.


“Tujuh miscall. Heh? Siapa ini.” Weini heran. Sepenting itukah hingga nomor tidak dikenal itu menghubunginya lebih dari tiga kali. Lebih baik ia segera menghubungi balik.


“Sepuluh menit lagi on stage.” Teriak Bams memberi kode.


“Sebaiknya kau segera makan jika tidak mau kumat maag lagi.” Haris mengingatkan lagi perihal makan.


Weini tak kuasa menolak lalu terpaksa memakan bekal dalam wadah plastik merah yang sering ia bawa ke sekolah. Niat menghubungi nomor asing itupun tertunda mungkin hingga ia kembali ke rumah.


***


Di sisi lain, Xiao Jun tengah menyesali kekhilafannya yang menekan nomor Weini hingga tujuh kali. Mengapa ia tidak segera berhenti saja setelah panggilan pertama terabaikan hingga ia tidak perlu merasa kesal. Semakin gadis itu sulit didekati, semakin ia merasa harus mendekatinya. Ia harus berganti cara agar gadis itu mau menemuinya. Segera!