OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 163 MENGANDALKAN KEMAMPUAN MUSUH



 Menantikan hari perjodohan tiba membuat Xiao Jun tidak sabaran, pasca sesi pertemuan kemarin Xiao Jun tetap diperlakukan seperti tahanan. Ia belum diperbolehkan menjenguk Xin Er dan Lau bahkan tak boleh beranjak dari tempat tinggalnya. Di jaman semodern ini, ia masih merasakan dipingit layaknya anak gadis ketika mendekati


hari pernikahan. Cinta bukan lagi prioritas utama Xiao Jun, secinta apapun ia pada Weini tetapi rasa tanggung jawabnya pada Xin Er mengalahkan segalanya.


Xiao Jun mencoba membuat jimat mantera untuk hipnotis, jika berhasil barangkali bisa dipakai untuk mengalihkan perhatian para pengawal agar ia bisa mengunjungi Xin Er. Ia mengandalkan ingatannya yang sempat membaca buku tua warisan leluhurnya. Sayangnya buku itu tertinggal di Jakarta, jika tidak Xiao Jun pasti memanfaatkan kesempatan sendirian ini untuk memperdalam ilmu sihirnya.


“Tuan muda Chen Kho tiba.” Suara teriakan pengawal langsung membuat Xiao Jun gelagapan. Ia secepat kilat menyembunyikan kertas jimat dalam tumpukan buku.


“Kenapa dua bersaudara itu sangat merepotkan.” Xiao Jun menggerutu, tamu yang tak diharapkan itu silih berganti mendatanginya. Sangat merepotkan berhadapan dengan orang-orang yang tidak ia sukai. Ia ingin menolak kedatangan Chen Kho namun pria itu keburu masuk tanpa sopan santun seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya.


Chen Kho menyunggingkan senyum penuh muslihat, “Tuan muda Xiao Jun, apa kedatanganku mengejutkanmu? Ha ha ha … ayolah, jangan menganggapku seperti musuh, sebentar lagi kau akan memanggilkan kakak ipar.


“Ada kepentingan apa langsung saja! Maaf aku agak sibuk, tolong jangan berlama-lama di sini.” Seru Xiao Jun tak memerdulikan pernyataan sok akrab barusan.


Chen Kho malah tertawa dan menuang teh dalam cangkir lalu meminumnya. “Kau terlalu serius jadi orang, sibuk yang dibuat-buat padahal kau masih jadi tahanan rumah. Aku tak akan mengganggu waktu melamunmu, tapi kedatanganku kemari justru untuk membantumu menghabiskan waktu yang lebih berguna.”


Xiao Jun muak mendengar basa-basi Chen Kho, tapi ia memilih diam sampai pria itu selesai menyampaikan maksudnya.


“Wei Li An, saudaramu itu … apa kau ingin menemuinya?” tanya Chen Kho dengan senyum licik.


Nama yang begitu melekat dalam benak Xiao Jun itu langsung memancing responnya. “Darimana kamu tahu kakakku?”


Chen Kho tersenyum, seharusnya sejak awal ia menggunakan Li An untuk menekan Xiao Jun. Bodohnya ia yang sempat melupakan arti penting anak gadis Wei itu dan nyaris  saja menghempaskannya. “Kau bisa sedikit bersahabat denganku? Harusnya kau berterima kasih karena aku sudah menjaga dia sejauh ini. Sekarang kau tinggal jawab, mau bertemu dia atau tidak? aku tidak suka memberi kesempatan kedua apalagi setelah penolakan.”


Xiao Jun membisu, di luar perkiraan bahwa pria yang ia rasa berhati kurang baik itu ternyata mengenal kakaknya. Entah apa yang sudah terjadi selama ia berada di Jakarta, baik ibu maupun saudaranya memiliki kehidupan yang hancur.


“Apa ini siasat barumu? Bagaimana aku bisa percaya kau bermaksud mempertemukanku dengan dia, sedangkan kau tak punya bukti mengenal dia. Aku tidak bisa memberi keputusan gegabah tanpa pertimbangan.” Xiao Jun memilih untuk jual mahal, meskipun hatinya sangat penasaran tetapi ia harus tetap menahan diri. Andai ini


jebakan pria licik itu, maka semuanya akan terbongkar begitu ia tidak bisa menunjukkan bukti.


Di luar perkiraan Chen Kho, saingannya memang sangat berhati-hati. Ia terpaksa mutar otak sejenak memikirkan bukti apa yang bisa ia tunjukkan untuk menguatkan argumennya, hingga ia teringat Li An pernah mengajaknya selfie dari ponselnya. “Apa ini cukup meyakinkanmu? Dia sendiri loh yang mengambil foto ini.” Chen Kho


menunjukkan sebuah foto dirinya dan Li An yang berpose cukup dekat.


Xiao Jun merampas ponsel dari tangan Chen Kho dan mengamati dengan dua mata terbuka lebar, wajah dewasa Li An belum pernah ia lihat namun yang paling ia ingat adalah bentuk gigi dan senyum gadis di foto itu persis dengan Li An yang ia kenal waktu kecil. Xiao Jun merasa panas hati terbakar emosi melihat kedekatan saudaranya dengan pria licik itu.


“Masih nggak percaya?” sindir Chen Kho di samping Xiao Jun. Ia sangat senang melihat wajah kebingungan Xiao Jun, hal itu membuat hatinya berbunga-bunga.


Xiao Jun tersenyum sinis, meskipun Chen KHo memang mengenal Li An namun ia yakin tak akan bisa mempertemukan mereka. “Kau jangan lupa, di sini yang paling berkuasa adalah ayahku. Kau yakin bisa menyembunyikan sesuatu dari dia?”


Chen Kho tertawa keras dan tawa itu terdengar aneh bagi Xiao Jun, selucu itukah perkataannya?


“Ya.” Sesingkat itu jawaban Xiao Jun. Ia memendam rasa penasaran untuk melihat cara Chen Kho membawanya kabur menemui saudaranya. Seberapa hebat pria itu jika bisa mengelabui Li San.


“Kau ambil keputusan yang bagus. Tunggu aku sore ini, lihat caraku mewujudkan impianmu.” Seru Chen Kho sembari tertawa dan meninggalkan Xiao Jun yang masih berdiri diam.


***


Masalah meyakinkan Li San bukan hal sulit bagi Chen Kho, ia hanya perlu menemui sang penguasa sekarang. Dan di aula utama kediaman Li San lah ia berdiri sekarang, menghadap pamannya yang sedang menantikan kedatangan Kao Jing.


“Aku kira kau datang bersama ayahmu, di mana dia sekarang? Kenapa belum menemuiku sesiang ini?” tanya Li San ketika mendapati Chen Kho seorang diri, ia lebih antusias bertemu saudaranya namun belum berani menganggu lantaran khawatir Kao Jing masih perlu waktu istirahat.


Chen Kho separuh membungkuk, “Maaf mengecewakan paman. Ayahku masih tidur ketika aku datang, mungkin ia


masih kecapekan.”


 


Li San mengangguk paham, “Aku mengerti. Lalu ada apa kau datang kemari?”


“Ah, maaf paman seharusnya aku ke kantor sekarang tetapi aku tadi pagi aku cemas dengan adikku dan memutuskan menemuinya sebelum berangkat. Ternyata dia sedang berlatih menjadi wanita terhormat atas perintah paman. Aku sangat berterima kasih atas perhatian paman pada Grace, dia memang harus memantaskan dirinya


sebelum resmi menjadi menantumu. Tapi ….” Chen Kho sengaja menunda kelanjutan perkataannya demi memancing respon Li San.


“Tapi apa? lanjutkan!” seru Li San tegas, sesuai dugaan Chen Kho.


“Paman, perjodohan ini juga atas usulku. Aku merasa punya tanggung jawab terhadap adikku. Melihat kebahagiaannya jelas sangat kuharapkan, tapi melihat dia berjuang keras demi mendapatkan hati Xiao Jun, rasanya kurang pantas kalau hanya Grace yang berusaha.” Ujar Chen Kho.


“Maksudmu?”


“Kurasa Xiao Jun juga harus memberikan dukungan pada Grace agar lebih semangat berlatih. Aku tahu apa yang disukai adikku, dan ada baiknya kalau Xiao Jun yang memberikannya langsung. Jika paman tak keberatan, aku akan mengajak Xiao Jun keluar sebentar mencarikan kado yang disukai Grace. Perhatian kecil seperti itu sangat manjur mendekatkan perasaan mereka. Harus ada yang membangkitkan cinta di antara mereka, apalagi sebentar lagi mereka tunangan. Anggap saja ini masa pendekatan dan pengenalan yang lebih dekat.” Chen Kho menyampaikan usulnya, tentu saja itu hanya karangan semata.


Li San mempertimbangkan pendapat Chen Kho, ia juga mengharapkan Xiao Jun segera melupakan gadis yang ia cintai dan sepenuh hati menerima Grace. Mengurungnya sampai hari pertunangan mungkin kurang efektif, lebih baik membiarkan Chen Kho ikut andil dalam masa pendekatan mereka. “Baiklah, aku ijinkan kau temani Xiao Jun


keluar. Beri dia masukan agar lebih mau mengenal Grace secara tulus.”


Chen Kho tersenyum puas, ia patut berbangga hati pada kemampuan dirinya yang sanggup menjinakkan singa liar seperti Li San. “Terima kasih paman, percayakan padaku.”


***