OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 116 PERUBAHAN STATUS YANG DRASTIS



Dina sengaja menjemput Weini ke rumah, padahal Weini bisa saja meminta supir mengantarnya ke lokasi syuting. Alasannya karena ia terlalu kangen pada sang artis, padahal mereka hanya berpisah dua hari. Rencana berlibur empat hari di Guangzhou batal lantaran Xiao Jun mendadak ada kepentingan di kantor


“Welcome back my super star.” Pekik Dina girang sembari melebarkan kedua tangannya hendak memeluk Weini.


Weini menyambutnya dalam pelukan hangat, keduanya saling tertawa gemes. Dina melepas pelukan itu dan dengan cekatan menyadari cincin yang tersemat di jari manis Weini. Diraihnya jemari Weini lalu dipelototi dengan jelas, matanya terbelalak saking getolnya


“Ciyeeee… ada yang terlewatkan nih. So? Udah lamaran nih ciyeeeeee…” Dina tidak henti meledek Weini.


“Kak Dina udah deh.” Protes Weini malu-malu, ia serba salah gara-gara godaan Dina.


Raut wajah Dina yang ceria seketika berubah manyun, ia baru saja teringat apa yang harus ia lakukan. “Jadi kalian sudah lamaran diam-diam, trus aku? Nggak ditraktir makan? nggak dikasih reward gitu?”


Pikiran Dina menerawang jauh, membayangkan apa saja yang akan ia todong pada Xiao Jun. sedikit atau banyak, yang jelas ia sudah berperan dalam suksesnya hubungan kedua bosnya. Iphone terbaru? Hmmm… tiket jalan-jalan


keluar negeri? Hmmm… uang cash aja? Hmmm…


“Kak? Ayo berangkat keburu macet ntar.” Weini membuyarkan pikiran Dina yang sedang berkhayal indah.


Mereka berangkat menuju kantor di kawasan selatan Jakarta. Sesampainya di sana, ada Bams yang tak sabar menunggu kedatangan Weini. Pak sutradara itu punya berita bagus untuk Weini dan ia yakin kabar ini pasti menyenangkan bagi sang artis.


“Weiniiiii… my dear akhirnya kembali. Sini sini… gue punya kabar keren buat lo.” Bams menunjuk sebuah sofa kosong di sampingnya.


Mereka merapat di sofa melingkar di ruangan Bams, “Barusan ada produser film nawarin lu buat main film layar lebar. Genre action dan lu ditawari jadi peran utama wanita. Ini kesempatan bagus, lu kan bisa kungfu. Kalau


gue sih ambil aja, tau deh lu nya.” Ujar Bams semangat.


Dina langsung semangat, “Wow non, akhirnya ada tawaran main film. Sikat aja non, kapan lagi coba… bayaran film fantastis loh.” Dina semangat mengompori Weini, namun ia memang bicara sesuai kenyataan lantaran ia cukup berpengalaman tentang asam garam dunia entertainment.


Weini menggosok dagunya beberapa kali, ia mempertimbangkan tawaran serta saran dari dua orang terdekatnya. Selama ini ia memang dominan memerankan protagonist yang lemah lembut, feminim, dan sering berurai air mata. Kalau dipikir memang kurang cocok dengan dirinya yang energik, cuek dan apa adanya. Apalagi genre action, ia menguasai basic kungfu dengan baik.


“Hmmm… menarik sih, kapan castingnya kak?” tanya Weini.


Bams menepuk tangannya satu kali, ia sangat excited mendengar jawaban Weini. “Kabar baiknya khusus buat lu nggak perlu casting. Asal bilang oke langsung deal lu peran utamanya.”


“Yang bener kak? Segampang itu?” Weini berbinar mendapat kemudahan seperti itu. Teringat awal mula kariernya yang harus casting untuk mendapatkan peran dan iklan, sekarang ia hanya perlu berkata ‘ya’ atau ‘tidak’ pada tawaran yang masuk.


“Oke aja pak sutradara. Aku siap bicarakan dengan klien soal jadwal dan pembayaran.” Dina yang lebih semangat menjawab padahal Weini masih mikir berkali-kali.


“Eh? Kok cepet banget okeinnya kak?” tanya Weini polos.


“Kesempatan nggak datang dua kali non, kalau kelamaan rejeki keburu kepatok ayam hahaha.” Seru Dina seenaknya.


Dina bertepuk tangan kegirangan, diskusi itu berakhir singkat dengan hasil memuaskan. “Hari ini banyak hal menyenangkan, bener-bener hari keberuntungan Weini. Ini kali ya yang dinamakan rejeki orang mau merid


hahaha.”


Bams memperbaiki posisi duduknya yang setengah berbaring, ceplosan Dina barusan terdengar mengejutkan. “Whaat? Siapa yang mau merid?”


Weini kelabakan, Dina jingkrak-jingkrak kegirangan. “Siapa hayoo? Masa aku yang jomblo tau tau merid? Hahaha… tuh loh liat cincin di jari manisnya.”


Mendengar teriakan itu, Weini bergegas menyembunyikan tangannya ke belakang agar tidak jadi sorotan. Bersamaan dengan teriakan Dina yang nyaring, Stevan yang hendak masuk bergabung pun ikut mendengar dari depan pintu. Weini melihat ekspresi kecewa dari sorot mata Stevan ketika tatapan mereka beradu.


“Weini… lu baru lulus SMA udah mau merid? OMG si bos udah ngebet banget apa?” Bams menepuk jidatnya, baru saja ia berpikir akan leluasa mengembangkan karier Weini pasca tidak terikat urusan sekolah, sekarang malah lebih parah ia bakal jadi istri orang. Banyak fans Weini yang pasti akan patah hati atau berhenti menyukainya.


Melihat kehadirannya ketahuan, Stevan tak mengelak dan masuk bergabung dengan yang lain. Diliriknya tangan Weini yang masih disembunyikan di belakang punggung, gadis itu serba salah jadi pusat perhatian seperti itu.


“Apa salahnya nikah muda? Selama dia masih bagus berkarya, yang dinilai kan kerjanya bukan statusnya.” Celetuk Stevan membela Weini yang sedang dicecar Bams.


“Ini lagi bocah tau tau masuk nimbrung komentar.” Protes Bams tidak senang dikritik.


“Kan gue ngomongin kenyataan, lagian lu aneh bro. Dulu gue deketin dia juga lu sewot, nggak boleh cinlok, lha sekarang dia ama pengusaha juga lu sewot. Jangan-jangan lu naksir ama dia?” ujar Stevan blak-blakan walaupun niatnya bercanda tapi apesnya Bams menjitak kepalanya lantaran tidak terima dituding seperti itu.


“Naksir pala lu peyang. Ah bodo amat dah, hidup hidup lu gue nggak urusan.” Bams menyerah, ia keluar duluan meninggalkan ketiga orang yang masih mengamati punggungnya berlalu.


Stevan tersenyum menatap Weini, meskipun hatinya perih mendengar kabar barusan namun ia tetap harus mengucapkan selamat padanya. Gadis yang masih menduduki posisi di hatinya dan tidak pernah ia miliki. “Congrate ya, jangan lupa undang gue.”


Setelah mengatakan itu, Stevan berbalik dan melambaikan tangan. Entah sejak kapan ia punya kebiasaan begitu, ketika hatinya terluka atau tidak mampu melihat kenyataan maka ia akan berbalik menyembunyikan perasaannya dan pergi dengan lambaian tangan.


Dina dan Weini saling berpandangan, dua pria keluar dengan ekspresi berbeda gara-gara rumor yang disebar Dina.


“Gara-gara kak Dina nih, mereka jadi salah paham. Aku kan baru tunangan, belum ada rencana nikah dalam waktu dekat. Habis lah aku kalo mereka sampe mikir sejauh itu.” Weini menghela napas, kadang managernya bisa bertingkah dewasa tapi sekali sifat kenakanannya kumat bisa mengacaukan segalanya.


“Hahaha ya selow aja non. Setidaknya kita jadi tahu gimana reaksi mereka andai itu terjadi hahaha…” jawab Dina membela diri, ia tidak merasa bersalah sama sekali.


Weini mencerna sejenak khayalan Dina, membayangkan betapa cepatnya proses hubungannya dengan Xiao Jun. Bermula dari tahap perkenalan yang menyebalkan sampai fase tarik ulur hingga akhirnya mereka saling mengakui


perasaan dan berakhir dengan pertunangan. Apa semudah itu urusannya? Weini berharap hubungannya bisa berjalan lancar hingga suatu saat Xiao Jun memintanya secara resmi menjadi pendamping hidup.


***