
Setahun lebih berlalu sejak terakhir Xiao Jun meninggalkan kediaman Li, subuh ini ia kembali menginjakkan kaki di pelataran istana megah milik sang penguasa, Li San. Suasana masih sangat sepi, hanya ada dua penjaga gerbang yang belum menyadari keberadaan Xiao Jun. Hingga ia berjalan mendekati pintu penghubung dunia luar dengan kediaman Li, dua penjaga itu bergegas menyambutnya.
Xiao Jun mencegah mereka memekikkan kedatangannya, ia tidak perlu sambutan formal yang memuakkan. “Jangan berisik, mereka pasti masih tidur.” Ujar Xiao Jun.
Tampilannya tidak selayaknya seorang putra mahkota klan Li, ia pulang tanpa membawa koper, hanya setelan kemeja lengan panjang dan celana hitam serta sepatu pantofel hitam mengkilat yang menempel di tubuhnya. Tidak ada pengawalan ekstra, ia menyodorkan diri apa adanya dan mengandalkan kekuatan sendiri.
“Hormat kepada tuan muda, panjang umur… panjang umur.” Dua penjaga itu berlutut dan mengucapkan salam dengan nada bicara pelan.
Xiao Jun merapat ke pos penjaga untuk duduk sejenak, sebelum menghirup udara penat di dalam lebih menarik ia hirup udara segar di luar sepuasnya. “Kemarilah, jangan berlutut terus. Temani aku minum.”
Dua botol arak putih di meja pos tampak menggiurkan, alkohol itu terasa seperti air putih di saat tegang begini. Tanpa menunggu dilayani, Xiao Jun mengambil gelas kecil yang disusun terbali lalu menuangkan arak dan meminumnya habis dalam seteguk. Melihat tingkah tuan muda itu, kedua penjaga bergegas melayani untuk
gelas berikutnya.
“Selama aku pergi, apa yang terjadi di sini? Ah… kalian masih jadi penjaga gerbang.” Xiao Jun mengorek informasi dari mereka, setidaknya ia menyiapkan kuping dulu barangkali ada sesuatu yang penting disampaikan para penjaga setia itu.
“Iya tuan muda, sangat susah untuk naik jabatan di sini. Kami seperti orang buangan, tuan besar tidak pernah memperhatikan kami selain memberi gaji dan jatah beras. Tapi tuan muda terlihat lebih tampan, anda malah bisa tersenyum sekarang. Di luar negri pasti sangat menyengangkan ya tuan?” ujar salah satu penjaga, kedua pria
penunggu gerbang itu tersenyum girang. Seorang tuan muda bersedia duduk di pos dan minum bersama sungguh merupakan kehormatan bagi mereka.
“Begitulah…” Seru Xiao Jun, ia tidak memungkiri berada di Jakarta membuat pikiran dan hatinya tenang. Sebuah hal yang mustahil ia dapatkan di istana semegah ini.
“Ah, sejak aku pergi apa ada yang berubah? Bagaimana kabar nyonya besar dan ibuku?” Xiao Jun masuk ke pertanyaan utama, ia ingin mendengar dari sumber yang lebih bisa dipercaya kata-katanya.
Salah satu penjaga melirik ke rekannya, sepertinya pertanyaan Xiao Jun cukup berat dijawab. “Itu… panjang ceritanya tuan muda. Sejak anda pergi, ke-empat nona besar dipulangkan dan nona pertama sudah menikah. Ah tuan tidak pulang saat itu, pengawal Lau dan pelayan Xin hampir dihukum tuan. Lalu…” penjaga itu ragu-ragu meneruskan.
Xiao Jun kian penasaran, cerita yang tanggung itu merisaukannya. “Lalu? Teruskan saja. Aku jamin keselamatan kalian.”
“Lalu ada tuan Li Chen Kho yang sudah lama tinggal di sini. Dia sekarang memegang perusahaan menggantikan anda.” Seru penjaga yang satunya, ia lebih pasif sejak awal namun mendapat suntikan keberanian hingga berani bersuara.
“Li Chen Kho? Aku kurang tahu siapa dia.” Ujar Xiao Jun.
“Dia keponakan tuan besar, dia tinggal di Amerika dari kecil. Kerjanya hanya main dan jalan-jalan, tapi sekarang tuan besar merekrutnya jadi direktur.” Seru si penjaga makin terbuka.
Xiao Jun manggut-manggut, Li San mungkin sudah merencanakan dengan matang jika ia tidak berguna lagi maka posisinya akan digantikan oleh Chen Kho. “Ibuku gimana? Apa dia baik-baik saja?”
Lagi-lagi dua penjaga itu saling bertatapan, “Tuan muda nggak tahu? Lalu anda pulang sepagi ini sendirian apa bukan untuk menolong pelayan Xin?”
Betapa terkejutnya Xiao Jun mendengar pertanyaan itu, ibunya perlu pertolongan? Pasti Li San melakukan sesuatu pada ibunya yang malang. “Apa yang terjadi pada ibuku?”
“Cepat ceritakan, kalian tidak akan dihukum hanya karena memberitahuku! Jika tidak aku akan berontak dan masuk mencari ibuku.” desak Xiao Jun dengan ancaman yang bukan main-main.
“Ampun tuan muda. Ampuni kami… pelayan Xin sejak kemarin dikurung dalam tahanan bawah tanah dan nyonya besar juga dikurung di dalam kamarnya. Mohon jangan libatkan kami, tuan…”
Xiao Jun langsung berdiri, tangannya mengepal kencang. Kemarahannya membuncah, Li San keterlaluan selalu menggunakan dua orang itu sebagai pesakitan. Cukup sudah ia berdiam diri, semut kecil yang selalu diinjak suatu saat juga bisa menggigit kaki raksasa yang menginjaknya.
“Buka gerbang dan cepat laporkan kedatanganku!”
***
Tidak biasanya Chen Kho datang ke aula utama tempat Li San bersantai sepagi ini. Hanya karena ia tahu ada seseorang yang ditunggu Li San akan datang pagi ini, maka ia tidak mau melewatkan momen itu. Wajah anak emas Li San yang dibenci oleh kedua putrinya, Chen Kho masih menebak-nebak seperti apa perawakan pria bernama Xiao Jun itu.
“Paman belum menghubungi ayahku soal perjodohan dengan Grace?” Chen Kho secara halus mengingatkan Li San rencana yang sudah mereka bicarakan kemarin.
“Belum. Aku mau dengar dulu penjelasan Xiao Jun. Apa Grace bersedia dijodohkan? Dia dibesarkan dengan budaya barat. Siapa tahu ia sudah punya kekasih?” jawab Li San, sejujurnya ia masih ragu dengan rencana itu tetapi semua tergantung bagaimana sikap Xiao Jun nantinya.
Chen Kho mengerti keraguan pamannya, pria tua yang kejam itu ternyata sangat mengistimewakan Xiao Jun hingga masih berusaha memberikannya kesempatan berulang kali meskipun tahu sudah pernah dibohongi. “Grace tidak akan menolak, walau besar di luar negeri tapi selera pria idamannya tetap yang keturunan Asia. Apalagi
ini menyangkut kepentingan klan Li, dia pasti bisa mengerti. Sepertinya paman yang masih berat hati menjodohkan putra paman pada Grace?” Chen Kho menuding balik pada Li San.
Tebakan Chen Kho memang tepat tetapi bukan Li San namanya jika bersedia mengakui begitu saja. “Lihat saja nanti seperti apa itikad baik Xiao Jun mengakui kesalahannya.” Ujar Li San tanpa memberi jawaban pasti terhadap keputusannya.
“Jangan lupa, dia sudah beberapa kali membohongi paman. Itu yang bisa kita buktikan, siapa yang tahu masih banyak kebohongan yang belum terungkap? Paman harus tegas, tindakan dia tidak dibenarkan. Demi gadis itu dia mangkir menghadari pesta kakaknya, baru pacaran saja ia berani mengutamakan wanita itu ketimbang
keluarga. Apalagi nanti setelah ia punya semua kekuasaan?” Chen Kho bersitegang mempengaruhi Li San,
rencananya akan berantakan bila hati pria tua itu luluh.
Li San tampak tidak senang dengan sikap sok tahu keponakannya, selama ia masih hidup hanya dirinya yang boleh menjadi dictator di rumah ini. Tidak seorangpun termasuk pria kemarin sore itu yang bisa mengaturnya. Li San enggan menjawab, ia hanya perlu menunggu anak kesayangannya datang. Akan selalu ada kesempatan
untuk Xiao Jun asalkan ia bersedia tunduk padanya.
Seorang pengawal berlari masuk menghadap Li San, “Hormat pada tuan besar, tuan muda Li Xiao Jun datang menghadap.”
Seulas senyum simpul tersungging dari bibir Li San, “Persilahkan masuk!”
***