OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 262 RIVAL YANG TAK BISA DISEPELEKAN



Selera makan Li San memburuk setelah pertengkarannya dengan Liang Jia. Konflik batin antara dirinya dan wanita itu memang sudah tak terhitung jari, namun baru kali ini ia merasa kalah. Liang Jia berhasil membungkamnya dengan kata-kata yang sinis dan menyakitkan. Li San merasa istrinya tengah mendoakan hal buruk terjadi padanya di masa tua ini.


“Apa dia sungguh masih hidup?” Li San akhirnya terpancing penasaran, ia mungkin bisa menganggap hal ini hanya lelucon ketika Kao Jing yang membicarakannya. Saudaranya memang pernah mempertanyakan apa yang akan ia lakukan andai Yue Hwa masih hidup, dan sekarang Liang Jia juga menanyakan hal yang sama. Seakan segala keburukan itu tak terhindarkan, apa memang benar Wei memalsukan kematiannya? Apa ini semua adalah strategi Liang Jia untuk menyelamatkan putrinya?


“Jika dia masih hidup, berarti mereka sedang merencanakan kudeta? Atau bersekongkol untuk balas dendam?” Li San membayangkan sendiri kecemasan yang ia karang, membayangkan sosok seorang putri yang tak ia ketahui


wajahnya bersama pengawal Wei yang masih jelas teringat potongan kepalanya ketika dipenggal.


“Wei … Apa dia memalsukan kematiannya? Bagaimana bisa?” Li San masih rebahan di atas ranjang besarnya. Semenjak Yue Hwa diusir dari rumah, ia tak lagi satu kamar bersama Liang Jia. Wanita itu memutuskan untuk tinggal di pavilion berbeda demi menghindari sering bertemu dengannya. Dalam kebingungan yang belum terjawab, pengawal He yang diutus Li San telah tiba dan ijin masuk menemuinya.


“Hamba memberi hormat kepada tuan besar.” Seperti biasa, formalitas yang tidak bisa dilepaskan oleh seluruh penghuni rumah besar Li adalah memberi penghormatan tertinggi pada penguasanya.


Li San berusaha bangun dari rebahan, penasehat tua itu sigap membantunya agar bisa duduk di tepi ranjang. Dari raut wajah saja, penasehat itu bisa menebak bahwa sang tuan kurang istirahat serta banyak pikiran. Itulah mengapa ia diutus menghadapnya secara mendadak.


“Maaf, tuanku … Apa ada hal serius yang mengganggumu?” Penasehat He memberanikan diri untuk bertanya.


Li San tepekur, ia tampak seperti orang yang punya tekanan batin berat dan harus mengakui kelemahannya di depan orang lain. “Apakah orang yang sudah mati bisa hidup kembali?” Tanya Li San dengan suara yang


terdengar lemah dan ragu.


Penasihat He terhentak mendengar pertanyaan yang terdengar tak masuk akal itu, namun ia akan dituding salah jika tidak memberikan pendapat. Meskipun ragu jawaban apa yang ingin didengar pria itu agar tenang, penasehat He mencoba realistis menjawabnya. “Semua makhluk hidup yang sudah mati, mustahil dihidupkan kembali. Hanya ada satu tiket untuk pergi dari dunia ini, tidak ada tiket kembali.”


Li San manggut-manggut dengan lemah, pikirannya semakin aneh dan kacau sehingga membuat insomnianya kambuh. Ia sependapat dengan penasehat He, ia sangat yakin bahwa Wei sudah mati. Potongan kepala yang


dibawa ke hadapannya oleh pembunuh bayarannya adalah bukti, semenjak itu Wei sudah tamat riwayatnya dari kehidupan ini. Ia pun mengira seorang gadis kecil tidak mungkin sanggup bertahan hidup tanpa dirawat oleh orang dewasa, dan satu-satunya orang yang merawatnya sudah dibunuh. Cepat atau lambat, gadis kecil itupun pasti menyusul ajalnya. Ia sudah mencari sekian tahun, tidak ada jejak yang ditinggalkan Yue Hwa di Negara ini. Itulah mengapa, Li San begitu yakin bahwa putri bungsunya sudah lama meninggal.


“Kecuali … Ada yang mengadopsinya.” Desis Li San, ia tanpa sadar melontarkan kata-kata itu, membuat penasehat He bingung mendengarnya.


“Anda berkata apa, tuan? Siapa yang diadopsi?” Penasehat He dengan tatapan bingung mengkroscek ulang apa yang ia dengar barusan.


Li San tampak gugup saat ditodong oleh pertanyaan itu. Ia segera menggelengkan kepala, “Aku punya satu tugas rahasia untukmu.” Li San mengkode agar penasehat He mendekatkan diri, ia akan menyampaikannya dengan


bisikan.


Mata penasehat He terbelalak, tugas gila itu sungguh tak masuk akal dan ia nyaris tak percaya bahwa tuan besar itu ingin ia melakukannya. Tubuh renta penasehat itu sampai gemetaran, ia tak mengira akan mendapatkan tugas yang sangat mengerikan. “Maafkan hamba tuan, apa anda yakin harus melakukan ini?” Penasehat itu mencoba menggoyahkan keyekinan Li San, barangkali masih bisa berpikir dengan nalar sehat dan tidak mendorongnya melakukan tindak kejahatan.


“Kenapa? Apa kau tidak punya nyali? Ayolah, aku tahu bahwa kau juga bukan orang suci. Di masa muda, kita sudah pernah mengotori tangan dengan darah. Mengapa sekarang kau jadi pengecut? Begini saja, aku akan memberikan imbalan yang setimpal. Bukankah putramu sedang mengembangkan bisnis? Aku bersedia menjadi investor utama asalkan misi ini berhasil kau jalankan.” Sekali licik, Li San tetaplah licik. Ia tetap seekor rubah tua yang tak pernah


kehilangan akal untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dengan cara apapun.


Penasehat He mulai goyah, Li San sangat lihay memegang ekornya. Demi masa depan putranya, ia jelas akan mengesampingkan hati nurani serta rasa bersalahnya. “Hamba akan coba yang terbaik.” Kesepakatan baru


telah dimulai, penasehat itu menyanggupi secara halus.


Li San tersenyum licik, “Tapi ingat, hanya kau dan aku yang tahu rahasia ini. Kalau sampai misi ini bocor, kau harus tanggung konsekuensinya!”


Tidak ada pilihan yang bisa dipilih oleh penasehat He, dalam setiap keputusan yang diambilnya, baik maju atau mundur dari perintah ini tentu sudah ada konsekuensi di depan mata. Ia hanya bisa pasrah dan berharap, kapan tuan besar itu bertobat?


***


ia melihat beberapa orang yang cantik dan tampan berjalan masuk ke dalam ruangan, dan banyak staf yang sibuk hingga tak menghiraukan satu sama lain. Kegelisahannya kian menjadi, saat panggilan Lau menderingkan ponselnya. Hanya Lau satu-satunya orang yang intens menghubunginya, membuat ia makin sadar betapa sempitnya lingkup kehidupan yang ia jalani.


“Ya, tuan Lau.” Bisik Fang Fang, ia tidak berani bersuara keras di tengah kerumunan orang sibuk.


“Kamu di mana Fang? Kenapa bicaramu berbisik?”


Bola mata Fang Fang berputar, sebelum masuk ke ruangan itu, Grace sudah memintanya bungkam jika Lau bertanya tentang keberadaannya. Gadis pelayan itu sungguh kebingungan, majikan yang mana yang harus ia patuhi sekarang. “Aku? Ng … Aku sedang menemani nona belanja. Ada apa tuan Lau?”


“Lalu kenapa suaramu seperti orang ketakutan?” Tuding Lau.


“Ng, aku … Tidak, aku hanya sedikit lelah diajak jalan berjam-jam. Nona masih mencari barang yang dia inginkan, tuan.”


Mereka hening sesaat, hingga akhirnya Lau kembali menjawab. “Baiklah, aku percayakan nona Grace kepadamu.”


Fang Fang bisa bernapas lega ketika pembicaraan di telpon itu berakhir. Belum pernah ia bekerja di bawah tekanan seperti ini, kesetiaannya tengah diuji, ia sungguh terlihat seperti pengkhianat di satu sisi. Semakin memikirkannya, makin membuatnya menggila.


***


Di sebuah ruangan besar lainnya, beberapa orang memberikan standing applause atas hadirnya bintang yang sudah lama dinantikan.


“Selamat bergabung bersama kami, kamu sungguh luar biasa!”


Grace berdiri, memperlihatkan senyuman penuh kepuasan. Ia disambut dengan antusias, ia berdiri sebagai pemenangnya. Tak peduli ia muncul belakangan, asalkan pada akhirnya ia lah yang terpilih sebagai pemenang sejati. Dan ini baru permulaan, ia akan memenangkan semua yang memang diinginkannya.


Kau dan aku, sama sama seorang wanita


Apa yang kau miliki, akupun tak sulit memilikinya


Kau dan aku, bersaing dalam hal yang sama


Bukan hanya perkara karier, tapi juga cinta


Bersiaplah, kita lihat seperti apa endingnya


Dan aku tak menjamin bila kau kalah, apa kau masih merasa layak bersamanya?


_Quote of Grace_


***


Ada yang tahu sebenarnya apa yang direncanakan Li San?